Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
38 Weeks!


__ADS_3

“Kak, nanti sore kamu pulang dari kantor jam berapa?” tanya Arsyilla kepada suaminya yang hendak berangkat ke kantor itu.


Mendengar pertanyaan dari istrinya itu, Aksara pun kembali berbalik dan menatap wajah istrinya itu. “Kamu lucu banget sih Honey … aku berangkat saja belum loh, kamu sudah tanya kapan aku pulangnya. Emangnya kenapa?” tanya Aksara kepada istrinya itu.


Wajah Arsyilla tersenyum lebar. Memang itu terdengar lucu sih, suaminya masih berada di rumah dan belum berangkat, tetapi Arsyilla sudah menanyakan kapan suaminya itu akan pulang.


“Enggak Kak, cuma tanya saja kok,” balasnya.


“Ada apa Honey? Ada yang perlu kamu butuhkan? Ingin titip sesuatu mungkin?” tanya Aksara kepada istrinya itu.


Aksara bertanya mungkin saja ada sesuatu yang Arsyilla butuhkan atau ada makanan yang diinginkan Arsyilla. Lagipula, beberapa kali saat waktunya pulang kerja, Arsyilla juga sering menelpon dan mengirimkan pesan untuk memberikannya beberapa makanan dan camilan yang dia inginkan. Sebagai suami yang baik, Aksara juga selalu membawakan apa yang dipesan oleh istrinya itu. Ada kalanya Arsyilla menitip untuk membeli Cimol, Pisang Karamel, Toppoki, dan aneka camilan lainnya yang sedang ingin dimakan istrinya itu.


“Enggak Kak … tuh lupa kan, nanti kan kita harus cek kehamilan lagi Kak. Menjelang persalinan kan sekarang setiap minggu harus cek kondisinya Dedek Bayi,” ucap Arsyilla mengingatkan suaminya itu.


“Ya ampun, sampai lupa, Honey … ya sudah, nanti aku balik lebih cepat dari kantor. Kamu sudah bersiap yah. Jam biasanya kan?” tanya Aksara kepada istrinya itu.


“Iya, jam biasanya. Jadi, nanti sore ya Kak,” ajak Arsyilla kepada suaminya.


Aksara menganggukkan kepalanya, kemudian memeluk tubuh istrinya dengan perut yang kian membuncit itu. “Iya, nanti sore kita lihat lagi kondisinya Dedek Bayi,” balas Aksara.


“Ya sudah … aku bekerja dulu yah,” ucap Aksara. Setelah itu, Aksara sedikit menunduk, pria itu mengecup perut Arsyilla yang begitu membuncit, mengecupnya dengan penuh rasa sayang. “Princessnya Ayah … Ayah bekerja dulu yah. Baik-baik di rumah yah bersama Bunda,” pamitnya kepada Dedek Bayi yang memang dari hasil USG berjenis kelamin perempuan itu.


Tiap kali Aksara berpamitan dan mengecup perutnya yang kian membuncit, Arsyilla merasa terharu. Itu adalah bentuk perhatian seorang Ayah kepada baby nya yang masih berada di dalam perutnya.


“Iya Ayah … hati-hati yah,” sahut Arsyilla sembari tersenyum dan melambaikan tangannya kepada suaminya itu.


***


Sore harinya …


Sama seperti yang sudah dijanjikan Aksara kepada istrinya bahwa dirinya akan pulang dari kantor dengan lebih cepat. Kini, pria itu sudah berada di rumah, untuk menjemput istrinya, dan kemudian menuju ke Rumah Sakit untuk mengecek kembali kondisi janin dalam rahim istrinya. Menjelang persalinan memang Dokter Rinta menginstruksikan bahwa pemeriksaan menjadi lebih cepat, satu kali dalam seminggu. Untuk itu, Aksara dan Arsyilla juga harus bersiap. Setidaknya mereka berdua bisa memonitoring kondisi janin dalam rahim Arsyilla sampai di batas waktunya melahirkan nanti.

__ADS_1


“Sudah siap, Honey?” tanya Aksara kepada istrinya itu.


“Sudah dong Ayah … biar Ayah enggak kelamaan nungguin aku,” balas Arsyilla sembari tersenyum menatap wajah suaminya itu.


“Kamu capek enggak Kak? Maaf yah, harus bolak-balik … kamu harusnya bisa istirahat, sekarang harus bolak-balik antar aku ke Rumah Sakit,” ucap Arsyilla.


Setidaknya Arsyilla sangat tahu bahwa suaminya juga kecapekan setelah bekerja seharian. Namun, Aksara juga tidak pernah mengeluh bahwa dirinya capek. Aksara justru terlihat begitu tulus mengantar jemput Arsyilla.


“Buat kamu dan Dedek Bayi, aku tidak kecapekan kok Honey. Santai saja,” balas Aksara.


 Setelahnya Aksara segera membawa Arsyilla untuk memasuki mobilnya. Dengan kecepatan sedang, Aksara mengemudikan mobilnya. Menyusuri jalanan di Ibukota sore hari itu, sampai akhirnya sekarang keduanya sudah tiba di Rumah Sakit.


Sama seperti pasien yang lainnya, kali ini Aksara dan Arsyilla harus mengantri untuk beberapa saat lamanya. Menunggu sampai nama Arsyilla dipanggil oleh perawat. Lantaran kehamilan juga sudah kian membesar, terkadang Arsyilla menyandarkan bahunya di kursi, terkadang mengusapi perutnya, dan terdengar berjalan-jalan, karena memang dengan bertambahnya bulan, rasanya begitu engap, dan ingin beraktivitas juga susah. Kendati demikian Arsyilla sama sekali tidak mengeluh. Dia akan menjalani semuanya dengan perlahan-lahan dan menunggu sampai masa bersalin tiba.


