
Setelah dua puluh menit kemudian barulah Arsyilla keluar dari gedung fakultas. Wanita itu berjalan dengan menjinjing tas laptopnya dan sebuah map berwarna cokelat yang berisi lembar jawaban para mahasiswa. Dia tampak menengok ke kanan dan ke kiri, seolah-olah mencari keberadaan Aksara. Rupanya pria itu duduk di sebuah bangku taman di depan Fakultas Teknik Arsitektur. Pria itu terlihat melambaikan tangannya kepada Arsyilla.
Akan tetapi, sebelum Arsyilla berjalan ke arah Aksara. Ada rekan dosen yang terlihat berhenti dan menyapa Arsyilla.
“Selamat sore Bu Arsyilla, mau langsung pulang?” tanyanya.
Rekan dosen itu bernama Pak Bagas, salah seorang dosen muda yang juga mengajar di Fakultas Teknik.
“Iya Pak, ini mau langsung pulang,” jawab Arsyilla sembari mengangguk.
Setelahnya Arsyilla mendahului rekan dosennya itu dan segera berjalan menuju mobil milik Aksara. Rupanya, begitu memasuki mobil, Arsyilla melihat wajah suaminya yang cemberut.
“Lama ya nungguinnya?” tanya Arsyilla sembari mengenakan sit bealt.
Akan tetapi, Aksara hanya diam dan seolah tak ingin menjawab pertanyaan Arsyilla hingga pria itu kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Membelah kemacetan ibukota, dan menuju ke apartemennya. Hingga setengah jam berlalu barulah mereka tiba di apartemen.
Begitu tiba di apartemen, Aksara juga masih memasang mode silent. Pria yang biasanya banyak berbicara saat bersama Arsyilla itu kini benar-benar diam. Sementara Arsyilla juga turut diam, wanita itu berjalan mengekori Aksara memasuki unit apartemennya.
Setelah tiba di dalam apartemennya, Arsyilla kemudian menggenggam tangan suaminya, “Kamu kenapa sih Kak? Tiba-tiba diam kayak gini?” tanya Arsyilla perlahan.
Akan tetapi, nyatanya Aksara masih ngambek, dia dengan cepat melepaskan genggaman tangan Arsyilla. Memilih untuk menaruh ransel miliknya dan kemudian menyandarkan punggung hingga lehernya di sofa, menutupi matanya dengan tangannya.
Perubahan yang aneh, hingga rasanya kini Arsyilla justru takut menghadapi Aksara yang tiba-tiba diam seperti ini. Jika dipikir-pikir di mana letak kesalahannya? Mungkinkah karena terlambat pulang karena memang tadi Arsyilla mengisi berita acara ujian terlebih dahulu, barulah dia keluar untuk pulang. Atau memang ada yang lain?
Merasa membutuhkan penjelasan, Arsyilla lantas duduk di samping Aksara. Wanita itu tampak menghela nafasnya perlahan, “Kak, apa aku berbuat kesalahan?” tanyanya kali ini.
Menurut Arsyilla, jika perubahan suasana hati Aksara dikarenakan oleh dirinya, maka Arsyilla tidak segan untuk meminta maaf kepada suaminya itu. Lagipula, ajaran dari Mama Khaira dan Papa Radit bahwa dalam rumah tangga lebih baik segala sesuatunya diobrolkan bersama. Jika bersalah, segera akui kesalahan dan minta maaf. Minta maaf tidak membuat seseorang menjadi tinggi atau rendah, dengan minta maaf justru orang akan belajar mengenai kerendahan hati.
Arsyilla masih menunggu dan berharap bahwa Aksara akan menjawab, rupanya tidak. Pria itu tetap tidak bergeming. Baiklah, Arsyilla akan berusaha sekali lagi. Tangan Arsyilla bergerak dan menggenggam satu tangan Aksara, dengan lembut dia mengusapi punggung tangan pria itu.
“Kak, kamu kenapa? Yakin enggak mau dijelaskan dengan baik-baik? Kalau aku bersalah, aku minta maaf,” ucapnya sekali lagi.
__ADS_1
Pengalaman yang cukup menguras kesabaran karena nyatanya Aksara masih diam, hingga merasa beberapa kali berusaha dan tidak membuahkan hasil, Arsyilla kemudian bangkit berdiri, wanita itu berniat memberikan waktu untuk Aksara, nanti dia akan berusaha untuk menenangkan suaminya itu lagi.
Kali ini Arsyilla benar-benar pergi, dan bukan memasuki kamar mereka berdua, Arsyilla memilih memasuki kamarnya yang semula. Mengguyur badannya di bawah air shower yang dingin untuk menenangkan dirinya. Menjelang malam, Arsyilla kembali keluar dengan rambutnya yang setengah basah, mencari di mana suaminya itu sekarang ini.
Wanita itu keluar dari kamarnya dengan mengendap-endap, kemudian menilik ke ruang tamu rupanya tidak ada Aksara di situ, menengok ke dapur, tetapi juga tidak ada orang di sana. Hingga akhirnya, Arsyilla tanpa permisi membuka pintu kamar Aksara. Betapa terkejutnya dia, saat melihat Aksara yang baru saja keluar dari kamar mandi bertelanjang dada dan hanya ada lilitan handuk berwarna putih di pinggang.
“Aakkkhhh ….”
Arsyilla berteriak, dan wanita itu memalingkan tubuhnya. Rasanya malu dan panik melihat suaminya sendiri. Bahkan Arsyilla hingga menghela nafasnya perlahan.
