
Selang beberapa hari berlalu, Aksara tampak kian serius untuk mengerjakan Skripsinya. Seperti weekend kali ini, pria itu sejak pagi serius dengan Macbook nya dan mengerjakan Skripsi. Terkadang Aksara terlihat mengerutkan keningnya, terkadang terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebenarnya, atau jari-jarinya yang bergerak lincah di atas papan ketik.
Dari kejauhan rupanya Arsyilla memperhatikan suaminya itu. Arsyilla tengah memasak di dapur, tetapi sesekali dia melihat suaminya yang duduk melantai dengan punggung yang bersandar di sofa. Dalam hatinya Arsyilla justru senang karena Aksara terlihat begitu serius mengerjakan Skripsinya.
Ketika Arsyilla selesai memasak, wanita itu lantas datang dan menghampiri suaminya yang masih serius mengerjakan skripsinya.
“Sudah dapat berapa halaman ngetiknya Kak?” tanyanya sembari melihat Macbook milik suaminya.
“Belum banyak kok Honey … aku kerjakan sebisanya saja. Bab 1 isinya hanya ini kan? Tidak ada tambahan kan?” tanya Aksara kepada istrinya.
Arsyilla tampak melihat sekilas outline milik suaminya, “Iya … hanya itu kok. Yang penting di latar belakang masalahnya yang kuat Kak. Kan dari latar belakang masalah itu nanti bisa membuat identifikasi masalah, batasan masalah, hingga rumusan masalah,” jelas Arsyilla kepada suaminya.
Perlahan Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Iya … aku buat per poin dulu saja ya Sayang. Pusing kalau langsung memikirkan semuanya,” sahut Aksara.
“Iya … per poin tidak apa-apa, penting terarah kok mengerjakannya. Mau makan siang dulu enggak Kak? Perutnya biar keisi dan bisa mikir dengan jernih lagi,” ucap Arsyilla.
“Istriku ini masak apa tadi?” tanyanya.
“Kari Ayam dan Tempe Goreng,” jawabnya sembari tertawa. “Masak yang simpel sih Kak, maaf ya aku bisanya resep yang simpel-simpel,” lanjut Arsyilla lagi.
“Apa pun masakanmu tidak masalah, Honey. Kamu mau masakin aku saja udah seneng banget. Ya sudah, makan siang dulu yuk, abis itu temenin ngerjain Skripsi yah?” pintanya kepada Arsyilla.
“Iya, aku temenin,” balas Arsyilla.
Setelahnya keduanya berjalan menuju meja makan. Arsyilla terlebih dahulu mengisi piring milik suaminya dengan nasi putih dan kari ayam. Setelahnya barulah dia mengisi untuk dirinya sendiri.
“Mau konsultasi pertama kapan Kak?” tanya Arsyilla.
“Senin besok Sayang … makanya weekend ini aku mau selesaikan Bab 1 dulu,” balasnya.
Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, “Kalau serius dan tanpa distraksi, dua hari Bab 1 bisa selesai kok Kak … kan nanti tinggal ditambahin dari revisi Dosen Pembimbing saja,” jawab Arsyilla.
“Iya, biar cepet selesai. Aku pengen mengisi masa depan bersama kamu,” ucap Aksara sembari menatap wajah istrinya.
Arsyilla pun tersenyum, tidak mengira bahwa suaminya akan berkata bahwa ingin mengisi masa depan bersamanya, “Mengisi masa depan gimana Kak?” tanya Arsyilla.
“Pengen hamilin kamu,” jawab Aksara dengan spontans.
Mendengar jawaban Aksara, Arsyilla pun mengerucutkan bibirnya, “Isshhs, bilangnya itu … bikin ngeri deh Kak,” sahutnya.
__ADS_1
Aksara lantas tertawa, “Aku serius … pengen bikin kamu hamil dan punya baby dari kamu. Kelihatannya lucu banget,” balasnya lagi.
“Makanya diselesaikan skripsinya biar cepet selesai. Aku kan tungguin kamu, Kak,” balasnya.
Beberapa saat berlalu, akhirnya makan siang keduanya selesai. Arsyilla sekaligus membersihkan peralatan makan yang kotor, setelahnya dia duduk di samping suaminya yang masih duduk melantai dan tengah mengerjakan skripsi.
“Semangat Kak, kerjainnya aku baca buku di sini yah,” ucap Arsyilla.
“Iya Honey, kamu temenin gini aja aku udah seneng, jadi makin semangat,” jawabnya.
***
Hari Senin tiba …
Menjelang sore, Aksara datang ke kampus untuk melakukan konsultasi skripsinya dengan Dosen Pembimbingnya. Kali pertama, Aksara memilih untuk mendatangi Pak Andreas terlebih dahulu.
“Sore Pak Andreas, saya ingin bimbingan skripsi,” sapanya begitu memasuki ruangan Pak Andreas.
“Ya, silakan. Gimana Bab 1 sudah selesai?” tanya Pak Andreas.
“Sudah Pak,” ucapnya sembari menyerahkan Bab 1 miliknya.
“Untuk Bab 1 sudah bagus yah … latar belakang masalahnya sudah detail, sehingga rumusan masalah dan batasan masalah sudah bagus. Dari saya Bab 1 aman yah, bisa langsung kerjakan Bab 2 tentang Landasan Teori,” ucap Pak Andreas.
