Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Ingin Membuat Kejutan


__ADS_3

Hasil dari alat pendeteksi kehamilan atau yang biasa disebut test pack itu sudah berada di tangan Arsyilla. Bahkan Arsyilla juga sudah membersihkan semuanya dan supaya tidak meninggalkan jejak yang membuat suaminya itu curiga.


Dengan menyeka keringat dingin yang masih bermunculan di keningnya, Arsyilla kemudian menyimpan test pack itu terlebih dahulu di tempat yang cukup tersembunyi, dan kemudian dia kembali menaiki ranjang. Rupanya pergerakan Arsyilla yang membuat ranjang sedikit bergoyang itu, membuat Aksara terkesiap. Pria itu segera membuka matanya, dan menatap tajam kepada istrinya sekarang.


“Honey, kamu dari mana?” tanya Aksara dengan tiba-tiba.


“Dari kamar mandi, Kak … biasa,” balas Arsyilla yang memang terkadang memiliki kebiasaan ke kamar mandi di pagi hari.


Aksara lantas menganggukkan kepalanya, “Ya ampun, aku pikir kamu ngapain,” balas Aksara dengan terlihat panik. “Jam berapa sih sekarang?” tanya Aksara kemudian kepada istrinya itu.


“Masih setengah lima pagi kok Kak … tidur dulu saja gak apa-apa. Lagian kamu kan masih enggak enak badan. Istirahat dulu gak apa-apa,” balas Arsyilla.


Aksara menganggukkan kepalanya, sebenarnya Aksara ingin kembali tertidur sebentar lagi. Akan tetapi, ada dorongan dalam perutnya yang menyeruak hingga menekan kerongkonannya, membuat Aksara segera beranjak dari tempat tidurnya dan berlari menuju ke kamar mandi. Masih sama seperti kemarin, rupanya kali ini pun Aksara kembali memuntahkan isi perutnya. Tidak ada sisa-sisa makanan yang keluar, hanya berupa air saja, tetapi itu cukup membuat wajah Aksara memerah dan air mata keluar begitu saja dari sudut matanya. Arsyilla pun memijit tengkuk suaminya itu supaya lebih lega dan mengeluarkan isi perutnya.


“Ya ampun … kamu kenapa sih Kak? Aku panik,” ucap Arsyilla kali ini.


Aksara hanya menggelengkan kepalanya, sembari menyeka mulut dan wajahnya. Tidak lupa dia berkumur dengan sebuah obat kumur berperisa orange, dan kemudian menyandarkan kepalanya di bahu istrinya itu.


“Enggak apa-apa Honey, aku baik-baik saja kok,” balas Aksara kali ini.


Arsyilla nyaris saja menangis, tidak tega dengan suaminya yang terlihat kesakitan setiap kali muntah dan mual. Arsyilla pun mengusapi kepala suaminya itu dengan telapak tangannya, mengusapnya dengan begitu lembut.


“Bantu aku ke kamar yah,” pinta Aksara kali ini.


Arsyilla pun merangkul pinggang suaminya itu, dan membantu Aksara untuk kembali duduk di atas ranjang, dengan bersandar di headboard. Kemudian Arsyilla memilih berlari keluar dari kamarnya menuju ke dapur, tujuannya adalah untuk mengambilkan air putih bagi suaminya itu.


“Kak, diminum dulu Kak,” ucap Arsyilla begitu kembali memasuki kamar dan menyerahkan segelas air hangat kepada suaminya itu.


Aksara pun meminum air hangat itu, dan kemudian menyerahkan gelas itu kembali kepada Arsyilla.

__ADS_1


“Maaf yah, aku jadi ngrepotin kamu. Harusnya aku yang ngurusin kamu, tetapi justru kamu yang harus ngurusin aku,” ucap Aksara kini.


Dengan cepat Arsyilla pun menggelengkan kepalanya perlahan, “Jangan berkata begitu Kak … bakti seorang Istri adalah kepada suaminya,” balas Arsyilla.


“Boleh minta peluk?” tanya Aksara kemudian.


Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, dan segera memeluk suaminya itu. Kedua tangan yang melingkari tubuh suaminya itu perlahan memberikan usapan di punggung suaminya.


“Sehat-sehat ya Kak,” ucap Arsyilla kini.


“Pasti aku sehat kok Honey,” balas Aksara. “Tidur lagi sebentar yuk Honey … tapi peluk yah,” ucap Aksara lagi. Seakan bahwa pria itu seakan ingin menempel erat dengan istrinya.


Arsyilla hanya menganggukkan kepalanya, dan kemudian membantu suaminya itu untuk berbaring, setelahnya dia merebahkan diri di sisi suaminya dan masuk dalam pelukan suaminya itu.


