Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Tanpa Celah


__ADS_3

Begitu dekat, seolah tidak ada celah dengan Aksara, rasanya Arsyilla begitu sesak kali ini. Bagaimana pria itu memeluknya posesif, justru membuat Arsyilla seakan sesak nafas. Hingga perlahan, Arsyilla mengurai tangan Aksara yang melingkar di pinggangnya.


“Tolong, bisa enggak tidak terlalu menempel,” pinta Arsyilla kini dengan sopan dan sebisa mungkin tidak menyakiti perasaan suaminya itu.


Akan tetapi, Aksara seolah tak menghiraukan. Pria itu justru kembali mendaratkan tangannya di pinggang Arsyilla. Memeluknya dengan begitu erat.


Kali ini Arsyilla memilih diam, rasanya berbicara dengan Aksara justru mengikis kesabarannya. Sehingga malam itu, Arsyilla hanya bisa membolakan matanya, seakan matanya sama sekali tidak bisa terpejam.


Malam terus berjalan dan Arsyilla pun belum bisa tidur, padahal di belakangnya Aksara terdengar telah tidur lebih dulu. Dengan pelan-pelan, Arsyilla menyingkirkan tangan Aksara dari pinggangnya dan menggantikannya dengan sebuah guling. Akan tetapi, baru saja Arsyilla berhasil menaruh guling, nyatanya kedua mata Aksara justru terbuka lebar. Akhirnya pria itu pun merubah posisinya menjadi duduk, sama seperti Arsyilla.


“Jadi, kamu sejak tadi enggak tidur?” tanyanya sembari mengucek matanya, menatap Arsyilla.


“Iya,” jawab Arsyilla.


Tanpa aba-aba, Aksara justru menarik satu tangan Arsyilla dan membuat wanita itu jatuh dalam pelukannya dengan kepala yang berada tepat di antara lengan dan dadanya.


“Sudah, jika seperti ini, aku yakin kamu akan bisa tidur,” ucapnya sembari satu tangannya mengusapi puncak kepalanya Arsyilla.


Ya Tuhan, sekadar dipeluk dari belakang saja Arsyilla merasa sesak nafas, dan sekarang harus menaruh kepalanya di dada pria itu. Yang ada Arsyilla menjadi tidak bisa tidur.

__ADS_1


Arsyilla tampak membolakan matanya. Malam sudah hampir pukul 23.00, tetapi justru Arsyilla sama sekali tidak mengantuk rasanya.


Merasa bahwa Arsyilla masih tidak tidur, Aksara pun menghela nafasnya, pria itu kembali beringsut, dan kini justru Aksara memilih untuk menindih Arsyilla dengan menggunakan sikunya untuk menahan berat tubuhnya. Pria itu menatap wajah Arsyilla, jarak antara wajah dengan wajah yang hanya sejengkal membuat Arsyilla terkesiap.


“Kenapa kamu kayak gini,” ucapnya dengan sembari mendorong dada Aksara.


“Mungkin dengan cara seperti ini bisa membuatmu tidur,” balasnya.


Perlahan, Aksara justru memangkas jarak tubuhnya dengan tubuh Arsyilla, menindihnya. Wajahnya pun bergerak, jarak sejengkal itu seakan terkikis, refleks, Arsyilla mengernyitkan keningnya dengan memejamkan matanya rapat-rapat, takut dengan sesuatu yang bisa saja dilakukan oleh Aksara.


Sapuan hangat nafas Aksara di wajahnya, tubuh keduanya yang bak terhimpit tanpa celah, benar-benar membuat jantung Arsyilla bertalu-talu rasanya. Terlebih Arsyilla merasa bahwa wajah Aksara kini tepat di atas wajahnya, situasi yang membuatnya takut dan malu bercampur menjadi satu.


“Tidurlah, jika dalam lima belas menit, kamu tidak tidur, kamu tanggung sendiri,” ucapnya.


Sontak saja, Arsyilla langsung menutupi kedua bola matanya. Alih-alih tertidur di dada Aksara, Arsyilla sedikit beringsut untuk memunggungi Aksara. Dia harus segera tidur sekarang, sebelum terjadi hal-hal yang tidak dia inginkan.


Rupanya Aksara terjaga, dia menunggu hingga Arsyilla tertidur. Setelah merasa bahwa deru nafas Arsyilla lebih tenang dan terdengar dengkuran halus di sana, Aksara pun tersenyum, tangannya bergerak mengusap puncak kepala Arsyilla.


“Setakut itu kamu sama aku? Padahal, kalau kamu ingat sudah pasti aku bukanlah sosok yang menakutkan bagimu. Selamat tidur Syillaku,” ucap Aksara dan dia kembali melabuhkan kecupan hangat di kening Arsyilla.

__ADS_1


Pria itu menutup matanya dengan tersenyum dan segera mendekap erat tubuh Arsyilla dari belakang.


***


Pagi-pagi buta, Arsyilla terbangun dari tidurnya. Kelopak matanya perlahan mengerjap, dan kemudian membuka perlahan-lahan. Wanita itu menguap, dan kemudian memperhatikan bagaimana semalam dia bisa tertidur.


Saat membuka mata, Arsyilla cukup kaget dengan posisinya sekarang ini, ternyata kali ini kepalanya berada di atas dada Aksara dan tangannya juga melingkari pinggang pria itu. Sungguh, Arsyilla tak mengira bahwa dia tidur dengan posisi seperti ini bersama Aksara. Lantaran terlalu banyak bergerak, rupanya Aksara pun juga mengerjap. Pria itu sedikit menundukkan wajahnya untuk melihat kepala Arsyilla yang bergerak-gerak di dadanya.


“Pagi, kamu sudah bangun?” tanyanya kali ini.


Kaget dengan sapaan Aksara, perlahan Arsyilla pun mengangguk, “Iya,” sahutnya.


Kemudian Arsyilla kali ini benar-benar beringsut, tetapi nyatanya Aksara justru senang berada dalam posisi sedekat ini dengan Arsyilla.


“Katanya aku enggak boleh deket-deket, terus kemarin malam yang peluk-peluk aku dan meraba-raba badan aku siapa coba?” ucap Aksara kali ini dengan spontans.


Tentu saja, Arsyilla pun menggigit bibir bagian dalamnya, benarkah semalam dia memeluk-meluk Aksara dan meraba-raba badannya. Rasanya Arsyilla begitu malu, baru saja bangun tidur, rupanya Aksara sudah sefrontal itu berbicara.


Akhirnya Arsyilla pun kali ini benar-benar beringsut dan duduk di tepi tempat tidur itu, “Jika itu benar, maaf …” ucapnya kali ini.

__ADS_1


Setelah itu, Arsyilla segera bangun dan berlari ke kamar mandi. Rasanya dia harus membunyikan wajahnya kali ini dari Aksara.


__ADS_2