
Setelah pulang dari wisuda, nyatanya Aksara dan Arsyilla tidak langsung pulang. Melainkan mereka mengikuti Bunda Kanaya dan Ayah Bisma yang sudah memesan sebuah restoran di kawasan Ibukota, tentunya untuk makan siang bersama merayakan kelulusan putra sulungnya. Aksara kali ini memilih melepas jubah toga yang tadi dia pakai, sehingga pria itu hanya mengenakan kemeja putih dan celana hitam saja, dasinya juga sudah dilonggarkan. Sementara, Arsyilla masih mengenakan kebaya, karena dirinya tidak mungkin melepask kebaya yang dia pakai dengan sembarang.
“Kita makan siang dulu,” ucap Bunda Kanaya begitu mengajak Arsyilla dan Aksara untuk makan siang bersama.
Tanpa sepengetahuan Aksara dan Arsyilla, rupanya di rumah makan itu mertuanya pun juga sudah datang. Ya, ada Papa Radit dan Mama Khaira yang sudah menunggu di dalam. Pasangan itu berdiri dan menyambut menantunya yang akhirnya lulus di wisuda.
“Selamat ya Aksara, akhirnya kamu diwisuda juga … sekarang kamu bukan lagi mahasiswa,” ucap Mama Khaira sembari memeluk menantunya itu.
Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Terima kasih Mama … cita-cita Aksara waktu kecil dulu ingin menjadi Dosen seperti Mama, tetapi justru Aksara hanya bisa menjadi tukang gambar,” balas Aksara.
Ya, Aksara masih ingat dengan semua memorinya saat kecil dulu. Dirinya dulu ingin bercita-cita menjadi seorang dosen. Akan tetapi, saat dia dewasa nyatanya bahwa dirinya hanya bisa menjadi seorang Arsitek saja.
“Tidak apa-apa, Aksara … menjadi Arsitek juga sudah hebat. Asal kamu tahu, dulu Syilla waktu kecil ingin menjadi Arsitek. Agaknya cita-cita kalian tertukar,” sahut Papa Radit.
Mendengar ucapan Papa Radit, seluruh keluarga pun tertawa. Tidak mengira begitu banyak kisah lucu yang membingkai kisah putra dan putri mereka. Aksara yang bercita-cita menjadi dosen nyatanya justru menjadi Arsitek, sementara Arsyilla yang memiliki cita-cita sebagai Arsitek setelah dewasa nyatanya justru menjadi seorang Dosen.
“Ayo-ayo … kita sambil makan, biar sehabis ini Aksara dan Syilla bisa istirahat. Apalagi Syilla mengenakan kebaya begitu pasti engap,” ucap Bunda Kanaya.
Hingga akhirnya mereka sembari menikmati hidangan yang sudah tersaji di meja makan. Sembari bersantap siang, rupanya dua keluarga itu membahas sekalian untuk pesta resepsi Aksara dan Arsyilla.
“Sekalian kita bahas resepsi kalian berdua yah … kamu ingin resepsi yang seperti apa Syilla?” tanya Bunda Kanaya kini kepada menantunya itu.
“Kalau Syilla sih pengennya mengusap konsep Garden Party, Bunda … pengantin tidak harus berdiri di pelamin, tetapi bisa bercengkrama dengan para undangan,” jelas Arsyilla.
“Kalau kamu Aksara?” tanya Ayah Bisma kini.
“Aksara ikut Istri saja, Ayah … apa pun Aksara juga mau, kan intinya resepsi ini hanya untuk mengenalkan kepada kerabat dan rekan-rekan bisnis dan dosen saja kalau kami sudah menikah. Tidak ada lagi garis pembatas antara dosen dan mahasiswanya, karena Aksara sekarang sudah bukan lagi mahasiswa,” jelas Aksara.
Arsyilla pun terkekeh melihat suaminya itu, “Iya Kak … kamu memang sudah bukan mahasiswa, tetapi waktu akan mengingat bahwa kamu adalah mahasiswaku, dan aku adalah dosenmu,” sahut Aksara.
__ADS_1
Tawa kembali menghiasi ruangan itu. Memang nyatanya Aksara sudah lulus dan wisuda, dirinya bukan lagi mahasiswa. Akan tetapi, tetap mereka akan dikenang sebagai pasangan mahasiswa dan dosennya. Minimal keluarga dan orang tuanya yang akan mengingat dan mengenangnya.
“Iya Honey … tidak apa-apa,” jawab Aksara dengan mantap kali ini.
“Pak Radit dan Bu Khaira sendiri bagaimana? Agaknya kita harus bergerak cepat untuk resepsi Aksara dan Arsyilla,” ucap Ayah Bisma kali ini.
“Kami setuju saja, Pak Bisma … lagipula, kebahagiaan Aksara dan Syilla itu nomor satu buat kami. Biarkan mereka yang menentukan ingin konsep seperti apa karena itu akan menjadi momen indah dan bersejarah bagi perjalanan mereka berdua,” sahut Papa Radit.
Dalam mempersiapkan resepsi, terkadang memang orang tua berkeinginan sendiri. Akan tetapi, kali ini Papa Radit menilai bahwa biarkan Aksara dan Arsyilla yang menentukan, karena semua itu akan menjadi momen yang indah bagi mereka berdua.
