
Menjelang makan malam, Aksara turun dari kamarnya dan bergabung dengan keluarga dari mertuanya yang sudah mengisi meja makan. Pria itu menyapa Mama, Papa, dan juga Arshaka yang sudah terlebih dahulu menempati kursi di meja makan.
“Malam semuanya,” sapa Aksara begitu bergabung dengan keluarga dari pihak mertuanya itu.
“Ya, malam Aksara … dari tadi ya sampai di sini?” tanya Papa Radit.
“Iya, sepulang dari kampus tadi Pa … mau pinjem buku-bukunya Syilla,” jawabnya sembari menunggu Mama Khaira dan Arsyilla yang menata berbagai menu makanan di atas meja makan.
“Oh, jadi sudah mulai skripsi yah? Sudah sampai Bab berapa?” tanya Papa Radit lagi.
“Jalan Bab 2, Pa … masih baru kok Pa, penting dikerjakan dulu saja,” balas Aksara lagi.
Arshaka yang turut mendengarkan pun tertawa melihat Kakak Iparnya yang masih begitu sibuk dengan skripsi. Sungguh geli, disaat kakaknya sendiri, Arsyilla sudah menyelesaikan pendidikan hingga S2 dan berhasil menjadi Dosen. Kakak Iparnya justru masih harus berjibaku dengan skripsi di depan mata. Di mata Arshaka, Kakaknya dan Kakak Iparnya itu pasangan yang serasi, walaupun lucu saja karena Kakak Iparnya adalah mahasiswa dari kakaknya sendiri.
“Semangat aja Mas … Kak Syilla pinter tuh, minta tolong diajarin Kak Syilla aja,” sahut Arshaka.
“Iya, nanti tanya-tanya saja sama Syilla,” imbuh Papa Radit.
Aksara pun menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal sebenarnya, “Iya … tetapi Aksara mau berusaha sendiri dulu, Pa … istrinya Aksara memang dosen, tetapi tetap harus profesional. Sebatas bertanya saja,” sahut Aksara.
Mama Khaira yang baru saja bergabung pun rupanya turut menyahut, “Nah, itu baru keren … kalau sebatas bertanya tidak masalah, kalau dikerjakan istrinya itu tidak boleh. Skripsi itu bentuk usaha kamu untuk lulus jadi kerjakan saja sebisamu, kalau buntu baru tanya-tanya Syilla,” respons Mama Khaira.
“Iya Ma,” jawab Aksara.
Hingga akhirnya keluarga itu menikmati makan malam bersama dan membahas skripsi Aksara. Sudah tentu, keluarga mertuanya juga mendukungnya untuk bisa menyelesaikan skripsi secepatnya. Asalkan ada niat, pasti bisa diselesaikan. Lagipula, semua masukan dari Dosen Pembimbing bisa diselesaikan asalkan kita mau mencari dan segera merevisi tanpa menunggu-nunggu waktu lagi.
“Mama, nanti beberapa buku punya Syilla mau kami bawa ke apartemen yah? Biar Kakak kalau mau mengerjakan skripsi tinggal ambil saja,” izin Arsyilla kepada Mamanya.
“Dibawa aja, Sayang … semua yang dibutuhkan suami kamu, dibawa saja. Sebab, dalam mengerjakan skripsi itu membutuhkan buku sebagai sumber referensi. Jadi, dibawa saja. Nanti kalau kurang, ke sini lagi dan ambil buku lagi,” jawab Mama Khaira.
“Makasih Ma,” sahut Arsyilla.
Usai makan malam, keluarga berkumpul di ruang keluarga dan mulai bercengkerama dengan mengobrolkan banyak hal, hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam 21.00.
“Kalian tidur di sini saja, sudah terlalu malam untuk balik lagi ke apartemen,” ucap Mama Khaira.
“Syilla ikut Kak Aksara saja Ma,” balasnya.
Aksara lantas mencoba menimbang sejenak sebelum mengambil keputusan, akhirnya pria itu pun menganggukkan kepalanya, “Iya Ma … kami akan menginap di sini saja,” sahut Aksara.