“Baik Pak, terima kasih,” balas Aksara.
Dari ruangan Pak Andreas, Aksara lebih lega karena Bab 1 miliknya bebas hambatan. Syukurlah weekend kemarin Arsyilla sudah menjelaskan panjang lebar tentang Bab 1, sehingga sekarang terbukti Bab 1 nya bebas hambatan. Aksara akan mengejar untuk bisa menyelesaikan Bab 2.
Selanjutnya, Aksara menuju ke ruangan Pak Bagas. Kali ini, Aksara sebenarnya ogah-ogahan mendatangi ruangan dosen itu. Lebih ke malas karena Pak Bagas yang suka tebar pesona ke istrinya. Akan tetapi, dia harus profesional supaya bisa lulus lebih cepat.
“Permisi Pak Bagas,” sapa Aksara begitu mendatangi ruangan Pak Bagas.
“Ya masuk, Aksara. Ada apa?” tanyanya.
“Saya mau bimbingan skripsi, Pak,” jelas Aksara sembari menyerahkan Bab 1 miliknya dan catatan konsultasi dari Pak Andreas sebelumnya.
“Ya, kamu dapat Dosen Pembimbing saya yah? Saya dengar dari Pak Andreas kamu menolak saat ditawari beliau untuk mendapatkan Dosen Pembimbing Bu Arsyilla, kenapa?” tanya Pak Bagas dengan tiba-tiba.
Aksara mencoba mencari jawaban yang logis, tetapi sebelum dia sempat menjawab rupanya Pak Bagas kembali berbicara.
__ADS_1
“Biasanya para mahasiswa berlomba-lomba dapat Dosen Pembimbing yang masih muda dan cantik seperti Bu Arsyilla, tetapi kamu malahan menolaknya. Padahal kalian sempat makan Selat Solo berdua kan?” tanya Pak Bagas lagi.
“Benar Pak … lagipula saya dengar dari Pak Andreas sudah banyak mahasiswa yang memilih Bu Arsyilla, jadi saya yang lainnya saja,” balasnya.
Pak Bagas sembari mengecek Bab 1 milik Aksara, kemudian dia melihat catatan dari Pak Andreas.
“Makan berdua saja sama Bu Arsyilla rasanya gimana Aksara? Enak kan,” tanyanya.
“Fokus ke skripsi saja Pak … adakah penambahan atau revisi?” respons Aksara kemudian.
Mendengarkan jawaban Aksara, Pak Bagas pun tersenyum sembari mengganggukkan kepalanya, “Ya … baiklah. Rupanya kamu tidak tertarik ya dengan Bu Arsyilla? Lumrah sih, katanya dia akan menikah akhir semester ini nanti. Pupus harapan saya,” balasnya.
Tentu saja Aksara begitu dongkol. Sebab, Pak Bagas sama sekali tidak mengomentari skripsinya, tetapi justru membahas Arsyilla yang tak lain adalah istrinya sendiri. Namun, apa mau dikata, Aksara harus menahan diri, supaya dirinya bisa lulus tepat waktu. Sekaligus dia harus menerima konsekuensi mendapatkan Dosen Pembimbing seperti Pak Bagas.
Hampir setengah jam waktu berlalu, Aksara pun keluar dari ruangan Pak Bagas. Pria itu tampak menghela nafas panjang. Sebab, selama itu pula Pak Bagas hanya membahas istrinya saja. Sebagai suami, tentu saja Aksara begitu dongkol. Keluar dari ruangan dosen, di tangga menuju perpustakaan fakultas dirinya bertemu dengan istrinya.
“Sore Bu,” sapanya tentu dengan bahasa yang sopan.
“Iya, sudah bimbingannya?” tanya Arsyilla.
“Iya, sudah … Bab 1 sudah selesai,” jawab Aksara.
Baru beberapa menit, rupanya Pak Bagas pun keluar dari ruangannya dan pria itu melihat Aksara yang tengah berdiri dan mengobrol dengan Arsyilla. Tanpa menunggu waktu lama, Pak Bagas pun segera nimbrung.
“Nah, harusnya kamu bimbingan sama Bu Arsyilla. Kelihatannya kalian akrab juga,” ucap Pak Bagas dengan tiba-tiba.
“Biasa saja Pak,” sahut Arsyilla.
“Hanya menyapa Pak, karena ketemu Bu Arsyilla di sini,” jawab Aksara dengan menunjukkan wajahnya yang datar.
“Dari mana mau ke mana Bu Arsyilla?” tanya Pak Bagas.
“Mau pulang, Pak … sudah waktunya pulang,” balasnya.
Setelah itu Arsyilla agaknya harus segera terlepas dari Pak Bagas, lagipula harus menjaga hati suaminya itu. “Mari Pak Bagas saya duluan,” pamitnya.
Lantas Arsyilla melihat ke arah Aksara, “Yuk, duluan ya,” pamitnya kepada Aksara.
Usai Arsyilla berjalan meninggalkan dua pria itu, giliran Aksara yang berpamitan dengan Pak Bagas, “Saya juga pulang dulu ya Pak … selamat sore,” pamitnya kepada dosen pembimbingnya.
__ADS_1