Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Saling Support


__ADS_3

"Baik Ibu Arsyilla, sejauh ini kondisi kehamilan bagus yah. Tidak ada kendala, hanya pening saja. Jadi, nanti saya akan resepkan penambah darah untuk Ibu. Selain itu, sama kehamilan sebelumnya ya Bu. Di masa kehamilan awal, hindari hubungan suami istri yang intens karena hormon prostaglandin yang dikeluarkan pria bisa membuat janin pusing dan terjadi kontraksi. Jadi, sebaiknya jika berhubungan keluarkan di luar saja," jelas Dokter Rinta.


Arsyilla dan Aksara sama-sama menganggukkan kepalanya, pesan yang diberikan Dokter Rinta masih Arsyilla ingat sampai sekarang. Lagipula, jika dirinya sedang hamil, suaminya itu tipe yang sabar, sehingga Arsyilla bisa menjalani kehamilan dengan cukup santai.


"Pemeriksaan selanjutnya bulan depan ya Bu," ucap Dokter Rinta lagi.


Kemudian mereka bertiga berpamitan. Menyelesaikan administrasi membayar biaya cek up dan konsultasi, serta mengantri di apotek untuk mengambil obat.


"Ara kelihatannya hampir ngantuk, Ayah," ucap Arsyilla.


Aksara pun menggendong putrinya itu dan mengusap kepalanya dengan lembut, "Kasihan putrinya Ayah ... temenin Bunda lihat dedek bayi yah," ucap Aksara.


"Sekecil Ara sudah mau jadi Kakak," balas Arsyilla.


"Tidak apa-apa Honey ... sekalian kamu capeknya. Habis itu tidak akan minta anak lagi," ucap Aksara dengan sungguh-sungguh.


"Janji?" tanya Arsyilla.


"Janji, dua anak saja," balasnya.

__ADS_1


"Kalau ternyata si baby ini cewek lagi, tidak akan meminta anak cowok kan?" tanya Arsyilla.


Sebab, biasanya para suami yang akan meminta kepada sang istri. Bahkan memberikan request khusus untuk mendapatkan anak laki-laki atau perempuan sesuai dengan yang mereka inginkan. Untuk itu, Arsyilla pun merepons ucapan suaminya demikian.


Aksara kemudian menganggukkan kepalanya, "Janji, enggak minta baby lagi. Punya dua anak cewek di rumah juga tidak masalah kok. Mau cewek atau cowok tidak masalah," balasnya.


"Oke, deal yah ... awas kalau nanti minta anak lagi, aku enggak mau," sahut Arsyilla dengan ketus.


"Janji Honey ... dua saja. Kita asuh dan besarnya sama-sama. Nanti, anak-anak sudah besar dan dewasa, kita masih muda. Kayak Mama Khaira dan Papa Radit yang masih muda walau mereka sudah berumur, dan sudah punya cucu," balas Aksara.


Rupanya Aksara menginginkan seperti Mama Khaira dan Papa Radit. Walau usia sudah separuh abad, keduanya masih muda, masih kuat dan bisa mengasuh cucunya. Agaknya Aksara pun menginginkan hal yang sama.


"Pantas sih, Mama Khaira masih kelihatan muda. Aku pengennya besok seperti itu. Aku masih kuat, dan memiliki waktu lama untuk melihat anakku tumbuh dan sampai memiliki cucu," balas Aksara.


Setelah mengantri di apotek, kini ketiganya menuju ke dalam mobil dan kembali ke rumah mereka. Terlebih hari sudah lama, Ara juga sudah kelihatan mengantuk, dan sekarang Aksara mengemudikan mobilnya menuju ke rumah mereka.


Begitu sampai di rumah, rupanya Ara sudah tertidur, maka Arsyilla dengan hati-hati menidurkan putrinya itu. Setelahnya, dia memilih bergabung dengan suaminya melihat kilasan pertandingan sepakbola melalui televisi pintar mereka.