Hampir setengah jam menunggu, barulah nama Arsyilla dipanggil oleh seorang perawat.


“Silakan Bu Arsyilla,” panggil seorang perawat yang mempersilakan Arsyilla untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


“Sore Bu Arsyilla, jadi sering bertemu sama saya yah,” balas Dokter Rinta sembari tertawa. Memang menjelang masa-masa persalinan dan seringnya waktu pemeriksaan membuat mereka sering bertemu dan melakukan konsultasi.


“Apa ada kendala Bu Arsyilla?” tanya Dokter Rinta kepada Arsyilla.


“Kendala apa ya Dok … cuma lebih engap saja Dok … mau miring ke kanan susah, miring ke kiri susah, dan juga lebih banyak buang air kecil,” jawab Arsyilla yang seolah menceritakan kondisinya sekarang ini.


“Sabar ya Bu … kalau sesuai dengan Hari Perkiraan Lahir (HPL) tinggal menunggu dua minggu lagi. Jadi dijalani dengan penuh syukur,” respons Dokter Rinta.


Usai sedikit berbicara, kemudian Dokter Rinta mempersilakan Arsyilla untuk naik ke atas brankar dan mulai melakukan pemeriksaan dengan USG terlebih dahulu.


“Usia kehamilan Ibu Arsyilla sekarang memasuki 38 Minggu. Itu artinya hari persalinan sudah semakin dekat. Selama kehamilan, kenaikan berat badan Bu Arsyilla sampai 12 kilogram. Cukup banyak, hanya saja masih normal,” jelas Dokter Rinta.


Perlahan Arsyilla pun menganggukkan kepalanya dan sedikit tertawa, “Iya Dok … banyak banget ya Dok, sampai 12 kilogram?” tanyanya.

__ADS_1


“Masih normal kok Bu … karena ada yang mengalami kenaikan berat badan sampai 20 Kilogram. Jadi, ini bisa dikatakan normal,” jawab Dokter Rinta.


Setelah itu, Dokter Rinta bersiap dengan transducer di tangannya yang siap di gerakkan di atas permukaan perut Arsyilla.


“Nah, usai kehamilan sudah 38 minggu ya Bu. Di sini terlihat jika ruang gerak si baby di dalam sini mulai berkurang karena di dalam rahimnya babynya juga terus bergerak. Sekarang kita ukur dulu panjang bayinya, dari kepala hingga ke kaki, panjangnya sekitar 49 centimeter. Sekarang kita ukur berat badannya, wah, ternyata sudah cukup besar babynya ya Bu. Sudah 3 kilogram.” penjelasan dari Dokter Rinta dengan menggerakkan transducer di tangannya.


“Posisi bayi dan plasentanya bagaimana Dok?” tanya Arsyilla kali ini karena dia teringat dengan pesan dari Mama Khaira untuk menanyakan mengenai posisi bayi dan posisi plasenta.


Mulailah Dokter Rinta kembali menggerakkan transducer di tangannya untuk melihat posisi bayi dan letak plasentanya. “Posisi bayi baik ya Bu Arsyilla … bisa Ibu dan Bapak lihat di monitor bahwa kepala bayi ini sudah masuk ke dalam panggul. Selain itu, plasenta juga tidak menghalangi jalan lahir, atau yang biasa disebut plasenta previa. Jadi sih, kalau Ibu mau melahirkan secara normal itu bisa,” jelas Dokter Rinta.


Saat Dokter Rinta menjelaskan, Aksara dan Arsyilla sama-sama fokus melihat monitor. Keduanya juga bersyukur karena letak plasenta yang tidak menutupi jalan lahir.


“Bu Arsyilla mau melahirkan secara normal atau Caesar?” tanya Dokter Rinta kali ini kepada Arsyilla.


“Sakit ya Dok?” tanya Arsyilla.


Mendengar pertanyaan Arsyilla, Dokter Rinta pun tersenyum, “Melahirkan itu pasti sakit Bu … hanya saja sakit yang memberikan kebahagiaan yang luar biasa. Jadi, saya jelaskan jika Bu Arsyilla mau melahirkan secara normal, sekarang banyak jalan-jalan, melakukan kegiatan jongkok dan berdiri, juga melakukan hubungan suami istri. Hanya saja hindari untuk memberikan ransangan di area dada,” jelas Dokter Rinta.


“Iya Dok,” jawab Arsyilla dengan singkat.


“Kalau melahirkan secara Caesar, minggu depan Ibu bisa melahirkan buah hatinya. Ingat ya Bu, mau normal atau Caesar itu hanya metode bersalin. Semuanya menjadi Ibu wanita yang sempurna, jadi harap tidak membedakan antara melahirkan secara Caesar dan Normal. Perjuangannya sama,” jelas Dokter Rinta kali ini.


“Benar Dok … saya setuju,” balas Arsyilla.


“Jadi mau melahirkan normal atau Caesar Bu?” tanya Dokter Rinta kepada Arsyilla.


“Euhm, mungkin saya bisa mencoba melahirkan secara normal dulu, Dok,” jawab Arsyilla.


“Baiklah Bu Arsyilla. Minggu depan jika melakukan pemeriksaan lagi, kita akan lakukan cek dalam untuk melihat apakah sudah terjadi pembukaan. Selebihnya jaga pola tidur dan pola makan. Berat bayinya sudah 3 kilogram, jadi kurangi asupan gula,” jelas Dokter Rinta kepada Arsyilla.


Rasanya kian hari kian mendebarkan. Hanya saja Arsyilla ingin terus melalui masa-masa kehamilan yang tinggal beberapa pekan lagi dengan penuh syukur. Lagipula, dirinya tidak sendiri ada Aksara yang juga setia mendampinginya.

__ADS_1


__ADS_2