
“Sayang, malam minggu nanti ikut aku yuk?” ajak Aksara kepada istrinya itu.
Arsyilla yang tengah melihat drama Korea di ruang tamu, tiba-tiba mengurangi volume televisi yang dia nyalakan, dan menoleh melihat suaminya.
“Kemana Kak?” tanyanya.
Aksara lantas menunjukkan sebuah undangan di aplikasi pesannya kepada istrinya itu.
Reuni Akbar SMA Bintang Widya Jakarta
Membaca undangan itu, Arsyilla lantas mengernyitkan keningnya, “Reuni akbar Kak? Emang boleh ngajak orang lain?” tanyanya kepada suaminya itu.
“Ya boleh dong Sayang … kan mengajak istri sendiri. Masak ya enggak boleh sih?” sahut Aksara.
“Acaranya apa nanti Kak?” tanya Arsyilla lagi.
“Kurang tahu Sayang, cuma nanti di halaman SMA sih mau ada band aja sih, cuma ada acara room tour gitu ke kelas-kelas,” sahut Aksara.
Arsyilla pun sejenak berpikir, menimbang-nimbang apakah dia harus mengikuti suaminya itu ke Reuni Akbar SMA. “Beneran boleh ikut?” tanya Arsyilla memastikan.
Aksara pun dengan cepat mengangguk, “Iya … boleh. Gimana pun, aku akan tetap mengajak kamu. Aku dan kamu itu satu paket Sayang,” jawab pria itu sembari merangkul bahu istrinya.
“Ishhhs, satu paket apaan coba. Paket ayam geprek atau ayam kremes?” tanya Arsyilla sembari tertawa.
Aksara pun turut tertawa, “Kamu ini bisa saja sih … enggak nyangka kamu lucu juga, makin gemes deh,” sahut pria itu.
Setelahnya, Arsyilla pun melirik suaminya itu, “Ya sudah … kalau memang tidak merepotkan, aku ikut ya Kak,” ucapnya.
“Oke Honey, aku malahan seneng kalau kamu ikut. Nanti aku kenalkan sama beberapa temen aku,” jawabnya.
__ADS_1
“Temen cowok atau cewek Kak? Dulu kamu femes dong Kak di SMA? Secara kamu ya good looking gitu,” tanya Arsyilla secara langsung kepada suaminya itu.
Mendengar ucapan Arsyilla yang baru saja mengatakan bahwa suaminya itu good looking, Aksara nyatanya justru tertawa.
“Bilang aja aku cakep, Sayang … gak perlu good looking gitu,” sahutnya dengan penuh percaya diri.
“Tuh, langsung percaya dirinya naik secara otomatis kan. Euhm, tapi kamu emang good looking kok Kak. Cuma nyebelin aja,” balas Arsyilla.
Di mata wanita itu, ya suaminya good looking memiliki wajah tampan, rambutnya yang tertata rapi, kulitnya putih bersih. Tergolong boyfriend material untuk para gadis di luar sana, sehingga dalam tebakannya Aksara adalah siswa femes di SMA nya dulu.
“Dipuji istri sendiri kan senang Sayang … kayak aku yang jujur memuji kamu kalau kamu itu cantik,” balas Aksara.
“Kalau kamu itu jatuhnya malahan gombal,” teriak Arsyilla dengan terkekeh geli.
Memang faktanya seorang suami itu mengatakan istrinya cantik hanya untuk menggombali dan berniat modus. Untuk itu, Arsyilla agaknya sudah tahu tentang perangai suaminya itu.
“Mana ada aku gombal … dalam hidup itu, yang cantik di mata aku cuma ada tiga orang. Bunda Kanaya, Mama Khaira, dan kamu. Serius.” Aksara mengatakan itu dengan sungguh-sungguh kali ini.
Dengan cepat Aksara pun mengangguk, “Iya … karena dari kecil dulu aku lihat Ibu Khaira itu cantik, pinter, dan hatinya lembut banget. Wanita cantik bagiku itu bukan hanya yang cantik wajahnya, tetapi juga hatinya. Dulu waktu aku kecil manggil Mama itu Ibu, dan manggil Papa itu Ayah. Sebab, aku menganggap mereka figur orang tua bagiku,” cerita Aksara dengan panjang lebar kepada Arsyilla.
Mendengar cerita suaminya, Arsyilla pun mengangguk, “Mama memang cantik, pinter, dan baik hati sih. Bunda Kanaya juga sama kan cantik dan seorang wanita karier yang sukses,” sahut Arsyilla.
“Dan kamu juga cantik, pinter, dan baik juga. Cuma awal-awal saja kamu judes banget. Dulu aku mikir, Mama Khaira aja sebaik itu dan selembut itu, masak Arsyillaku yang manis dan lucu waktu kecil dewasanya jadi judes. Eh, ternyata enggak … kamu juga baik kok, Sayang,” sahut Aksara yang menjelaskan bahwa istrinya juga sosok yang baik hati.
