Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Foto-Foto Lama


__ADS_3

Keesokan harinya, Aksara dan Arsyilla masih berada di kediaman Mama Khaira dan Papa Radit. Pagi tadi mereka telah sarapan bersama, dan sekarang keluarga itu sedang berkumpul di ruang tamu. Ada pula, Arshaka yang turut bergabung dengan mereka.


“Kak Syilla sama Mas Aksara nginep di sini to?” tanya pemuda itu kepada Kakak dan juga Kakak Iparnya.


“Iya, Shaka … semalam nginep di sini. Kamu pulang jam berapa? Pasti pacaran terus jadinya pulang malam,” sahut Arsyilla.


Si Kakak itu merasa adiknya pulang malam karena pacaran. Oleh karena itu, Arsyilla langsung berbicara secara langsung di hadapan Mama dan Papanya.


Arshaka pun lantas tersenyum, “Mana ada aku pacaran Kak? Aku ngaudit laporan keuangan perusahaan. Pusing banget,” ucapnya.


“Benar Syilla … Shaka masih di kantor semalam.” Kali ini giliran Papa Radit yang berbicara dan menegaskan bahwa putra bungsunya itu masih berada di kantor untuk mengaudit laporan keuangan.


Arsyilla pun tertawa, “Oh … aku pikir, baru pacaran. Kamu kan sudah gede, bukan remaja lagi. Boleh enggak Pa, kalau Shaka punya pacar?” tanya Arsyilla dengan tiba-tiba.


Terlihat Papa Radit dan Mama Khaira yang saling pandang, setelahnya keduanya pun tersenyum, “Boleh saja … Shaka sudah besar sekarang. Hanya saja jangan pacaran yang melebihi batas. Jangan merusak anak gadis orang lain. Jika cinta itu akan benar-benar menghargai dan menghormati,” jawab Papa Radit.


Arsyilla pun mengangguk, “Tuh Shaka dengarkan Papa … kamu boleh kok pacaran,” sahut Arsyilla lagi.


Arshaka lantas tersenyum dan menyandarkan punggungnya ke sofa, “Aku maunya pacaran kalau sudah yakin mau nikah aja, Kak … enggak mau pacaran lama-lama, mending pacaran usai menikah aja kayak Mama, ya kan Ma?” sahutnya.


Mama Khaira kemudian mengangguk, “Iya … alangkah baiknya begitu. Mama itu tidak masalah dengan siapa gadis yang kamu sukai, apa latar belakangnya tidak menjadi masalah, yang penting saling menjaga. Kalau bisa tidak melanggar batas-batas orang berpacaran,” jelas Khaira.


“Oke Mamaku … siap,” sahut Arshaka.


Di satu sisi, Aksara turut mendengarkan obrolan keluarga mertuanya itu. Dia merasa memang keluarga mertuanya itu sangat hangat, saling menyayangi, dan juga kasih sayang dari orang tua dan anak terlihat dengan jelas.


“Ma, apa benar Mas Aksara itu sudah kenal dengan Mama dan Papa saat masih kecil?” tanya Arshaka dengan tiba-tiba.

__ADS_1


“Iya, Shaka … mungkin saat Kakakmu berusia 40 hari. Kenapa?” tanya Arsyilla.


Arshaka pun mengangguk, “Enggak sih … kok bisa ingat. Emang ada buktinya?” tanya Arshaka dengan tiba-tiba.


Mama Khaira pun berdiri. Wanita itu mengambil sebuah album lama dari sebuah lemari penyimpanan, memberikan album foto itu kepada Arshaka.


“Ini Nak, coba lihat … ini Mama, Papa, yang kami gendong itu adalah Kakakmu Arsyilla. Lalu, anak kecil ini adalah Kakak Iparmu, Mas Aksara,” jelas Mama Khaira kepada Arshaka.


Pemuda itu tampak meminta foto album itu yang sudah berusia lama itu dan seolah membandingkan wajah Aksara di sana dengan yang sekarang. Lantas Arshaka kembali bertanya, “Mama dan Papa jadi sayang sama Mas Aksara gitu ya?” tanya Arshaka dengan tiba-tiba.


“Iya … kamu menyayanginya. Kami bahkan mencari kemana-mana saat Bu Lisa mengatakan bahwa Aksara sudah dijemput oleh orang tua kandungnya. Kamu tahu saat itu, Kakakmu menjadi banyak menangis dan mencari Kak Aksaranya. Mengingat betapa dulu Kakakmu yang selalu menangis sangat kasihan, maka dari itu Papa dan Mama berpikir untuk menambah anak lagi, supaya Kakakmu punya teman bermain,” jelas Papa Radit.


“Oh … jadi aku dilahirkan buat teman bermain Kakak ya Pa?” tanyanya.


“Bukan gitu juga Shaka … karena memang Mama dan Papa sudah berkeinginan untuk memiliki dua anak saja. Mengikuti program pemerintah, dua anak cukup,” sambung Papa Radit.