__ADS_1
“Ya sudah, sana istirahat. Sudah waktunya istirahat,” ucap Papa Radit yang mempersilakan anak-anaknya untuk istirahat.
Sebenarnya bukan membatasi dan mengatur jam tidur anak-anaknya, tetapi Mama Khaira dan Papa Radit percaya bahwa anak yang semakin besar untuk ruang dan waktu untuk sendiri. Jadi Papa Radit dan Mama Khaira, memberikan waktu untuk anak-anaknya.
Aksara dan Arsyilla pun kemudian segera menuju ke kamar mereka di lantai dua. Arsyilla yang sudah mengantuk tampak beberapa kali menguap dan mengucek matanya yang berair.
“Ngantuk banget Kak,” keluh Arsyilla begitu memasuki kamarnya.
“Kalau ngantuk tidur, Honey … besok bangun pagi lagi,” sahut Aksara.
Arsyilla pun mengangguk, dia dengan cepat merebahkan dirinya di atas tempat tidur dengan posisi telentang karena pikirnya ingin mengistirahatkan pinggang dan punggungnya yang sedari tadi hanya digunakan untuk duduk.
Akan tetapi, rupanya Aksara segera menindih istrinya itu. Pria itu menggunakan sikunya untuk menahan bobot tubuhnya supaya tidak terlalu membebani istrinya yang berada di bawahnya.
“Euhm, kenapa Kak?” tanya Arsyilla yang langsung memeluk suaminya itu.
“Kangen kamu,” jawab Aksara.
Terlihat Arsyilla yang tersenyum sembari mengusapi punggung suaminya itu, “Padahal ya udah ketemu, masak masih kangen,” jawabnya.
“Iya, kangen banget,” balas Aksara.
“Kak, jangan nakal dong … tangan kamu,” ucap Arsyilla dengan nafasnya yang mulai terengah-engah di sana.
Aksara pun menyeringai dan menatap wajah istrinya yang sudah memerah. Aksara kemudian berdiri dan memastikan untuk mengunci pintu terlebih dahulu, kemudian Aksara meredupkan lampu utama di kamar tidur istrinya itu. Tidak lupa menurunkan gorden di jendela supaya benar-benar aman. Aksara lantas duduk di depan istrinya, tangannya bergerak perlahan membelai kaki istrinya dari paha turun ke betisnya, perlahan naik, dan turun lagi hanya dengan ujung jemarinya.
“Geli Kak,” sahut Arsyilla dengan memejamkan matanya.
“Sssttss, nikmati saja, Honey,” ucap Aksara sembari menaruh jari telunjuknya di depan bibir istrinya.
Dengan masih duduk, Aksara lantas membuka satu per satu kancing piyama yang dikenakan Arsyilla, membuat istrinya hanya mengenakan kain pembungkus dengan renda berwarna putih di sana.
“Berbalik Sayang,” instruksi Aksara kali ini.
Dia meminta Arsyilla tengkurap, memunggunginya. Arsyilla yang sebenarnya sudah mengantuk, perlahan kantuknya hilang. Wanita itu mengikuti saja instruksi dari suaminya. Rupanya saat Arsyilla memunggungi suaminya, bibir yang hangat, kenyal, dan sedikit basah milik suaminya mulai mengecupi bagian punggung istrinya. Membelainya dengan lembut dan kecupan yang hangat dan basah benar-benar menyulut bulu roma sang istri.
“Kali ini jangan mendesah,” bisik Aksara yang sudah membuka kaos yang dia kenakan dan menempelkan dadanya di punggung istrinya itu. Pria itu berbicara tepat di telinga istrinya, yang kian membuat Arsyilla meremang.
Tidak tahan dengan godaan berupa kecupan di punggungnya, Arsyilla pun berbalik, wanita itu terengah-engah dan menarik suaminya dalam pelukannya. Tanpa berpikir panjang lagi, Arsyilla melabuhkan bibirnya di atas bibir suaminya. Membuat kedua bibir bertemu, kedua lidah bersatu, hingga dengan nafas yang memburu keduanya berciuman dan menyalurkan hasrat satu sama lain.
