
Begitu waktu selesai bekerja tiba, Aksara segera membereskan meja kerjanya. Rasanya pria itu ingin cepat-cepat sampai ke rumah. Seharian full bekerja di Jaya Corp membuatnya begitu rindu dengan istri dan putri kecilnya.
Bahkan Aksara berjalan agak tergesa-gesa dengan memanggul ransel berwarna hitam di bahunya. Namun, baru beberapa saat berjalan, langkah kaki Aksara harus terhenti saat Bunda Kanaya memanggilnya.
"Aksara, tunggu Bunda," ucap Bunda Kanaya yang memanggil putranya itu.
“Ya Bunda,” sahut Aksara kepada Bundanya itu.
“Bisa Bunda berbicara sebentar, Nak,” ucap Bunda Kanaya lagi yang kali ini ingin berbicara sebentar dengan Aksara.
Aksara pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia berjalan mengekori Bunda Kanaya yang rupanya mengajaknya mengobrol di taman yang ada di bagian dalam Jaya Corp. Bunda Kanaya bahkan membelikan sebuah Es Americano untuk putranya itu.
“Sambil minum,” ucap Bunda Kanaya.
“Makasih Bunda,” jawab Aksara sembari menerima segelas Es Americano dari Bundanya.
“Aksara, apa Rangga habis dari rumahmu?” tanya Bunda Kanaya kepada putranya itu.
Perlahan Aksara pun menganggukkan kepalanya, “Iya Bunda, akhir pekan lalu Rangga datang ke rumah. Ada apa Bunda?” tanya Aksara kepada Bundanya.
“Tidak … hanya saja Bunda merasa lega. Bunda harap hubungan kalian berdua bisa membaik,” jawab Bunda Kanaya.
Sebagai seorang Ibu, tentu Bunda Kanaya sangat senang bahwa kedua putranya bisa kembali rukun dan akur. Alangkah baiknya jika permasalahan itu segera diselesaikan supaya tidak berlarut-larut, tetapi yang terjadi di masa lalunya rupanya justru membuat renggang hubungan persaudaraan Aksara dan Airlangga.
“Aksara memaafkan Rangga, Bunda … memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahannya di masa lalu. Aksara tetap memandang bahwa apa yang sudah Rangga lakukan di masa lalu tetap salah. Namun, Aksara memaafkannya dan berharap Rangga akan semakin bijak ke depannya,” ucap Aksara dengan jujur kepada Bundanya.
__ADS_1
“Benar Aksara … Bunda mau berterima kasih karena kamu sudah mau memaafkan Rangga. Kapan-kapan mainlah ke rumah. Ajak Syilla dan Ara yah,” pinta Bunda Kanaya kali ini.
“Iya Bunda … menunggu Baby Ara lebih kuat dulu,” jawabnya.
Bunda Kanaya pun tersenyum, dan menepuki bahu Aksara di sana. “Kamu sudah menjadi Ayah … Bunda berharap kamu bisa makin dewasa, makin bijak, makin sabar. Bekerja samalah dengan Syilla untuk mengasuh Ara, karena tumbuh kembang anak tidak tergantung pada Bundanya saja, tetapi juga kepada Ayahnya juga. Ya sudah, kamu sudah gelisah karena sejak tadi melihat arlojimu itu,” balas Bunda Kanaya yang tahu bahwa Aksara memang gelisah sekarang.
Perlahan Aksara pun tersenyum, “Maaf Bunda … bukan Aksara untuk bersikap tidak sopan. Hanya saja, Aksara sudah begitu kangen dengan Ara. Seharian bekerja sama sudah membuat Aksara begitu kangen padanya,” aku Aksara dengan jujur.
“Tidak apa-apa itu wajar. Ya sudah, hati-hati ya bawa mobilnya. Sampaikan salam Bunda untuk Syilla dan Ara. Bunda tunggu kalian berdua main ke rumah,” balas Bunda Kanaya.
Kemudian Aksara berpamitan dengan Bundanya itu. Kali ini, Aksara akan pulang ke rumah dan bertemu kembali dengan istri dan putri kecilnya.
