Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Foto Keluarga Pradhana


__ADS_3

Mengistirahatkan badan selama beberapa jam, Arsyilla tampak begitu terlelap tertidur dalam pelukan suaminya itu. Seakan begitu hangat, dan enggan untuk kembali terbangun. Akan tetapi, Arsyilla ingat bahwa mereka harus mengunjungi kediaman Ayah Bisma dan Bunda Kanaya. Sehingga Arsyilla pun mulai bangun.


“Kak,” panggilnya melihat Aksara yang sedang membaca sebuah buku dengan bersandar di head board ranjangnya dan satu tangannya masih mengusapi puncak kepala Arsyilla.


“Hmm, apa Sayang?” tanyanya.


“Kamu enggak tidur yah tadi?” tanya Arsyilla lagi.


Dengan cepat Aksara pun menggelengkan kepalanya, “Tidak … aku baca buku. Persiapan untuk Skripsi nanti,” balasnya.


Dalam diam, Arsyilla pun menyunggingkan senyumannya. Tidak mengira bahwa suaminya sudah mulai mempersiapkan untuk menulis Skripsi sebagai tugas akhir dan syarat kelulusan bagi Mahasiswa S1 itu. Perlahan, Arsyilla pun menengok buku apa yang tengah dibaca oleh suaminya itu.


“Metodologi Penelitian?” tanya Arsyilla perlahan.


“Iya … paling tidak aku punya gambaran kan variabel itu seperti apa, Bab 1 harus berisi apa saja, Bab 2, dan sebagainya. Aku harus benar-benar kejar biar bisa cepat lulus. Biar Pak Bagas enggak tebar pesona sama kamu,” sahut Aksara dengan ketus.


“Ya ampun Kak, kan ya aku enggak menanggapi loh, tetapi bagaimana pun aku seneng kalau kamu semangat kayak gini. Cepetan lulus Kak,” balas Arsyilla.


Aksara pun merespons dengan menganggukkan kepalanya, “Iya Sayang … selain aku ingin mengumumkan pernikahan kita dalam resepsi yang mewah, dan aku pengen punya baby. Menjadikanmu istri dan Ibu dari anak-anakku. Anak-anak kita,” balas Aksara.


Mendengar ucapan Aksara, Arsyilla pun mengangguk. Wanita itu justru kian melingkarkan tangannya di pinggang suaminya, “Amin … aku juga mau memiliki baby. Kamu sama Thania aja sayang banget, pasti nanti kamu akan seperti itu kepada baby kita,” balas Arsyilla.


“Nanti sama-sama belajar Sayang … membayangkan punya baby agaknya lucu deh Sayang. Dia akan mirip seperti aku, atau seperti kamu. Bakalan ada Aksara atau Syilla junior nanti,” balas Aksara.


Sesungguhnya Arsyilla tidak mengira bahwa suaminya itu akan mengatakan keinginannya untuk bisa segera lulus dan memiliki baby. Sebab, orang yang menikah dan membangun rumah tangga, pasti menginginkan memiliki buah hati. Hati Arsyilla rasanya begitu hangat karena suaminya itu pelan-pelan juga mempersiapkan satu per satu mulai dari Skripsi terlebih dahulu, resepsi pernikahan, dan rencana memiliki buah hati.


“Ya sudah, ke rumah Bunda sekarang yuk Kak? Katanya tadi enggak boleh sore-sore. Takut hujan lagi,” balas Arsyilla.


“Ya sudah … yuk, kamu siap-siap dulu. Sama jangan lupa bawa pakaian ganti untuk di rumahnya Bunda, kan katanya tadi kita disuruh menginap,” balas Aksara.


Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, “Iya … nanti aku siapkan pakaian ganti kita,” jawab Arsyilla.


Setelah bersiap-siap, dan menyiapkan pakaian ganti dalam satu ransel, kemudian Arsyilla menghampiri suaminya yang juga sudah bersiap.


“Yuk, Kak … berangkat sekarang,” ajaknya.

__ADS_1


Aksara pun berdiri, dia segera menggendong ransel yang berisi pakaian ganti mereka. Pria itu langsung menggenggam tangan istrinya dan kemudian mengajaknya keluar dari unit apartemen, menuju ke parkiran basement untuk mengambil mobil mereka. Lantaran beberapa ruas jalan masih banjir, Aksara pun mencari jalanan yang tidak tergenang air, dan sekaligus menghindari macet.


Setelah beberapa saat berkendara, kini mobil Aksara telah berhenti di depan halaman rumah keluarga Pradhana. Arsyilla pun mulai turun dari mobil, dan menunggu suaminya itu. Keduanya lantas memasuki rumah besar dan mewah itu bersama-sama.


“Siang Ayah, Bunda,” sapa keduanya begitu memasuki rumah itu.


“Wah, anak-anak Bunda dan Ayah sudah datang, yuk … masuk,” balas Bunda Kanaya.


“Hai Daddy, hai Onty,” sapa Thania dengan girang. Anak berusia 4 tahun itu segera menghambur ke dalam pelukan Aksara.


“Oh, hai Thania …,” balas Aksara dan Arsyilla bersamaan.


“Macet tidak di jalan tadi?” tanya Ayah Bisma.


“Cari jalan yang tidak macet Ayah, biasa cari jalan yang tidak banjir,” jawab Aksara.


“Oh iya … beberapa ruas jalan sedang banjir soalnya. Syukurlah apartemen kalian itu berada di kawasan bebas banjir,” balas Ayah Bisma.