__ADS_1
Tangan Aksara terus bergerak dan kini dengan lihainya mempermainkan buah persik milik sang istri. Meremasnya perlahan, mengusapi ujung dadanya, bahkan memilin dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya. Semua yang dilakukan Aksara direspons dengan Arsyilla yang meremas rambut sang suami.
Lantaran sudah begitu mengenal Arsyilla, Aksara perlahan membawa kepalanya turun, pria itu segera menenggelamkan satu buah persik milik istrinya dalam kehangatan rongga mulutnya. Menggoda dengan ujung lidahnya, menggigit dengan giginya, dan satu tangan yang lain sibuk menggoda buah persik yang satunya.
“Kak,” des-ahan pun keluar dari bibir Arsyilla, saat pria itu sedang membuat lukisan abstrak tanda cinta di area buah persik miliknya.
“Aku buat di sini yah … enggak boleh di leher kan?” tanya Aksara setengah berbisik.
“Jangan dileher,” sahut Arsyilla.
Akhirnya pria itu membuat beberapa tanda cinta layaknya stempel merah di tubuh milik sang istri kecuali di lehernya. Setelahnya, Aksara merapatkan dirinya, menyatukan pusakanya dengan cawan sorgawi milik sang istri. Kali ini Aksara mengambil jeda sesaat dan memberi waktu bagi keduanya.
Hingga akhirnya, pria itu bergerak perlahan, menghujam dengan dalam, menusuk hingga mengenai dinding rahim istrinya, dengan kedua tangan yang menahan pinggang istrinya.
“Ah, Syilla,” racau Aksara kali ini dengan sedikit berbisik.
Aksara kian bergerak, membuat gerakan seduktif keluar dan masuk, menghujam dan menusuk, tanpa henti hingga tubuh mereka benar-benar berpeluh. Sensasi liat, hangat, dan basah seolah menyulut keduanya untuk kian bergerak bersama.
Hingga di batas, Aksara merasa bahwa ada sesuatu yang berkedut di bawah sana. Pria itu memejamkan matanya, dan menggeram sebagai tanda bahwa dirinya benar-benar meledak saat ini. Pria itu rubuh di atas tubuh sang istri dan memeluknya dengan erat.
Dengan nafas yang masih memburu, Arsyilla merengkuh tubuh suaminya dengan memeluknya begitu erat.
“Kak, aku cinta kamu … ah, tapi kamu nakal banget,” aku Arsyilla kali ini dengan jujur.
Perlahan Aksara mengangkat tubuhnya kembali dan melabuhkan kecupan di bibir istrinya berkali-kali.
“Aku juga cinta kamu, Honey … aku nakalnya cuma sama kamu saja. Kamu cuma rebahan saja aku sudah tergoda. Gimana kalau kamu benar-benar nakal dan godain aku coba,” sahut Aksara.
Aksara lantas melepas penyatuannya dan mengambil tissue untuk membersihkan sisa-sisa percintaannya dengan sang istri.
“Sekali-kali lakuin di kamar kamu, Honey … suasana baru,” ucap Aksara dengan tiba-tiba.
“Nakal,” balas Arsyilla sembari menangkup kedua wajah suaminya itu.
“Yuk, pakai baju lagi yuk … atau kamu mau tidur dengan polos seperti itu? Aku tidak keberatan sih, malahan kian hangat,” ucap Aksara dengan tiba-tiba.
“Pakein baju, udah lemes, Kak,” sahut Arsyilla dengan manja.
Aksara pun kemudian mengenakan kembali baju milik istrinya. Pria itu tersenyum dan suka sebenarnya dengan istrinya yang terkadang manja dengannya itu. Dengan telaten pria itu bertanggung jawab atas sikap ankalnya barusan kepada istrinya. Kemudian segera memeluk istrinya itu.
__ADS_1