Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Debar Gejolak


__ADS_3

Hari-hari yang berlalu dengan aktivitas yang kian hari kian berkurang memang membuat Aksara tidak leluasa untuk bergerak. Satu kaki yang harus dipasangi gips berimbas pada menurunnya aktivitasnya. Untuk berjalan sedikit, mencapai kamar mandi, dan sebagainya dia harus menunggu Arsyilla yang akan membantunya berjalan, memapahnya supaya dia tidak jauh.


Namun, sudah berminggu-minggu berlalu, dan Aksara juga sudah menerima terapi untuk beberapa kali. Untunglah keluarga benar-benar mensupport mereka Ayah Bisma dan Papa Radit sering kali mendampingi Aksara untuk melakukan cek up di Rumah Sakit.


Sama seperti sore ini, Ayah Bisma dan Papa Radit begitu kompak mengantarkan Aksara untuk ke Rumah Sakit.


“Diantar Ayah dan Papa yah,” ucap Ayah Bisma kali ini.


“Aksara malahan jadi merepotkan, sampai Ayah dan Papa nganterin Aksara kayak gini,” balasnya.


Akan tetapi, Ayah Bisma menggelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa … Ayah dan Papa kamu juga tidak merasa direpotkan. Di rumah ada Bunda dan Mama yang bisa bantu-bantu Syilla,” ucap Ayah Bisma lagi.


“Benar Aksara … kepada orang tua sendiri jangan merasa merepotkan. Justru kami senang bisa melakukan sesuatu untuk anak-anak,” balas Papa Radit.


Yang diucapkan Ayah Bisma dan Papa Radit sepenuhnya benar karena semua orang tua justru merasa bangga bisa melakukan sesuatu untuk anak-anak lagi. Ketika anak-anak masih kecil, orang tuanya yang mengurus dan mengasuh anak. Setelah anak-anak dewasa, orang tua terkadang ingin mengulang masa-masa bisa kembali merawat dan mengasuh anak.


Tidak menunggu lama, ketiga pria itu segera bergegas ke Rumah Sakit supaya tidak terlalu malam untuk sampai kembali ke rumah. Sementara di rumah, ada Bunda Kanaya, Mama Khaira, dan Arsyilla yang kini mengobrol bersama. Sementara, Baby Ara berada di timangan Arsyilla.


"Makasih Syilla, kamu sudah merawat anak Bunda dengan sangat baik," ucap Bunda Kanaya dengan wajah yang tampak berkaca-kaca.


Bagi Bunda Kanaya, Arsyilla adalah menantu yang sangat baik. Di saat Aksara sakit, Arsyilla merawat suaminya itu dengan sangat baik. Bahlan Arsyilla juga tidak pernah mengeluh. Semua tugas mengasuh Ara dan merawat Aksara dia lakukan dengan baik.


"Sama-sama Bunda ... sudah kewajiban Syilla untuk terus merawat Kak Aksara," balasnya.


Merawat suami yang sakit dan butuh perhatian lebih adalah tanda bakti seorang istri. Oleh karena itulah, Arsyilla tidak keberatan untuk merawat suaminya itu.


"Bu Khaira menanamkan hal baik kepada Syilla ... sampai Syilla tidak pernah mengeluh. Semua dijalani tanpa ada keluhan," ucap Bunda Kanaya lagi.

__ADS_1


"Tidak juga Bu, saya hanya merawat dan membesarkannya, menanamkan didikan yang baik saja," balas Mama Khaira.


Memiliki anak menjadikan orang tua layaknya seorang seniman tanah liat. Di mana anak adalah tanah liat itu yang perlu dibentuk, dicetak dengan sedemikian rupa, dibakar, dihias, hingga menjadi tembikar yang indah. Itu yang Mama Khaira lakukan bersama Papa Radit dulu, membentuk anak-anak dengan didikan, ajaran, dan nilai yang baik. Kini, saat anak-anaknya dewasa, bisa terlihat tembikar seperti apa yang mereka bentuk sejak lama.


"Tidak juga Bunda ... Syilla justru sering mengeluh kok Bunda, cuma mengeluhnya sama Kak Aksara saja," balasnya sembari tersenyum.


Tidak ada manusia yang tidak mengeluh, pun demikian dengan Arsyilla. Dia juga sering kali mengeluh capek kepada suaminya. Cukup suaminya saja yang mendengarkan keluh kesahnya. Komitmen untuk menjalani pernikahan berdua, sehingga memang ada beberapa hal yang bisa dibagikan dengan keluarga, tetapi ada juga beberapa hal yang cukup diketahui antara suami dan istri. Hal-hal yang sifatnya privasi, cukup diketahui oleh suami dan istri saja.


