
Rupanya kabar resignnya Arsyilla dari jajaran dosen di Fakultas Teknik Arsitektur dengan begitu mudahnya menyebar. Hingga para rekan Dosen pun mengetahui bahwa Arsyilla hendak resign dari Fakultas tersebut.
“Bu Arsyilla, apa benar Bu Arsyilla akan resign dari kampus kita ini?” tanya Bu Nila, rekan sesama Dosennya.
“Iya Bu Nila … itu benar. Saya mau resign,” jawab Arsyilla sembari memberikan senyuman kepada rekannya itu.
“Kenapa resign Bu? Apakah tidak dipertimbangkan dulu. Karier Ibu di sini kan sedang naik-naiknya,” sahut Bu Nila.
“Saya akan menikah usai wisuda ini Bu … ingin membangun rumah tangga dan program hamil secepatnya,” balas Arsyilla.
Bu Nila pun membolakan matanya, saat mendengar bahwa tujuan Arsyilla memilih resign karena ingin menikah dan segera melakukan program hamil. Pada kenyataan, memang banyak wanita yang mengorbankan mimpi dan cita-cita mereka karena menikah dan memiliki keturunan.
“Apa tidak sayang Bu Arsyilla? Bu Arsyilla kan salah satu Dosen Muda yang dipertimbangkan dengan baik di sini,” respons Bu Nila kali ini.
“Saya sudah ajukan surat pengunduran diri saya, Bu … tetapi, akan ditinjau ulang. Jadi, bagaimana hasilnya nanti tergantung pihak kampus,” jawab Arsyilla lagi.
Baru saja Bu Nila bertanya terkait kabar pengunduran diri Arsyilla, rupanya Pak Bagas datang-datang bergabung dengan Arsyilla dan Bu Nila. Wajah pria itu terlihat kusut dan menatap ke arah Arsyilla.
“Apa benar Bu Arsyilla hendak resign?” tanya Pak Bagas.
Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, “Iya Pak … tetapi masih akan ditinjau ulang oleh pihak kampus,” jawab Arsyilla.
“Apa benar yang saya dengan Bu Arsyilla akan segera menikah?” tanya Pak Bagas.
“Iya … tinggal menunggu bulan saja, Pak … nanti undangannya pasti akan saya bagikan kepada rekan-rekan Dosen,” jawab Arsyilla.
Mengingat bahwa sekarang adalah waktu santai dan mereka tengah mengobrolkan hal di luar pengajaran, Bu Nila pun kembali bertanya.
“Suaminya bekerja sebagai apa Bu Arsyilla?” tanya Bu Nila lagi.
“Hanya seorang tukang gambar bangunan Bu,” jawab Arsyilla.
Terasa lucu memang, karena itu adalah jawaban Aksara dulu saat kali pertama ditanyai Papa dan Mamanya, bahwa Aksara bekerja sebagai tukang gambar. Sekarang Arsyilla nyatanya juga memakai jawaban dari suaminya itu.
“Oh … Arsitek yah?” tanya Pak Bagas memastikan.
“Tukang gambar bangunan kan jelas Arsitek, Pak Bagas … mana mungkin manajer,” sahut Bu Nila sembari tertawa. “Bau-baunya ada yang patah hati ini,” celetuk Bu Nila dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Suasana di tempat itu, tiba-tiba menjadi canggung. Untuk memecahkan kecanggungan, Arsyilla lantas kembali mengobrol dengan Bu Nila.
“Nanti kalau saya menikah, Bu Nila datang yah,” ucap Arsyilla kini.
“Oh, pasti dong Bu Arsyilla … saya pasti akan datang,” jawab Bu Nila.
Setelah beberapa saat mengobrol, akhirnya Arsyilla harus kembali mengajar untuk mahasiswa tingkat akhir. Wanita itu datang dengan menyapa mahasiswanya.
“Selamat siang semuanya,” sapanya kali ini.
“Siang Bu Arsyilla,” jawab seluruh mahasiswa dalam satu kelas itu.
Belum juga Arsyilla memulai kelas siang itu, rupanya beberapa mahasiswa sudah menanyakan beberapa hal yang sifatnya di luar mata kuliah kepada Arsyilla.
“Bu Arsyilla, apa benar Bu Arsyilla akan resign yah?” tanya Mona yang tiba-tiba bertanya.
Tentu saja pertanyaan dari Mona membuat seluruh mahasiswa menatap ke arah Arsyilla sekarang ini.
Arsyilla pun menaruh laptopnya sejenaknya, dan kemudian menganggukkan kepalanya, “Iya … benar. Akan tetapi, jadi tidaknya saya resign diputuskan pihak kampus,” jawab Arsyilla.
“Akan mengajar di kampus mana Bu Arsyilla?” tanya Ryan kali ini.
“Mau married ya Bu?” teriak Mona lagi kali ini.
Sontak saja para mahasiswa tertawa dan menatap wajah Arsyilla dengan penuh rasa ingin tahu yang tinggi. Mengingat kelas menjadi kurang kondusif, Arsyilla pun meminta para mahasiswa untuk tidak terlalu gaduh.
“Sayang sekali … padahal Ibu Arsyilla adalah Dosen yang keren di kampus ini. Jangan resign dong Bu Arsyilla,” ucap Ryan.
