
Menjelang sore, Arsyilla dan Aksara kembali pulang ke apartemennya. Cukup lelah sebenarnya, karena dari kemarin begitu tiba dari Lombok, hanya beberapa jam berselang keduanya sudah harus mengunjungi kediaman mertuanya. Agaknya begitu tiba di apartemen Arsyilla ingin segera terlelap dalam mimpi indah.
Dalam perjalanan saja, wanita itu beberapa kali tampak menguap. Matanya terasa begitu berat.
“Kamu capek?” tanya Aksara sembari melirik Arsyilla yang menutupi mulutnya karena tengah menguap.
“Ngantuk, Kak …,” jawabnya.
Tangan Aksara pun bergerak dan mengusapi puncak kepala Arsyilla, “Ya sudah … nanti langsung tidur aja. Sudah mandi juga kan,” ucapnya.
Arsyilla pun dengan cepat mengangguk, “Iya … pengennya begitu. Namun, pakaian kotor kita yang dari Lombok ada satu koper harus dicuci,” ucapnya.
“Biar aku nanti yang masukkin ke mesin cuci, kamu istirahat aja gak apa-apa,” ucap pria itu.
Arsyilla kemudian tersenyum, “Kamu mirip Papaku sih, Kak … pas weekend terkadang Papa juga gitu masukkan pakaian ke mesin cuci. Mama sudah melarang, tetapi Papa tetap melakukannya katanya cuma pencet tombol aja enggak susah. Nanti kalau jemur, ada Bibi yang jemur,” cerita Arsyilla.
“Menantu dan mertuanya seserver ya Sayang? Pasti Papa Radit suka banget punya menantu kayak aku,” ucapnya dengan penuh percaya diri.
Arsyilla pun tertawa, “Kamu percaya diri banget sih, Kak,” ucapnya. “Awalnya Papa marah loh dulu akibat malam petaka itu, Papa bilang pokoknya kamu harus tanggung jawab atas aku,” ceritanya lagi.
Aksara kemudian ikut tertawa, “Maaf … pasti saat itu nilaiku anjlok banget di mata Papa yah?” tanyanya.
“Iya … Papa sebel banget sama kamu dulu,” jawab Arsyilla.
“Aku kan sudah minta maaf dan mengakui kesalahan, Sayang … maaf ya,” balasnya kali ini.
“Iya … gak apa-apa. Toh juga Papa sudah memaafkan kamu. Sudah menerima kamu sebagai menantunya,” jawab Arsyilla.
Ya, faktanya memang Papa Radit memang sudah menerima Aksara sepenuhnya sebagai menantunya. Hanya saja memang Papa Radit meminta kepada Aksara untuk menjaga putrinya itu.
“Iya Sayangku, sudah pasti aku selalu menjaga putrinya Papa Radit ini,” jawab Aksara.
Hingga tidak berselang lama, keduanya turun dari mobil dan memasuki apartemennya. Seperti yang diobrolkan keduanya di dalam mobil. Aksara segera memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci, segera menekan tombol untuk mencuci pakaian kotor keduanya. Sementara Arsyilla masih membuntuti suaminya itu.
“Nanti yang jemur, aku aja, Kak ….” Arsyilla berbicara dan meyakinkan bahwa dirinya yang akan menjemur pakaiannya nanti.
__ADS_1
Aksara mengangguk, ‘Iya … aku jemurin juga gak apa-apa,” jawab Aksara.
Dengan cepat Arsyilla menggelengkan kepalanya, “Jangan … aku aja. Sebagai seorang Istri biar aku yang urus, Kak,” jawabnya.
Aksara pun tertawa, dia segera menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa itu, “Iya Istriku … istrinya sapa sih ini?”
“Istrinya Kakak lah, emang siapa lagi,” sahutnya.
Aksara lantas menatap wajah istrinya itu, “Jadi kapan kamu mau ke Dokter untuk memasang KB?” tanya pria itu.
Arsyilla dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Kakak aja ah yang KB. Yang meminta menunda kan Kakak,” sahutnya.
“Sayang … enggak enak gesekan sama plastik,” sahut Aksara dengan tiba-tiba.
Arsyilla menatap horor suaminya itu, “Ih, nakal banget sih Kak … risikonya ya dijalani aja dong Kak,” pinta Arsyilla kini.
“Kamu maunya aku yang memakai pengaman?” tanya pria itu kemudian.
Arsyilla kemudian mengangguk, “Iya … kamu aja ya Kak,” pintanya kali ini kepada suaminya.
Arsyilla pun tersenyum, wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, “Makasih Kakak,” jawabnya.
