
Begitu sore tiba, Aksara yang pulang dari kantor begitu bahagia melihat Arsyilla dan Ara yang sudah membukakan pintu untuknya. Wajahnya tersenyum melihat dua wanita kesayangannya itu.
“Ayah pulang,” ucapnya sembari memasuki rumah.
“Yayah,” balas Ara yang sudah mulai mengoceh-oceh dan mulai bisa memanggil “yayah dan nda,’ sekadar disapa oleh putrinya saja, Aksara merasa bahagia.
“Iya … Yayah mandi dulu yah, sehabis ini main sama Ayah yah,” balasnya.
Aksara kemudian menatap ke wajah Arsyilla, “Ayah mandi dulu ya Bunda,” ucapnya dengan menaiki anak tangga.
Membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit, Aksara kemudian sudah menuju ke tempat bermain Ara. Melihat sendiri bagaimana putrinya itu belajar berjalan dengan menggunakan baby walker miliknya. Bahkan Ara sendiri seolah juga ingin unjuk kebolehan di hadapan Ayahnya.
“Sambil diminum dulu Ayah,” ucap Arsyilla dengan memberikan Teh hangat untuk suaminya itu.
“Makasih Bunda,” balasnya dengan menyeruput Teh hangat di dalam cangkir keramik itu.
Mengisi sore bersama keluarga kecilnya, membuat Aksara bahagia. Terlebih ada Ara yang kian hari kian menggemaskan dan selalu bertumbuh ke arah yang positif.
“Pinter banget sih anaknya Ayah ini … nanti kalau sudah bisa jalan, mau jalan-jalan ke mana nih Ara?” tanya Aksara kepada putrinya itu.
“Mau ke Mall, Ayah … jalan-jalan dan beli sepatu,” balas Arsyilla.
Aksara pun tertawa, “Nanti dibelikan Ayah sepatu princess yang lucu yah … biar Ara makin pinter berjalannya,” balas Aksara yang berdiri di belakang Ara, seolah bersiap untuk menjaga jika sampai Ara terjatuh.
Sampai akhirnya, hingga malam Aksara menemani Ara bermain. Arsyilla dan Aksara pun menikmati makan malam mereka sembari bergantian untuk mengasuh Ara. Namun, kurang lebih jam 19.30an, Ara sudah mengantuk. Sehingga Arsyilla pun segera menidurkan putrinya itu.
Tidak berselang lama, Arsyilla kembali masuk ke dalam kamar. Merebahkan punggung dan pinggangnya sebentar, karena seharian bermain-main dengan Ara, cukup membuat pinggang terasa pegal.
__ADS_1
“Sudah tidur, Ara nya Honey?” tanya Aksara kepada istrinya itu.
“Sudah Ayah … dia aktif banget. Maunya berdiri terus belajar jalan sendiri kayak gitu. Capeknya,” jawab Arsyilla.
“Mau aku pijit?” tawar Aksara.
Arsyilla pun menggelengkan kepalanya, “Enggak … maunya dipeluk Ayah aja,” sahutnya dengan suara yang manja.
Mendengar permintaan dari Arsyilla, Aksara pun menganggukkan kepalanya. Pria itu segera menaiki ranjang, dan memeluk istrinya itu. Mendekapnya dengan begitu erat. Ada tangan Aksara yang bergerak dan memberikan usapan yang begitu lembut di puncak kepala Arsyilla.
Tak ada suara, karena saat dipeluk suaminya, Arsyilla memilih untuk memejamkan matanya sembari menghirupi aroma woody favoritnya di tubuh Aksara.
“Kenapa diam aja?” tanya Aksara.
“Kangen,” balas Arsyilla dengan singkat.
Pelukan Aksara di tubuh Arsyilla kian erat, hingga Aksara mulai mengecupi puncak kepala Arsyilla. Sepenuhnya Aksara tahu bahwa, makna kangen untuk istrinya itu bermakna banyak. Oleh karena itu, Aksara kian mendekap erat Arsyilla dan berusaha untuk menyentuh istrinya.
Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya sama-sama terseret dalam gelombang. Pertemuan bibir, lidah yang sama-sama mengusap, menghadirkan berbagai gelenyar di dalam tubuh, hingga Arsyilla menghela nafas sepenuh dada, saat merasakan telapak tangan suaminya yang menyusup ke dalam kaos yang dia kenakan.
“Mmh,” de-sah Aksara saat memberikan belaian di punggung Arsyilla.
Bibir yang kian bergerak dan menghisap lipatan bibir bawah milik Arsyilla dengan tekanan yang serupa, sampai Aksara merasakan cengkeraman tangan Arsyilla yang kian erat di bahunya.
Perlahan, tapi pasti, Aksara melepaskan pengait besi yang berada di dalam balik kaos itu, sehingga tangannya bisa membelai punggung yang begitu halus itu. Dari tengkuk hingga pinggang, semuanya ditelusuri Aksara dengan tangannya. Hingga tangan itu akhirnya menarik kaos yang dikenakan Arsyilla ke atas, membuat istrinya dengan tubuh bagian atas yang polos di hadapannya.
