Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Petaka Dosen Pembimbing


__ADS_3

Aksara begitu bersemangat berangkat dari apartemennya menuju ke kampus. Sebenarnya ini memang ada memasuki liburan semester, tetapi Aksara mengejar untuk bisa mengajukan judul Skripsi terlebih dahulu. Demi bisa mewujudkan beberapa mimpinya, Aksara akan berjuang dengan sungguh-sungguh untuk bisa mengumumkan kepada dunia adalah Arsyilla adalah istrinya. Setelahnya rasanya Aksara begitu ingin memiliki buah hati bersama Arsyilla.


Kurang lebih setengah jam berkendara, pria itu sudah memarkirkan mobilnya dengan rapi di parkiran Fakultas Teknik. Aksara segera keluar dari mobil dengan memanggul tas ransel di punggungnya. Tidak lupa dia memegang sebuah map yang berisi judul Skripsi dan kerangka untuk Skripsinya nanti.


Dengan begitu santai, Aksara segera menuju ruangan Biro Skripsi yang bernama Bapak Andreas. Kurang lebih sepuluh menit, Aksara menunggu barulah dia diizinkan untuk menemui Bapak Andreas.


“Selamat pagi, Pak,” sapa Aksara dengan sopan kepada Bapak Andreas yang merupakan Biro Skripsi sekaligus Dosen Besar di Fakultas Teknik Arsitektur.


“Ya, silakan masuk. Dengan siapa?” tanya Pak Andreas.


“Saya Aksara, Pak … mahasiswa Semester 8 Teknik Arsitektur ingin melakukan pengajuan Skripsi,” jelasnya.


Kedua tangan Aksara pun terulur dan menyerahkan map miliknya kepada Pak Andreas. Mulailah Pak Andreas melihat judul Skripsi dan kerangka yang sudah dibuat Aksara semalam. Jujur saja, dalam hatinya Aksara harap-harap cemas. Sebab, Skripsi sering kali menjadi momok bagi para mahasiswa. Banyak mahasiswa yang gagal menyelesaikan Skripsi, hingga harus terlunta-lunta dan tidak diwisuda.


“Kenapa mengangkat konsep ekologis?” tanya Pak Andreas.


“Sebab ilmu lingkungan tidak bisa terlepas begitu saja dengan ilmu arsitketur. Dalam arsitektur seharus memperhatikan elemen alam, mengusahakan ruang terbuka hijau, dan melestarikan lingkungan sekitar dengan hotel dan resort yang tengah dikembangkan.” Aksara menjawabnya dengan yakin. Kendati sebenarnya dia begitu gugup, tetapi Aksara berusaha untuk menjawab dengan mantap dan tanpa keraguan.


“Dosen yang cocok dengan Ekologi Arsitektur sebenarnya Ibu Arsyilla … tetapi sudah ada beberapa mahasiswa yang memilih untuk dibimbing Bu Arsyilla. Apa kamu juga mau dibimbing Bu Arsyilla?” tanya Pak Andreas.


Dengan cepat Aksara pun menggelengkan kepalanya, karena dia ingat bahwa Arsyilla menolak untuk membimbingnya dalam Skripsi. Tentu itu harus Arsyilla ambil supaya tidak memberikan penilaian secara subjektif kepada suami dan sekaligus mahasiswanya itu.


“Selain Bu Arsyilla saja Pak,” jawab Aksara.

__ADS_1


Mendengar jawaban Aksara, Pak Andreas nyatanya justru tertawa, “Padahal para mahasiswa berlomba-lomba untuk dibimbing Bu Arsyilla yang masih muda, pintar, dan cantik tentunya. Namun, kamu justru menolaknya,” sahut Pak Andreas.


Lantaran tak ingin menanggapi, Aksara pun hanya tersenyum. Daripada salah bicara justru berbahaya. Apalagi waktunya di kampus tinggal enam bulan. Selama enam bulan ini, Aksara akan benar-benar berusaha untuk lulus dari kampus ini. Terlebih dia sudah hiatus selama dua tahun, sehingga tidak ada waktu untuk mengulur-ulur lagi.


Pak Andreas sendiri mulai melihat Daftar Dosen Pembimbing yang ada dan juga beban yang sudah dimiliki para dosen dalam mengampu bimbingan Skripsi. Mempertimbangkan semuanya itu, Pak Andreas pun langsung menuliskan Dosen Pembimbing untuk Aksara.


“Baiklah … judulnya sudah bagus. Tolong nanti diberikan landasan teori yang kuat dan hipotesis penelitian yang jelas. Dosen pembimbingnya karena kamu sudah menolak Bu Arsyilla, jadi saya yang akan membimbing sebagai Dosen Pembimbing I, dan Dosen Pembimbing II nya adalah Pak … Bagas. Ya, Pak Bagas saja,” jawab Pak Andreas.