Keduanya kemudian mengobrol sembari menunggu mesin cuci yang masih beroperasi, hingga akhirnya pakaian yang mereka cuci telah selesai, dan Arsyilla segera berdiri untuk menjemuri pakaiannya yang sudah dicuci. Wanita itu menjemur sembari mengalunkan senandung lirih dengan bibirnya, rupanya Aksara memandangi istrinya itu dari jauh.
“Nyanyinya yang keras dikit, Sayang,” ucap pria itu.
“Kamu dengar ya Kak?” tanyanya.
“Denger dong … kerasan dikit, suara kamu merdu,” sahutnya.
Arsyilla pun terkekeh, “Enggak ah, malu …,” jawabnya.
Begitu menjemur selesai, Aksara membantu Arsyilla pun nyelesaikan menjemur beberapa pakaian yang tersisa menggantungnya di tempat yang lebih tinggi. Pria berperawakan tinggi dan tegap itu dapat dengan mudah menggantungkan hanger pakaian itu.
“Akhirnya selesai juga,” ucap Arsyilla pada akhirnya. “Bobok yuk Kak,” ajak Arsyilla kini kepada suaminya itu.
__ADS_1
Aksara pun mengangguk. Pria itu mengekori di belakang Arsyilla yang tengah memasuki kamarnya. Begitu telah masuk ke dalam kamar, Arsyilla segera merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya, sementara Aksara juga turut berbaring di bagiannya.
“Mau langsung tidur?” tanya pria itu perlahan.
“Iya, ngantuk banget Kak … besok masih harus ngajar juga. Kamu belum ngantuk?” tanya Arsyilla kepada Aksara.
“Ya kalau kamu ngasih yang enak-enak sih, aku jadi enggak ngantuk Sayang,” sahutnya.
Arsyilla menatap wajah suaminya itu, “Capek aku, Kak … maaf,” ucapnya.
Aksara kemudian mengangguk, “Iya-iya … aku tahu kok. Enggak perlu meminta maaf juga. Walaupun kamu halal bagiku, tetap saja hubungan suami istri untuk dua pihak. Ada rasa saling menghargai dan menghormati, seperti nasihat Mama Khaira dan Papa Radit tadi. Tadi istirahatlah … makasih ya, buat semuanya,” ucap pria itu.
“Beneran gak apa-apa?” tanya Arsyilla yang memastikan kepada suaminya.
“Iya gak apa-apa. Aku pria yang sabar, Sayang … kamu prioritas aku,” ucapnya lagi.
Merasa bahwa Aksara benar-benar bersikap baik dan menghargainya, Arsyilla mengangguk. Wanita itu kemudian segera terlelap dalam pelukan suaminya. Membiarkan malam membuainya dalam mimpi indah, pelukan hangat suaminya yang membuatnya kian terlelap.
***
Pagi harinya ….
Lantaran tidur lebih cepat, pagi-pagi buta Aksara sudah terlebih dahulu bangun. Pria itu membuka matanya dan tersenyum menatap Arsyilla yang masih terlelap di sisinya. Aksara lantas merapikan beberapa juntai rambut di wajah istrinya, dan menatap dengan penuh cinta wajah sang istri.
Akan tetapi, saat itu Arsyilla terlihat bergerak menarik selimutnya lebih tinggi. Wanita yang masih terlelap itu tidak sadar jika pergerakan lututnya mengenai pusaka milik suaminya. Pria itu seketika menahan nafas, saat beberapa kali pergerakan lutut Arsyilla yang mengenai miliknya.
“Ya Tuhan, pagi-pagi sudah dapat godaan … mana dia masih tidur dan enggak sadar pula,” gumam pria itu dengan lirih.
Rupanya Arsyilla pun kembali bergerak. Wanita itu tampak meraba-raba dada Aksara, dan memeluk pria itu dengan begitu eratnya.
Aksara pun seolah kesusahan meneguk salivanya. Pria itu menghela nafasnya yang terasa berat.
“Kalau kamu meluknya seerat ini, jadi susah aku Sayang … mana lutut kamu ngenai apa tadi coba,” gumamnya lirih.
Meneguk salivanya, Aksara pelan-pelan berusaha mengurai pelukan Arsyilla. Akan tetapi, nyatanya sia-sia, wanita itu terus bergerak dan kian memeluknya erat.
__ADS_1
“Kamu meluk aku di waktu yang enggak tepat, Syilla! Mana pergerakan lutut kamu yang menggoda aku. Ya Tuhan, kenapa pagi-pagi begini malahan dapat godaan dari Istri yang tak sadarkan diri. Kuatkan hamba, Tuhan.”