
Tengah pekan ini, ada sesuatu yang harus Arsyilla hadapi. Menyangkut dirinya yang beberapa pekan lalu melaporkan Ravendra kepada pihak berwajib. Kali ini, Arsyilla mendapatkan panggilan dari pihak kepolisian bahwa persidangan Ravendra akan segera digelar.
“Kamu gugup?” tanya Aksara kini yang tengah berjalan dengan Arsyilla memasuki ruangan persidangan.
Sebenarnya tanpa perlu ditanya, Arsyilla memang gugup. Keningnya saja berkeringat, tangannya juga dingin rasanya. Akan tetapi, mau tidak mau persidangan ini memang harus digelar supaya pengadilanlah yang memutuskan bahwa Ravendra akan mendapatkan hukuman yang sebanding dengan apa yang telah dilakukannya.
Arsyilla memasuki ruangan persidangan itu dengan langkah gontai, dia juga tidak menyangka melihat orang tua dan mertuanya yang juga berada di sana seolah memberikan dukungan moril untuknya.
“Tenang Syilla, jangan takut … kamu jawab saja berdasarkan kejadian yang terjadi di lapangan. Tidak apa-apa kok,” nasihat dari Bunda Naya.
Dulu, saat Bunda Kanaya masih muda memang dirinya pernah mengikuti persidangan perceraian dulu dengan pria yang menjadi Ayah dari Ravendra. Jika dipikir-pikir saat itu, Bunda Kanaya pun juga tidak mengira memiliki keberanian untuk menggugat Darren. Akan tetapi, nyatanya semua itu bisa dilalui Bunda Kanaya. Justru Bunda Kanaya bersyukur karena pasca berpisah dari Darren, Bunda Kanaya bisa dipertemukan dengan cinta sejatinya, yaitu Ayah Bisma.
“Syilla gugup, Bunda,” akunya kali ini dengan jujur.
Mama Khaira juga mendengar bagaimana Arsyilla yang mengaku bahwa dirinya gugup. Oleh karena itu, Mama Khaira pun mendekat dan mengusapi punggung Arsyilla, “Benar Syilla … yang penting kamu menjawab berdasarkan kejadian yang sebenarnya. Mama berdoa semoga persidangan kali ini lancar,” nasihat dari Mama Khaira.
“Iya Ma, terima kasih,” ucapnya dengan menghambur di dalam pelukan Mama Khaira.
Hingga akhirnya, kurang lebih setelah lima belas menit, Majelis Hakim dan Jaksa Penuntut Umum pun memasuki ruangan pengadilan. Tampak juga, Ravendra yang dihadirkan dengan didampingi pengacara kondang Ibukota.
Akhirnya, persidangan pun dimulai dan Arsyilla dipersilakan duduk di depan. Status sekarang ini adalah sebagai korban, dan Ravendra adalah sebagai tersangka.
“Jadi, apakah benar Saudari Arsyilla Kirana, pada tanggal berikut Anda mengalami percobaan pemerkosaan yang dilakukan oleh Tersangka yaitu Saudara Ravendra?” tanya Jaksa Penuntut Umum kepada Arsyilla.
__ADS_1
Arsyilla pun mengangguk, “Iya benar, Pak,” sahutnya.
“Lalu, selang beberapa pekan Saudara Ravendra berusaha menculik Anda, menyekap Anda di parkiran basement, dan melakukan tindakan kekerasan kepada Anda?” tanya Jaksa Penuntut Umum kepada Arsyilla.
“Iya benar Pak,” sahutnya lagi.
“Bisa Anda ceritakan bagaimana kronologis kejadiannya?” tanya sang Jaksa lagi kepada Arsyilla.
Arsyilla tampak menghembuskan nafasnya sesaat, kemudian mengisi rongga paru-parunya dengan oksigen, setelah itu barulah dirinya berbicara. “Waktu itu, sepulang mengajar di kampus, dia menculik saya dengan tiba-tiba, kemudian membawa saya ke parkiran basement apartemennya, dan kemudian dia menyekap saya, memukul saya, dan melecehkan saya secara seksual,” jawab Arsyilla.
Sekalipun rasanya ingin menangis, tetapi Arsyilla berusaha keras untuk menekan perasaannya supaya dia bisa menjawab dengan jelas. Sebab, jika dirinya menangis yang ada justru waktu berlalu hanya untuk tersedu-sedan dan menenangkan diri. Untuk itu, Arsyilla berusaha keras untuk tidak menangis.
“Keberatan!” interupsi dari pengacara Ravendra yang keberatan dari pernyataan Arsyilla.
“Keberatan diterima,” jawab Hakim.
“Benarkah demikian Saudari Arsyilla?” tanya Jaksa Penuntut Umum lagi.
“Dulu memang saya pacarnya, Pak … kami menjalin hubungan hampir satu tahun. Lalu, apa namanya jika menemui saya dengan paksa dan membawa saya dengan paksa juga? Bukankah itu penculikan namanya? Bukti dari CCTV dari fakultas Teknik Arsitektur tempat saya mengajar juga sudah saya serahkan,” jawab Arsyilla.
Setidaknya dirinya memiliki bukti kuat bagaimana Ravendra berusaha membawanya dengan maksa dan menyekap mulutnya dengan sapu tangan. Bagi Arsyilla semua itu adalah sebuah tindakan penculikan.