Tanpa perlu ditanya, jawaban di dalam hati Aksara sudah pasti. Hanya saja pria itu mengangguk, “Iya … dulu awalnya aku hanya sayang padanya sebagai seorang adik. Namun, ternyata saat aku keluar dari panti asuhan justru aku sangat sedih karena tidak bisa bertemu dengan Syilla. Beberapa bulan bahkan tahun setelahnya, aku masih mengajak Ayah dan Bunda ke Panti Asuhan dengan harapan bisa bertemu dengan Kakakmu lagi,” ucapnya.


Arsyilla pun mendengarkan perkataan suaminya itu. Benarkah pria itu masih mengunjungi panti asuhan beberapa tahun setelahnya. Benarkah bahwa pria itu masih berharap menemuinya.


“Kenapa kamu tanya-tanya masa lalu terus sih Shaka? Kamu naksir dengan teman kecilmu? Teman TK, SD, atau SMP mungkin?” tanya Arsyilla kepada adiknya yang kali ini terlihat banyak bertanya itu.


Arshaka dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Tidak … aku merasa aneh, dan kok bisa gitu. Padahal waktu sudah sangat lama berlalu. Lalu, kenapa kamu bisa mengenali Kak Syilla, Mas?” tanya Arshaka lagi.


Pemuda itu masih beberapa kali membolak-balikkan album lama yang disimpan Mamanya itu.


Sebelum menjawab, Aksara tampak menatap wajah Mama Khaira dan Papa Radit sebentar, “Di Jakarta itu gadis yang bernama Arsyilla itu banyak … tetapi hanya satu gadis yang bernama Arsyilla Kirana Putri Raditya. Aku ingat dengan baik nama lengkap kakakmu. Aku berharap suatu saat bisa kembali bertemu dengan pemilik nama itu, ternyata Tuhan mendengar doaku. Aku bisa bertemu lagi dengannya di pesta malam itu. Saat Vendra mengenalkan kekasihnya yang bernama Arsyilla Kirana Putri Raditya, rasanya hatiku mendidih dan aku tidak ingin Arsyilla menjadi milik Vendra,” ucap pria itu dengan jujur.

__ADS_1


“O … jadi begitu ceritanya. Oke deh, rasa penasaranku sudah terjawab. Soalnya beberapa pekan lalu Mama dan Papa cerita kalau suaminya Kak Syilla itu sudah seperti anak bagi Mama dan Papa. Oke-oke … sekarang aku sudah tahu,” jawab Arshaka kemudian.


Setelahnya, Aksara terlihat meminjam foto-foto lama itu. Rasanya pria itu juga ingin bernostalgia sejenak dan melihat foto-fotonya waktu kecil, tentu saja foto-foto itu tidak dimiliki Ayah dan Bundanya karena dia terpisah cukup lama dari Ayah Bisma dan Bunda Kanaya.


“Aksara pinjem sebentar Ma,” ucapnya.


Lantas pria itu membolak-balikkan album foto itu, dan tersenyum. “Kamu waktu kecil nih manis banget kan,” ucap Aksara sembari berbisik lirih kepada Arsyilla.


Wanita itu pun tampak turut melihat foto yang ditunjuk oleh Aksara, “Aku enggak manis,” jawabnya.


Aksara pun tertawa, “Iya enggak manis … tapi manis banget,” sahut Aksara dengan singkat.


Melihat interaksi Kakaknya dan Kakak Iparnya, Arshaka pun berdehem, “Kalau mau manis-manisan di dalam kamar sana Kak. Pengantin baru mah gitu,” ucap Arshaka.


Papa Radit dan Mama Khaira turut tertawa, “Biasa Nak … malah bagus, rukun gitu. Tandanya saling sayang,” ucap Mama Khaira.


Akan tetapi, Arshaka justru kelihatan cemberut, “Ke kamar sana Kak, aku masih mau di sini sama Papa dan Mama,” usirnya kepada Kakak dan Kakak iparnya.


Merasa diusir, Arsyilla berdiri, “Yuk, Kak … kita ke kamar aja. Ngadem,” ucapnya.


“Ngadem atau ngadem Kak?” tanya Arshaka lagi.


Arsyilla pun memincingkan matanya menatap Arshaka, “Ngadem lah … bye Shaka Sayang … Kakak ke kamar ya. Jangan nyariin,” ucapnya.


Arshaka pun tertawa, “Mas Aksara dijaga ya Kakakku yang manis itu. Penting jangan dipanggil Manis aja karena dia enggak suka,” ucap Arshaka dan pemuda itu pun tertawa.


Arsyilla yang geram, tampak memukul adiknya dengan sebuah bantal yang berada di sofa. “Isshss, nyebelin,” ucapnya.

__ADS_1


Setelahnya Arsyilla pun mengajak Aksara naik ke kamarnya. Beristirahat sejenak, sebelum kembali lagi ke apartemen mereka menjelang sore nanti.


__ADS_2