
Usai memberikan hadiah spesial untuk suaminya itu, keduanya pun membersihkan diri, dan kini keduanya menikmati cokelat hangat dan duduk bersandar di sofa. Melihat box bayi dengan melihat hiasan gantung beberapa boneka yang ada di atas box bayi milik Baby Ara. Sekilas, Arsyilla melirik suaminya itu.
“Kalau abis buka puasa, wajahnya jadi cerah banget sih. Seolah-olah matahari terbit di wajah kamu,” goda Arsyilla kali ini.
Sontak saja Aksara terkekeh, begitu geli mendengar perkataan dari istrinya itu. Akan tetapi, pada kenyataannya Aksara pun begitu senang. Hampir dua bulan berpuasa, dan juga sakit yang membuatnya tidak bisa berbuat banyak. Sekarang setelah mendapat hadiah spesial dari istrinya membuat wajah Aksara kian cerah. Sampai Arsyilla terkekeh geli menatap wajah suaminya itu.
“Tentu dong Honey … jadi seneng. Boleh tiap hari enggak sih?” tanya Aksara yang masih tertawa kepada istrinya itu. Pria itu tertawa dan begitu senang karena mendapatkan apa yang dia mau. Setelah puasa panjang, akhirnya bisa berbuka bukan hanya sekadar yang manis, tetapi yang nikmat.
“Ngelunjak deh … gak mau,” balas Arsyilla dengan ketus.
Tentu itu adalah percakapan santai antara suami dan istrinya. Hanya sebatas mengobrol, dan juga bercanda. Memang terkadang percakapaan dan candaan bisa kian mengakraban hubungan suami dan istri.
“Wah, gagal deh modusnya. Apa pun, makasih banget ya Honey … buat hadiahnya,” balas Aksara kini.
Pria itu membawa tangannya dan merangkul bahu istrinya, sungguh mendapatkan sesuatu yang memuaskan ladang batinnya membuat Aksara begitu lega. Puas rasanya, terlebih dia sangat tahu bahwa bersama dengan Arsyilla, hubungan suami istri selalu dilandasi dengan cinta. Bukan sekadar mengejar kepuasan masing-masing, tetapi hubungan yang didasari dengan cinta antara suami dan istri. Justru efeknya bukan hanya mendapatkan kenikmatan, tetapi ada rasa syukur yang tak terkira di dalam hati karena bisa melakukan hal paling indah yang direngkuh antara suami dan istri dengan berdasarkan cinta, bukan hanya sekadar memuaskan hasrat semata.
“Sama-sama Ayah … semoga suka yah dengan hadiahnya tadi,” balas Arsyilla yang bersandar di bahu suaminya. Sungguh, setelah berkali-kali meminta suaminya untuk sabar, akhirnya Arsyilla bisa kembali memberikan apa yang menjadi hak bagi suaminya itu. Dalam hatinya, Arsyilla pun merasa senang dan tidak terbebani lagi.
“Pasti suka dong Honey … gak perlu dijawab lagi kalau itu,” balasnya.
Keduanya sama-sama terkekeh geli, dan beberapa kali Arsyilla juga bersandar manja di bahu dan di dada suaminya. Dengan segelas cokelat hangat di tangan, dan juga candaan yang sudah membuat keduanya begitu bahagia.
“Kaki kamu buat kayak gitu tadi gak sakit Kak?” tanya Arsyilla.
“Kayak gitu gimana coba?” tanyanya.
__ADS_1
“Hmm, itu … buat berhubungan gitu. Sakit enggak?” tanya Arsyilla lagi.
“Enggak … enggak sakit kok. Kenapa, kamu masih khawatir yah?” tanya Aksara.
Ada anggukan samar dari kepala Arsyilla, tentu saja dia masih khawatir karena kaki kiri suaminya yang pernah mengalami patah kaki. Takut jika kegiatan panas tadi membuat kakinya sakit.
“Kakiku sudah tidak apa-apa kok Honey … hanya saja, aku yang jadi enggak tahan coba. Lama puasa, sedikit percikan aja ibarat api langsung terbakar,” balas Aksara dengan begitu absurdnya.
Arsyilla yang mendengarkan ucapan suaminya itu pun tertawa, baginya memang Aksara paling bisa mencari kata-kata yang membuatnya semakin tertawa. Nyaris tertawa terbahak, tetapi Arsyilla segera menahannya karena takut justru mengganggu tidur putri kecilnya.
