
Kebahagiaan keluarga itu kian lengkap saat Mama Khaira dan Papa Radit datang menjenguk Arsyilla dan juga bayinya. Baby Ara adalah cucu pertama bagi Mama Khaira dan Papa Radit sehingga keduanya sangat bahagia menyambut cucu perdana mereka. Cucu yang sudah mereka nantikan, akhirnya keduanya bisa menimang cucu pertama dari Arsyilla dan Aksara.
Mama Khaira dan Papa Radit perlahan mendatangi kamar tempat Arsyilla dirawat. “Kok Mama yang deg-degan ya Pa … Syilla yang melahirkan, Mama yang deg-degan,” ucap Mama Khaira saat ini.
Papa Radit pun tersenyum melirik istrinya itu. “Santai saja Ma … ada Papa yang selalu menjaga Mama. Kita sudah semakin menuar dengan adanya cucu dari Syilla dan Aksara,” balas Papa Radit.
“Benar Pa … rasanya seperti baru kemarin, Mama melahirkan Syilla … sekarang Syilla sudah menjadi seorang Ibu. Waktu rasanya berjalan dengan begitu cepat,” balasnya.
Tidak dipungkiri rasanya baru kemarin, Mama Khaira melahirkan Arsyilla dengan ditemani Papa Radit, dan kini putri yang dia lahirkan sudah menjadi seorang Ibu. Pergerakan waktu terasa begitu cepat bagi Mama Khaira dan Papa Radit.
Begitu tiba di kamar perawatan Arsyilla, keduanya mengucap salam dan bergabung dengan besannya yang terlebih dahulu sudah berada di situ.
“Gimana kamu, Syilla?” tanya Mama Khaira begitu memasuki ruangan itu. Sepenuhnya perhatian Mama Khaira tertuju kepada Arsyilla. Bentuk kasih dan perhatian dari seorang Mama kepada putrinya.
“Baik, Ma,” jawab Arsyilla dengan tersenyum.
Kemudian Papa Radit menyapa Besannya dan Aksara di sana. “Gimana rasanya mendampingi istri melahirkan, Aksa?” tanyanya.
“Deg-degan, Pa … panik banget,” jawab Aksara dengan menghela nafas.
Setiap kali orang tuanya bertanya kepadanya, hanya jawaban itu yang bisa dia berikan yaitu deg-degan dan juga panik. Sangat panik malahan, tetapi bersyukur Aksara bisa melampaui semuanya dengan baik.
“Bu Khaira, menantunya ini sungguh nakal … bisa-bisanya tidak memberi kabar kepada saya. Justru saya datang kemari karena kejutan dari Ayahnya Aksara,” sahut Bunda Kanaya.
“Kamu tidak memberitahu Bunda kamu, Aksara?” tanya Mama Khaira.
Lagi-lagi Aksara tersenyum dengan wajah yang menunduk, “Maaf Ma … terlalu panik Aksaranya, Ma … sampai tidak kepikiran untuk megang handphone dan mengabari Ayah dan Bunda,” balas Aksara.
Mama Khaira menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan menantunya itu. Padahal setidaknya Aksara bisa mengirimkan pesan singkat bahwa Arsyilla tengah bersalin. Orang tua juga pasti akan memakluminya.
“Maafkan saya juga, Bu … saya juga tidak sempat memberitahu karena kemarin waktu Syilla dibawa ke Rumah Sakit, air ketubannya sudah rembes. Saya juga panik, dan sibuk membersihkan rumah mereka, sampai belum memberitahu,” ucap Mama Khaira.
Perlahan Bunda Kanaya pun menganggukkan kepalanya, “Tidak apa-apa Bu Khaira … seharusnya Aksara yang memberitahu saya. Minimal kirim pesan kan tidak apa-apa. Jadi, Ayahnya juga kaget waktu visiting, rupanya cucunya sendiri yang divisitasi sama Opanya,” cerita Bunda Kanaya.
__ADS_1
Kemudian Mama Khaira berjalan dan menepuki bahu Besannya itu. “Sabar Bu Kanaya … maklumi Aksara. Mungkin memang benar karena terlalu panik, karena ini adalah pengalaman pertama baginya sehingga sampai tidak sempat memegang handphone dan memberi kabar. Sama seperti Papa Radit dulu, setelah Syilla lahir, barulah Papa Radit menghubungi kedua orang kami,” cerita Mama Khaira saat itu.
“Itu karena aku panik dan ingin fokus kepada kamu dulu, Ma … mana bisa kamu merintih kesakitan dan aku malahan sibuk dengan gadgetku,” sahut Papa Radit.
Arsyilla pun menahan tawa melihat interaksi orang tua dan mertuanya itu. Sampai akhirnya, Arsyilla pun turut berbicara, “Berarti Kak Aksara dan Papa itu setipe. Pantas saja aku suka sama Kak Aksara, soalnya Kak Aksara setipe sama Papa. Konon katanya anak perempuan akan mencari jodoh yang karakternya mirip dengan Papanya,” ucap Arsyilla kali ini.
