Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Pesona Adik Ipar


__ADS_3

Begitu tiba di kamar Aksara, agaknya Arsyilla masih ingin menanyakan perihal si adik iparnya yang terkesan misterius itu. Arsyilla pun kemudian mengikuti suaminya itu untuk duduk di sofa, memandang pada kolam renang yang terlihat dari jendela kamar itu.


“Kak, aku boleh tanya-tanya?” tanya Arsyilla kemudian.


“Iya, boleh … tanya aja. Aku akan jawab semua pertanyaan kamu,” balas Aksara.


Arsyilla kemudian mengangguk, dia mulai bersuara, “Euhm, begini Kak … ini tentang Rangga, aku masih enggak nyangka aja sih, kamu itu punya adik,” ucap Arsyilla.


“Ya punya Sayang … selisihku dengannya memang 7 tahun. Sudah dengar sendiri kan tadi Bunda Kanaya jawabnya gimana. Jarak usia kami berdua memang jauh. Selisih tujuh itu sangat jauh jaraknya bukan?,” balas Aksara.


“Hubungan kamu dengan Rangga juga baik, Kak?” tanya Arsyilla perlahan.


Aksara tampak menghela nafasnya sejenak, dan kemudian menatap wajah istrinya itu. “Ya, baik-baik saja sih … walaupun enggak begitu dekat. Tahu sendirilah saudara cowok sama cowok itu gimana. Selain itu, usia yang jauh, jadi saat aku duduk di bangku SMP, adikku masih SD. Lalu, saat aku sudah kuliah, Rangga baru memasuki sekolah menengah. Jadi ada rentang usia yang jauh antara kami berdua. Gitulah,” jawab Aksara.


Memang rentang usia yang begitu jauh antar saudara kandung membuat gap sendiri. Si sulung sudah remaja dan memiliki dunianya sendiri, sementara si bungsu masih anak-anak. Sementara saat si sulung sudah menjadi dewasa yang matang, sementara si bungu baru menginjak usia remaja yang sedang dalam taraf coba-coba. Perbedaan itu tentunya juga dirasakan oleh Aksara dan Rangga.


“Pernah marah sama Rangga?” tanya Arsyilla kemudian.


“Pernah lah, dulu waktu kecil juga sering berantem. Biasalah, namanya juga saudara satu rumah. Walaupun darah kami bersumber dari darah yang sama, tetapi keinginan dan jalan pikiran kan beda, Sayang,” balas Aksara.


Lantas, Aksara menghela nafasnya sejenak, dan pria itu kembali berbicara. “Akan tetapi, ada satu hal yang membuat aku begitu marah sama Rangga. Itu saat dia masih SMA, dan dia mengaku bahwa menghamili pacarnya. Darahku tiba-tiba saja mendidih, tidak mengira adiknya akan melakukan hal kelewat batas seperti itu. Pasalnya dia masih remaja, bisa-bisanya mengikuti sisi primitifnya sebagai seorang pria dan menghamili anak gadis orang,” cerita Aksara dengan menggebu-gebu.


Arsyilla pun mengusapi punggung suaminya itu, tahu bahwa kenangan masa lalu membuat Aksara begitu sebal dengan Airlangga di waktu itu.


“Sabar Kak,” balas Arsyilla.


“Iya … lagipula itu adalah masa lalu. Thania lahir dari sebuah kesalahan, tetapi aku sependapat dengan Ayah Bisma bahwa kelahirannya pun direncanakan Allah jauh-jauh hari sebelumnya. Dia lahir memang Allah menghendakinya. Lagipula, semua ada konsekuensinya kan, jadi ya begitulah adanya,” balas Aksara.


Arsyilla pun mengangguk, “Iya Kak … kesalahan yang dilakukan orang tua jangan ditimpakan kepada anak. Biarkan dia tumbuh dan mengenal dunianya. Anak bukan hasil dosa, anak adalah anugerah dan titipan dari Allah. Jadi, jangan menyematkan label bahwa Thania lahir dari kesalahan,” ungkap Arsyilla.


“Iya Sayang … aku pun berpikir begitu. Aku juga pengen Thania tumbuh secara alami, tanpa terbeban dengan masa lalu dan kesalahan orang tuanya. Biarkan saja, asalkan bagi kami Thania tumbuh sehat dan bahagia,” balas Aksara.

__ADS_1


Kemudian, Aksara tampak menatap wajah istrinya itu, “Kamu nanyain Rangga, apa kamu terpesona sama Rangga?” tanya Aksara dengan tiba-tiba.


Dengan cepat Arsyilla pun menggelengkan kepalanya, “Bukan terpesona … aku hanya penasaran saja. Makanya aku bertanya langsung sama kamu,” balas Arsyilla.


“Oh … gitu. Beneran?” tanya Aksara lagi.


“Bener,” sahut Arsyilla dengan cepat.


“Aku pikir kamu terpesona sama Rangga … secara dia adalah calon Dokter, masih muda, tampan juga. Sapa tahu kamu kayak di novel-novel yang baru hits sekarang tentang terpesona adik ipar,” sahut Aksara.


