Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Belanja Bersama


__ADS_3

Sarapan pertama bagi Aksara dan Arsyilla di dalam apartemennya. Jika wajah Arsyilla merah padam karena menahan emosi. Akan tetapi, sedari tadi Aksara justru tampak tersenyum. Keisengannya menggodai istri sendiri justru membuat pria itu bahagia. Memperhatikan raut wajah Arsyilla yang berganti-ganti dari cemberut, kesal, hingga acuh tak acuh nyatanya justru menggembirakan untuk Aksara.


Dalam diam, sembari mengunyah nasi kuning yang dibawakan Bunda Kanaya, dia pun mencuri pandang kepada Arsyilla yang duduk di hadapannya.


Begitu sarapan usai, Arsyilla memilih beranjak dari meja makan. Dia segera mencuci peralatan makan yang sebelumnya dia gunakan. Belum juga Arsyilla selesai mencuci peralatan makannya, Aksara sudah menyusul dan sekarang berdiri di belakangnya. Pria itu segera meraih spons dan sabun pencuci piring beraroma lemon itu, tangannya bergerak tepat di depan tubuh Arsyilla. Seolah pria itu tengah mendekap Arsyilla dari belakang.


“Sengaja banget sih,” ucap Arsyilla sembari berusaha untuk mempertahankan badannya supaya jangan sampai menempel pada Aksara.


Sayangnya suaminya itu justru usil, dan kian merapatkan tubuhnya kepada Arsyilla.


“Aku baru mencuci piring, bukan sengaja,” sahutnya sembari membilas piring, sendok, garpu, dan sebuah cangkir keramik di bawah guyuran kran air di wastafel.


“Gak usah nempel-nempel juga kali,” ucap Arsyilla dengan ketus. Baginya, hanya akal-akalan suaminya saja yang sengaja menempel-nempel padanya.


Aksara justru tertawa, “Nempel juga gak apa-apa kan ya sudah halal. Sudah resmi milikku,” balas Aksara yang seolah kali ini pria itu menegaskan bahwa Arsyilla sudah resmi miliknya dan dia berhak untuk menempel pada istrinya sendiri.


Saat Aksara sudah selesai dengan mencuci peralatan makan bagiannya, agaknya pria itu justru berlama-lama mencuci tangannya.


“Buruan enggak sih, minggir. Aku mau lewat,” ucap Arsyilla lagi yang kali ini berusaha lepas dari tubuh suaminya itu.


“Sebentar, gak lama lagi. Kenapa sih dideketi suami sendiri sih kayak gitu?” tanya Aksara sembari memajukan wajahnya, hingga sisi wajahnya nyaris menempel di wajah Arsyilla.


Merasa bahwa suaminya tengah dalam mode iseng, perlahan Arsyilla bergerak ke belakang, mendorong tubuh Aksara dengan punggungnya, setelahnya dia sedikit menundukkan badannya juga terlepas dari kedua tangan Aksara.


Ah, rasanya lega. Berdekatan dengan Aksara, yang ada justru membuat tekanan darahnya kian naik.

__ADS_1


“Sengaja banget sih, awas ya.” Arsyilla memincingkan matanya melihat Aksara yang seolah masih suka bermain-main air di sana. Setelahnya, Arsyilla memilih untuk masuk ke dalam kamarnya.


Begitu sudah berada di dalam kamarnya, wanita itu tengkurap di sana dan satu tangannya memukul-mukul bantal yang sebenarnya tidak bersalah apa-apa. Akan tetapi, Arsyilla memukul-mukul bantal itu untuk meluapkan amarah, emosi, dan jengkelnya kepada suaminya sendiri.


Sengaja banget sih. Cari kesempatan dalam kesempitan banget.


Yang bisa dilakukan Arsyilla sekarang ini adalah menggerutu. Jika sebelumnya Arsyilla adalah sosok yang penuh syukur, tetapi belum ada 24 jam berlalu sejak pernikahannya, Arsyilla justru berubah menjadi sosok yang sering menggerutu.


Bagi Arsyilla kali ini, menikahi Aksara seperti membawa kedamaian dalam hidupnya berlalu begitu saja. Yang tersisa hanyalah perasaan mengguruti dan merutuki diri sendiri. Belum lagi dengan sikap Aksara yang terlalu terlihat mendekatinya, kian membuatnya menggerutu. Jika bisa, rasanya dia ingin segera kembali ke rumah Mama Khaira dan Papa Radit. Tidak ingin tinggal bersama dengan suaminya itu.


