Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Surat Pengunduran Diri


__ADS_3

Di awal pekan, rupanya Arsyilla benar-benar membuat Surat Pengunduran Diri. Arsyilla tidak main-main dengan ucapannya kali ini, dan dirinya akan membukti kan dia bisa melindungi Aksara dengan caranya.


Jakarta, Hari ini


Perihal: Surat Pengunduran Diri


Yth: Kepala Rektor Universitas . . . di Jakarta


Yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama: Arsyilla Kirana Putri Raditya


Jabatan: Dosen Arsitektur


Unit Kerja: Fakultas Teknik Arsitektur


Dengan ini mengajukan pengunduran diri sebagai salah satu Dosen Arsitektur di Fakultas Teknik Arsitektur Universitas … Jakarta karena alasan pribadi yang tidak bisa dijelaskan dengan detail. Terima kasih untuk kesempatan yang sudah diberikan kepada saya untuk bisa membimbing dan membagi ilmu di Fakultas Teknik Arsitektur.


Demikian permohonan ini saya ajukan dengan sebenarnya dan untuk dipergunakan sebagaimana mestinya. Atas perhatian dan kebijaksanaannya, saya mengucapkan terima kasih.


Tertanda,


Arsyilla Kirana, M. Ars. (Magister Arsitek)


Arsyilla menatap sendu kertas berukuran A4 yang berisikan surat pengunduran dirinya itu. Hanya lantaran surat kaleng yang berisikan foto-fotonya dengan Aksara, membuat dirinya harus melepaskan profesinya. Akan tetapi, semuanya sudah terjadi. Arsyilla akan memberikan surat pengunduran dirinya dan sekaligus tembusan kepada pihak-pihak terkait.


Mulailah Arsyilla menyerahkan pengunduran dirinya kepada Dekan Fakultas Teknik terlebih dahulu. Dengan gontai, Arsyilla menemui Dekan.

__ADS_1


“Selamat siang Bapak Hadi,” sapa Arsyilla dengan sopan kepada Dekan di Fakultas Teknik itu.


“Ya, selamat siang Bu Arsyilla … ada perlu apa?” tanya Pak Hadi.


“Saya datang untuk memberikan surat pengunduran diri saya,” jelas Arsyilla kini.


Nyatanya Pak Hadi cukup terkejut menerima surat pengunduran diri dari salah satu dosen muda terbaik di Fakultas Teknik Arsitektur itu.


“Kenapa Bu Arsyilla?” tanyanya.


“Oh, itu … karena masalah pribadi, Pak,” jawab Arsyilla kemudian.


“Bisa diceritakan dengan jujur,” pinta Pak Hadi kini.


Arsyilla yang semula ragu pun, memberanikan diri untuk berkata jujur kepada Dekannya, “Begini Pak … pekan lalu ada surat kaleng yang masuk ke bagian Komisi Disiplin, berisikan foto-foto saya dengan seorang mahasiswa. Intinya menuduh saya melakukan hubungan gelap dengan mahasiswa saya sendiri. Akan tetapi, itu semua tidak benar karena pada kenyataannya kami telah menikah. Saya juga tidak terlibat dalam kegiatan belajar mengajar dengannya di semester ini, membimbing skripsi pun tidak. Jadi, saya akan bertanggung jawab dan memilih mengundurkan diri,” cerita Arsyilla dengan jujur.


“Bu Arsyilla yakin tidak melakukan kecurangan dengan menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan selama ini?” tanya Pak Hadi.


“Iya, saya tidak melakukannya,” jawab Arsyilla dengan tegas.


“Saya pribadi menyayangkan kenapa Bu Arsyilla memutuskan bertanggung jawab dan mengundurkan diri. Baiklah, lebih baik kita usut kasus ini dan saya menahan terlebih dahulu Surat pengunduran diri dari Bu Arsyilla. Jika sudah ada titik temu, saya akan memanggil Bu Arsyilla kembali,” ucap Pak Hadi.


Akhirnya Arsyilla pun kembali ke ruangan dosennya. Pikirannya kacau dan kalut saat ini. Menerka-nerka apa yang hendak dilakukan Pak Hadi sekarang ini. Semoga saja Aksara benar-benar tidak terlibat dalam ini.


Baru saja Arsyilla memasuki ruangannya, ternyata terdengar ketukan dari luar. Seorang pria paruh baya dengan mengenakan setelan jas dan berkacamata memasuki ruangan Arsyilla.


“Selamat siang Arsyilla,” ucap pria itu.

__ADS_1


“Om … Om Darren,” balas Arsyilla dengan lidahnya yang terasa kelu.


