
Selang beberapa hari, rupanya apa yang pernah dikatakan Ayah Bisma bahwa ada hukuman lain yang membuat seorang anak merasa terluka, dan seorang ayah yang merasa bersalah karena menyakiti anak. Hukuman itulah yang saat ini tengah dirasakan Darren Jaya Wardhana. Dalam hidupnya, pria itu sebenarnya tidak pernah tanggung-tanggung untuk melakukan sesuatu. Namun, beberapa hari lalu saat Ravendra datang menemuinya dan mengatakan semua isi hatinya, setiap kata yang keluar dari bibir Ravendra membuat Darren berpikir ulang. Mungkinkah Ravendra tersakiti dengan sikapnya?
Seakan ingin meluruskan semuanya, kali ini Darren mengunjungi Ravendra di ruangannya sebagai Wakil Direktur Dasa Crop. Pria paruh baya itu memasuki ruangan Ravendra dengan gesture tubuh yang begitu tenang.
“Vendra,” sapa Papa Darren kepada putranya itu.
Dengan tenang Papa Darren duduk di sofa, dan seakan menungga Ravendra yang masih duduk di kursi kerjanya, tengah fokus dengan Macbook miliknya.
Merasa bahwa Ravendra bersikap acuh, Papa Darren pun berdehem guna meraih perhatian dari putranya sendiri.
“Ehem, Vendra, Papa ingin bicara sama kamu,” balas Papa Darren saat ini.
Mendengar ucapan Papanya, barulah Ravendra beranjak dari kursinya dan kini pemuda itu duduk di sofa yang ada di ruangannya berhadap-hadapan dengan Papanya itu.
“Ada apa Pa?” tanya Ravendra pada akhirnya. Kendati demikian Ravendra seakan enggan melakukan kontak mata dengan Papanya sendiri.
“Begini Vendra, kamu harus dengarkan penjelasan Papa kali ini,” ucap Papa Darren.
Akan tetapi, Ravendra justru menyeringai dan menggelengkan kepalanya secara samar, “Penjelasan apa lagi Pa? Kezaliman apa lagi yang Papa lakukan dan ingin Papa akui di hadapan Vendra,” balas pemuda itu.
__ADS_1
“Jaga bicaramu, Vendra!” sahut Papa Darren.
Pria paruh baya itu kini berbicara dengan intonasi suara yang meninggi. Seakan emosinya kembali tersulut dengan respons yang diberikan oleh Ravendra.
“Kenapa Pa? Papa mau menampar Vendra lagi? Silakan Pa! Jika tamparan Papa beberapa hari yang lalu belum cukup, lakukan lagi!” Ravendra sendiri juga merasa tidak gentar. Pemuda itu justru tidak masalah mendapatkan tamparan lagi dari Papanya.
Walaupun tidak dipungkiri bahwa hati Ravendra terasa begitu sakit saat Papanya menamparnya. Itu adalah kali pertama bagi Ravendra menerima tamparan dari Papanya sendiri. Sudah bisa dipastikan bagaimana sakitnya hati Ravendra saat itu.
Terlihat helaan nafas dari Papa Darren, sampai akhirnya pria paruh baya itu kembali berbicara, “Dengarkan Papa, Vendra. Dengarkanlah penjelasan dari Papa. Papa akui kalau Papa yang menyuruh Tiara untuk melakukan semuanya, hanya saja tentang Bagas, Papa sama sekali tidak tahu. Papa punya alasan sendiri kenapa melakukan itu.”
“Alasan apa Pa? Alasan untuk membenarkan perbuatan Papa! Bagaimana pun yang sudah Papa lakukan adalah tindakan melanggar hukum, Pa. Bahkan Tante Kanaya dan Aksara bisa melaporkan Papa atas tuduhan rencana mencelakai orang lain. Papa bisa dikenakan pasal berlapis,” sahut Ravendra kali ini.
“Ravendra memilih melupakan semuanya, termasuk dendam di masa lalu dengan Aksara. Tidak ada gunanya menghabiskan banyak waktu untuk membenci orang lain. Ravendra memutuskan tidak ingin menjadi manusia zalim seperti Papa!”
Ravendra seakan menekankan istilah zalim kepada Papanya berkali-kali. Di matanya sekarang ini, seorang Papa yang dulu dipuja Ravendra, kini adalah sosok pria yang suka berbuat kejahatan. Untung saja, Ravendra mendengar hati nuraninya dan memilih untuk lepas dari jerat dendam di masa lalu yang sama sekali tidak menguntungkan.
