
Meninggalkan restoran dengan hati yang bergemuruh itulah yang dirasakan Arsyilla dan Aksara kali ini. Keduanya benar-benar tidak mengira bahwa Ravendra rupanya telah keluar dari penjara. Seingat mereka berdua, Ravendra dijatuhkan hukuman 1 tahun 7 bulan penjara. Akan tetapi, baru 14 bulan penjara nyatanya Ravendra sudah bebas.
Kali ini pasangan suami istri tampak kembali ke kamar hotel dengan perasaan gamang. Pikiran mereka tiba-tiba dipenuhi dengan sosok Ravendra.
"Kak, aku takut," ucap Arsyilla kali ini begitu keduanya sudah berada di dalam kamar hotelnya.
Tanpa berkata-kata, Aksara segera memeluk wanitanya dengan erat. Mengusapi punggungnya dengan telapak tangan melalui gerakan naik turun yang begitu lembut. Aksara benar-benar berusaha menenangkan istrinya itu.
"Tenang saja, Honey ... ada aku. Kamu tidak perlu takut," balas Aksara kali ini.
"Ancaman dia ke kamu barusan," sahut Arsyilla dengan lirih.
Wanita itu bahkan telah meneteskan air mata sembari memeluk tubuh suaminya dengan begitu erat. Ada ketakutan yang menyeruak di dalam dada karena Arsyilla begitu mencintai suaminya dan tak ingin terjadi apa pun pada suaminya itu.
"Tenang saja ... aku tidak akan apa-apa," balas Aksara kali ini.
"Kamu yakin?" tanya Arsyilla.
Aksara tampak menganggukkan kepalanya, "Ya, sangat yakin... udah ya kamu tenang. Tidak usah memikirkan Ravendra. Fokus ke diri kita sendiri saja. Ke pernikahan kita berdua," ucap Aksara lagi kali ini.
"Baiklah Kak, aku hanya terlalu takut dengan berbagai kemungkinan buruk yang terjadi di depan. Kita selalu bersama dan menghadapi apa pun yang terjadi di hadapan kita bersama-sama ya Kak?" ucap Arsyilla kali ini.
"Iya Honey, kita akan menghadapinya bersama-sama," balas Aksara.
Arsyilla masih memeluk suaminya itu. Kegelisahan dan rasa tidak tenang di dalam hati menyeruak begitu saja. Untuk itu, pelukan suaminya seperti ini sangat dia butuhkan. Pelukan yang hangat sekaligus begitu menenangkan.
__ADS_1
"Kak," panggil Arsyilla kepada suaminya itu.
"Hmm, apa Honey?" balas Aksara.
"Mending kita segera cek out yuk ... berada di unit apartemen kita jauh merasa nyaman," balas Arsyilla kini.
"Ya sudah, kita berkemas dulu yuk ... abis ini kita cek out yah," jawab Aksara sembari menganggukkan kepalanya.
Rencana untuk cek out siang pun gagal. Bertemu dengan Ravendra dan mendengar ancaman dari pria itu membuat Arsyilla merasa tidak tenang dan lebih memilih untuk pulang ke unit apartemennya bersama Aksara.
Sehingga saat itu juga Arsyilla dan Aksara memilih berkemas dan akan segera melakukan cek out. Bahkan di dalam hati Arsyilla berharap tidak akan bertemu dengan Ravendra lagi saat cek out kali ini.
Hanya membutuhkan waktu hampir setengah jam, kini keduanya berjalan keluar dari kamar mereka dan hendak turun ke Lobby hotel untuk melakukan cek out. Memasuki lift, rupanya di dalam lift itu mereka kembali berpapasan dengan Ravendra.
Pria itu tersenyum menyeringai saat kembali bertemu dengan Aksara dan Arsyilla.
Refleks, Arsyilla lantas menggenggam tangan suaminya dengan begitu erat. Aksara pun tahu bahwa istrinya itu kurang nyaman, sehingga Aksara juga kian mengeratkan genggaman tangannya di tangan Arsyilla.
“Wah, mentang-mentang sudah halal jadi gandengan tangan kemana-mana,” Ravendra kembali berbicara dan melihat tangan Arsyilla dan Aksara yang saling bertaut.
