
Selesai diwisuda, Aksara dan Arsyilla benar-benar tancap gas untuk mempersiapkan resepsi pernikahan mereka. Hanya sekadar resepsi, tetapi kebahagiaannya begitu terasa. Di tengah-tengah aktivitas Aksara bekerja pun, pria itu beberapa kali menghubungi vendor dan pihak-pihak terkait untuk memastikan resepsinya nanti akan berjalan lancar dan tanpa gangguan.
Sore ini, Aksara pulang dari Jaya Corp dengan membawa undangan yang sudah selesai dicetak. Lain dari undangan yang terbiasa dicetak di atas kertas. Kali ini, Arsyilla dan Aksara memilih mencetak undangan mereka dengan bahan akrilik. Tercetak jelas di sana.
Aksara & Arsyilla Wedding Receptions terukir di sebuah akrilik, tercetak dengan tinta berwarna emas dan hiasan bunga-bunga di sisinya. Selain itu, mereka memilih amplop untuk memasukkan undangan pernikahan tersebut. Warna hitam dan gold menjadi perpaduan warna yang cantik. Sehingga undangan itu terkesan elegan dan terlihat begitu mewah.
“Undangan resepsi kita, Honey,” ucap Aksara menyerahkan beberapa undangan kepada Arsyilla.
Arsyilla tersenyum mengamati desain dan juga tampilan undangan mereka berdua.
“Ya ampun, ini indah banget … awalnya ragu mau mencetak di akrilik, tetapi hasilnya bagus ya Kak,” respons Arsyilla kali ini.
“Iya … wajarnya undangan pernikahan kan dicetak di kertas. Sekarang kita mencoba di akrilik justru keren kan? Warna gold dan hitam juga menambah kesan elegan,” balas Aksara.
“Bener … indah banget. Aku ambil satu ya Kak … aku simpan buat kenang-kenangan,” ucap Arsyilla.
Aksara lantas menganggukkan kepalanya, pria itu kemudian membuka tas ranselnya dan menyerah sebuah kotak kepada istrinya.
“Ini gift box untuk para undangan, Honey … aku minta satu juga tadi buat kita. Buat kenang-kenangan,” balasnya.
Arsyilla pun menerima gift box yang juga berwarna hitam dan gold itu, lalu membukanya perlahan. Di sana terdapat gelas kaca, parfum, dan sebuah sabun tangan yang akan dibagikan sebagai gift box.
“Ini mewah banget, Kak … kayak artis-artis deh,” ucap Arsyilla.
“Endorse itu, Honey … dari rekan-rekan bisnisnya Bunda,” jawab Aksara.
“Enak yah … dapat endorse,” sahut Arsyilla.
Arsyilla lantas menyimpan satu undangan dan satu gift box itu di dalam kamarnya. Lantas dia kembali keluar duduk di ruang tamu. Menempelkan nama rekan-rekan dosennya di kartu undangan itu karena Arsyilla akan segera membagikannya kepada rekan-rekan dosennya.
“Aku besok akan bagikan undangan ini kepada rekan-rekan dosen ya Kak,” ucap Arsyilla kali ini.
“Iya … aku juga cuma bawa pulang segitu karena untuk rekan-rekan dosenmu saja. Kalau kamu ada temen atau sahabat diundang sekalian, Honey,” balas Aksara.
“Iya Kak … yang temen-temen kuliah, minta soft copy saja Kak … paling nanti diposting di grup chat,” balas Arsyilla.
__ADS_1
Tidak menunggu lama, Aksara mengirimkan file undangannya kepada Arsyilla sudah bisa diberikan melalui Whatsapp.
“Pasti besok di kampus heboh setelah tahu siapa suamiku,” ucap Arsyilla dengan tiba-tiba.
“Dihadapi ya Honey … ini hanya sebatas resepsi kok,” balas Aksara.
“Iya Kak … biarkan saja sefakultas heboh,” jawab Arsyilla lagi sembari terkekeh geli.
***
Keesokan harinya …
Pada jam istirahat siang, Arsyilla membawa sebuah paper bag yang berisi undangan resepsi pernikahannya. Kali ini, Arsyilla ingin membagikan undangan tersebut kepada rekan-rekan dosennya di kampus.
Pertama, Arsyilla mendatangi ruang Bu Nila dan Bu Ratna yang memang berada di satu ruangan.
“Siang Bu Nila dan Bu Ratna,” sapa Arsyilla begitu memasuki ruangan rekan dosennya itu.
“Ya Bu Arsyilla, ada apa?” tanyanya.
Rupanya, saat itu Pak Bagas juga singgah ke ruangan Bu Nila dan Bu Ratna, sehingga Arsyilla sekaligus memberikan undangan untuk Pak Bagas.
“Untuk Pak Bagas sekalian mumpung ada di sini,” ucap Arsyilla.
Teman-temannya pun tampak excited dan membuka undangan tersebut. Mata Bu Nila dan Bu Ratna cukup kaget membaca nama mempelai pria yang tertera di sana.
