
Arsyilla membolakan kedua matanya, tidak mengira bahwa Aksara akan mengatakan bahwa dia juga merindukannya. Kangen? Ya, Arsyilla tidak salah dengar karena dia bisa mendengar dengan pasti bahwa Aksara baru saja mengatakan bahwa dia kangen padanya di hadapan Papa dan Mamanya.
Bukan jutek atau sebal, wajah Arsyilla sudah tertunduk malu. Lagi-lagi Papa Radit dan Mama Khaira melempar senyuman melihat ekspresi wajah putrinya yang merona-rona saat mendengarkan ucapan Aksara. Seolah memberikan waktu bagi mereka, Mama Khaira pun meminta kepada Arsyilla untuk membawa Aksara ke kamarnya, karena sejak datang Aksara belum sempat istirahat karena Aksara terlebih dahulu mengungkapkan siapa dirinya yang sebenarnya.
“Sudah sana, kalian istirahat di kamar saja. Tuh, suami kamu udah kangen padahal juga baru beberapa menit loh,” ucap Mama Khaira yang sejujurnya hanya menggodai Arsyilla saja.
Hingga akhirnya, dua sejoli itu berpamitan dan memasuki kamar Arsyilla.
Sepeninggal Aksara dan Arsyilla, mata Mama Khaira pun berkaca-kaca.
“Kenapa mereka bisa begitu ya Mas?” tanyanya kini kepada Papa Radit.
“Kenapa bagaimana Ma?” tanya Papa Radit.
“Menurut Papa bagaimana dengan pendapat Aksara tadi?” tanya Mama Khaira lagi.
Sejenak Papa Radit pun merangkul bahu istrinya itu, “Tidak apa-apa, lagipula apa yang dikatakan Aksara ada benarnya. Mungkin saja Arsyilla sudah tidak mengingat dengan Aksara, dan Aksara ikhlas jika akhirnya Arsyilla pun tidak mengingat masa kecilnya yang berharga. Oleh karena itu, Aksara akan membuat Arsyilla jatuh cinta padanya dengan caranya. Bukankah sama kayak kita dulu Sayang? Memori ingatan kita saat kecil pun pernah hilang kan?” tanyanya kepada istrinya.
Mama Khaira mengangguk, “Ya, iya sih … cuma kan aku ingat kalau kamu itu Mas Aditnya Aira,” jawabnya dengan menatap wajah suaminya.
__ADS_1
“Mungkin suatu saat Arsyilla akan ingat bahwa Aksara adalah Kakaknya Syilla. Akan tetapi, menurut Papa sih Arsyilla sudah mulai membuka hatinya. Dia sama sepertimu dulu, Sayang … begita bekerja kerasnya aku untuk mendapatkan hatimu, membuktikan diri bahwa aku serius, membuktikan diri bahwa aku benar-benar mencintaimu. Semoga saja Aksara pun berhasil dalam misinya seperti aku yang berhasil mendapatkanmu dalam hidupku,” jawab Papa Radit dengan pasti.
“Ravendra bagaimana Pa?” tanya Mama Khaira saat ini.
“Benar yang dikatakan Aksara, kita limpahkan kepada hukum, Ma … Papa berharap hukum ke negeri ini bisa ditegakkan. Akan tetapi, jika terjadi apa-apa dengan putri Papa, maka Papa tidak akan mengampuninya,” jawab Papa Radit dengan sungguh-sungguh.
***
Sementara itu, Aksara pun bagai kerbau yang dicocok hidungnya dan mengikuti Arsyilla memasuki kamarnya.
“Ah, senang rasanya memasuki kamarmu lagi,” seloroh Aksara yang tampak tersenyum lebar sekarang ini.
Pria itu kemudian melihat buku dongeng dan boneka barbie dengan karakter Putri Aurora di sana atas tempat tidur Arsyilla.
“Jangan dipegang-pegang, itu buku kenangan,” jawab Arsyilla yang kemudian meminta buku itu kembali.
Aksara pun mengernyitkan keningnya, “Kenapa sih, baru juga pegang. Ya sudah deh, enggak pegang buku ini, tetapi pegang yang punya saja,” sahutnya kini.
Tanpa permisi pun, Aksara segera memeluk Arsyilla dan menghirupi aroma wangi dan begitu feminim dari wanita itu.
__ADS_1
“Aku beneran kangen kamu, tau,” gumam Aksara dengan lirih sembari memejamkan matanya.
Akan tetapi, Arsyilla diam. Dia bingung harus merespons apa dengan semuanya itu. Mengapa kian bertambah hari justru Aksara justru begitu gencar untuk memeluknya, kontak fisik di antara keduanya pun kian lebih sering rasanya.
Kali ini, Arsyilla merasakan jantungnya yang berdebar-debar, merasakan pelukan Aksara faktanya justru membuat suhu tubuhnya meningkat. Beberapa kali Arsyilla tampak menghela nafasnya dan berharap Aksara melepaskan pelukannya.
“Kenapa setiap kali memelukmu aku merasa lega, kedamain melingkupiku. Bisakah kita selamanya seperti ini?” tanya Aksara kini dengan mencuri kecupan di puncak kepala Arsyilla.
Jangan ditanya lagi betapa Arsyilla hanya mampu mengedip-edipkan matanya, dan tidak berani bergerak sama sekali.
“Syilla …,” panggil Aksara kali ini.
“Hmm, apa?” sahutnya.
“Berlayar bersamaku, yuk? Pekan depan,” jawabnya.
Akan tetapi, Arsyilla diam. Berlayar dengannya, maksudnya berlayar naik perahu atau kapal kan?
“Ada yang ingin kusampaikan kepadamu,” ucap Aksara lagi.
__ADS_1
Akhirnya Arsyilla mengangguk, “Baiklah, berapa lama?” tanyanya kepada Aksara.
“Menginap semalam ya? Ikutilah aku kali ini,” ucap Aksara dengan mengeratkan pelukannya ke tubuh Arsyilla yang kaku dan tangannya pun seolah lemas. Arsyilla tidak membalas pelukan Aksara, tetapi Aksara tak keberatan karena faktanya Arsyilla pun tidak menolak dan hanya berdiam diri. Bagi Aksara itu sudah menjadi sebuah lampu hijau, sehingga Aksara justru tersenyum dan kian mengeratkan pelukannya.