"Jadi, sudah lega dan siap menjalani masa kehamilan kan?" tanya Aksara kepada istrinya.

__ADS_1


"Ya, begitu positif harus sudah siap sih Kak," balasnya.


Ketika mengetahui dirinya positif, sejak saat itu juga Arsyilla sudah memutuskan untuk bersiap. Walau banyak pikiran, dan juga keberatan karena mengingat Ara yang masih kecil. Akan tetapi, Arsyilla sudah bersiap. Dia sepenuhnya akan menjalani kehamilan dengan baik, menjaganya dengan sepenuhnya, sampai tiba waktunya bersalin nanti.


"Kamu hebat, Honey ... bahkan aku tahu saat wanita menyapih anaknya akan membuat dadanya menjadi sakit dan bengkak, tetapi kamu tidak mengeluh. Kamu menyeka sumber ASI-mu dengan air hangat. Tidak pernah mengeluh, walaupun sama aku. Jangan dipendam sendiri. Berbagi sama aku. Walau aku tidak bisa berbuat banyak, aku bisa menjadi pendengar yang baik. Kita akan saling mendukung dan menguatkan satu sama lain," ucapnya.


Aksara mengatakan semuanya itu karena beberapa hari yang lalu, dirinya melihat Arsyilla yang diam-diam menyeka dadanya dengan air hangat dan handuk kecil. Sepenuhnya Aksara tahu pasti area payu-dara istrinya akan membengkak karena menghentikan pemberian ASI secara langsung untuk Ara. Namun, nyatanya Arsyilla tidak membagi semua itu dengannya.


"Aku enggak mau menambah pikiran kamu, Kak ... kan kamu sudah capek bekerja, sudah capek bantuin aku di rumah juga," balasnya.


Arsyilla menempatkan dirinya sebagai seorang istri, bahwa suaminya pun sudah pasti capek. Bekerja delapan jam sehari, terkadang di malam hari masih ada projek menggambar yang harus dia kerjakan, selain itu suaminya juga sering membantunya untuk beberes rumah dan terlibat langsung dalam pengasuhan Ara. Mengingat semua itu, Arsyilla memang memilih diam dan tidak membagi dengan suaminya.


"Buat kamu, aku tidak merasa capek, Honey ... justru aku senang bisa melakukan sesuatu untukmu," balasnya dengan sungguh-sungguh.


Arsyilla pun menyunggingkan senyuman di wajahnya dan kemudian menganggukkan kepalanya secara samar, “Udah sudah tidak apa-apa kok … aku baik-baik saja. Sudah tidak bengkak. Kalau bengkak, nanti aku kompres pake air hangat, dan kemudian aku pumping sedikit dan aku buang ASIPnya, biar enggak begitu sakit dan bengkak saja, Kak,” balasnya.


"Jika membutuhkan bantuanku bilang saja, tidak usah merasa sungkan. Di kehidupan pernikahan kita ini, kita lakukan bersama. Kodrat kamu itu sebagai wanita itu hanya tiga Honey ... menstruasi, melahirkan, dan menyusui. Jangan pusingkan dirimu dengan lainnya. Aku bisa kamu andalkan. Berbagi pekerjaan rumah dan mengasuh Ara, aku tidak masalah," balas Aksara.


Ya Tuhan, mendengar apa yang baru saja di sampaikan oleh suaminya itu membuat hati Arsyilla benar-benar menghangat. Dia sangat bersyukur dan beruntung memiliki suami seperti Aksara. Rasanya, Tuhan begitu baik hingga memberikannya pasangan yang bisa memahami, memaklumi, dan tak segan untuk menawarkan bantuan kepadanya.

__ADS_1


Rumah tangga adalah menjalin dan menyatukan perbedaan. Menyatukan pikiran, mengangkat tangan bahkan menyingsingkan bahu untuk mengerjakan semuanya bersama-sama. Dengan melakukan semua didasari dengan cinta, dan sikap saling menghargai dan mendukung satu sama lain, pastilah semuanya bisa dijalani dengan baik.


__ADS_2