Aksara membuka matanya, mengamati, kemolekan tubuh istrinya yang benar-benar indah. Walau sudah memiliki anak, tetapi tubuh Arsyilla tetap saja menggoda untuknya. Aksara mendekap Arsyilla, dengan menundukkan wajahnya, dan mulai membawa buah persik yang ranum milik istrinya untuk tenggelam di dalam kehangatan rongga mulutnya. Memberikan sapaan dengan usapan lidah yang benar-benar memabukkan, bukan hanya itu Aksara pun memberikan gigitan-gigitan kecil di puncak buah persik itu. Hingga tidak membutuhkan waktu lama, puncak itu sudah menegang dan sedikit bengkak di sana. Kian kuat Aksara menghisap, kian kuat Arsyilla meremas rambut Aksara.
__ADS_1
“Ayah,” panggilnya kepada suaminya itu dengan nafas yang terengah-engah.
Aksara mengangkat wajahnya, melihat cantiknya istrinya itu dengan suara de-sahan yang menggoda telinganya. Aksara kemudian melepaskan setiap pakaian yang keduanya kenakan. Membiar tangan nakal istrinya yang memberikan genggaman dan remasan di pusakanya yang sudah begitu tegang.
“Luar biasa Bunda,” lirihnya dengan mengusapi kepala Arsyilla.
Menikmati sentuhan demi sentuhan yang Arsyilla berikan, sampai akhirnya Aksara menyadarkan dirinya, dan kembali menyapa lembah milik istrinya. Memberikan sapuan dengan lidahnya di sana. Tidak peduli dengan rintihan Arsyilla dan tubuh istrinya yang menggeliat dengan gelisah.
Merasa Arsyilla sudah merasakan pelepasannya, Aksara kemudian membuka kedua paha istrinya itu, dan mulai menghujamkan pusakanya, gerakan seduktif dengan keluar dan masuk, menghujam dan menusuk yang membuat Aksara menggeram. Wadahnya menengadah ke atas, dengan mata yang terpejam.
Tak kuasa dengan pergerakan suaminya, Arsyilla pun membawa kedua kakinya untuk melingkari pinggang suaminya, bahkan Arsyilla sedikit mengangkat wajahnya, dan menggigit punggung suaminya saat dia kembali merasakan melayang dengan sensasi yang tiada duanya.
“Hhh, Ayah, ah ….”
Kian lirih de-sahan Arsyilla, kian membuat Aksara menggerakkan pinggulnya. Kian menghujam dan melesakkan pusakanya. Aksara kemudian menarik pusakanya dan memasukkan pusakanya lagi, hingga Arsyilla terengah-engah dibuatnya.
“Sedikit miring Honey,” perintah Aksara yang meminta istrinya untuk mengubah posisinya menjadi miring.
Aksara menarik selimut untuk menyelimuti tubuh keduanya, kemudian dia kembali menghujamkan pusakanya dari belakang dengan posisi sama-sama miring. Membuka satu kaki Arsyilla, dan menaruhnya di pahanya. Kembali pria itu melakukan gerakan seduktif yang sensasinya sungguh luar biasa.
Tangan yang bebas mengeksplorasi area dada istrinya, dan bibir yang berkali-kali mengecupi tengkuk dan bahu istrinya. Keduanya sama-sama berbagi peluh. Tak bisa dikatakan lagi bagaimana indah dan nikmati petualangan bercinta kali ini.
Dari belakang Aksara terus bergerak, seolah tidak memberikan jeda. Hingga sampai pada Aksara merasa sudah tiba di batasnya. Pria itu merasakan cengkeraman cawan surgawi yang kian kuat dan seolah meremas pusakanya.
“Hhh, astaga,” racau Aksara dengan memberikan remasan di dada istrinya.
Menuntaskan misinya. Aksara kemudian melesakkan pusakanya sedalam mungkin, dan pria itu menggeram dan tubuh yang bergetar. Aksara menggeram. Tangannya merengkuh tubuh Arsyilla dengan begitu kuat. Mempertahankan posisi istrinya itu dengan tepat, disertai dengan gerakan pinggang yang kian menggebu.
__ADS_1
Mendesak dan terus mendesak. Aksara bergerak tanpa ada jeda. Arsyilla memejamkan matanya, berusaha menahan terpaan gelombang yang membuatnya bak menggigil kedinginan. Keduanya sama-sama terperangkap pada rasa yang tak mampu mereka definiskan.
Aksara menghujam dengan begitu dalam, begitu kuat, hingga akhirnya dia pecah. Pria itu meledak dalam kenikmatan seakan berjuta warna-warni pelangi menghiasi matanya yang terpejam. Peluh yang kian menambah kesan liat dan basah, dan juga pelukan Arsyilla ditubuhnya adalah sensasi terindah dan ternikmat yang bisa keduanya rasakan bersama.