Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Kurang Sehat


__ADS_3

Rupanya memiliki beban pikiran berlebih berdampak ke kesehatan Arsyilla. Setelah semalam mengalami insomia. Kali ini, pagi bangun badannya terasa demam. Biasanya Arsyilla selalu bangun lebih pagi, tetapi sekarang justru Aksara lah yang bangun terlebih dahulu. Pria itu bangun dengan niat membelai sisi wajah istrinya yang masih terlelap, tetapi yang dia dapati justru badan istrinya terasa hangat.


Tentu saja, Aksara bangun kepada panik karena badan Arsyilla yang demam. Pria itu langsung mematikan AC yang membuat kamar mereka begitu dingin. Kemudian menarik selimut dan menyelimuti Arsyilla. Setelahnya, Aksara memilih berlari ke dapur dan menyeduh Teh Jahe untuk istrinya. Bahkan Aksara membuat Bubur Ayam sendiri untuk istrinya.


Sembari mengaduk-aduk bubur yang dimasak di dalam panci, Aksara pun berpikir apa yang membuat Arsyilla hingga sakit seperti ini.


Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan Syilla?


Aku merasa banyak keganjilan yang sedang kamu sembunyikan dariku …


Kamu yang mendadak ingin resign …


Kamu yang begitu cepat terlelap di pelukanku, tetapi semalam nyatanya kamu tidak bisa tidur …


Sekarang, kamu justru demam …


Mungkinkah ada sesuatu yang terjadi di luar sepengetahuanku?


Tidak bisakah kamu berbicara jujur dan membaginya denganku?


Setelah itu, Aksara menelpon bagian personalia Jaya Corp dan meminta izin bahwa hari ini dirinya tidak masuk ke kantor karena istrinya sedang tidak enak badan. Aksara tidak tega meninggalkan Arsyilla sendirian dalam kondisi sakit dan demam. Lebih baik jika dirinya bolos kerja sehari untuk bisa menemani Arsyilla sekarang.


Usai dari dapur selesai, Aksara lantas kembali ke dalam kamarnya dan mengopres badan Arsyilla yang demam dengan menggunakan air badan. Pria itu mengambil sapu tangan handuk berbentuk persegi, mencelupkannya ke dalam air hangat, memerasnya, dan kemudian menaruh handuk itu di atas kening Arsyilla. Aksara memilih duduk di tepian ranjang sembari menggenggam tangan istrinya itu.


“Kamu sebenarnya kenapa? Tumben kamu sakit, padahal selama ini … selama kamu menjadi istriku, kamu tidak pernah sakit. Kalaupun sakit, kamu hanya mengeluh sakit perut di tiap masa periode haidmu,” ucap Aksara dengan lirih.


Arsyilla yang tertidur, akhirnya menggeliat. Wanita itu membuka kelopak matanya dengan perlahan-lahan dan mulai menatap Aksara yang duduk di tepi tempat tidurnya.


“Kak,” sapa Arsyilla dengan suaranya yang khas dan serak layaknya orang yang baru bangun tidur.


“Istirahat saja dulu Sayang … kamu demam,” balas Aksara.


“Tapi Kak … kamu harus kerja,” balas Arsyilla kali ini.

__ADS_1


Dengan cepat Aksara menggelengkan kepalanya, “Aku cuti sehari … aku temenin kamu yah. Tidak mungkin aku meninggalkan Istriku yang baru sakit ini sendirian di unit apartemen,” balas Aksara.


Pada kenyataannya memang Aksara tidak akan tega meninggalkan Arsyilla sendirian di dalam apartemennya dalam kondisi kurang sehat. Jauh lebih baik jika dirinya mengambil cuti satu hari dan menemani istrinya itu.


“Kamu beneran tidak kenapa-napa? Aku tidak ingin cerita denganku?” tanya Aksara kini.


Arsyilla pun menggelengkan kepalanya, “Aku kan sudah cerita semalam Kak … sudah cerita semua,” balasnya.


“Tidak ada masalah kan di kampus?” tanya Aksara lagi.


“Tidak, tidak ada,” jawab Arsyilla dengan cepat.


“Lalu, kenapa semalam kamu tidak bisa tidur dan sekarang kamu justru demam seperti ini?” tanya Aksara lagi.


“Euhm, mungkin aku kecapekan membimbing skripsi Kak … ada puluhan mahasiswa yang kubimbing, jadi aku kelelahan,” jawab Arsyilla.


Tentu saja jawaban Arsyilla tidak sepenuhnya salah, karena dia memang membimbing puluhan mahasiswa untuk menyelesaikan skripsinya. Itu tentu saja membuat Arsyilla begitu sibuk di kampus.


