Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Syair Indah di Malioboro


__ADS_3

“Sudah puas jalan-jalan di Candi Prambanan?” tanya Bunda Kanaya kini kepada anak dan menantunya itu.


“Sudah Bunda,” jawab Arsyilla sembari tersenyum.


“Wah, kelihatannya Mama dan Papanya Syilla juga nostalgia tadi,” respons Bunda Kanaya sekarang ini.


Mama Khaira yang mendengarkan ucapan Bunda Kanaya pun tersenyum, “Iya Bu Kanaya … nostalgia sama Papanya Syilla,” jawabnya.


Memang Mama Khaira akui bahwa berada di Candi Prambanan ini membuat dirinya teringat dengan kenangan masa lalunya dengan Papa Radit. Menikmati senja berdua, melukis senja sembari menikmati terpaan angin sepoi-sepoi di pelataran Candi Prambanan.


“Berarti kapan-kapan kita harus jalan-jalan ke Istanbul, Bunda … bernostalgia berdua,” sahut Ayah Bisma sembari tertawa.


Saat di Candi Prambanan tadi memang Aksara dan Arsyilla jalan-jalan berdua, sementara Mama Khaira dan Papa Radit juga duduk di bawah pohon, mengobrol bersama, menikmati semilir angin yang begitu sejuk, sementara Ayah Bisma dan Bunda Kanaya mengelilingi Candi Prambanan berdua. Mengambil foto-foto indah, mengabadikan momen dengan jepretan lensa kamera.


Memang ada banyak orang untuk membuat kenangan indah bersama. Ada yang berjalan sembari bergandengan tangan, ada yang mengukir cerita-cerita indah, ada pula yang mengambil potret pemandangan yang disajikan dengan bidikan kamera. Tiga pasangan dengan cerita dan kisah yang berbeda itu pun, memiliki caranya sendiri untuk membingkai kisah indah mereka.


“Kita kembali dulu ke hotel yah … istirahat dulu, kasihan Syilla sudah lama jalan-jalan,” ucap Bunda Kanaya yang ingin kembali ke hotel dulu. Tentu Bunda Kanaya mengatakan hal seperti itu karena mempertimbangkan kondisi Arsyilla yang sedang hamil. Jalan-jalan boleh, tetapi harus memberi diri waktu untuk istirahat. Jangan sampai terlalu semangat berjalan-jalan justru membahayakan janin di dalam rahimnya.


“Baik Bunda,” sahut Arsyilla.


Memang babymoon sekaligus liburan keluarga membuat setiap perjalanan di kota Gudeg itu atas kesepakatan bersama. Kendati demikian, Aksara dan Arsyilla memiliki cara tersendiri untuk menikmati kebersamaan mereka. Jalan-jalan bersama, membagi cerita, dan saling bergandengan tangan saja bisa membuat keduanya sangat bahagia. Babymoon bersama keluarga yang tetap terasa spesial di dalam hatinya.


Aksara yang mengemudikan mobil yang dia sewa pun, segera menuju ke hotel yang dia tempati. Sesampainya di sana, Aksara dan Arsyilla segera menuju ke dalam kamarnya dan kemudian beristirahat sejenak.


“Mau bobok sebentar?” tanya Aksara kepada istrinya itu.


“Enggak … udah sore, Kak,” balas Arsyilla.


“Lalu, kamu mau ngapain?” tanya Aksara kepada istrinya itu.

__ADS_1


“Mau dipeluk aja,” balasnya dengan nada suara yang terdengar lebih manja dibanding biasanya.


Aksara pun tersenyum, pria itu segera membuka tangannya, mengisyaratkan kepada Arsyilla untuk masuk ke dalam pelukannya. Pria itu memeluk Arsyilla sembari mengusapi puncak kepala istrinya itu.


“Bumilku manja deh,” ucapnya dengan terus memberi usapan di kepala Arsyilla.


“Emang aku manja ya Kak?” tanya Arsyilla sembari menengadahkan wajahnya guna melirik wajah suaminya itu.


“Manja boleh kok Honey … manjanya sama aku saja,” balas Aksara.


Sungguh, pria itu sama sekali tidak keberatan jika Arsyilla manja dengannya. Justru, Aksara pun dengan senang hati akan memanjakan istrinya itu. Aksara justru senang dengan Arsyilla yang terkadang manja kepadanya.


“Sebenarnya aku enggak manja sih Kak … Dedek Bayi aja nih yang mendorong Bundanya untuk manja terus dan nempel terus sama Ayah,” balasnya dengan terkekeh geli.


