
Kurang lebih hampir tiga jam, Aksara dan Arsyilla menghadiri acara reuni itu. Menyapa teman seangkatan, dan juga menyapa beberapa guru yang turut datang. Tidak menyangka bahwa gurunya yang dulu masih terlihat muda, sekarang sudah menua, bahkan beberapa di antaranya ada yang telah tiada. Rasanya memori di bangku Putih Abu-Abu kembali berputar, membuat Aksara seakan kembali ke masa SMA-nya dulu.
Sekarang, keduanya hendak keluar dari aula sekolah dan Aksara tentu akan membawa Arsyilla untuk kembali ke apartemen mereka. Hari sudah larut malam, maka Aksara berpikir untuk segera pulang dan beristirahat.
“Kamu dulu pendiem ya Kak waktu SMA?” tanya Arsyilla kepada suaminya itu.
“Ya enggak terlalu pendiem juga sih Sayang … biasa aja,” jawab Aksara.
Menurutnya waktu SMA dulu, Aksara memang hanya siswa biasa saja. Memang dia tergolong siswa yang cerdas, tetapi Aksara merasakan kehidupannya di masa Putih Abu-Abu dulu biasa saja. Lagipula, siswa cowok juga tidak suka terlalu ramai.
Mendengarkan jawaban dari suaminya, Arsyilla pun mengangguk, “Oh … aku pikir kamu diem banget gitu,” jawabnya.
Ya, mendengar ucapan Anthony dan beberapa teman Aksara lainnya, Arsyilla membayangkan jika Aksara adalah siswa yang sangat pendiem dan tidak memiliki banyak teman di SMA nya dulu.
“Enggak … aku biasa saja. Ya hampir samalah kalau kuliah itu, kan itu aku juga diem kan,” sahut Aksara.
“Ya kuliah, kamu pendiem karena kamu duduk di paling belakang dan usia kamu terlalu tua dibanding anak-anak lainnya,” sahut Arsyilla.
“Jadi bagimu aku ini tua?” tanya Aksara.
“Eh, ya gimana ya Kak … kenyataannya usia kamu kan lebih banyak dibanding mereka,” sahut Arsyilla.
Aksara pun menyentilkan jarinya ke kening Arsyilla, membuat wanita itu mengaduh dan memegangi keningnya.
“Kak, sakit loh … jahat banget sih,” ucap Arsyilla sembari memegangi keningnya.
“Abis kamu itu bilangnya kalau aku tua. Inget ya Sayang … aku ini bukan tua, tetapi aku pria dewasa dan matang,” jawabnya.
“Sama aja. Dari segi usia, Kak … lagipula dewasaan itu tidak diukur dari usia,” sahut Arsyilla.
“Ya jangan sebut aku tua gitu dong … seolah-olah aku ini kayak udah tua banget,” balas Aksara.
__ADS_1
Arsyilla pun tersenyum, “Euhm, tetapi sekali pun usia kamu sudah banyak, kamu enggak kelihatan tua kok Kak. Good looking gini mana bisa keliatan tua,” sahut Arsyilla.
Pria itu pun tertawa, sembari mengemudikan stir mobilnya. “Udah, bilang aja aku cakep. Apa susahnya sih,” balas Aksara.
Arsyilla lantas terkekeh geli. Memang dirinya lebih suka menyebut suaminya itu good looking, karena memang baginya penampilan suaminya itu menarik. Bahkan hanya sekadar mengenakan pakaian di rumah saja Aksara tetap terlihat good looking.
Wanita itu lantas memalingkan wajahnya, mengamati lampu-lampu kota yang menghiasi berbagai gedung dan beberapa jalanan membuat suasana Ibukota di malam minggu itu begitu semarak. Namun, karena ini adalah malam minggu, tentu saja jalanan di Ibukota cukup macet.
“Kita enggak bisa cepet-cepet nyampe di apartemen loh Sayang … lalu lintasnya padat,” sahut Aksara.
“Iya, enggak apa-apa Kak. Sekali-kali malam minggu, sejak menikah kan ya malam hari kebanyakan kita di dalam apartemen saja. Pengen ngedate, Kak,” sahut Arsyilla.
“Kamu enggak pernah ngedate? Dulu kan situ punya pacar,” sahut Aksara. Wajah pria itu berubah, seakan ingin menjelaskan kepada istrinya bahwa dulu kan Arsyilla memiliki pacar yaitu Ravendra.
“Jarang ngedate juga Kak, dia kan bekerja keras,” sahut Arsyilla.
“Oh … kalau ngedate kalian ngapain?” tanya Aksara lagi. Agaknya pria itu sedikit ingin mengetahui masa lalu Arsyilla.
“Paling jalan-jalan ke Mall, makan dan nonton bioskop saja sih. Kami pacarannya benar ya Kak, enggak aneh-aneh. Enggak kayak kamu yang baru ketemu saja udah bikin aku aneh-aneh,” sahut Arsyilla.
