
Tidak terasa sudah tiga hari Aksara tinggal di rumah. Aktivitas Aksara pun terbatas hanya sekitar di dalam kamar saja. Sementara Arsyilla benar-benar menjalankan tugasnya untuk menjadi Ibu dan Istri yang siaga untuk Baby Ara dan juga untuk Aksara.
“Capek Honey?” tanya Aksara sembari menemani Arsyilla yang tengah melakukan pumping. Baby Ara sedang tidur, sementara sumber ASI-nya sudah terasa begitu penuh, sehingga sembari istirahat, Arsyilla memilih untuk mem-pumping sumber ASI-nya.
Arsyilla menggelengkan kepalanya, “Enggak capek kok Kak … banyak bergerak kan malahan sehat. Sirkulasi darahku menjadi lancar,” jawabnya sembari tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih.
“Kalau capek bilang saja, Honey … berkeluh kesah padaku tidak masalah kok. Aku siap mendengar semua keluhanmu,” balas Aksara.
“Serius … aku enggak capek kok Kak,” balas Arsyilla.
Aksara akhirnya memilih diam, pria itu kemudian mengambil tissue yang berada di atas nakas yang berada di sampingnya, kemudian dia menyeka buliran keringat yang menghiasi kening Arsyilla.
“Tuh, sampai berkeringat kayak gini, pasti capek kan? Gitu masih ngaku enggak capek,” balas Aksara.
Aksara mengamati setiap buliran keringat yang keluar dari pori-pori kulit di kening Arsyilla dan menyekanya perlahan. Terasa bagaimana Aksara begitu perhatian dan sangat mencintai istrinya itu.
“Baik banget sih Ayah,” sahut Arsyilla sembari mengamati pergerakan tangan suaminya di keningnya itu.
“Kamu berkeringat Honey … pasti kecapekan,” ucapnya lagi.
Terlihat Arsyilla mulai menggelengkan kepalanya, “Aku enggak capek kok Kak, serius. Nanti kalau aku capek, pasti aku bilang kok,” jawabnya.
Aksara menganggukkan kepalanya, kemudian dia membantu memegangkan botol pumping yang semula dipegang oleh Arsyilla.
“Sini, biar aku pegangin … tanganku masih bisa berfungsi kok untuk megangin ini,” ucap Aksara.
Memang aktivitasnya terbatas, terkhusus untuk aktivitas yang memerlukan kaki. Akan tetapi, Aksara bisa membantu Arsyilla dengan kedua tangan yang dia miliki. Namun, beberapa saat kemudian dia melihat ke cairan ASI yang perlahan-lahan mengisi botol itu.
__ADS_1
“Deras banget ya Honey,” ucap Aksara.
“Iya Kak … mungkin karena dipumping juga, jadi produksi ASI-nya makin bertambah,” balas Arsyilla.
“ASI booster kamu yang aku belikan dulu masih enggak? Aku beliin lagi yah … aku pesankan online,” tawar Aksara kini.
“Masih Kak … kan sehari cuma minum satu tablet. Ini jadi melimpah gini, padahal udah diminum langsung sama Ara juga. Masih pumping dapat segini banyak,” jawab Arsyilla.
Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Ya sudah … semoga cukup yah sampai Ara berusia 2 tahun nanti. Biar sehat dan kuat,” balas Aksara lagi.
Selesai melakukan pumping dengan menggunakan pumping elektrik, kemudian Arsyilla menyimpan kantong-kantong ASIP di dalam lemari es yang khusus dia beli hanya untuk menyimpan ASIP-nya saja. Namun, saat Arsyilla hendak keluar dari kamar untuk mencuci pumping yang baru saja dia pakai, Baby Ara terbangun dan menangis. Bayi kecil berusia satu bulan itu menangis dengan begitu kencangnya.
“Ya ampun … anaknya Bunda, bangun tidur kok nangis sih,” ucap Arsyilla yang sembari menggendong putrinya itu.
Sejenak, Arsyilla memberikan ASI untuk Ara terlebih dahulu, menenangkan bayinya itu. Setelahnya, Arsyilla ingin menaruh Baby Ara kembali ke box bayinya karena Arsyilla harus segera mencuci dan mensterilkan pumping miliknya.