“Kenapa namanya tidak asing ya Bu?” tanya Bu Nila kini.
“Aksara … Aksara mahasiswa kita ya?” tanya Pak Bagas kali ini.
Sebab begitu mendengar nama Aksara, yang ada dipikirannya Pak Bagas tentu pada Aksara. Mahasiswa yang hiatus itu memang secara usia jauh lebih tua dibandingkan dengan Arsyilla. Terlebih suaminya berprofesi sebagai tukang gambar alias Arsitek, sehingga Pak Bagas pun menebak ke arah sana.
Bu Nila dan Bu Ratna pun sama-sama tercekat, mungkinkah memang Aksara yang dimaksud oleh Pak Bagas yang menjadi suami Arsyilla.
“Apa benar Bu Arsyilla?” tanya Bu Ratna kali ini yang terlihat meminta jawaban dari Arsyilla.
__ADS_1
Terlihat anggukan samar yang dilakukan Arsyilla sekarang ini, “Iya … benar. Aksara alumni di sini,” balasnya dengan mengulas senyuman di sudut bibirnya.
Terlihat wajah-wajah yang begitu tercengang dari Bu Nila, Bu Ratna, bahkan Pak Bagas sendiri. Tidak mengira bahwa rekan dosennya itu menikah dengan mantan mahasiswa alias alumnus yang tentu sudah dikenal oleh ketiganya.
“Bu Arsyilla tidak salah kan?” tanya Pak Bagas kali ini.
“Tidak Pak … benar dia adalah suami saya,” balas Arsyilla kini.
Wajah yang kian tercekat membuat Pak Bagas seakan kehabisan kata-kata. Tidak mengira bahwa Arsyilla menikah dengan mahasiswanya sendiri. Nama sang alumnus, yaitu Aksara yang tercetak jelas di undangan itu.
“Kok bisa sih Bu Arsyilla?” tanya Pak Bagas lagi.
Arsyilla pun kali ini tersenyum, “Bisa Pak … itu karena kami sudah saling mengenal sejak kecil,” balas Arsyilla.
Rasanya memang tidak bisa dipercaya, tetapi itulah yang terjadi bahwa mantan mahasiswanya sendiri yang mendampinginya sebagai seorang suami.
“Ya ampun Bu Arsyilla … tidak menyangka bisa menikahi mahasiswa sendiri. Kalau di novel dan series romansa, Pak Dosen yang menikahi mahasiswinya kali ini justru Bu Dosen yang dapat mahasiswanya,” celetuk Bu Nila lagi kali ini.
Jika Bu Ratna turut tertawa, berbeda dengan Pak Bagas yang memasang wajah datar dan seakan tidak bisa menerima kenyataan bahwa rekan dosennya yang sudah lama disukainya itu justru menikah dan menikahnya dengan mahasiswa yang sudah lulus. Sosok pria yang sudah dikenal Pak Bagas.
Merasa sudah cukup untuk bercengkrama dengan Bu Nila, Bu Ratna, dan Pak Bagas, Arsyilla memilih membagikan undangan kepada staf fakultas dan rekan dosen lainnya. Rupanya beredar juga undangan Arsyilla di grup mahasiswa seangkatan Aksara yang kini sudah pada lulus. Hingga terjadi kehebohan di grup tersebut.
[Guys…]
[Berita heboh nih.]
[Bu Arsyilla menikah dan calonnya bernama Aksara.]
[Mungkinkah itu Aksara, teman seangkatan kita?]
[Kak Aksara itu yang dulu cuti kuliah]
[Wah, kalau benar, bakalan gempar nih ke fakultas Teknik Arsitektur.]
Arsyilla tertawa saja melihat deretan pesan yang dikirimkan tangkapan layarnya (screen shoot) oleh Aksara itu. Memang banyak yang tidak tahu bahwa pernikahannya dengan Aksara sudah hampir satu tahun. Mereka adalah pasangan suami dan istri yang sah, hanya saja memang mereka menjaga jarak di lingkungan kampus karena tuntutan pekerjaan dan batas antara Dosen dan mahasiswa.
__ADS_1
Bahkan sebisa mungkin, Arsyilla tidak pernah melakukan kontak fisik dengan Aksara selama di kampus. Apabila di beberapa novel dan cerita series para dosen bisa berpacaran, berdua, bahkan berhubungan badan dengan mahasiswinya, Arsyilla tidak akan melakukan itu. Sebab, ada pakta integritas yang mengatur kinerja dosen. Dosen dilihat bukan hanya sebagai pribadi saat dirinya berdiri di hadapan mahasiswa untuk mengajar, tetapi di kampus yang adalah lingkungan pendidikan, seorang dosen tidak diperkenankan melakukan tindakan demikian dengan mahasiswanya. Sekarang, Arsyilla bisa bernafas lega karena Aksara sudah lulus dan wisuda. Dia bisa menjalani pekerjaan dan profesinya sebagai Dosen dengan tenang.