Mendengar bahwa dirinya mendapatkan Dosen Pembimbing Pak Bagas, jujur saja ini seperti petaka bagi Aksara. Sebab, dia memiliki alasan tersendiri dalam hatinya. Malas berhadapan dengan Dosen yang tebar pesona kepada istrinya itu. Akan tetapi, sekarang justru bak buah simalakama, Aksara harus sering-sering bertemu dan konsultasi dengan Pak Bagas. Benar-benar sebuah petaka.


Semangat dalam diri Aksara yang sebelumnya membara, kini perlahan redup. Sungguh, lebih baik dia tadi menerima tawaran Pak Andreas saja untuk mendapatkan Dosen Pembimbing Istrinya sendiri. Itu akan lebih menguntungkan dan membuatnya good mood. Dengan Pak Bagas yang ada justru membuatnya bad mood.


Dengan langkah gontai, Aksara pun keluar dari ruangan Pak Andreas. Bahkan saking malasnya, Aksara langsung menuju ke Jaya Corps, tanpa memberitahu Arsyilla terlebih dahulu. Pikirnya dia akan memberitahu Arsyilla begitu dirinya sudah sampai di unit apartemen saja.


Sore pun tiba …


Menjelang jam 17.00, Aksara sudah tiba di apartemennya. Rupanya mendapatkan Dosen Pembimbing yang tidak sesuai ekspektasi membuat Aksara benar-benar bad mood rasanya. Hingga akhirnya, Aksara pun mengetuk pintu apartemennya. Ada yang sang istri yang membukakan pintu, menyambutnya dengan senyuman.


“Welcome home, Kakak,” balas Arsyilla dengan senyumannya yang begitu manis.


Tanpa ba bi bu, Aksara langsung memeluk istrinya itu.


“Aku sebel, Honey,” keluhnya begitu masuk ke rumah sembari memeluk istrinya itu.

__ADS_1


Arsyilla pun membalas memeluk suaminya itu, dan mengusapi punggung suaminya perlahan dan gerakan usapan naik dan turun. Lantas, Arsyilla pun bertanya kepada suaminya itu.


“Kenapa memangnya Kak? Aku tungguin pesanmu sepanjang hari loh,” jawab Arsyilla.


Sebab, memang sepanjang hari Arsyilla menunggu pesan perihal pengajuan Skripsi dari suaminya itu. Akan tetapi, Aksara sama sekali tidak mengabari terkait pengajuan Skripsi hari ini kepada istrinya.


Arsyilla menerka mungkin saja suaminya itu ditolak pengajuan judulnya, atau mungkin ada kerangka yang dipersiapkan kurang tepat. Bagi Arsyilla itu wajar, karena memang ada masalah yang harus revisi judul berkali-kali.


Aksara pun mengurai pelukannya dan menatap wajah istrinya yang menunggu ceritanya terkait apa yang terjadi hari ini.


“Judulku di-ACC sih, hanya saja Dosen Pembimbingnya bikin malas. Tahu enggak Honey, aku dapat Dosen Pembimbingnya Pak Bagas,” cerita Aksara pada akhirnya.


Arsyilla pun mengangguk, kemudian kembali memeluk suaminya itu. Membiarkan pelukannya bisa menenangkan suaminya terlebih dahulu.


“Sabar Kak … dijalani saja. Lagipula, dulu kamu pernah berkata kan kalau tidak masalah siapa pun Dosen Pembimbingnya, kamu pasti bisa mengerjakan dan menyelesaikannya. Jadi, semangat ya Hubby. Tinggal skripsi juga,” nasihat Arsyilla kepada suaminya itu.


“Padahal tadi Pak Andreas menawarkan bisa sama kamu karena kamu kuat di bidang Ekologi dan Arsitektur. Aku justru melepaskan kesempatan baik karena bisa dibimbing Istriku sendiri, akhirnya malahan dapat Pak Bagas yang tebar pesona itu,” keluh Aksara lagi.


Kemudian Arsyilla sedikit terkekeh, tidak mengira perihal cemburu membuat suaminya malas dan bad mood karena mendapat Pak Bagas sebagai Dosen Pembimbingnya. Arsyilla lantas berusaha menenangkan suaminya lagi.


“Yuk, semangat yuk … Kakak pasti bisa, nanti kan di apartemen bisa konsultasi pribadi juga sama aku. Konsultasi gratis loh. Aku temenin juga ngerjainnya. Kurang apa coba? Kalau kamu keinget Pak Bagas terus menjadi badmood, inget aku saja karena kalau kamu mengingat aku dijamin jadi goodmood,” balas Arsyilla.


Perlahan Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Ya sudah … bakalan goodmood, penting service memuaskan ya Sayang … dukung aku biar bisa menjalani enam bulan ini,” pinta Aksara.

__ADS_1


“Iya Hubby, aku akan menjadi orang di depan yang selalu mendukung kamu. Semangat My Hubby!” ucapnya untuk menyemangati suaminya lagi.


__ADS_2