
Berkat kehadiran Arshaka dengan tiba-tiba, kini pasangan orang tua baru bisa duduk berdampingi di kursi belakang dengan Arsyilla yang menggendong Baby Ara dalam pelukannya. Sementara Arshaka tampak sesekali melihat Kakak dan Kakak Iparnya itu dari spion tengahnya.
“Kak, sakit enggak melahirkan Kak?” tanya Arshaka dengan tiba-tiba.
“Sakitlah … cuma kan kamu nanti tidak mengalaminya, Shaka,” balas Arsyilla kepada adiknya itu.
Ada tawa yang melingkup seisi mobil itu. Hingga Arshaka turut tertawa setelah mendengar jawaban yang diberikan Kakaknya itu.
“Ya, emang sih Kak … cuma kan harus siap-siap kalau mendampingi istri besok,” balas Arshaka dengan tawa.
“Emang sudah ada calonnya?” tanya Aksara dengan tiba-tiba.
Dengan cepat Arshaka pun menggelengkan kepalanya, “Belum sih Mas … belum ada yang sreg di hati,” sahutnya.
“Oh, aku kira sudah ada calonnya kok sudah tanya-tanya persalinan,” balas Aksara lagi.
“Hehehe, kan cuma nanya, Mas … nanti kan juga akan melewati masa seperti ini. Dulu kan Papa itu pernah cerita dan beri nasihat jadi pria yang tangguh dan selalu bertanggung jawab. Di saat lihat Istri kesakitan bersalin, walau hati udah kayak Hello Kitty, mau nangis, tetapi harus tetap sekuat Captain America di hadapan istri,” balas Arshaka.
Wah, rupanya Arshaka memiliki selera humor yang tinggi. Sampai Arsyilla tertawa mendengar jawaban dan cerita dari adiknya itu.
“Papa enggak pernah bilang kayak gitu. Mana mungkin Papa kita bilang Hello Kitty segala. Kamu lebay deh, Shaka,” sahut Arsyilla dengan nada suara yang menggerutu.
“Bercanda, Kak … cuma kan Papa selalu cerita kan kalau Papa selalu mendampingi Mama waktu bersalin. Mendampingi Mama saat melahirkan Kakak dan aku,” balas Arshaka.
“Iya … benar. Papa benar-benar Best Daddy in my world,” balas Arsyilla dengan begitu bangga.
Arsyilla lahir dan dibesarkan di keluarga yang menyayanginya, menerima keberadaannya sebagai anak yang unik dan pribadi yang harus diasuh dan diberi pelajaran setiap hari. Selain itu, tangki air cinta dari kedua orang tuanya yang begitu melimpah membuatnya tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sehat dan kooperatif.
Hingga tidak terasa, kini mereka sudah sampai di kediaman Aksara dan Arsyilla. Arshaka membantu mendorongkan koper dari bagasi mobil, sementara Aksara dengan merangkul pinggang istrinya membantunya berjalan.
“Bisa naik tangga enggak Honey?” tanya Aksara kepada istrinya itu.
__ADS_1
“Bisa kok Kak … pelan-pelan bisa,” jawab Arsyilla.
Akan tetapi, Aksara seakan menahan istrinya itu. “Sini, Baby Ara sama Ayah … tunggu di sini dulu Honey, jangan naik tangga sendirian,” ucap Aksara.
Rupanya Aksara membawa Baby Ara dan menggendongnya terlebih dahulu. Pria itu membaringkan Baby Ara di dalam box bayi. Setelahnya Aksara kembali turun dan kali ini dia berniat untuk menggendong istrinya itu.
“Sini, aku gendong saja … mengingat jahitan yang kamu terima udah kayak obrasan benang, pasti ngilu buat naik anak tangga,” balas Aksara.
Arshaka yang berdiri tidak jauh dari keduanya, menahan tawa melihat kelakuan Kakak Iparnya itu.
“Luar biasa banget sih Mas … Pasti Kak Syilla makin cinta tuh sama Mas,” celetuk Arshaka dengan tiba-tiba.
Keduanya sampai lupa, bahwa saat itu masih ada Arshaka di rumah mereka. Akan tetapi, Aksara dengan santainya menggendong Arsyilla ala bridal style dan membawa istrinya itu perlahan menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Setelah itu, Aksara kembali turun dan menemui Arshaka.
“Mau minum Shaka?” tawarnya kepada adik iparnya itu.
“Enggak Mas, aku sudah pesan taksi online kok. Abis ini aku pamit ya Mas, nanti lain kali aku main lagi mau main-main sama Ara,” balas Arshaka.
“Enggak repot kok Mas … sesama keluarga jangan merasa direpotkan, Mas … kalau perlu bantuan bilang saja, Mas. Pasti aku bantuin,” balas Arshaka.
Hingga tidak berapa lama terdengar bunyi klakson dua kali di depan pintu gerbang rumah Aksara, sehingga Arshaka pun berpamitan dengan Kakak Iparnya itu.
“Ya sudah, itu sudah datang taksinya. Pamit ya Mas … pamitkan Kakak,” ucap Arshaka.
“Ya, hati-hati, Shaka,” balas Aksara sembari mengantarkan adik iparnya itu sampai di pintu gerbang.