“Baiklah … kami akan menyewa sebuah hotel dan mengusung konsep Garden party seperti yang Syilla mau,” jelas Bunda Kanaya.
“Kami biar menyiapkan untuk dekorasi dan kateringnya, Bu Kanaya,” ucap Mama Khaira.
Sebab, pesta resepsi ini adalah pesta untuk dua keluarga. Lebih baik kedua belah pihak keluarga sama-sama mengambil bagian dalam pesta resepsi putra sulung keluarga Pradhana dengan putri sulung keluarga Raditya.
“Baik Bunda,” sahut Aksara mengiyakan ucapan Bundanya.
Usai makan siang bersama, menjelang sore barulah Aksara dan Arsyilla kembali ke unit apartemen mereka. Sepanjang perjalanan, keduanya tertawa bersama dan mengingat acara wisuda yang baru saja usai.
“Akhirnya … sudah wisuda juga Suamiku ini. Officially, kamu bukan lagi mahasiswa, Kak. Selamat,” ucap Arsyilla kali ini kepada suaminya.
“Iya Honey, terima kasih. Jadi gimana, akhir pekan kita beli Wedding Gown buat kamu dan cetak undangan ya Sayang. Hanya satu bulan, jadi kita harus kejar,” ucap Aksara.
“Iya Kak … yakin beliin aku Wedding Gown, itu harganya pasti mahal Kak. Tidak sewa saja?” tanya Arsyilla.
Aksara pun menganggukkan kepalanya dengan mantap, “Iya … nanti ke kenalan Bunda saja. Ada desainer langganan Bunda, tenang saja Honey. Apa pun buatmu akan aku belikan,” ucap Aksara dengan begitu meyakinkan.
Arsyilla lantas menatap wajah suaminya itu, “Gaji tukang gambar berapa digit sih Kak?” tanyanya kali ini.
__ADS_1
“Kenapa Honey?” tanya Aksara lagi.
“Enggak, cuma kok kelihatannya uang kamu banyak banget sampai mau belikan Wedding Gown buat aku,” balas Arsyilla.
Aksara pun lantas tertawa, “Buat kamu, selagi aku bisa … sudah pasti aku akan memenuhinya dan mengabulkannya, Honey. Lagian Wedding Gown itu bisa kamu abadikan nanti sebagai kenang-kenangan kalau kamu pernah memiliki gaun yang begitu indah dan sesuai selera kamu yang kamu kenakan di resepsi pernikahan kita,” balas Aksara.
“Aku kadang gak enak Kak … padahal sewa saja juga tidak masalah,” sahut Arsyilla.
“Tenang saja Honey … semua sudah aku persiapkan. Aku akan menjadi pria dan suami yang bertanggung jawab. Sejak aku sekolah, aku sudah menabung untuk menikahi kamu,” jawab Aksara.
Tentu saja, Arsyilla tertawa dengan jawaban suaminya itu. Mana mungkin anak yang masih sekolah untuk memikirkan untuk menikah. Jawaban Aksara agaknya tidak masuk dalam logika Arsyilla hingga wanita itu pun tertawa.
“Isshss, ngelesnya pinter banget sih. Mana ada anak sekolah sudah mikir menikah,” sahut Arsyilla kali ini.
“Ada … aku buktinya. Uang sakuku selalu aku tabung karena aku punya keyakinan untuk menikahi kamu,” jawab Aksara.
“Jodoh kan tidak ada yang tahu, Kak … sapa yang tahu juga kalau kita akan berjodoh seperti ini,” balas Arsyilla lagi.
“Jodoh itu memang dari Tuhan, Honey … hanya saja tetap ada usaha manusia. Kita diberi kehendak bebas sama Tuhan untuk menemukan dan mendapatkan jodoh kita. Buat apa aku menjadi seorang stalker bertahun-tahun kalau enggak bisa nikahin kamu,” sahut Aksara lagi.
Arsyilla pun mengangguk. Ah, benar … suaminya itu kan sudah menjadi stalker sejak bertahun-tahun lamanya. Perjuangannya begitu gigih, jadi Aksara bisa memprediksi bahwa akhirnya dia bisa mendapatkan Arsyilla.
“Ah, iya … aku sampai lupa siapa suamiku ini. Iya deh, Hubby. Gak sia-sia menjadi stalker dan nabung dari kecil buat nikahin aku,” sahut Arsyilla masih dengan tertawa.
Aksara lantas menggenggam tangan Arsyilla, membawa punggung tangan wanita itu mendekat ke wajahnya dan Aksara melabuhkan kecupannya di punggung tangan Arsyilla.
“Aku sudah mempersiapkan semuanya dengan matang, Honey … aku tidak ingin menikahimu dan hidup denganmu tanpa persiapan apa pun. Termasuk persiapan finansial. Bahkan sejak menikah denganmu, aku juga sudah mempersiapkan untuk anak kita nanti. Aku ingin menjadi suami yang bertanggung jawab untukmu dan Ayah yang bertanggung jawab untuk anak-anak kita,” ucap Aksara kali ini dengan begitu serius.
Sungguh, Arsyilla begitu bahagia karena pria yang meminangnya benar-benar sosok pria yang begitu baik. Pria yang penuh dengan persiapan, bahkan masa depannya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh suaminya itu. Tentu, kali ini hati Arsyilla melimpah dengan ucapan syukur karena memiliki Aksara di sisinya.
__ADS_1