“Tidak usah memicu perdebatan,” ucap Aksara kali ini.
Terdengar Ravendra yang tertawa dan menatap sinis kepada Aksara. Adanya dendam bukan hanya menyelimuti kedua orang tuanya dulu, tetapi juga antara Ravendra dan Aksara.
“Baiklah … aku tidak akan memicu perdebatan. Biarkan pengantin baru berbahagia terlebih dahulu,” sahut Ravendra masih tertawa-tawa.
__ADS_1
Hingga akhirnya, lift pun turun menuju lobby dan Aksara membawa Arsyilla untuk segera turun menuju lobby untuk melakukan cek out.
“Sampai bertemu lagi pengantin baru … jangan terlalu bahagia. Sebab bahagia berlebihan justru akan menjadi air mata,” ucap Ravendra kali itu.
Aksara dan Arsyilla terus berjalan tanpa mempedulikan ucapan Ravendra. Cukup sudah semua omongan yang disulut Ravendra, keduanya memilih menahan diri dan tidak menanggapi ucapan Ravendra. Akan tetapi, Aksara berjanji dengan dirinya sendiri apabila Ravendra berani menyentuh dan menyakiti Arsyilla, maka dirinya tidak akan segan-segan untuk memberikan pelajaran kepada Ravendra.
“Kak,” panggil Arsyilla kali ini kepada suaminya itu.
“Hmm, apa?” tanya Aksara.
“Tidak … kita selalu bersama ya Kak,” ucap Arsyilla lagi kali ini.
Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Iya … kamu tenang saja. Seperti biasanya, kalau mengajar pulangnya tunggu aku sampai datang yah. Jangan keluar sebelum aku datang,” jelas Aksara kali ini.
Rasanya begitu ironis. Di tengah kebahagiaan mereka, di tengah euforia resepsi pernikahan yang mereka impikan bersama, nyatanya justru sekarang mereka melihat sosok Ravendra lagi. Tentu saja keduanya terkejut dan khawatir dengan tindakan pria itu yang hendak menyakiti Arsyilla.
“Kak, pernahkah Om Darren menjadi orang baik setelah keluar dari penjara?” tanya Arsyilla kini kepada suaminya itu.
“Pernah … hanya saja cuma sesaat. Usai itu, dirinya terus-menerus berulah bahkan di usia yang sekarang. Banyak kejahatan dan penyimpangan yang dilakukan dia,” balas Aksara.
“Apakah mungkin Ravendra juga seperti itu?” tanya Arsyilla kali ini.
Aksara yang tengah mengemudikan stir mobilnya pun sekilas melirik ke arah Arsyilla. “Kenapa Honey? Apa yang kamu pikirkan sekarang ini?” tanya Aksara.
“Tidak … aku hanya sedikit khawatir saja jika Ravendra akan seperti Papanya yang tidak berubah setelah menjalani masa tahanan. Padahal kesempatan untuk berubah dan hidup baik itu senantiasa terbuka,” balas Arsyilla.
__ADS_1
“Entahlah Sayang … lebih baik kita selalu waspada. Sama seperti Bunda Kanaya dan Ayah Bisma dulu yang merasa di zona aman, akhirnya mereka kehilangan aku untuk empat tahun lamanya. Oleh karena itu, lebih baik sekarang kita waspada. Kamu jangan takut dan jangan terlalu berpikiran buruk. Suamimu ini akan selalu menjagamu, Percaya kepadaku. Apa pun akan selalu aku lakukan untuk menjaga dan melindungimu,” ucap Aksara kini dengan sungguh-sungguh.
Merasa bahwa Aksara berkata dengan sungguh-sungguh, Arsyilla pun menganggukkan kepalanya. Ya, tidak perlu terlalu takut dan khawatir, lagipula mereka sudah berjanji akan selalu bergandengan tangan dan selalu bersama apa yang terjadi. Kekuatan cinta kita akan kian teruji satu sama lain. Lagipula, masih ada beberapa rencana yang ingin dicapai oleh Arsyilla dan Aksara. Maka dari itu, Arsyilla memilih untuk melupakan sejenak masalah tentang Ravendra dan begitu pelik, dan fokus dengan masa depannya bersama suaminya itu.