Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Rasa Was-Was


__ADS_3

Keesokan harinya, kediaman Aksara dan Arsyilla kembali kedatangan seseorang yang kali ini sengaja datang untuk menjenguk Aksara yang masih sakit. Rangga, adik kandung Aksara itu datang dengan membawa buah tangan untuk menjenguk Kakaknya itu. Dengan mengendarai mobil miliknya, kali ini Rangga menyempatkan diri untuk mampir ke kediaman Kakaknya sebelum berangkat ke Rumah Sakit siang nanti.


“Permisi,” ucapnya sembari mengetuk pintu rumah Aksara dan Arsyilla.


Tidak berselang lama pun, Arsyilla muncul dan membukakan pintu untuk adik iparnya itu.


“Eh, Rangga … masuk. Tumben kesini,” ucapnya.


“Iya Kak Syilla … mau nengokin Kak Aksara,” jawabnya.


Setelahnya, Arsyilla pun memanggil Aksara. Wanita itu kini membantu Aksara keluar dari kamar, berjalan sampai ke ruang tamu. Dengan susah payah Aksara berjalan dengan menggunakan kruk. Hanya berjalan dari kamar sampai ke ruang tamu saja rasanya tenaganya benar-benar terkuras.


“Mas Aksa,” sapa Rangga yang seketika berdiri dan membantu Kakaknya berjalan dan duduk di sofa itu.


“Iya, tumben kamu datang?” tanya Aksara kepada adiknya itu.


“Hmm, iya Kak … maaf, waktu Kakak kecelakaan aku belum sempat menjenguk. Baru bisa datang sekarang karena kerjaan di Rumah Sakit banyak,” jelasnya kepada sang Kakak.


“Tidak apa-apa,” balas Aksara dengan singkat.


“Gimana Mas, sakitnya gimana? Dipasang pen ya Mas?” tanyanya lagi.


“Hanya kaki kiri saja sih … kalau kaki kanan sehat, lukanya sudah kering juga. Iya, ada pen yang dipasang, soalnya terjadi fraktur tertutup kata Dokternya,” balas Aksara.


Rangga merespons dengan menganggukkan kepalanya, kemudian pria itu tampak mengamati kaki Kakaknya.


“Kakinya enggak bengkak kan Mas?” tanyanya.


“Enggak … biasa saja kok. Cuma mungkin karena digips, jadi kelihatan bengkak. Berat juga sih ini,” jawab Aksara.


“Iya Mas, yang bikin berat gipsnya ini. Akan dilepas kapan ini Mas?” tanya Rangga lagi.


“Harus digips sebulan katanya, jadi ya masih tiga minggu lagi. Masih lama,” balas Aksara.

__ADS_1


Sementara Arsyilla mengamati interaksi Kakak Beradik itu. Merasa suasana sudah cair, Arsyilla hendak ke dapur dan membuatkan minum untuk Rangga.


“Aku buatkan minum yah … mau panas atau dingin, Rangga?” tanya Arsyilla.


“Enggak usah Kak … aku enggak lama kok,” jawabnya.


“Cuma minum … aku buatkan yah, tunggu dulu,” ucap Arsyilla dan berjalan menuju ke dapur.


Aksara mengamati istrinya yang berjalan menuju ke dapur itu, sementara Rangga juga turut mengamati Kakak Iparnya yang berjalan ke dapur itu. Sehingga, Kakak Beradik itu sama-sama mengamati Arsyilla.


Hingga akhirnya ada deheman dari Aksara saat melihat bahwa adiknya turut mengamati Arsyilla yang sedang berjalan menuju ke dapur.


“Thania gimana kabarnya?” tanya Aksara kemudian kepada adiknya itu.


“Oh, Thania … Thania baik kok Mas,” jawabnya.


Aksara kembali menganggukkan kepalanya, kemudian dia beralih melihat Arsyilla yang sudah berjalan ke ruang tamu dengan membawa sebuah nampan yang berisikan dua cangkir Teh Hangat.


“Minumnya, Rangga,” ucap Arsyilla sembari menaruh cangkir keramik di hadapan Rangga.


Suasana menjadi hening, kemudian Arsyilla mengambil duduk di sebelah suaminya. “Mau minum Kak?” tanya Arsyilla.


“Nanti aku ambil sendiri bisa, Honey,” jawab Aksara.


Mendengar ucapan Kakak Kandungnya, Rangga seolah tersenyum kecil. Pria itu merasa bahwa Kakaknya yang dingin dan terkesan cuek, jika sudah bersama dengan istrinya bisa berubah menjadi begitu manis. Bahkan panggilan sayang dari Kakaknya untuk Kakak iparnya juga terdengar begitu manis.