Tidak langsung tidur, nyatanya Arsyilla justru memilih mengusapi puncak kepala suaminya itu. Rasanya begitu kasihan melihat suaminya yang terlihat lemah seperti ini. Hanya saja, Arsyilla cukup bersyukur karena hari ini suhu tubuh suaminya tidak demam. Hanya mual dan muntah saja yang dialami suaminya itu.


Menunggu Aksara tertidur, barulah Arsyilla membelai sisi wajah suaminya itu.


Tentu itu hanya sebuah ucapan yang bisa diteriakkan oleh hatinya. Tidak diucapkan dengan mulutnya. Kendati demikian, Arsyilla pun sungguh-sungguh berharap bahwa suaminya itu akan selalu sehat.


***


Selang satu hari …


Arsyilla mengamati kalender di meja kerjanya. Saat ini Arsyilla tengah berada di ruangan dosennya. Menunggu waktu untuk mengajar di jam selanjutnya.


“Tiga hari lagi ulang tahunmu, Kak … rasanya tidak sabar untuk memberikan kado yang indah untukmu,” gumam Arsyilla dengan lirih.


Ya, tiga hari lagi adalah hari ulang tahun suaminya itu, Arsyilla berniat untuk pergi ke sebuah tempat perbelanjaan dan membelikan sebuah kado untuk hadiah ulang tahun suaminya itu. Untuk melangsungkan rencananya, Arsyilla pun segera mengambil handphone dan menghubungi suaminya.

__ADS_1


“Halo Kak,” sapa Arsyilla begitu teleponnya telah tersambung.


“Ya Honey, ada apa?” sahut Aksara di seberang sana.


“Kak, aku usai mengajar mau ke Mall sebentar yah … ada sesuatu yang harus kubeli,” pamitnya kali ini.


“Mau beli apa emangnya? Enggak nungguin aku sore nanti saja. Kita sama-sama cari barang yang ingin kamu beli itu,” balas Aksara.


“Sebentar aja kok Kak … cuma satu jam palingan. Nanti aku kasih share lokasi aku sih, biar kamu percaya,” ucap Arsyilla lagi kali ini.


“Ya sudah … cuma hati-hati yah. Jangan lama-lama, begitu sudah jangan lupa kirimin aku pesan supaya aku bisa segera menjemputmu,” balas Aksara.


“Iya Hubby, see u,” balas Arsyilla sembari mematikan panggilan teleponnya.


Rasanya Arsyilla sudah begitu lega. Dia tinggal pergi ke pusat perbelanjaan dan mencari kado untuk ulang tahun suaminya itu. Lagipula ini adalah kali pertama dia akan merayakan ulang tahun Aksara, sehingga Arsyilla memang ingin memberikan sedikit kejutan dan membuat momen bahagia yang akan menyenangkan suaminya itu.


“Yes, sudah dapat izin dari suami … tinggal setelah mengajar, aku akan ke Mall sebentar dan mencari kado istimewa untuk Kak Aksara,” gumam Arsyilla dengan senyam-senyum sendiri.


Setelah beres perihal izin, Arsyilla kemudian bergegas keluar dari ruangannya menuju Gedung B untuk mengajar mahasiswa semester 1. Selama 120 menit mengajar, akhirnya Arsyilla pun segera bergegas untuk keluar dari kelas dan tentu saja saat ini Arsyilla ingin bertolak ke sebuah Mall yang berada tidak jauh dari kampusnya. Wanita itu terlihat begitu bersemangat hingga dia abai dengan rekan dosennya yang berpapasan dengannya.


“Buru-buru sekali Bu Arsyilla,” sapa seorang pria yang bukan lain adalah Pak Bagas.


Merasa namanya dipanggil, perlahan Arsyilla pun menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Pak Bagas, “Oh, iya Pak … ada sedikit keperluan,” balasnya.


“Setelah punya suami, selalu sibuk ya Bu?” tanya Pak Bagas.


Pria itu menunjukkan wajah yang sinis, seakan tidak suka dengan Arsyilla dan tidak suka dengan kebahagiaan rekan dosennya itu bersama dengan suaminya.


Arsyilla hanya menganggukkan kepalanya secara samar, “Saya duluan ya Pak,” pamit Arsyilla kali ini.

__ADS_1


Pikirnya itu lebih baik daripada menanggapi perkataan Pak Bagas yang tidak-tidak. Sehingga Arsyilla segera keluar dari kampus dan menuju ke pusat perbelanjaan yang berada tidak jauh dari kampusnya mengajar.


__ADS_2