“Ayo duduk, jangan hanya berdiri. Sini Syilla, duduk sini,” ajak Bunda Kanaya sembari menggandeng tangan menantunya itu.


“Bunda, Syilla boleh lihat foto-foto keluarganya Bunda?” tanya Arsyilla.


Jujur saja, sejak Bunda Kanaya dan Ayah Bisma mengatakan terkait sosok Thania dan siapa Papa dari anak kecil itu, Arsyilla penasaran dengan Airlangga. 


Bunda Kanaya pun mengangguk, wanita paruh baya itu segera berdiri dan mengambil album foto keluarga mereka dan menyerahkannya kepada Arsyilla.


“Ini Syilla … mau lihat foto suamimu?” tanya Bunda Kanaya.


Arsyilla pun mengangguk, “Iya, mau lihat Kak Aksara dan juga Airlangga itu. Bener enggak sih Bunda memiliki anak lain selain Kakak,” balasnya.


Mulailah Bunda Kanaya menunjukkan foto resmi keluarga mereka. Arsyilla tersenyum melihat foto suaminya yang masih berusia sekitaran SMA, suaminya itu memang terlihat tampan. Lantas Arsyilla melihat seseorang anak yang berusia masih kecil di foto itu. Tampak Bunda Kanaya menunjuk anak kecil di foto itu.


“Dia Airlangga, Syilla … selisih tujuh tahun dengan Aksara,” cerita Bunda Kanaya.


Selisih tujuh tahun memang begitu banyak, tetapi tidak menyangka bahwa Airlangga yang mungkin seusia Shaka sudah memiliki putri seusia Thania. Arsyilla pun kemudian menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Oh, selisihnya banyak juga ya Bunda,” responsnya.


Bunda Kanaya pun tertawa, “Iya … Bunda pikir hanya memiliki Aksara saja, justru saat itu Bunda telat haid, dan saat cek sudah positif. Anak kan anugerah juga dari Allah, jadi ya tidak apa-apa. Ayahmu juga tidak masalah,” balas Bunda Kanaya.


Usai melihat foto-foto itu barulah Arsyilla yakin dan percaya bahwa Rangga memanglah adik suaminya itu. Saat melakukan videocall dulu, juga wajah Rangga nyaris mirip dengan Aksara. Hanya saja, di mata Arsyilla suaminya memang memiliki ketampanan berkali-kali lipat. Bahkan Arsyilla tidak sengaja melirik suaminya, dan Aksara pun mengetahuinya.


Saat mata bertemu dengan mata, Arsyilla pun segera menunduk, dan mengajak Bunda Kanaya berbicara. Ketahuan sedang melirik suaminya sendiri, nyatanya membuat Arsyilla begitu malu. Sementara Aksara sendiri, sekalipun tengah berbicara dengan Thania, pria itu juga curi-curi pandang melihat wajah istrinya.


Hingga akhirnya, Bunda Kanaya dan Ayah Bisma pamit untuk keluar sebentar ke Supermarket. Mereka hendak membeli sayuran dan ikan, rencananya Bunda Kanaya akan memasak spesial untuk anak dan menantunya itu.


“Oma, ikut,” interupsi dari Thania.


“Thania mau ikut Oma dan Opa ke supermarket?” tanya Bunda Kanaya.


“Iya Oma … Thania mau dibelikan donut yang Oma,” pinta Thania.


“Oke deh … yuk, Thania ikut Oma saja. Ya sudah, kalian berdua ke kamar saja dulu. Istirahat dulu. Tidak perlu sungkan-sungkan, Syilla … anggap rumah sendiri,” jelas Bunda Kanaya.


“Baik Bunda, terima kasih,” jawab Arsyilla.


Aksara pun segera berdiri dan mengulurkan tangannya kepada istrinya itu. “Yuk, ke kamar aku saja Sayang … bisa rebahan di sana,” balasnya.


Arsyilla pun mengangguk dan mengulurkan tangannya di atas tangan suaminya itu, “Iya Kak … lumayan rebahan dulu, nanti kalau Bunda udah datang, tinggal bantuin Bunda memasak,” jawabnya.


Arsyilla mengamati rumah itu sembari menaiki anak tangga menuju kamar Aksara, “Rumah Bunda dan Ayah benar-benar besar … bangunannya saja seluas ini, belum ditambah kolam renang dan juga area taman di samping rumah. Keluarga kamu kaya banget ya Kak?” tanya Arsyilla dengan tiba-tiba.


“Enggak juga … ini kan hasil kerja Ayah bertahun-tahun menjadi Dokter Spesialis Anak, dan Bunda kerja di Jaya Corps, belum juga Bunda dulu menulis novel digital gitu, jadi ya inilah hasilnya,” balas Aksara.


“Iya sih … semua kerja keras terlihat dari rumah ini yah,” sahutnya perlahan.


“Kenapa?” tanya Aksara dengan singkat.


“Enggak, aku cuma tanya aja. Sama seperti Mama dan Papaku yang mewujudkan rumah impian mereka itu dengan hasil kerja keras mereka,” balas Arsyilla kemudian.


Semua kerja keras jika membuahkan hasil itu terasa sungguh luar biasa. Tidak mengira bahwa mertua dan orang tuanya sama-sama membangun rumah idaman dan impian dengan hasil kerja keras mereka selama bertahun-tahun. Rasanya Arsyilla dan Aksara harus belajar dari orang tua dan mertua mereka.

__ADS_1


__ADS_2