“Kamu bisa saja sih Kak … paling pinter,” sahut Arsyilla sembari menggelengkan kepalanya. Suaminya itu memang paling bisa.
Setelahnya Arsyilla hendak menuju ke dapur dan mencuci gelas yang baru saja mereka gunakan untuk meminum cokelat. Supaya tidak ada peralatan makan yang kotor di dapur.
“Mau kemana Honey?” tanya Aksara.
“Kamu duduk saja Honey, sini … biar aku saja yang cuci gelasnya,” balas Aksara.
“Eh, jangan Kak … biar aku saja,” sergah Arsyilla.
Akan tetapi, Aksara segera mengambil gelas yang sudah kosong dari tangan Arsyilla dan membawanya ke dapur. Di sana Aksara sendiri yang mencuci kedua gelas kaca itu. Pikirnya, sekarang Aksara sudah pulih. Kakinya sudah bisa digunakan untuk beraktivitas seperti biasa, sehingga dia bisa terlibat lebih banyak dalam tugas dan pekerjaan di rumah tangga. Jika hanya sekadar mencuci gelas saja, Aksara sama sekali tidak keberatan.
Selang lima menit, Aksara sudah kembali lagi ke dalam kamar. Pria itu segera duduk di samping istrinya.
“Makasih Ayah,” ucap Arsyilla yang tentunya berterima kasih kepada suaminya itu.
__ADS_1
“Sama-sama Bunda … masih jam 22.00 ya Honey. Kamu ngantuk enggak?” tanya Aksara.
“Belum ngantuk Kak, tumben nih … biasanya aku jam segini juga udah ngantuk,” balas Arsyilla.
Aksara kali ini menepuk pahanya, “Sini Honey, aku pangku,” ucapnya meminta Arsyilla untuk duduk dalam pangkuannya.
Akan tetapi, Arsyilla dengan cepat menggelengkan kepalanya, masih ngeri teringat dengan kaki suaminya yang semula digips dan dipasangi pen, sehingga Arsyilla tidak berani untuk duduk dalam pangkuan suaminya itu.
“Takut Kak … ngeri deh,” balasnya.
“Sini … aku masih kangen kamu,” balas Aksara yang seakan tidak menerima penolakan dari Arsyilla.
Melihat Arsyilla yang ragu, akhirnya Aksara membawa paksa Arsyilla untuk duduk di pangkuannya. Duduk miring, dengan sebagian kakinya berada di sofa itu.
“Kangen kamu,” ucap Aksara lagi sembari memeluk istrinya itu. Kini Aksara menelisipkan untaian rambut Arsyilla ke belakang, beberapa kali Aksara juga tampak menghirup aroma dari tubuh Arsyilla.
“Sekarang aroma kamu kayak Ara deh Honey … bau minyak telon dan parfumnya Ara,” balas Aksara.
Arsyilla pun tertawa mendengar ucapan suaminya itu, “Gimana enggak kayak Ara, kalau sehari 24 jam sama Ara terus.”
“Enggak apa-apa Honey, atau kamu mau pakai babysitter buat ngasuh Ara?” tawar Aksara kali ini. Sebab, Aksara hanya tidak ingin Arsyilla kecapekan saja. Aksara tahu menjadi seorang Istri dan Ibu itu tidak mudah. Memang hanya berada di dalam rumah, tetapi begitu hal yang harus dikerjakan, sampai membuat capek.
Akan tetapi, Arsyilla menggelengkan kepala perlahan, “Enggak usah … aku masih bisa handle semuanya sendiri kok Kak … lagian aku masih cuti hamil juga, terus aku mau menikmati momen-momen hanya di rumah seperti ini kok,” jawab Arsyilla.
“Ya sudah, tetapi kalau kamu merasa kecapekan, bilang yah … semua bisa kita diskusikan bersama. Jangan sampai kecapekan,” pinta Aksara kali ini kepada istrinya.
__ADS_1
Bagi Aksara, dia justru senang bisa mendiskusikan apa pun yang terjadi di Rumah tangganya bersama dengan Arsyilla. Dengan begitu, semuanya bisa dicari solusinya. Lagipula, Aksara juga tidak ingin Arsyilla kepayahan dan kecapekan karena mengurus anak, mengurus rumah, dan mengurus suami. Ada kalanya para wanita ingin dimengerti dan mendapatkan sedikit waktu untuk dirinya sendiri.