Ya, si ketua kelas itu terlihat tidak menginginkan Arsyilla untuk resign. Wajah-wajah mahasiswa yang lainnya juga mengisyaratkan hal serupa. Arsyilla sebenarnya bersikap santai saja. Apa pun keputusan yang diambil nanti, dirinya hanya tinggal menjalani saja. Yang pasti, Arsyilla hanya ingin mendampingi suaminya itu.
“Bu Arsyilla, sefakultas Teknik Arsitektur gempar loh mendengar kabar Bu Arsyilla akan resign.” lagi Ryan berbicara.
Arsyilla tersenyum dan menggigit bibir bagian dalamnya sendiri.
Fakultas akan makin gempar jika tahu aku menikah dengan mahasiswaku sendiri …
Fakultas akan makin gempar jika tahu dengan siapa aku menghadiri wisuda nanti …
__ADS_1
“Ya sudah … sekarang kita akan melanjutkan kuliah yah. Saya harap kalian semua lulus dan nanti kita bertemu di wisuda satu bulan lagi,” ucap Arsyilla.
Sebab Arsyilla hanya tidak ingin urusan pribadinya terlalu diketahui oleh publik. Biarkan masalah pribadinya cukup diketahui oleh dirinya sendiri dan keluarganya saja. Usai itu, Arsyilla pun menyelesaikan untuk menyampaikan materi ajar kepada mahasiswa. Hingga tidak terasa waktu selama 120 menit telah berlalu.
Arsyilla kemudian menyelesaikan mengajarnya dan tentunya bersiap pulang. Rasanya sekarang dia harus bercerita kepada suaminya bahwa pihak kampus khususnya dosen dan para mahasiswa sudah mengetahui bahwa dirinya hendak resign dan menikah. Arsyilla keluar dari gedung tempat dia mengajar, berjalan perlahan menuju parkiran di fakultas, rupanya di tempat biasa sudah terparkir sebuah mobil berwarna putih.
Masih sama seperti biasa, Arsyilla pun harus kucing-kucingan untuk memasuki mobil Aksara. Tentu karena takut ada yang memergokinya kali ini.
“Sudah selesai mengajarnya Honey?” sapa Aksara begitu istrinya itu sudah memasuki mobilnya.
“Iya … sudah Kak,” balasnya dengan tersenyum lebar.
“Wajah kamu cerah banget … ada apa sih?” tanya Aksara yang memperhatikan wajah istrinya yang cerah dan tersenyum lebar itu. Sebab, beberapa hari yang lalu wajah Arsyilla terlihat begitu murung.
“Oh … ada gosip di kampus sih Kak,” jawabnya dengan singkat.
“Gosip apa?” tanya Aksara dengan penasaran.
Tentu saja Aksara penasaran karena dirinya sudah tidak masuk ke kampus. Hanya tinggal menunggu waktu di wisuda saja.
“Gosip tentang aku,” jawab Arsyilla sembari tergelak dalam tawa. Baru kali ini, ada orang yang digosipkan dan menjadi bahan pembicaraan, tetapi Arsyilla justru tertawa.
“Digosipin kok malahan ketawa sih,” respons Aksara kini.
“Iya … teman dosen pada nanyain aku mau nikah kapan dan tentang suamiku kayak gimana. Terus aku jawab saja, suamiku tukang gambar. Sama jawaban kamu dulu waktu ditanya Mama dan Papa. Terus pas ngajar, rupanya mahasiswa juga tahu kalau aku mau resign. Katanya itu jadi kabar yang menggemparkan sefakultas Teknik Arsitektur,” cerita Arsyilla kini. Wanita itu pun masih tertawa.
Aksara mencoba mendengar cerita istrinya itu sembari terus mengemudikan mobilnya.
“Baru gini aja sudah gempar … gimana nanti kalau aku ngasih undangan resepsi dan melihat ada namamu di sana coba?” Tawa Arsyilla kembali pecah.
Agaknya Arsyilla membayangkan bahwa nanti akan menggamparkan sefakultas jika dirinya akan memberikan undangan resepsinya nanti.
“Kayaknya aku beneran gila deh Kak … aku menikah dengan mahasiswaku sendiri coba. Kalau Dosennya cowok dan nikah dengan mahasiswi kan wajar yah, kayak di novel-novel dan series romansa. Lah, ini kita kebalik,” ucap Arsyilla lagi.
Aksara lantas tertawa dan melirik wajah istrinya itu, “Menjadi beda itu tidak masalah, Honey … aku justru yang gila karena berani-beraninya menjebak kamu. Aku mati kutu rasanya saat kita bertemu kali di kelas kala itu. Ternyata kamu adalah Dosenku. Namun, aku senang … aku memiliki kamu sebagai istriku. You are my wife and my sexy lecturer,” balas Aksara.
Terselip pengakuan dari Aksara bagaimana dirinya yang juga nyatanya gila dan merasa mati kutu saat kali pertama bertemu dengan Arsyilla di ruangan kelas. Sungguh, Aksara tidak mengira bahwa Arsyilla adalah dosennya.
__ADS_1
Agaknya kali ini keduanya bisa menyingkapi kabar-kabar yang berhembus dengan kurang sedap dengan tertawa. Sebab, memang tidak semua kabar dan pemberitaan miring harus di hadapi dengan serius. Ada kalanya merespons sesuatu yang terjadi dengan tawa, justru keduanya merasa lucu dengan kisah yang sudah mereka jalani bersama sejauh ini.