Ada banyak kemiripan antara Papa Radit dan Aksara. Sifat mereka yang dewasa, tanggung jawab, dan juga modus. Mereka bukan darah dan daging, tetapi dalam berbagai hal bisa mirip.
“Mungkin saja Syilla,” balas Mama Khaira.
Kini Mama Khaira mendekat ke box bayi, tempat di mana Baby Ara masih terlelap. Walau di dalam ruangan itu suara cukup gaduh, tetapi tidak membangunkan Baby Ara dari tidurnya.
“Lihat Pa … semungil Syilla waktu lahir dulu kan,” ucap Mama Khaira.
Terbersit semua memori saat Mama Khaira melahirkan Arsyilla dulu. Bayi kecil yang memberikannya banyak pengalaman berharga sebagai seorang Ibu. Mama Khaira belajar cara menjadi Ibu kali pertama ketika Arsyilla lahir.
“Iya Ma … seperti Syilla waktu baby dulu. Cuma fitur wajahnya mirip Aksara,” balas Papa Radit.
Rasanya Aksara ingin semua orang tahu bahwa betapa begitu menempelnya Arsyilla saat hamil. Mungkin itu juga yang membuat Baby Ara memiliki wajah yang lebih mirip dengannya.
“Tuh Ma, bahkan Kak Aksara begitu percaya diri seperti Papa kan?” respons Arsyilla yang memberikan pertanyaan kepada Mamanya.
Mama Khaira pun tertawa, kali ini wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya, “Iya … mirip Papa. Semoga saja mirip kebaikannya yah … yang buruk-buruk tidak perlu ditiru. Biar buat Papa sendiri,” sahut Mama Khaira.
“Jadi kapan kalian boleh pulang?” tanya Papa Radit.
“Besok siang Pa … besok kami sudah boleh pulang. Kata Ayah sih Baby Ara sehat, hanya Arsyilla masih sakit itu Pa … biar istirahat di Rumah Sakit dulu,” balas Aksara.
“Baiklah, yang penting hati-hati. Mau Papa temenin berjaga nanti malam dengan Shaka?” tawar Papa Radit kali ini kepada Aksara.
“Tidak Pa, tidak usah … Aksara bisa kok Pa … Aksara mau jadi suami dan Ayah yang siaga,” jawabnya dengan mantap.
Ketiga keluarga itu tertawa bersama. Begitu bahagia menyambut anggota baru keluarga yang diberi nama Baby Ara itu.
__ADS_1
***
Keesokan harinya …
Siang harinya, Arsyilla dan bayinya sudah diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit. Kali ini, Aksara memilih melunasi setiap biaya persalinan Arsyilla dan juga menebus obat yang masih harus dikonsumsi Arsyilla setelah melahirkan.
Selain itu, rupanya Aksara juga membelikan ASI booster yang kayak Asam Folat dan Omega 3 untuk produksi ASI Arsyilla, sehingga ASInya bisa melimpah dan juga penuh nutrisi. Bahkan untuk ASI booster pun, Aksara memilihkan yang terbaik untuk istrinya itu.
“Sudah Honey, kita pulang sekarang?” tanya Aksara kepada istrinya itu.
Akan tetapi, saat mereka bersiap-siap untuk pulang, kali ini Arshaka datang dan menemui Kakak dan Kakak Iparnya.
“Hah, untung belum terlambat,” ucap pria itu dengan nafas yang memburu karena sedikit berlari begitu keluar dari lift dan menuju kamar kakaknya, Arsyilla.
“Kamu kok kesini Shaka? Kami kan mau pulang,” balas Arsyilla dengan bingung.
Pemuda itu menghela nafas dan menganggukkan kepalanya, “Iya Kak … aku mau menjenguk keponakan kecilku, dan sekaligus aku mau jadi Driver nih buat Kakak dan Mas Aksara,” balasnya.
“Lalu, kamu ke sininya?” tanya Arsyilla lagi.
“Naik ojek online,” balas Arshaka.
Arsyilla menatap tajam adiknya itu. Bagaimana bisa dirinya ke Rumah Sakit dengan mengendarai ojek online dan berniat untuk menjadi Driver bagi mereka. Mendengar Arshaka yang datang dan mengendarai ojek online, Aksara pun segera mengambil hand sanitizer spray yang menyemprotkan ke tubuh Arshaka.
“Biar kumannya hilang,” ucap Aksara dengan ketus.
“Ya ampun, Mas … aku kan pakai jaket. Kuman takut sama aku, Mas.” Arshaka membalas dengan kocaknya. “Aku bela-belain ke sini loh Mas, demi kalian bertiga. Uncle yang keren kan? Kurang apa lagi coba?” tawa Arshaka turut menyerati saat pemuda itu berbicara.
“Kamu masih capek enggak Shaka? Kalau balik sekarang gimana?” tanya Arsyilla kepada adiknya itu.
“Oke, siap Kak … aku akan sopirin kalian ke mana pun,” balasnya.
Arsyilla hanya bisa tertawa melihat adiknya itu. Walaupun datang nyaris terlambat, tetapi Arshaka tetaplah seorang adik yang begitu peduli dengan Kakaknya. Untuk itu, Arsyilla justru senang melihat kedatangan adiknya itu.
__ADS_1