Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Kenangan Momen Terindah


__ADS_3

Rupanya Aksara dan Arshaka benar-benar mempersiapkan Barbeque dengan maksimal. Bahkan kedua pria itu begitu bersemangat memanggang daging yang sudah disiapkan dan dibumbui oleh Mama Khaira.


"Sering Barbeque-an Mas?" tanya Arshaka dengan tiba-tiba kepada Kakak Iparnya itu.


"Pernah sih, cuma di restoran ala-ala Korea Buffet itu aja. Kalau kayak gini, baru sekali," balas Aksara.


Arshaka pun tertawa, rupanya Kakak Iparnya baru sekali barbeque-an dengan pemanggang yang begitu besar seperti ini.


"Kami sering barbeque-an, Mas ... apalagi kalau tahun baru," cerita Arshaka lagi.


"Seru yah, keluarga kalian keliatannya sering ngumpul bersama seperti ini," balas Aksara lagi.


Arshaka pun dengan cepat menganggukkan kepalanya, "Iya Mas ... bagi Papa dan Mama dengan makan bersama, merayakan ulang tahun seperti ini bisa menjadi momen membangun kebersamaan," cerita Arshaka.


Aksara pun menghela nafasnya perlahan, sembari membalik daging-daging di hadapannya, "Harusnya aku menjadi keluargamu lebih cepet. Aku seneng banget rasanya," ungkap Aksara.


Nyatanya sekarang Arshaka justru tertawa, tidak mengira bahwa Kakak Iparnya rupanya justru ingin bergabung dengan keluarganya lebih cepat. Hingga akhirnya waktu memanggang daging pun usai, dan sekarang mereka tampak duduk bersama di kursi-kursi kayu yang sudah di tata dengan meja bundar di hadapan mereka.


"Sekarang, ayo makan," ucap Papa Radit yang mengajak anggota keluarga lainnya untuk makan bersama.


Terlihat Papa Radit yang mengambilkan dan memotongkan daging untuk Mama Khaira.


"Dimakan, Sayang," ucap Papa Radit.


Sekalipun usia sudah tidak lagi muda, tetapi Papa Radit tetap bersikap begitu romantis dan terlihat sangat mencintai Mama Khaira. Sikap manis Papa Radit pun membuat Arsyilla dan Arshaka sama-sama tersenyum.


"Syilla mau juga Papa," ucapnya sembari mengangkat piringnya dan menyodorkannya di hadapan Papanya.


"Kamu punya Aksara, Nak ... suamimu pasti memberikannya untukmu," balas Papa Radit.


Benarlah, usai Papa Radit mengambilkan untuk Mama Khaira, Aksara pun mengambilkan dan memotongkan daging untuk istrinya.

__ADS_1


"Silakan Sayang," ucap Aksara dengan lirih sembari mengulas senyuman kecil di sudut bibirnya.


"Mas, aku juga mau dong," sahut Arshaka dengan tiba-tiba.


Aksara pun menganggukkan kepalanya dan mengisi piring kosong adik iparnya itu dengan daging.


Lantas mereka terlihat menikmati daging barbeque malam itu. Ditemani cahaya lampu yang temaram dan angin malam yang bertiup sepoi-sepoi. Hingga akhirnya, Arsyilla pun kembali bersuara.


"Apa momen ter-romantis yang pernah dilakukan Papa untuk Mama?" tanya Arsyilla.


Agaknya sembari menikmati barbeque panggang, cocok untuk bertanya perihal kisah cinta Papa dan Mamanya. Bernostalgia sekaligus mengambil nilai-nilai positif yang bisa Arsyilla terapkan dalam kehidupan rumah tangganya.


Mama Khaira menghentikan makannya dan menatap wajah suaminya, "Bagi Mama ... hal paling romantis yang pernah Papa lakukan adalah menyusul Mama sampai ke Manchester. Saat itu, Papamu datang tiba-tiba dan kami bertemu di Old Trafford Stadium, sangat dramatis sekaligus romantis saat itu," kenang Mama Khaira.


"Papa sampai terbang ke Manchester, Ma?" tanya Aksara kepada Mama mertuanya itu.


"Iya, Aksara ... dulu Papa kamu bela-belain terbang dari Jakarta ke Manchester buat susulin Mama," jawab Mama Khaira.


"Kalau Papa apa Pa? Hal paling romantis yang Mama lakukan untuk Papa?" Giliran Arshaka yang bertanya kepada sang Papa.


Rupanya Papa Radit adalah tipe seorang pria yang memandang hal-hal romantis dari keseharian, dari hal-hal yang sederhana.