Atas izin hakim, bukti CCTV yang terjadi di fakultas Teknik Arsitektur itu diputar, dan di sana terlihat jelas bagaimana Ravendra menyentak tangan Arsyilla, dan mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan membawa Arsyilla dengan paksa.
__ADS_1
Melihat bukti rekaman CCTV itu, Aksara tampak mengepalkan tangannya. Tidak menyangka bahwa Ravendra akan memperlakukan Arsyilla dengan begitu kasarnya. Pun dengan Papa Radit yang juga menatap iba putrinya yang tengah duduk di hadapan Hakim sebagai korban. Hatinya terasa sakit melihat bagaimana Ravendra memperlakukan Arsyilla dengan begitu kasar.
Setelah itu, Jaksa Penuntut Umum meminta Arsyilla untuk duduk di belakang, karena sekarang giliran Aksara yang akan bersaksi. Kesaksiannya akan diminta dan menjadi pertimbangan untuk memutuskan hukuman bagi Ravendra.
“Saudara Aksara sendiri, apa hubungan Anda dengan korban?” tanya Jaksa Penuntut Umum.
Mengingat janjinya dengan Arsyilla tempo hari, maka Aksara pun menjawab, “Saya mahasiswanya … Bu Arsyilla adalah Dosen di fakultas Teknik Arsitektur,” jawab Aksara.
“Bagaimana Anda bisa menemukan Bu Arsyilla?” tanya Jaksa Penuntut Umum lagi kepada Aksara.
“Waktu itu, saya ingin mengumpulkan tugas dengan saya menghubungi nomor Bu Arsyilla. Saya mencari dulu ke ruangan dosen, rupanya Bu Arsyilla sudah pulang, lalu saya kembali hubungi ternyata nomornya tidak aktif, untuk itu saya pun mengecek rekaman CCTV di kampus, dan tidak menyangka bahwa Bu Arsyilla dibawa paksa oleh Ravendra. Ini bukan kali pertama, karena pada kasus sebelumnya, saya sendiri yang menolong Bu Arsyilla saat Bu Arsyilla hendak diperkosa oleh Ravendra,” jelasnya kali ini.
Berdasarkan bukti dari CCTV, hingga kesaksian dari Aksara sudah terlihat jelas bahwa posisi Ravendra tidak diuntungkan sama sekali. Semua bukti dan kesaksian menuju sepenuhnya kepadanya. Kendati demikian, Pengacara yang membantu Ravendra pun tidak tinggal diam, Pengacara itu masih mencari cara untuk membela Ravendra.
“Benarkah hanya seorang mahasiswa? Tidak ada hubungan lebih antara mahasiswa dan dosennya? Bagaimana pula Anda bisa langsung menemukan Bu Arsyilla?” pertanyaan Pengacara Ravendra kepada Aksara.
“Ya, saya hanya mahasiswanya. Lagipula, saat itu saya melihat sendiri bagaimana pria itu berusaha menggagahi Bu Arsyilla. Tindakan yang keji,” sahut Aksara yang tampak menggeram. Bayangan bagaimana Ravendra berusaha menikmati tubuh Arsyilla membuat darah Aksara begitu mendidih rasanya.
“Untuk kasus kedua, Anda juga yang menyelamatkan Bu Arsyilla, bagaimana Anda menyelamatkannya?” tanya Jaksa Penuntut Umum kini kepada Aksara.
“Bermula ingin mengumpulkan tugas, mendapatkan rekaman CCTV di fakultas, dan saya melacak keberadaan Bu Arsyilla dengan gps di handphone saya, rupanya keberadaan Bu Arsyilla terdeteksi. Tidak salah lagi, Bu Arsyilla disekap di sebuah ruangan di parkiran basemenet apartemen pria itu. Bu Arsyilla duduk di kursi kayu dalam keadaan tangannya terikat dan mulutnya tersumpas, wajahnya bengkak separuh, semua itu cukup menjadi bukti bahwa Bu Arsyilla tidak hanya diculik, tetapi juga disekap, dan menerima kekerasan fisik dan seksual,” jelas Aksara.
Untuk jawabannya demikian, Arsyilla juga melampirkan data hasil visum dan foto yang diambil pihak Rumah Sakit saat dirinya divisum. Wajahnya yang bengkak, luka di pergelangan tangan, luka di kaki, goresan kuku di area leher semuanya terlampir dalam rekaman medis itu.
__ADS_1
Mempertimbangkan semua bukti, pengakuan saksi, memang membuat posisi Ravendra tidak aman. Namun, bukan berarti Arsyilla bisa tenang. Sebab, bagaimana Hakim masih belum memutuskan hukuman untuk Ravendra. Persidangan harus ditunda selama sepuluh hari dan barulah putusan baru diambil.
Persidangan usai, Ravendra kembali dibawa ke dalam tahanan, sementara Arsyilla tertunduk lesu karena harus menunggu sepuluh hari lagi. Baginya sepuluh hari sangat lama, sementara Arsyilla berpikir dalam waktu sepuluh hari itu bisa saja Papanya Ravendra tengah menyusun rencana dan mengupaya cara yang licik dan busuk. Sungguh, perasaan Arsyilla begitu tidak tenang.