Sementara itu, di rumahnya Arsyilla sudah mandi dan membersihkan dirinya. Baby Ara juga sudah dimandiin Arsyilla, hingga bayi mungil begitu wangi. Semerbak aroma minyak telon berpadu dengan parfum khas bayi yang begitu lembut seolah memenuhi kamar Arsyilla. Hingga aroma bayi yang khas semerbak harumnya di setiap sisi kamar Arsyilla. Wanita itu menggendong Baby Ara dengan kedua tangannya. Arsyilla tersenyum saat mendengar bunyi gerbang rumahnya berbunyi, dengan segera Arsyilla pun segera turun ke bawah dan hendak membukakan pintu bagi suaminya.
“Sore Bunda … sore Putri kecilnya Ayah,” balas Aksara.
Pria itu tersenyum menatap istri dan putrinya yang menyambutnya di sore hari. Sebatas melihat senyuman di wajah istrinya saja sudah menghapuskan segala lelah Aksara karena bekerja seharian ini. Sore yang begitu dinanti, akhirnya Aksara bisa kembali bertegur sapa, memandang, dan memberikan setiap bahasa kasih kepada istrinya dan juga Ara.
“Tumben baru pulang sih Ayah?” tanya Arsyilla.
“Iya Honey … tadi ngobrol sebentar sama Bunda di kantor,” jawab Aksara.
“Oh, ngobrol sama Oma yah.” sahut Arsyilla.
“Iya, kapan-kapan kita disuruh main ke rumah, Honey. Namun, nunggu Baby Ara sudah lebih kuat aja dulu,” balas Aksara.
__ADS_1
“Iya Ayah … kami ngikut Ayah saja kok. Ya sudah, mandi dulu Ayah. Jangan deket-deket Baby Ara. Badannya Ayah banyak kumannya,” ucap Arsyilla.
Aksara pun tersenyum, kemudian pria itu menganggukkan kepalanya, “Iya … Ayah mandi dulu yah. Bunda jangan ngintip yah,” balas Aksara yang tentunya tengah menggoda istrinya itu.
Arsyilla tertawa hingga terkekeh geli mendengar ucapan suaminya yang absurd itu, kemudian Arsyilla turut mengekori Aksara untuk masuk ke dalam kamar mereka di lantai dua. Arsyilla kini memilih menimang Baby Ara sembari berjalan kesana-kemari dan bersenandung lirih untuk putrinya itu sembari menunggu suaminya yang masih mandi.
Selang lima belas menit berlalu, Aksara sudah keluar dari kamar mandi. Pria itu segera menghampiri Arsyilla yang masih menimang Baby Ara.
“Yuk, sini … Baby Ara sama Ayah yuk,” pintanya.
Arsyilla pun kemudian memberikan Baby Ara ke dalam gendongan suaminya itu. “Nih, Ara pasti seneng lihat Ayah yang udah seger dan wangi,” balas Arsyilla.
“Bundanya Ara emangnya tidak seneng?” tanya Aksara sembari tersenyum menatap wajah istrinya itu.
Lagi-lagi Arsyilla justru tertawa, dia kemudian memilih berjalan dan meninggalkan suami dan babynya itu.
“Aku buatkan minum ya, Kak … mau panas atau dingin?” tawar Arsyilla kepada suaminya.
“Terserah saja Bunda, apa pun yang Bunda bikinkan pasti Ayah minum,” balas Aksara.
“Ya sudah, tunggu dulu ya Ayah,” balas Arsyilla.
Sore yang penuh sukacita di dalam rumah tangga pasangan muda itu. Ada bentuk perhatian yang dinyatakan dari kegiatan-kegiatan sederhana. Ada wujud kasih sayang seorang Ayah yang mau menimang putrinya dan memberi waktu ‘break’ sejenak untuk istrinya yang sudah seharian penuh mengasuh bayinya. Saling mengerti dan memahami adalah hal yang dibutuhkan suami dan istri. Itu jugalah yang dilakukan Aksara dan Arsyilla, saat Aksara menggendong Baby Ara dengan maksud supaya Arsyilla bisa beristirahat, Arsyilla pun sigap menawarkan minum untuk suaminya itu. Dengan demikian, kedua belah pihak sama-sama dimengerti kebutuhannya. Sebab, Arsyilla tidak akan membiarkan suaminya yang baru saja pulang kerja langsung mengasuh Ara, setidaknya dia membuatkan minum untuk suaminya itu.
Sebab rumah tangga bukan sekadar apa yang sudah kamu lakukan, tetapi bagaimana kita saling melakukan yang terbaik untuk pasangan dan untuk anggota keluarga kita. Kenakanlah kasih setiap waktu untuk membangun keluarga yang sehat dan harmonis.
__ADS_1