Ya, awal kembali bertemu dengan Arsyilla, terlibat dalam jebakan satu malam, hingga awal pernikahan mereka rasanya Arsyilla begitu judes dan tidak bisa menerima Aksara. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu di mana Arsyilla bisa membuka hatinya, yang ada di mata Aksara sekarang ini adalah sosok istrinya yang juga adalah seorang yang baik hati.
Penilaian seseorang akan orang lain bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu dan seiring dengan keterbukaan hati satu sama lain. Sama seperti Aksara yang mengira bahwa dulu Arsyilla begitu judes, bertolak belakangan dengan Mama Khaira yang lembut. Akan tetapi, sekarang di mata Aksara baik Arsyilla dan Mama Khaira sama-sama adalah sosok wanita yang cantik dan baik hati.
“Gimana enggak judes, orang kamu aja ngeprank aku enggak main-main. Kalau judesnya panjang dan berformalin gimana coba?” tanya Arsyilla kepada suaminya itu.
__ADS_1
“Jangan dong Sayang … aku kan juga sudah pengakuan dosa ke kamu, cuma caraku mendapatkan kamu aja yang salah. Akan tetapi, perasaanku buat kamu tidak akan pernah salah. Cintaku itu kepadamu itu murni 100%, dan enggak pernah salah,” aku Aksara kali ini.
“Tuh gombal lagi,” sahut Arsyilla dengan cepat.
Nyatanya Aksara justru tergelak dalam tawa. Ya, tawa pria itu seakan pecah saat istrinya justru menanggapi pengakuan cintanya dan perasaannya selama ini kepada itu hanya sebatas gombalan belaka.
“Ya terserah, kamu menganggap aku sebatas menggombal juga tidak masalah. Yang pasti, aku jujur sama kamu.” Aksara kali ini mengambil keputusan bahwa tidak masalah jika Arsyilla tetap menganggap perasaannya hanya sebatas gombalan, tetapi yang pasti bagi Aksara perasaannya itu sangat tulus, dan dia tidak pernah main-main kepada Arsyilla.
Tidak mungkin Aksara mempertaruhkan banyak hal bahkan melakukan prank paling gila, jika pria itu tidak sungguh-sungguh mencintai Arsyilla.
“Kak, kamu di SMA punya mantan pacar?” tanya Arsyilla kini kepada suaminya.
Pikirnya jika nanti bertemu mantan suaminya, mungkin Arsyilla harus mempersiapkan hatinya terlebih dahulu.
Akan tetapi, Aksara dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Enggak … enggak punya Sayang. Gimana mau punya pacar, orang sejak SMA saja, aku cari-cari kamu kok,” sahutnya.
Ya, faktanya sejak booming media sosial saat itu, Aksara sudah berusaha mencari Arsyilla dan keluarga Mama Khaira dan Papa Radit. Aksara ingin sekali menemui sosok keluarga yang sudah begitu baik kepadanya dan datang untuk menyampaikan rasa terima kasihnya.
Namun, lantaran jebakan kesalahan satu malam yang dia lakukan pada Arsyilla, keluarga Mama Khaira dan Papa Radit juga tidak terlalu menerimanya di awal dulu. Menerima Aksara hanya sebatas bertanggung jawab kepada Arsyilla. Namun, sejak Aksara mengakui bahwa Aksara mencintai Arsyilla dan mengakui bahwa jati dirinya yang sebenarnya adalah Aksara, seorang bocah yang dulu bertemu dengan Mama Khaira dan Papa Radit di Panti Asuhan Kasih Ibu, barulah Papa Radit dan Mama Khaira benar-benar menerima Aksara.
“Wah, kalau kita ketemu dulu. Kamu masih SMA, sementara aku masih SMP. Kamu udah tua, Kak,” sahut Arsyilla sembari tertawa.
Tidak sakit hati dengan ucapan Arsyilla, yang ada Aksara juga justru tertawa, “Kan zamannya anak SMA pacaran sama anak SMP. Kakak-kakak yang pacaran sama dedek gemes,” sahutnya.
“Ya ampun Kak, kamu nakal banget sih … aku enggak dedek gemes juga kali,” balas Arsyilla sembari memukuli lengan suaminya itu.
“Aw … sakit Sayang. Jangan dipukul-pukul dong. Daripada dipukul, mendingan di sayang saja. Sini … disayang gratis kok,” sahut pria itu sembari membawa satu jari telunjuknya menyentuh bibirnya.
“Ogah … capek Kak,” sahut Arsyilla dengan cepat.
__ADS_1
Sebab, berbicara masalah mencium bagi Aksara tidak pernah berhenti dengan sekadar mencium. Akan berlanjut ke hal-hal selanjutnya. Ciuman hanya sebuah menu pembuka saja, harus dilanjutkan dengan makanan utama dan ke dessert. Padahal dulu, Aksara begitu piawai menjaga pertahanan dirinya, tetapi semuanya berubah dengan pria itu merasakan surga dunia yang dia rengkuh bersama istrinya.