Tampak Papa Darren justru menahan tawa di sana. Dia tidak mengira putranya berubah menjadi sosok yang tidak dia kenali.
“Jika seperti ini, kamu terlihat bukan seperti anak Papa,” sahut Papa Darren dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Entah itu ucapan responsif semata atau menyiratkan sesuatu di sana, tetapi perubahan drastis pada diri Ravendra itu membuat Papa Darren menilai bahwa Ravendra bukan seperti anaknya.
Mulailah Ravendra mengangkat wajahnya, dan menatap tajam Papanya sendiri, “Jika Ravendra bisa memilih, Ravendra tak ingin disebut sebagai anak Papa. Seorang anak yang pada kenyataannya tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Papanya. Seorang anak yang selama bertahun-tahun dalam hidupnya tidak memiliki figure seorang Papa. Seorang anak yang justru mengikuti jejak tercela Papanya. Hanya saja, semua sudah terjadi, Pa. Darah Papa yang mengalir di dalam nadi dan arteri Vendra tidak bisa dihentikan atau pun digantikan dengan darah yang baru. Hanya saja, Ravendra tidak ingin menjalani hidup seperti Papa,” ucapnya panjang lebar kepada Papanya saat ini.
Tentu saja perkataan Ravendra layaknya tamparan keras bagi Darren Jaya Wardhana. Akan tetapi, pria itu masih bersikap biasa dan begitu santai di hadapan Ravendra.
“Jika tidak ingin hidup seperti Papa untuk apa kamu masih bekerja dan mendapatkan uang dari perusahaan Papa?” sahut Darren.
Ravendra lantas tertawa, tawa yang meluapkan amarah dan kekecewaan dari hatinya, “Oh, jadi ini adalah sinyal kuat bahwa Papa tidak menginginkan Ravendra. Baik Pa, Ravendra akan angkat kaki dari perusahaan Papa. Ravendra akan berusaha dengan kemampuan sendiri. Ketahuilah Pa, tidak selamanya Tuhan membiarkan orang-orang jahat hidup tenang dan bahagia. Jika sudah menentukan hari pembalasan, maka itu yang akan terjadi. Tenang Pa, Papa tidak perlu mengusir Ravendra. Vendra cukup tahu diri, dan Vendra akan keluar dari sini. Namun, Papa juga perlu tahu sesungguhnya tidak ada hubungan kekeluarga antara Papa dan Anak di antara kita. Lebih baik, kita perjelas hubungan kita, Pa. Ravendra benar-benar kecewa sama Papa!”
Luapan isi hati dan perasaan seorang anak yang tidak bisa terbendung lagi. Seorang anak yang begitu kesakitan melihat perbuatan tercela dari Papanya.
“Dan, ingat Pa … sekali lagi Papa berbuat jahat dengan melakui Arsyilla dan keluarganya, Ravendra sendiri yang akan melaporkan Papa ke pihak yang berwajib!” ancam Ravendra kali ini.
Dari setiap kata yang Ravendra ucapkan, terdengar dengan jelas bahwa pria itu tidak sedang main-main. Ya, Ravendra mengancam bahwa di kemudian hari, jika Papanya masih berusaha mencelakai Arsyilla dan keluarga besarnya, Ravendra sendiri yang akan melaporkan Papanya ke pihak yang berwajib.
Usai mengatakan semuanya itu, Ravendra membereskan meja kerjanya. Memasukkan kembali Macbook ke dalam tasnya dan membawa jasnya di tangan.
“Ravendra, resign dari sini. Terima kasih untuk semuanya Bapak Darren Jaya Wardhana!”
__ADS_1
Itu adalah ucapan pamit yang sangat emosional bagi Ravendra. Sebagai seorang anak pun, Ravendra tidak menyangka harus melakukan dan berbicara demikian kepada Papanya. Akan tetapi, kali ini keputusannya sudah bulat. Ravendra tidak ingin hidup di jalan penuh dosa dan kezaliman yang ditempuh Papanya selama ini. Keluar dari Dasa Crop bukan akhir dari segalanya bagi Ravendra. Justru ini menjadi tantangan bagi Ravendra, dia akan membuktikan bahwa tanpa perusahaan besar Papanya, Ravendra bisa berdiri dan mencapai karir dengan usaha dan kemampuannya sendiri.