“Kak, cepat pakai bajumu,” teriak Arsyilla kali ini dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Bukannya cepat berpakaian, Aksara justru mendekati Arsyilla. Pria itu berdiri tepat di belakang punggung Arsyilla. Membiarkan kulit tubuhnya yang basah, mengenai punggung Arsyilla. Pria itu sedikit menunduk dan berbicara tepat di sisi telinga Arsyilla.
“Jangan teriak-teriak nanti unit sebelah dengar,” ucapnya sembari mencuri satu ciuman di pipi Arsyilla.
Ya Tuhan, rasanya Arsyilla harus lari sekarang juga dari kamar itu. Rasanya masih mendebarkan melihat Aksara dalam keadaan usai mandi dan sebuah handuk putih melilit di pinggangnya.
“Kak, buruan pakai bajumu atau malam ini aku tidur di kamar sebelah,” ancam Arsyilla kali ini.
Pria itu berjalan menjauhi Arsyilla menuju walk in closet miliknya mengambil kaos rumahan dan sebuah celana pendek. Sebelum mendekati Arsyilla, Aksara justru menyemprotkan parfum beraroma Sandalwood terlebih dahulu ke badannya, dan menyisir rambutnya hanya dengan menggunakan jari tangannya. Setelahnya, pria itu mendekati Arsyilla, mendekap erat tubuh Arsyilla.
“Sudah Kak?” tanya Arsyilla dengan terbata-bata.
Aksara lantas tertawa, “Kamu lucu banget sih, padahal kamu juga udah lihat aku polos mutlak di malam itu,” ucapnya dengan mengusapkan dagunya tepat di atas kepala Arsyilla.
“Kak, jangan bercanda,” sahut Arsyilla kali ini.
Lantas, Aksara membalik tubuh Arsyilla perlahan, membuat wanita itu kini berhadap-hadapan dengannya, “Sudah, buka matamu,” ucapnya perlahan.
Namun sebelum Arsyilla membuka matanya, Aksara yang usil tampak melepas sejenak kaos yang semula sudah dia kenakan. Membuatnya bertelanjang dada di depan Arsyilla.
__ADS_1
Perlahan-lahan Arsyilla membuka matanya, bayangan samar Aksara terlihat, tetapi dia segera menutupi wajahnya dengan tangan saat melihat dada Aksara.
“Jahat banget sih, aku gak mau,” ucap Arsyilla kini.
Aksara mengurai kedua tangan Arsyilla yang menutupi wajahnya, membuat wajah itu tidak tertutupi lagi, “Sekarang buka matamu,” perintahnya kali ini.
Perlahan Arsyilla mengerjap, kelopak matanya sedikit terbuka, dan terlihat Aksara yang mengenakan kembali kaosnya. Ya Tuhan, rasanya sungguh lega. Helaan nafas panjang terdengar dari mulut Arsyilla.
“Ya ampun, usil banget sih,” ucap Arsyilla.
Aksara hanya diam, dan pria itu memilih untuk duduk di tepian ranjang. Melihat Arsyilla yang masih berdiri, satu tangan Aksara bergera menyentak Arsyilla hingga membuat Arsyilla jatuh dalam pangkuannya.
Kedua bola mata wanita itu membelalak seketika, dengan tangan yang langsung bertumpu ke bahu pria itu.
“Kak,” ucapnya lirih.
Aksara lantas menatap wajah Arsyilla, “Harus banget tadi nyapa temen dosen sambil senyum-senyum gitu?” tanya Aksara kemudian.
Arsyilla lantas membawa kedua matanya untuk menatap wajah suaminya itu, “Jadi ngambek karena itu?” tanya Arsyilla perlahan.
“Jangan tunjukkan senyumanmu itu kepada pria lain karena aku tidak menyukainya,” ucap Aksara dengan posesif.
Nyatanya justru tawa Arsyilla seakan meledak, wanita itu tertawa dan mengamati suaminya, “Kamu usil banget sih Kak, kurang ya seharian ngusilin aku,” ucapnya kali ini.
Arsyilla lantas menyipitkan kedua matanya, “Tadi usai ujian nulis di pojokan lembar jawaban katanya “Aku yakin aku akan berhasil dengan ujian ini karena mendapatkan semangat darimu tadi. Love U, My Lecture.” maksudnya apa itu?” tanya Arsyilla menatap wajah suaminya. “Terus sekarang, ngambek cuma gara-gara aku nyapa Pak Bagas. Ya ampun Kak, aku cuma menyapa, dan tersenyum itu hanya formalitas belaka,” ucap Arsyilla pada akhirnya.
Akan tetapi, Aksara justru memeluk Arsyilla yang terduduk di pangkuannya dengan erat, “Gak suka, jangan senyum-senyum sama cowok lain,” sahutnya.
Arsyilla lantas menangkup wajah pria itu dengan kedua tangannya, “ … tapi kan, senyumanku yang paling manis cuma aku tunjukkan padamu,” ucapnya perlahan. Perlahan Arsyilla menurunkan sedikit wajahnya, bola matanya menatap wajah Aksara dan kini dia tersenyum melihat bibir Aksara. Memberanikan dirinya sendiri, Arsyilla melabuhkan bibirnya sejenak di atas bibir Aksara.
Chup!
__ADS_1
“Jangan ngambek lagi ya, kalau kamu ngambek kayak gini aku beneran mau bobok sendiri di kamar sebelah,” ucap Arsyilla lagi.
Pria itu mengerjap dan mencubit hidung Arsyilla perlahan, “Satu kecupan kurang, Syilla … lagi yah,” pintanya dengan bersemangat.