Sepulangnya Arshaka, Aksara kembali menaiki lantai dua dan melihat istrinya di sana.
“Istirahat Honey?” tanya Aksara.
“Eh, Kak … enggak. Cuma rebahan saja, capek,” balas Arsyilla.
__ADS_1
“Kalau capek istirahat saja. Aku bisa kok jagain Baby Ara,” balas Aksara.
“Ya ampun, baru punya Baby Ara dua hari saja, kamu udah jadi Ayah yang pro kayak gini sih. Luar biasa banget deh,” balas Arsyilla.
“Aku masih belajar, Honey … semalam sambil lihat di Youtube gitu cara menggendong bayi dan sebagainya. Ya, walaupun aku enggak expert, setidaknya aku mau terlibat dalam pengasuhan Baby Ara. Aku mau membersamai tumbuh kembangnya. Juga, jadikan rumah ini sebagai lingkungan tumbuh kembang bagi Baby Ara ya Honey,” ucap Aksara dengan begitu panjang lebar.
“Iya Kak … kata-kata kamu mirip Mama deh,” sahut Arsyilla.
Tawa pun terbit di wajah Aksara, “Iya, semalam aku baca-baca tuh materi parenting yang dibawakan Mama, kan ada diunggah di situs parenting kan. Luar biasa banget isinya. Jadi aku diingatkan untuk terlibat aktif dalam tumbuh kembang Ara. Anak berkembang dan bertumbuh itu membutuh kedua orang tuanya. Tidak hanya salah satu. Itu yang disebut Mama sebagai Universitas Keluarga. Anak adalah muridnya, orang tua adalah gurunya, dan proses pembelajarannya berlangsung sepanjang hayat. Aku mau menerapkan itu,” balas Aksara.
Mendengar ucapan Aksara, Arsyilla pun terbangun dan segera memeluk suaminya itu.
“Makasih Kak … makasih sudah mengisi diri kamu dengan pengetahuan sebanyak ini. Kuharap, kita berdua bisa menjadi orang tua yang sepadan untuk Baby Ara,” balas Arsyilla.
Hatinya begitu terharu, rupanya Aksara juga sudah mengisi dirinya dengan berbagai materi parenting yang ditulis oleh Mamanya sendiri. Rasanya Aksara senang sudah mempersiapkan dirinya secara matang untuk menjadi seorang Ayah.
“Iya Honey … kita jadikan rumah kita sebagai lingkungan tumbuh tembang utama dan pertama buat Baby Ara yah,” ucap Aksara.
Tujuannya memiliki rumah ini memang supaya putri kecilnya itu tumbuh dengan baik dan menadi setiap tahapan (milestone) perkembangannya yang optimal. Dengan Arsyilla dan dirinya yang akan menjadi orang tua sekaligus pengajar utama untuk Ara, menanfers setiap ilmu pengetahuan, pengalaman, nilai, dan norma untuk Baby Ara.
“Iya Ayah, aku senang banget memiliki kamu sebagai suamiku dan memiliki Baby Ara sebagai buah hatiku,” balas Arsyilla.
Ada tiga kebahagiaan yang Arsyilla syukurin sekarang ini yaitu Aksara yang berdiri sebagai suaminya, Ara yang adalah putri kecilnya, dan keluarga besarnya sebagai bagian support system yang selalu ada dan mendukungnya. Sungguh, Arsyilla sangat bersyukur untuk semuanya itu.
“Sama-sama Honey, sekarang kita fokus ke keluarga kecil kita. Menumbuh cinta dan kasih sayang di lingkungan tumbuh kembang ini. Menjadi rumah sebagai tempat teraman dan ternyama bagi Ara. Tempat di mana mendapatkan cinta dari kedua orang tuanya. Tempat di mana dia diterima sepenuhnya tanpa harus menjadi orang lain. Itulah arti rumah yang sebenarnya,” jawab Aksara.
“Setuju Kak … rumah di mana Ara tidak perlu merasa takut dengan dunia, rumah yang menjadi Ara diterima secara utuh dan penuh, mendapatkan kasih sayang dan segala hal yang dia butuhkan untuk menghadapi dunia. Dia tidak perlu merasa takut, karena ada Ayah dan Bundanya yang akan membuka tangan untuk memeluknya, mengajarinya segala hal yang dia butuhkan di dunia ini. Ah, aku bersyukur banget … kita akan memulai babak baru dalam hidup rumah tangga kita bersama dengan Ara. Semoga saja, apa yang kita diskusikan bersama ini bisa kita lakukan juga dengan baik,” balas Arsyilla.
Itulah arti rumah bagi anak kecil. Sebuah tempat yang bukan hanya aman dan nyaman. Namun, juga sebuah rumah di mana anak-anak akan diterima seutuhnya dan sepenuhnya, tidak dibanding-bandingkan dengan anak lain di luar sana. Dikasihi dengan kasih sayang yang tulus, dan dibekali dengan berbagai hal yang akan menjadikannya tangguh untuk bersosialisasi di dunianya nanti.
Anak diakui sebagai pribadi, diterima kekurangan dan kelebihannya, dan orang tua akan menjadi sosok yang menjadi teladan dan memberikan perbekalan untuk menjadikan anak resilience (tangguh) di masa yang akan datang.
__ADS_1