***


Menjelang sore …


Sepanjang siang hari, nyatanya Arsyilla memilih mengurung dirinya di kamar. Enggan berhadapan dengan Aksara. Berhadapan dengan Aksara justru membuatnya uring-uringan dan juga ingin terus menggeruti.


“Hei Arsyilla, keluar … ayo kita belanja bahan makanan. Aku tunggu lima menit,” ucap Aksara dari luar kamar Arsyilla.


Di apartemen itu mereka hanya tinggal berdua, jadi sudah pasti Arsyilla akan mendengar suaranya.


Dari dalam kamarnya Arsyilla mendengarkannya, maka dari itu dia segera berdiri untuk mengganti pakaiannya dan juga sedikit berias. Nyaris lima menit berlalu, akhirnya Arsyilla keluar dari kamarnya dengan sebatas mengenakan jeans dan kaos, wajahnya juga berhiaskan sedikit make up dan pewarna bibir berwarna pink.


“Ayo,” ucap Arsyilla sembari berdiri di depan pintu kamarnya. Sementara di sisi pintu itu juga ada Aksara yang sudah siap dan menunggu Arsyilla.


Keduanya pun kemudian pergi keluar dari kamarnya. Aksara segera membawa Arsyilla ke supermarket terdekat dari apartemen itu. Begitu sudah sampai di supermarket, Aksara mengambil sebuah trolly dan mendorongnya. Pria itu mengikuti Arsyilla yang berjalan di depannya, dia setia mengikuti sembari mendorong trolly itu.

__ADS_1


Ada beberapa bahan yang dibeli oleh Arsyilla mulai dari keperluan mandi, buah, sayur, daging ayam, teh, mie instans, dan beberapa bahan untuk keperluan dapur lainnya.


“Kita kayak pasangan yang bahagia enggak sih?” tanya Aksara tiba-tiba sembari mengamati setiap barang diambil Arsyilla dan dimasukkan ke dalam trolly itu.


“Enggak,” sahut Arsyilla dengan cepat.


“Lalu, kita terlihat kayak apa?” tanya Aksara lagi.


Arsyilla pun mengedikkan bahunya, “Tau,” lagi wanita itu menyahut dengan ketus.


“Kenapa sih kalau sama aku, kamu bawaannya ketus? Beda banget kalau sedang mengajar di kelas. Tau gitu mending ketemunya di kelas saja,” jawab Aksara yang merasa istrinya itu begitu ketus, sikapnya sangat berbeda saat Arsyilla tengah mengajar di kampus.


Perlahan Arsyilla berhenti dan menatap wajah pria yang juga saat ini tengah menatapnya, “Kita cuma bertemu di kampus saja aku juga malahan senang,” sahut Arsyilla.


Setelah merasa bahwa semua yang dia butuhkan sudah dia beli, maka Arsyilla pun hendak membayarnya ke kasir.


“Sudah, ayo kita bayar dulu,” ucapnya sembari menarik ujung trolly belanjaan itu.


Petugas kasir pun mulai men-scan barang belanjaan itu dan memasukkannya ke dalam kantong plastik. Hingga Arsyilla pun mengeluarkan kartu debitnya sendiri dari sling bagnya, tetapi Aksara segera menahannya dan memberikan kartu debit dari dompetnya sendiri kepada petugas kasir itu.


“Pakai ini saja, Mbak …” ucap Aksara dengan menyerahnya kartu ATMnya.


Tampak bingung petugas kasir itu pun melihat wajah Arsyilla dan Aksara bergantian, “Jadi memakai kartu ATM yang mana ini Kak?” tanya petugas kasir sebelum menggesekkan kartu itu.


“Pakai punya saya saja, Mbak,” balas Aksara dengan cepat. Sehingga petugas kasir itu pun mengembalikan kartu ATM milik Arsyilla, dan segera memproses pembayaran dengan ATM yang diberikan Aksara, sesudahnya petugas kasir itu meminta Aksara untuk menekan pin-nya.

__ADS_1


Dalam hatinya Aksara tersenyum, dia adalah seorang pria yang bertanggung jawab atas istrinya. Berbelanja bahan makanan dan keperluan istri dengan uangnya sendiri justru terasa sangat menyenangkan.


__ADS_2