Begitu gemasnya Aksara kepada istrinya itu, “Lucu banget sih … aku nanti bakalan punya dua wanita cantik di hidupku. You are my Queen, dan My Little Baby is my Princess,” jawab Aksara dan kali ini pria itu memberikan usapan di perut Arsyilla.


“Kak, malam nanti jalan-jalan yuk,” ajak Arsyilla kepada suaminya itu.


“Malioboro … jalan-jalan malam,” balas Arsyilla.


“Boleh, asal kamu enggak capek saja,” sahut Aksara.


Menjaga istrinya untuk tidak kecapekan adalah prioritas Aksara sekarang ini. Mengingat usia kehamilan Arsyilla, dan juga kondisi Dedek Bayinya membuat Aksara harus selalu mengingatkan Arsyilla untuk tidak terlalu capek. Jika, Arsyilla tidak kecapekan, Aksara akan merasa tenang dan juga lega.


***


Malam harinya …


Ada lagu yang indah di Malioboro

__ADS_1


Lagu cinta tentang engkau dan aku


Ada sajak yang indah di Malioboro


Sajak cinta tentang engkau dan aku


Di jalanan yang seakan tidak pernah tertidur dan selalu bergeriap itu. Aksara dan Arsyilla sedang berjalan-jalan berdua menikmati suasana malam di kota Jogjakarta. Sebab, untuk merasakan sensasi suasana malam tidak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi Jalan Malioboro.


Toko-toko, pedagang kaki lima, dan pengamen jalanan tampak menyemarakkan suasana Jalan Malioboro malam hari itu. Juga aroma dari kain-kain batik yang memiliki aromanya yang khas tampak menyapa indera penciuman keduanya. Ada pula pedagang-pedagang angkringan yang menjajakan beberapa makanan dan menggelar tikar di trotoar.


“Senang, bisa jalan-jalan malam di Malioboro?” tanya Aksara kepada istrinya itu.


“Iya … seneng banget. Ke mana pun asalkan sama kamu, pasti aku senang kok,” balas Arsyilla.


Hamil dengan perut yang kian membuncit tidak menyurutkan semangat Arsyilla untuk jalan-jalan malam bersama suaminya di Malioboro. Kedua tangan yang saling bertaut sama lain, dan juga langkah kaki yang berjalan serirama, membawa Aksara dan Arsyilla menyusuri jalanan di Jalan Malioboro.


“Mau beli sesuatu?” tawar Aksara kepada istrinya itu.


“Enggak, jalan-jalan saja Kak. Suasananya epik ya Kak … budaya Jawa nya kerasa banget yah di sini,” sahut Arsyilla. Wanita itu tampak mengedarkan pandangannya, menikmati suasana malam di kota Jogjakarta yang begitu indah dan tentunya memberikan kesan tersendiri baginya.


“Iya Honey … kayak jalan-jalan di sekitar keraton yah. Jadi ingat, dulu kita jalan di Solo waktu pulang beli Selat Solo itu. Tempatnya hampir sama ya Honey,” balas Aksara.


“Iya benar … suasana Jawa gitu ya Kak. Lampu-lampu jalan yang bulat dan tidak begitu terang justru membuat suasana jadi romantis yah,” balas Arsyilla.


Keduanya teringat dengan kenangan saat mereka masih menjadi Dosen dan Mahasiswa. Field Trip di Jogjakarta dan Solo yang membuat keduanya harus bermain kucing-kucingan, bahkan Aksara pun berusaha untuk pindah kamar dan mendapatkan kamar yang terkoneksi dengan kamar istrinya itu. Jika dipikir, Aksara memang tidak pernah main-main dengan Arsyilla. Jika, jalan buntu pun, Aksara akan membangun jalan lain asalkan bisa bersama istrinya itu.


“Iya Honey … kalau aku sih, asal sama kamu, ya tetap romantis. Ada romantisme antara kau dan aku,” sahut Aksara sembari menyahut lagu yang tengah dilantunkan para seniman jalanan malam itu.


“Pinter banget sih … bisa nyahut gitu nyanyinya,” balas Arsyilla.

__ADS_1


“Langsung konek, Honey,” sahut Aksara sembari terkekeh.


Keduanya terus berjalan sampai di Titik 0 (nol) kilometer kota Jogjakarta. Kemudian Aksara dan Arsyilla duduk di bangku-bangku di tepi trotoar di sepanjang jalan Malioboro itu. Benar bahwa kota Jogjakarta selalu istimewa, banyak kesederhaan yang mereka lihat dari kota ini, tetapi itu justru istimewa dan melekat di hati. Kota Jogjakarta selalu istimewa, seistimewa kisah cinta mereka berdua.


__ADS_2