“Honey, sini Ara biar aku yang timang. Kamu mau cuci pumpingnya kan?” tanya Aksara.
“Bisa … sini, Ara ditimang Ayah yah,” ucapnya yang sudah membuka kedua tangan dan hendak menerima Ara dalam gendongannya.
Arsyilla pun akhirnya menyerahnya Ara ke dalam timangan suaminya, dan dia bisa mencuci dan mensterilkan alat pumping dengan tenang.
“Ara ikut Ayah dulu yah … Bunda cuci pumpingnya dulu sebentar,” ucapnya.
“Iya Bunda, Ara juga seneng kok ikut Ayah,” jawab Aksara.
Ada rasa lega karena Arsyilla ada Aksara yang bisa menjaga Ara sekarang. Walaupun pergerakan suaminya sangat terbatas, tetapi Aksara selalu berinisiatif untuk bisa membantu Arsyilla. Aksara sendiri merasa hanya kakinya yang sakit, sementara untuk tangan dan bagian tubuh lainnya sehat. Lagipula, dirinya tidak harus dilayani terus-menerus. Hanya waktu ke kamar mandi saja yang membutuhkan bantuan ekstra. Selebihnya, Aksara memang menghabiskan waktu di atas tempat tidur. Memang membosankan, tetapi Aksara menganggap bahwa dia akan menikmati masa ini untuk bisa segera pulih.
__ADS_1
Ketika malam tiba, Arsyilla duduk bersandar di head board miliknya. Melihat beberapa berita yang dibagikan pihak kampus kepadanya, dan kemudian melihat laporan dari asisten dosennya yang menggantikannya mengajar selama tiga bulan.
“Sibuk apa Honey?” tanya Aksara.
“Ini Kak … lihat berita dari kampus dan melihat laporan dari asdos (asisten dosen) yang handle kelasku,” jawabnya.
“Oh, makanya serius banget,” jawab Aksara.
“Ya harus serius, Kak … kan lihat laporannya dia. Perangkat pembelajarannya udah sesuai belum dan ada kendala di kelas enggak,” jawab Arsyilla.
“Sini Honey, sambil aku peluk … aku kangen kamu,” ucap Aksara.
Tidak dipungkiri bahwa dirinya begitu rindu untuk memeluk istrinya itu. Sepanjang hari, Arsyilla hanya mengurus Ara, dirinya, dan mengurus rumah. Kali ini, dia ingin memeluk istrinya itu.
Beringsut, Arsyilla pun menyandarkan kepalanya di dada suaminya, dan kedua tangannya melingkari pinggang suaminya itu.
“Kangen kamu, Honey,” ucap Aksara dengan memejamkan matanya. Pria itu menundukkan wajahnya dan mendaratkan kecupan di puncak kepala Arsyilla.
Ada senyuman di wajah Arsyilla saat Aksara mengecupnya, “Sama Kak … aku juga kangen kamu. Namun, aku lebih lega karena kamu sudah di rumah. Setiap hari aku bisa mengurus dan melihatmu,” jawabnya.
“Honey, kalau butuh bantuanku bilang saja yah … ingat, yang sakit cuma kakiku, sementara tanganku masih bisa untuk membantu kamu. Bantu kamu lipatin bajunya Ara juga bisa. Apa pun yang bisa dikerjakan dengan tangan, aku bisa lakuin,” ucap Aksara.
“Iya Kak … tenang saja,” balas Arsyilla.
“Aku mau jadi pria yang berguna buat kamu. Kita bisa berkolaborasi bersama, kita bisa bekerja sama walau tubuh dan pergerakanku terbatas,” ucap Aksara.
Arsyilla tersenyum, wanita itu kian mendekap tubuh suaminya itu. “Iya Kak … pasti. Pasti kita akan berkolaborasi bersama. Makasih ya sudah menawarkan bantuan,” balasnya.
__ADS_1
“Pasti Honey, aku akan selalu siap untuk bantu kamu. Makasih banget ya Honey, sudah mengurus dan merawatku dengan baik. Aku cinta kamu,” ucap Aksara.
“Aku juga cinta kamu,” balas Arsyilla dengan menengadahkan wajahnya guna melihat wajah suaminya itu.