“Aku sering tumbang di musim skripsi Kak … jika tidak percaya, tanya saja kepada Mama. Makanya dulu, Mama sering belikan aku vitamin biar aku lebih sehat dan kuat,” kata Arsyilla lagi sembari tersenyum.


“Baiklah … sekarang istirahat saja,” balas Aksara.


Pria itu beranjak dari sisi tempat tidur, kemudian menuju ke dapur. Tujuannya adalah membawakan sarapan untuk istrinya tercinta itu. Tidak lupa, Aksara mengambil obat penurun panas di kotak obat miliknya. Hanya sekian menit, pria itu kembali dengan membawa nampan yang berisi sarapan untuk Arsyilla.


“Yuk, sarapan dulu … aku suapin,” ucap Aksara kini.


Pria itu segera mengambil mangkok dan menyuapkan satu sendok Bubur Ayam untuk Arsyilla. Terlihat bagaimana pria itu begitu mencintai dan mempedulikan istrinya itu.


“Hmm, enak … kamu yang bikin ya Kak?” tanya Arsyilla.


Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Iya … aku yang bikin. Tidak seenak buatanmu yah?” tanya Aksara.


“Enggak … ini enak kok. Kamu bisa masak ya rupanya?” tanya Arsyilla lagi.

__ADS_1


“Bisa … dari kecil aku sudah mandiri. Begitu kuliah aku sudah tinggal sendiri, jadi aku bisa masak,” jawab Aksara.


Pria itu terus menyuapi Arsyilla hingga satu mangkok Bubur Ayam tandas, kemudian memberikan Teh Jahe yang masih hangat kepada Arsyilla.


“Minum dulu sekarang … selama 15 menit, baru minum obat,” ucap Aksara lagi.


Arsyilla mengangguk, mengikuti instruksi yang diberikan suaminya itu. Agaknya Arsyilla tidak menyesali keputusannya. Dia akan memilih mengorbankan dirinya sendiri demi sang suami. Membiarkan dirinya yang berkorban, asalkan suaminya itu bisa mencapai impian dan cita-citanya yaitu wisuda.


Selang 15 menit berlalu, Aksara pun membantu Arsyilla untuk meminum obat penurun demam. Setelahnya, Arsyilla diminta untuk beristirahat supaya dirinya bisa cepat sehat dan pulih kembali.


“Sekarang istirahat saja … aku akan menemani kamu,” ucap Aksara.


“Kakak enggak sarapan?” tanya Arsyilla kini.


Aksara pun kembali beranjak turun dari tempat tidur. Menuju dapur untuk membawa Roti Bakar dengan butter yang dilelehkan dan Teh Jahe hangat. Dia memilih menu sarapan itu yang simpel. Sementara untuk makan siang bisa pesan antar.


Arsyilla merasa lega karena suaminya itu pun telah sarapan. Bukan hanya perutnya yang terisi dengan sarapan, tetapi perut suaminya juga terisi dengan makanan.


Mungkin lantaran efek obat penurunan demam yang membuat orang yang meminumnya merasa mengantuk, beberapa kali Arsyilla menguap. Hari masih pagi, tetapi dirinya sudah menguap beberapa kali.


“Kamu ngantuk?” tanya Aksara lagi.


“Iya, mungkin obat penurun demamnya bereaksi. Efek sampingnya kan bikin ngantuk,” balas Arsyilla.


“Bobok dulu saja,” balas Aksara.


“Dipeluk boleh enggak Kak? Dingin,” jawabnya.


Aksara pun menganggukkan kepalanya. Pria itu kembali menaiki ranjang, menelisipkan satu tangannya di bawah kepala Arsyilla dan menarik selimut untuk menyelimuti keduanya. Bahkan kini Aksara turut memeluk Arsyilla. Rupanya istrinya jika sedang tidak badan begitu manja, tetapi Aksara suka karena Arsyilla tampil apa adanya di depannya.


“Sekarang istirahatlah … cepat sembuh. Aku panik saat tadi bangun dan kamu sudah demam tinggi,” ucap Aksara.


“Iya … karena kamu yang udah jagain dan urusin aku kayak gini. Pasti aku sembuh. Makasih Hubby,” balasnya sembari mencerukkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.

__ADS_1


Arsyilla yakin bahwa demamnya terjadi mungkin hanya karena dirinya yang semalam kurang tidur dan beban pikiran. Kendati demikian, Arsyilla pun yakin bahwa dirinya akan cepat sehat karena suaminya yang sudah mengurusnya dengan begitu totalitas.


__ADS_2