
“Bagaimana ini?” tanya Arsyilla yang seketika menatap wajah orang tua dan mertuanya.
“Tidak apa-apa, Syilla … serahkan semua kepada Bunda,” kali ini Bunda Naya yang terlihat seolah meyakinkan pada menantunya itu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak hanya itu, Bunda Naya juga akan mendukung Arsyilla sepenuhnya.
Arsyilla tampak diam dan tertunduk, sesekali dia memijit keningnya yang terasa berat, “Bunda, sekarang yang Arsyilla takutkan justru Om Darren yang bisa saja melakukan suap dan dan menyusun rencana untuk membebaskan Ravendra dari segala tuduhan,” ucap Arsyilla kali ini.
Menangkap kekhawatiran yang dirasakan Arsyilla, Bunda Naya pun memeluk menantunya itu, “Terkait Om Darren, serahkan kepada Bunda dan Ayah. Jangan takut. Tugasmu adalah menunggu di sidang putusan nanti. Jika Om Darren berani membeli hukum di negara ini, maka Bunda akan keluarkan kartu AS yang Bunda miliki,” ucap Bunda Kanaya dengan bersungguh-sungguh.
Mendengar ucapan dari Bunda Kanaya yang begitu serius, akhirnya Arsyilla pun mengangguk, “Baik Bunda … terima kasih,” ucapnya.
Pun dengan Mama Khaira dan Papa Radit yang sejujurnya juga merasa cemas, terlebih sosok Darren sendiri sudah terkenal dengan tindakan gelapnya. Oleh karena itu, pantas saja jika mereka menjadi was-was.
“Jangan khawatir Besan, nanti saya yang akan urus semuanya,” ucap Bunda Kanaya yang kali ini juga melihat bahwa wajah Besannya juga tengah panik.
Setelahnya Mama Khaira pun tersenyum, “Terima kasih … sudah menolong dan membantu putri kami, Arsyilla,” ucapnya dengan tulus.
Rasanya Mama Khaira merasakan bahwa mertua Arsyilla benar-benar orang yang baik dan begitu menyayangi dan melindungi Arsyilla. Hati seorang Ibu yang dimilikinya tentu saja membuat Mama Khaira merasa lebih tenang.
“Sudah pasti kami akan bergerak karena Arsyilla sudah kami anggap seperti putri kami sendiri,” sahut Ayah Bisma.
“Terima kasih,” jawab papa Radit yang juga mengucapkan rasa terima kasihnya.
Sekalipun raut wajah mereka menunjukkan ketidaklegaan, tetapi seolah-olah Bunda Kanaya benar-benar akan bergerak kali ini. Dia tidak akan membiarkan Darren untuk turut campur, karena jika Darren berani bertindak sarong dan berupaya melakukan suap, maka Bunda Kanaya akan benar-benar mengeluarkan Kartu AS yang selama ini dia pegang.
“Aksara, kamu bawa Syilla pulang dulu saja. Istrimu butuh istirahat,” ucap Ayah Bisma yang juga diangguki seluruh keluarga.
__ADS_1
Mengikuti nasihat dari Ayah Bisma, maka Aksara pun berpamitan dan segera membawa Arsyilla untuk kembali ke dalam apartemen mereka. Suasana kalut terlihat jelas dari suasana di dalam mobil itu yang sunyi. Arsyilla seolah terbebani dengan putusan peradilan yang harus diundur, dan juga was-was bila saja Om Darren akan mencoba membebaskan Ravendra dari semua tuntutan. Maka dari itu, Arsyilla benar-benar tidak lega. Akan tetapi, dirinya pun tidak bisa memaksa pihak pengadilan, karena memang semuanya sudah diputuskan oleh Hakim, jadi mereka hanya bisa menunggu dan mengikuti persidangan selanjutnya.
“Ayo, turun … kita sudah sampai,” ajak Aksara yang menyadarkan Arsyilla dari lamunannya.
Sontak saja, wanita itu mengerjap dan menoleh ke arah Aksara, “Ah, sudah sampai ya? Baiklah … ayo,” sahutnya. Kemudian Arsyilla berjalan dengan langkah gontai memasuki apartemen itu.
Begitu sudah tiba di dalam apartemennya, Aksara segera memberikan air minum untuk Arsyilla, “Minumlah dulu … kamu harus lebih tenang,” ucapnya dengan menyodorkan segelas air putih dingin untuk Arsyilla.
“Makasih,” balas Arsyilla dan kemudian menenggak air putih dingin itu hingga nyaris setengah gelas. Seolah kesejukan dan rasa dingin dari air yang barusan dia minum benar-benar membasahi tenggorokannya yang kering sejak berada di Pengadilan tadi.
Setelahnya, Aksara pun mengambil duduk di samping Arsyilla, pria itu tampak melirik Arsyilla sejenak, “Kamu cemas sekali ya?” tanyanya kali ini.