"Momen berharga untuk Papa dan Mama apa?" tanya Arsyilla lagi.


"Semua momen itu berharga Syilla... senang ataupun sedih, sehat ataupun sakit, semuanya berharga. Bagi Mama menjalani hidup bersama Papa kamu selalu berharga," balas Mama Khaira.


"Benar Syilla, Shaka, dan Aksara ... semua momen bersama Mamamu sangat berharga bagi Papa," imbuh Papa Radit.


Ketiganya pun mendengarkan kisah dan momen berharga orang tuanya itu. Tidak menyangka bahwa kisah orang tuanya benar-benar indah dan begitu menginspirasi.


"Yang Mama rasakan saat bertemu Kak Aksara apa?" tanya Arsyilla lagi kepada Mamanya.

__ADS_1


Mendengarkan pertanyaan Arsyilla ini, Aksara pun turut menaruh sejenak garpu dan pisang di sisi piring. Aksara pun ingin tahu apa yang dirasakan Mama Khaira saat kali pertama bertemu dengannya.


Mama Khaira lantas menatap wajah Aksara perlahan dan memberikan senyumannya, "Mama menyayanginya. Ya, kali pertama Mama bertemu dengan Aksara kecil saat itu, Mama sudah menyayangi kamu, Aksara," ucap Mama Khaira secara langsung kepada Aksara.


Mendengar ucapan kasih sayang yang begitu tulus dari Mama Khaira tentu saja Aksara begitu bahagia. Bahkan kedua mata pria itu tampak berkaca-kaca sekarang.


"Terima kasih Mama dan Papa sudah begitu menyayangi Aksara," balasnya.


Rasanya Aksara hanya bisa mengungkapkan terima kasih. Aksara tahu bahwa berterima kasih saja tidaklah cukup, tetapi saat ini nyatanya Aksara hanya bisa berterima kasih kepada mertuanya itu.


Papa Radit lantas menepuki bahu Aksara perlahan, "Papa juga... kali pertama melihatmu, Papa pun menyayangimu. Waktu membuktikan bahwa kamu bukan seekor itik buruk rupa yang ditinggalkan begitu saja oleh keluargamu. Bu Naya dan Pak Bisma sangat menyayangimu, sama seperti kami," jelas Papa Radit.


"Aksara, jika Mama boleh tahu, siapa yang sudah menculikmu saat kamu masih kecil dulu?" tanya Mama Khaira perlahan.


Aksara perlahan diam, melihat pada Arsyilla yang duduk di hadapannya. Meyakinkan hatinya terlebih dahulu untuk menjawab pertanyaan Mama Khaira, hingga akhirnya Aksara pun bersuara.


"Om Darren, Papanya Ravendra yang menculik Aksara dulu," jawab Aksara.


Mendengar nama Darren dan Ravendra disebut, mereka semua tampak tegang. Tidak mengira pria yang nyaris menjadi besannya pada kenyataannya adalah sosok yang tega memisahkan seorang anak dari ibu dan ayahnya.


"Benarkah?" tanya Arsyilla perlahan.


Arsyilla sendiri pun tidak menyangka jika Ayah dari mantan pacarnya dulu lah yang telah menculik Aksara. Membuat pria yang sekarang paling dia cintai berpisah bertahun-tahun lamanya dari Bunda Kanaya dan Ayah Bisma.


Aksara kemudian menganggukkan kepalanya lagi, "Iya, dia yang sudah menculikku," jawab Aksara dengan yakin.


Arsyilla lantas menggerakkan tangannya perlahan. Mengusapi punggung tangan suaminya itu dan meremasnya sejenak.


"Itu masa lalu Kak ... di masa kini hingga ke depannya nanti kamu punya aku dan kami semua yang menyayangimu," balas Arsyilla.


"Yang dikatakan Syilla benar Nak, semua masa lalu benar-benar berada di tempatnya. Kita pijaki masa depan dengan saling bergandengan tangan," sahut Mama Khaira.

__ADS_1


"Iya Ma ... terima kasih buat semuanya," sahut Aksara.


Menilik hidupnya di masa lalu yang harus berpisah begitu lama dari kedua orang tuanya jujur saja membuat Aksara menjadi down dan menjalani masa kecilnya dengan pilu. Bersyukur bahwa Tuhan masih mengirimkan figur orang tua yang baik bagi Aksara. Orang tua yang dekat bukan lantaran hubungan darah, melainkan karena hati. Untuk itu, Aksara akan terus mengingat setiap kebaikan yang dilakukan Mama Khaira dan Papa Radit kepadanya.


__ADS_2