Arsyilla menebak-nebak mungkin semuanya ini ada hubungannya dengan Darren Jaya Wardhana. Mungkinkah pria itu yang sudah mengirimkan surat kaleng ke pihak Komisi Disiplin.


“Ya, saya datang … saya tidak mengira saat anak saya, Ravendra mendekam di penjara ternyata kamu sibuk berpacaran dengan mahasiswa kamu sendiri. Apakah itu seorang dosen yang berakhlak?” tanya Darren dengan senyuman menyeringai.


Arsyilla mencoba tenang, mengendalikan emosinya dan berusaha tidak tersulut dengan setiap ucapan yang diucapkan pria yang merupakan Papa dari mantan pacarnya dulu. Arsyilla lantas teringat dengan cerita suaminya terkait bagaimana sosok Darren Jaya Wardhana sebenarnya.


“Apa Om Darren di usia senja begini masih ingin melakukan kejahatan dan berbuat curang? Saya yakin sekali kalau surat kaleng itu dari Om Darren. Kenapa Om? Om sakit hati kepada saya karena saya yang membuat Ravendra mendekam di penjara. Om, Tuhan itu maha kasih dan penyayang, Dia juga panjang sabar. Seharusnya Om Darren sadar diri, tidak selamanya kita hidup di dunia. Bertobatlah, Om … hentikan berbuat kotor dan mencelakai orang lain. Tiada guna melakukan kejahatan dengan motif kebencian,” ucap Arsyilla dengan panjang lebar.


“Beraninya kamu mengkhotbahi saya?” teriak Darren kali ini.


“Saya bukan mengkhotbahi … saya hanya mengingatkan. Apa Om Darren ingin saya menyebutkan semua dosa Om Darren di masa lalu, mulai dari kasus penggelapan dan suap di Jaya Corp, hingga penculikan Aksara,” ucap Arsyilla.


Wanita itu berbicara seakan tidak memiliki rasa takut. Arsyilla justru ingin membuat Darren sadar dengan perbuatannya selama ini adalah salah.


Niat hati datang untuk melihat Arsyilla, apakah wanita itu terpuruk dengan semuanya, kini justru Arsyilla dengan beraninya melawan Darren dengan ucapannya.


Untuk Arsyilla sendiri ada satu hal yang dia syukuri yaitu dia tidak memiliki mertua yang begitu licik seperti Darren. Arsyilla mensyukuri jebakan dan prank tergila dari suaminya untuk bisa merebutnya. Dengan cara itulah Arsyilla tidak akan berhubungan dengan keluarga Darren Jaya Wardhana.


“Sebaiknya Om perbaiki kesalahan Om Darren … Tentang surat kaleng itu, tolong jelaskan kepada pihak kampus bahwa itu hanya akal-akalan Om Darren saja. Jika tidak, saya bisa membuat Om Darren lebih menyesal dan membuat Ravendra mendekam lebih lama di penjara. Sekarang, silakan pergi, Om … saya tidak ada urusan apa pun dengan Om Daren,” ucap Arsyilla dengan tegas.


Mendengar semua ucapan Arsyilla, Darren pun perlahan berdiri. Tidak mengira bahwa wanita yang kecil dan masih muda seperti Arsyilla berani melawannya. Darren pun keluar dari ruangan Arsyilla dengan emosi dan kemarahan yang menyala-nyala.


Sepeninggal Om Darren, Arsyilla memilih duduk dan meneguk air putih. Hampir satu gelas air putih dia teguk hingga habis. Agaknya kini Arsyilla mengetahui bagaimana asal usul surat kaleng itu berasal. Kini, Arsyilla harus lebih berhati-hati. Mungkin saja Darren yang menyewa orang untuk membuntutinya dan mengambil foto dirinya dengan Aksara.


Arsyilla memijit pelipisnya yang terasa pening dan kencang. Memikirkan apa saja rencana yang dimiliki Om Daren.

__ADS_1


“Dendam apakah yang membuat Om Darren begitu ingin mencelakai Kak Aksara? Di masa lalu, Om Darren lah yang menculik Kak Aksara dan membuat Kakak menjauh sekian tahun lamanya dari Ayah dan Bunda. Sekarang Om Darren datang lagi dan ingin menghancurkan Kak Aksara yang baru saja lulus ujian Skripsi. Bagaimana aku bisa menyelidikinya? Aku ingin menyelamatkan Kak Aksara dengan caraku, aku tidak ingin Om Darren kembali mengusik Kak Aksara,” gumam Arsyilla kini.


__ADS_2