“Iya, hanya saja mulai kepikiran yang tidak-tidak. Padahal semua bukti dan saksi menyudutkan Ravendra, tetapi putusan peradilan justru ditunda,” keluh Arsyilla kali ini.
Tanpa banyak bicara, Aksara lantas merentangkan kedua tangannya di hadapan Arsyilla, "Kamu sekarang membutuhkan pelukanku, jadi … kemarilah," ucap pria itu.
"Jangan terlalu dipikirkan, percayakan pada Bunda Naya saja," ucap Aksara kali ini.
"Haruskah demikian?" tanya Arsyilla.
Aksara pun mengangguk, "Iya, jika Bunda Naya sudah berkata akan melindungi jadi percayalah saja. Memang terkadang begitu sukar melawan kejahatan bukan? Akan tetapi, pada akhirnya kebaikanlah yang akan selalu menang. Jadi, tenangkan dirimu," ucap Aksara kali ini.
Merasakan hangatnya pelukan Aksara dan kata-kata positif yang membangun itu, perlahan Arsyilla mengangguk, "Semoga saja Ravendra dihukum sesuai perbuatannya. Aku takut, jika dia menjadi kenal hukum karena kekuatan uang di belakangnya," ucap Arsyilla kini.
Bukan lantaran skeptis terhadap hukum di negeri ini. Hanya saja dengan besarnya kekuatan uang, terkadang bisa menukar hukuman dengan kebebasan. Sementara bagi mereka yang tidak memiliki uang, tidak bisa menukar hukuman dengan kebebasannya hanya bisa mendekam bahkan membusuk di dalam penjara.
__ADS_1
"Kita tunggu saja, kamu mau makan sesuatu atau apa gitu? Biar aku belikan," tawar Aksara kali ini.
Akan tetapi, Arsyilla menggeleng perlahan, "Rasanya aku jadi tidak ingin makan," keluhnya kali ini.
Rasa kecewa di persidangan yang urung diputuskan nyatanya membuat rasa laparnya menghilang begitu saja. Pikirnya bahwa hari ini Hakim bisa memutuskan hukuman bagi Ravendra. Nyatanya tidak, mereka masih harus menunggu lagi beberapa pekan ke depan.
"Kamu tetap harus makan, jangan sampai sakit hanya karena memikirkan masalah ini. Mau aku belikan karamel?" tanyanya lagi kepada Arsyilla.
Melihat Aksara yang tengah berusaha membujuknya makan, akhirnya Arsyilla pun mengangguk, "Baiklah, tetapi jawab dulu pertanyaanku. Darimana kamu tahu kalau aku suka karamel? Apakah Ayah Bisma yang cerita kepadamu?" tanyanya dengan melirik wajah Aksara.
Pria itu justru menggelengkan kepalanya perlahan, "Dulu waktu kamu sedang berlari-larian di Panti Asuhan, tiba-tiba kamu jatuh dan kakimu lecet. Lalu, aku memberikanmu permen karamel yang aku miliki. Aku bilang begini, 'Jangan menangis lagi, makanlah permen karamel ini. Karamel ini rasanya manis, saat memakannya kamu akan bahagia,' dan sejak saat itu kamu selalu suka permen karamel," cerita Aksara pada akhirnya.
"Benarkah? Jadi kamu yang sudah membuatku menyukai rasa karamel itu?" tanya Arsyilla sekali lagi.
Aksara mengangguk dengan penuh percaya diri, "Iya, aku orangnya," jawabnya.
"Sayangnya, aku tidak bisa mengingat semua itu. Mungkin aku masih terlalu kecil saat itu," ucapnya. Arsyilla sebenarnya merasa tidak enak hati juga karena Aksara seolah mengingat semua tentangnya, sementara kenangannya saat berusia kurang lebih 3 tahun bersifat parsial dan memori anak kecil itu bisa dikatakan bukan memori yang setia.
Aksara kemudian menggenggam tangan Arsyilla, "Tidak masalah kamu ingat, lagipula saat itu kamu masih berusia 3 tahun. Akan tetapi, Ayah Bisma pernah berkata bahwa hati dan otak kita bisa mengingat orang yang kita cintai. Oleh karena itulah, aku selalu mengingatmu," ucap Aksara lagi.
"Terima kasih sudah mengingatku," sahut Arsyilla kini.
Rasanya diingat oleh seseorang yang benar-benar mencintaimu membuat hati Arsyilla berdesir. Mungkin sekarang, wanita itu akan semakin membuka hatinya lebar-lebar untuk menerima Aksara.
Aksara kemudian mengangguk, "Aku selalu mengingatmu, dan sekarang … tolong lupakan sejenak urusan Ravendra. Aku harap kamu akan tetap makan, jangan menyakiti dirimu sendiri. Okey?"
__ADS_1
"Iya, oke … aku akan makan." Arsyilla menjawab dan memutuskan bahwa dirinya akan makan.
Rasanya bujukan yang diberikan Aksara benar-benar berhasil, karena kini wajah Arsyilla tampak lebih rileks dan dia juga mau untuk mengisi perutnya.