“Sorry, kalau enggak begitu … mana bisa aku mendapatkan kamu,” jawab Aksara.
Aksara lantas menggenggam tangan Arsyilla, membawa tangan itu ke arah wajahnya, dan mengecup punggung tangannya. “Sorry … aku memang mengakui bahwa pertemuan pertama, aku buat yang aneh-aneh. Namun, aku tidak pernah menyesal. Jika akhirnya, kamu bisa menjadi milikku dan aku bisa melindungimu dari mantan kamu itu, aku tidak pernah menyesal.”
Aksara seakan menekankan pada kata mantan, mengingatkan bagaimana Ravendra yang sewaktu pacaran berlaku lurus dan aneh-aneh, tetapi pria itu nyatanya memiliki hasrat untuk mencelakai dan melecehkan Arsyilla. Bagi Aksara, dia tidak keberatan dengan prank one night stand yang telah dia lakukan jika akhirnya dia bisa mendapatkan Arsyilla dan bisa melindungi wanitanya itu.
“Makasih Kak,” sahut Arsyilla.
“Buat?” tanya Aksara.
“Terima kasih karena kamu telah membuktikan bahwa kamu melindungi aku. Mungkin di pesta malam itu, kalau bukan kamu yang nolongin aku waktu aku pingsan karena Orange Juss yang sudah aku minum, aku pasti akan jatuh ke tangannya. Terima kasih sudah menolongku,” ucap Arsyilla dengan tulus.
__ADS_1
Aksara pun mengangguk, “Iya Sayang … kalau enggak ketemu aku, pasti kamu habis saat itu, Sayang.”
“Ketemu kamu juga habis, Kak … untungnya semua hanya jebakan semata. Namun, tetap perih sih Kak,” sahutnya.
Aksara lantas melirik Arsyilla, “Lagipula, aku enggak akan berani ngapa-ngapain kamu. Aku ingat dengan kebaikan Papa Radit dan Mama Khaira, tidak akan mungkin aku merusak putrinya. Sekalipun malam itu, aku sangat berhasrat kepadamu, sepanjang malam aku hanya tidur dan memandangi wajah kamu. Aku bahkan menyelimutimu, supaya mataku itu tidak melihat yang lainnya,” aku Aksara.
Arsyilla pun menunduk, malu sesungguhnya jika kembali membahas petaka satu malam jebakan itu. Namun ada rasa lucu yang tertinggal karena pada akhirnya, Aksara mengakui bahwa malam itu hanyalah jebakan semata.
“Kenapa dulu bisa nahan?” tanya Arsyilla.
“Aku berusaha nahan, Sayang … bahkan usai menikah pun berapa bulan aku harus nahan. Aku ingin penyatuan kita didasari dengan rasa cinta. Hubungan suami istri bukan sekadar menyalur hasrat biologis, bagiku hubungan suami istri adalah tanda cintaku kepada kamu,” ucap Aksara dengan yakin.
Ya, bagi pria itu memang dalam hubungan suami istri adalah hasrat yang menyertai, tetapi mengingat besar cintanya untuk Arsyilla, maka bagi Aksara hubungan suami istri justru menjadi tanda cintanya untuk istrinya itu.
Mendengar jawaban Aksara, rasanya hati Arsyilla begitu menghangat. Tidak mengira bahwa pria yang berada di sisinya memiliki pemikiran sebagai pria dewasa dan matang, seperti pengakuannya tadi. Kali ini, Arsyilla benar-benar merasakan kedewasaan berpikir dan bersikap seorang Aksara.
“Kak, aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Arsyilla.
“Iya boleh … kamu boleh bertanya apa pun padaku,” jawabnya.
“Benarkah aku cinta pertamamu? Bagaimana bisa?” tanya Arsyilla.
Itu adalah pertanyaan yang harus Arsyilla tanyakan secara langsung kepada suaminya, karena di reuni tadi Aksara menyatakan bahwa Arsyilla adalah cinta pertamanya.
“Iya … pasti karena ucapanku di reuni tadi yah?” tanya Aksara.
Arsyilla pun kemudian mengangguk, “Iya … bagaimana bisa cinta pertama kalau sekian waktu yang sangat lama, kita tidak pernah bertemu,” sahut Arsyilla.
Aksara kemudian tersenyum menatap istrinya itu, “Sebenarnya … di masa lalu, kita beberapa kali bertemu. Sayangnya hanya aku yang mengenalimu,” sahut Aksara lagi.
Mendengar jawaban Aksara, Arsyilla pun membolakan kedua matanya. Benarkah di masa lalu, dirinya pernah bertemu dengan Aksara? Di mana?
__ADS_1
Aksara kemudian mengangguk, “Iya … serius. Aku beberapa kali mengingatmu, tetapi kamu tidak mengenali aku,” jawab pria itu lagi.
Wah, rasanya Arsyilla masih merasa suaminya itu memiliki berbagai misteri box tentang dirinya yang tidak sepenuhnya Arsyilla tahu. Lantas, di mana dan kapan mereka berdua pernah bertemu.