Arsyilla pun menghela nafasnya sejenak, dia menatap wajah suaminya dengan begitu lekatnya, “Kenapa aku tidak setuju ya Kak … walaupun perasaan bisa tumbuh dengan sendirinya, tetapi gak etis gak sih kalau terpesona adik ipar atau kakak ipar sendiri. Cinta itu memang buta, tetapi rasio dan logika kita tidak buta,” jelas Arsyilla dengan sungguh-sungguh.


“Benar Sayang … jangan sampai seperti itu. Jangan sampai terpesona dengan iparmu sendiri. Menginginkan dalam hati saja sudah zinah, apalagi jika benar-benar melakukannya. Tetap terhitung dosa, Sayang,” jelas Aksara.


“Iya Kak … lagipula, kalau dipikir-pikir sepanjang aku hidup aku cuma terpesona dengan dua pria deh. Ya, walaupun aku dulu pernah mengenal pria lain, tetapi tidak sampai tahap terpesona,” jawab Arsyilla kemudian.


“Siapa dua pria itu?” tanya Aksara.


“Karena?” tanya Aksara yang menginginkan Arsyilla untuk menjelaskan alasannya.


“Papa Radit tentu cinta pertama aku. Semua Papa adalah cinta pertama bagi putrinya. Aku sangat mengidolakan Papa Radit. Sementara kamu adalah pria yang aku cintai. Suami aku, pasangan hidup aku,” jawab Arsyilla.


Sekadar memberikan penjelasan kepada suaminya saja, wajah Arsyilla telah bersemu merah. Begitu malu memberikan alasan kenapa dia terpesona suaminya itu.


“Jadi, alih-alih aku terpesona dengan orang lain termasuk iparku … lebih baik aku terpesona pada suamiku sendiri,” balas Arsyilla.


“Benar Sayang … semua orang di luaran sana memang mungkin ada yang mengalaminya. Namun, aku pun yakin bahwa cinta itu membutuhkan logika. Apakah mungkin kamu mengkhianatiku dengan adikku sendiri? Sementara kita tinggal satu atap, orang tua kita pun sama. Akan susah bagi orang tua mendukung anak sulung dan anak bungsunya. Jika ingin berzinah, lebih baik sama orang lain sana. Akan tetapi, lebih baik setia. Kesetiaan itu mahal, dan dengan setia, kita bisa sama-sama menua bersama,” jelas Aksara.


Arsyilla pun kemudian menganggukkan kepalanya, “Iya Kak … aku tahu. Maaf yah, aku tanya-tanya tentang Rangga, cuma penasaran saja kok. Tidak ada niat lain. Aku tuh sudah cinta sama kamu, Kak,” balas Arsyilla.


“Iya, aku tahu … terima kasih Sayang. Janji yah, setia sama aku sampai mati,” pinta Aksara kali ini.

__ADS_1


Arsyilla kemudian mengangkat jari kelingkingnya, “Aku janji. Aku akan setia kepada suamiku ini,” balasnya.


Aksara juga mengangkat jari kelingkingnya dan saling menautkan dua jari kelingking itu, “Aku juga berjanji. Hidup dan matiku hanya untuk kamu,” balas Aksara dengan sungguh-sungguh.


Merespons janji suaminya itu, Arsyilla lantas memeluk tubuh suaminya itu, dan memeluknya erat.


“I Love U, Kak,” ucapnya kini.


Aksara pun mengangguk, “Iya, Love U Too,” balasnya.


Saat mereka tengah berpelukan, rupanya kamar pintu Aksara yang tidak ditutup sepenuhnya itu dibuka oleh Bunda Kanaya yang sudah pulang dari belanja.


“Eh, Bunda ganggu yah?” tanya Bunda Kanaya dengan gugup karena melihat anak dan menantunya yang saling berpelukan itu.


Refleks, Arsyilla segera mengurai pelukannya dan menjawab Bundanya itu.


“Tidak Bun … tidak mengganggu sama sekali kok. Kenapa Bunda?” tanya Arsyilla.


“Bantuin Bunda memasak yuk, Syilla?” ajak Bunda Kanaya.


Dengan cepat Arsyilla pun berdiri, wajah wanita itu kian memerah rasanya. Lantaran pintu yang tidak sepenuhnya ditutup, mereka terpergok oleh Bunda Kanaya saat tengah berpelukan. Tentu saja, Arsyilla begitu malu rasanya.


“Kak, aku bantuin Bunda dulu … bye Kak,” pamit Arsyilla yang segera berlari mengikuti Bunda Kanaya itu.


Rupanya begitu sampai di dapur, Bunda Kanaya masih tertawa sendiri melihat perilaku anak dan menantunya itu, “Tidak perlu malu Sayang … biasanya pengantin baru seperti itu. Masih hangat-hangatnya, pengennya berdua terus,” balasnya.


“Eh, enggak kok Bunda … tadi cuma abis ngobrol aja, dan memeluk Kak Aksara,” balasnya dengan malu-malu.


Bunda Kanaya lantas menatap wajah menantunya itu, “Kamu mencintai suamimu, Syilla?” tanya Bunda Kanaya.


“Iya, Syilla mencintainya,” balas Arsyilla.

__ADS_1


“Syukurlah … dengan saling mencintai, kalian berdua bisa saling bergandengan tangan. Apa pun masalah yang hadir nanti, tetaplah kuat dan saling mencintai,” nasihat Bunda Kanaya kepada Arsyilla.


__ADS_2