Itu juga yang dilakukan oleh Arsyilla. Keluh kesahnya tersampaikan juga, tetapi hanya Aksara yang akan mendengarkannya. Biarkan orang tuanya fokus dengan kegiatan mereka masing-masing. Tidak perlu membebani orang tua dengan berbagai masalah rumah tangga anak.


"Cerita-cerita sama Mama dan Bunda juga tidak masalah," sahut Bunda Kanaya.


"Iya, Bunda ... ni kan juga sedang cerita," balasnya.


"Ini Bunda bawakan susu buat kamu, diminum hangat-hangat kalau mau tidur, biar capeknya hilang," ucap Bunda Kanaya membelikan begitu banyak susu dalam kaleng siap minum bergambar beruang itu untuk Arsyilla.


"Ya ampun, ini banyak banget Bunda," ucapnya.


 Sore hingga malam hari pun, ketiga wanita yang berada di rumah mengisi waktu dengan mengobrol sembari makan malam. Sementara para pria masih berada di Rumah Sakit dan mengantarkan Aksara untuk cek up dan juga terapi.


Di luar dugaan, kaki Aksara pun sembuh lebih cepat. Gipsnya sudah boleh dilepas, hanya saja untuk berjalan tetap harus hati-hati dan disarankan untuk melakukan beberapa terapi.


"Gimana setelah lepas gips, Aksara?" tanya Ayah Bisma.


Ayah Bisma memperhatikan kaki Aksara yang dibalut layaknya perban berwarna cokelat itu.


"Udah enggak berat sih, Yah ... tetapi masih harus sabar buat jalan ya Yah?" tanyanya kepada Ayahnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, semuanya membutuhkan proses. Yang penting sabar dan dijalani dengan ikhlas," balas Ayah Bisma.


Kurang lebih hampir jam 22.00 malam, mereka baru tiba di rumah. Kemudian, para orang tua berpamitan untuk pulang dan akan kembali menengok mereka di akhir pekan. Arsyilla pun kini menutup pintu dan membantu suaminya itu berjalan ke kamar yang masih berada di lantai bawah.


“Masih sakit Kak?” tanya Arsyilla.


“Lumayan sih Honey … kayak ngilu gitu saja. Masih ada beberapa kali terapi,” balas Aksara.


“Ya sudah, penting sabar aja Kak … aku akan selalu kasih semangat buat kamu,” balas Arsyilla.


Begitu telah sampai di dalam kamar, Arsyilla pun membantu suaminya itu duduk di ranjang, dan Arsyilla perlahan-lahan mengangkat kaki suaminya itu, menaruh dalam posisi yang nyaman di atas tempat tidur mereka.


“Kenapa lihatin?” tanya Aksara kemudian.


“Pasti sakit,” balas Arsyilla dengan wajah yang tampak berkaca-kaca. Akan tetapi, Aksara segera menggelengkan kepalanya, dan dia menarik dagu istrinya. Tanpa membutuhkan waktu lama Aksara mengecup bibir istrinya itu, memagutnya dengan begitu lembut, Aksara menenglengkan wajahnya untuk kembali menyapa bibir istrinya yang sudah sekian lama tidak dia rasai itu. Kedua mata Aksara memejam, dan benar-benar memberikan kecupan demi kecupan bahkan lu-matan demi lu-matan di permukaan kulit yang lembut, kenyal, manis, dan memberikan sensasi hangat dan basah itu.


Sekian menit berlalu dan bibir keduanya masih saling bertaut, tetapi kemudian Aksara memejamkan matanya kian erat dan menarik wajahnya. Ibu jarinya memberikan usapan yang lembut di bibir istrinya itu.


“Nyaris Honey … aku begitu bergejolak,” ucapnya dengan helaan nafas yang begitu berat.


Arsyilla kemudian masuk dalam dekap hangat suaminya itu, membawa kedua tangannya untuk memeluk suaminya.


“Sembuh dulu ya Kak,” balasnya dengan suara yang lirih.


“Iya … kamu sudah masa palang merah enggak?” tanya Aksara kemudian.


“Sudah selesai, kan sudah lebih dari 40 hari sejak Ara lahir,” balas Arsyilla.

__ADS_1


“Ya sudah … sembuh dulu yah. Cuma sama kamu aku bisa seperti ini,” ucap Aksara dengan jujur.


Kakinya memang sakit, tetapi sistem reproduksinya sama sekali tidak ada gangguan. Hanya saja tak ingin mengambil risiko, memang lebih baik menunggu sampai kakinya benar-benar pulih terlebih dahulu.


__ADS_2