“Panggilan sayangnya manis banget, Mas,” celetuk Rangga dengan tiba-tiba.


Aksara pun memberikan anggukan kecil, “Iya … panggilan sayang buat istri tercinta,” balas Aksara.


“Kak Syilla panggilan sayangnya untuk Mas Aksa apa?” tanyanya.


Terlihat Arsyilla melirik ke arah suaminya itu, kemudian wanita itu kembali berbicara, “Aku manggilnya sih formal saja. Kakak aja. Panggilan sayang tidak menjamin perasaan sayang, yang penting aku selalu sayang padanya,” balas Arsyilla.

__ADS_1


Ada senyuman merekah di wajah Aksara kini. Istrinya rupanya bisa dengan mudahnya membuat suasana hatinya membaik. Sementara Rangga masih mengamati interaksi pasangan suami istri itu.


“Jadi pengen punya istri kayak Kak Syilla,” sahut Rangga dengan tiba-tiba.


Sontak saja, Aksara membolakan kedua matanya, menatap tajam kepada adiknya itu. Apa maksud ucapan Rangga yang dinilainya ambigu itu, sampai rasanya ada rasa was-was di dalam hatinya. Terlebih saat Aksara menunduk dan melihat kakinya yang masih sakit, mungkinkah ini akan menjadi celah bagi orang lain yang tidak lain adalah adik kandungnya sendiri untuk mendekati istrinya sendiri.


“Eh, maksud aku … punya istri yang karakternya sama kayak Kak Syilla. Udah cantik, baik, dan tulus banget sama suami,” jelas Rangga lagi.


Mendengar Rangga yang seolah memuji istrinya, Aksara pun menautkan tangannya di tangan Arsyilla. Bahkan pria itu memberikan remasan kecil di sana. Ada rasa tidak nyaman yang melingkupinya sekarang ini. Mungkinkah itu adalah perasaan cemburu? Aksara cemburu pada adik iparnya sendiri?


“Honeyku memang sesempurna itu di mataku, makasih Honey,” ucap Aksara lagi.


Namun, Arsyilla merasa ada perasaan asing yang mungkin saja dirasakan oleh suaminya saat ini. Untuk itu, Arsyilla memilih merespons dengan memberi anggukan kecil. Dalam benaknya, Arsyilla harus mencari bahan pembicaraan lain yang bisa mengubah suasana yang kurang enak itu.


“Diminum … nanti Tehnya jadi dingin loh,” ucapnya.


Kemudian Arsyilla beringsut, mengambil cangkir di atas meja dan membantu suaminya itu minum, sementara ada Rangga yang masih mengamati interaksi pasangan suami istri itu. Tidak berselang lama, Rangga pun berpamitan kepada Kakak dan Kakak Iparnya.


Begitu Rangga sudah pergi, ada Aksara yang menunjukkan wajah kesalnya. Melihat wajah muram suaminya, Arsyilla pun segera menghampiri suaminya itu.


“Kenapa Kak? Kok muram wajahnya, sebel yah?” tanyanya.


“Iya, sebel … sama Rangga. Bisa-bisanya dia berbicara pengen istri kayak kamu. Emangnya itu ucapan apaan coba,” gerutu Aksara kali ini.


Arsyilla pun segera menggenggam tangan suaminya itu, “Jangan dimasukkan hati … percaya saja, aku selamanya milikmu,” balas Arsyilla dengan sungguh-sungguh.


“Aku cuma was-was Honey … godaan bisa datang dari mana saja termasuk dari adik iparmu sendiri. Terlebih sekarang aku baru menjadi pria tidak sempurna seperti ini. Rasanya aku gak berdaya,” aku Aksara dengan jujur.


“Percaya aku Kak … aku cuma cinta sama kamu, dan tidak akan tergoda. Emangnya aku wanita apaan. Tidak semua wanita seperti itu, Kak. Aku bisa memastikan hati, kepercayaan, dan kesetiaanku hanya untuk kamu. Aku gak akan tergoda layaknya pesona adik ipar seperti itu. Semua wanita bisa menjaga diri, dan tidak sepenuhnya seperti yang diceritakan di novel-novel online itu. Aku cuma untuk kamu. Arsyilla hanya untuk Aksara,” balas Arsyilla dengan yakin.


“Janji?” sahut Aksara.


“I am promise,” sahut Arsyilla.

__ADS_1


Dunia boleh menggemparkan hubungan gelap adik dan kakak ipar, tetapi tidak bagi Arsyilla. Hati, cinta, dan tubuhnya seutuhnya milik suaminya. Tak akan berpaling karena Arsyilla hanya mencintai Aksara.


__ADS_2