
Usai Rangga berpamitan untuk pulang, ada Aksara dan Arsyilla yang masih berdiri di pintu dan menunggu sampai mobil yang dikemudikan oleh Rangga menghilang dari pandangannya. Arsyilla perlahan, menautkan jemarinya di sela-sela ruas jari suaminya itu. Wanita pun menatap wajah suaminya dengan senyuman di wajahnya.
“Pilihanmu adalah pilihan yang sangat tepat hari ini,” ucap Arsyilla.
Ya, di mata Arsyilla suaminya itu berhasil melakukan ‘Choose your battle!’ Memilih yang tepat. Aksara diperhadapkan dengan idealisme sebagai seorang Kakak dan sebagai laki-laki. Namun, di sisi lain Aksara pun diperhadapkan dengan adiknya yang tengah meminta maaf kepadanya. Jika sekadar ingin melakukan ‘battle’ tentu saja akan banyak hal yang diperebutkan Aksara saat Rangga datang dan meminta maaf. Akan tetapi, Aksara bisa menahan dirinya dan berakhir dengan memaafkan adiknya itu.
“Hmm, maksud kamu apa Honey?” tanya Aksara kepada istrinya itu.
“Ke kamar dulu yuk, nanti aku jelasin,” balas Arsyilla yang menggandeng tangan suaminya itu.
“Wah, siang-siang diajakin ke kamar. Mau dong,” balas Aksara dengan begitu absurbnya.
“Ishs, pasti mikirnya yang nakal nih. Inget, aku tidak boleh disentuh, Kak … puasa kamu masih lama,” balas Arsyilla.
Aksara menghela nafas dan kemudian menatap wajah istrinya itu, “Ya ampun, ini cobaan terberat Honey … puasa Ramadhan saja 30 hari, kalau puasa ini bisa sampai 40 hari,” balasnya.
__ADS_1
Arsyilla hanya tertawa, dan terus menarik tangan suaminya itu untuk mengikutinya masuk kembali ke dalam kamar. Alasan utama kenapa Arsyilla mengajak suaminya itu kembali ke kamar karena ada Baby Ara yang masih tidur di dalam kamar. Setidaknya mereka bisa mengobrol bersama sembari menunggu Baby Ara, sehingga jika bayinya itu terbangun, Arsyilla bisa mendengarnya dan segera memberikan ASI untuk bayinya itu.
“Boleh ngomong Kak?” tanya Arsyilla sekarang ini kepada suaminya itu.
“Boleh dong … mau ngomong apa? Sini, ngobrol sini sama Abang,” goda Aksara sehingga Arsyilla pun turut tertawa mendengar celotehan dari suaminya itu.
“Abang apaan sih Kak? Jadi aneh deh,” balas Arsyilla yang merasa panggilan Abang tidak cocok untuk suaminya itu.
“Sini, mau ngobrol apa … sudah pasti aku bakalan mendengarkan obrolan kamu,” balas Aksara yang duduk di sudut sofa bersama istrinya itu.
Aksara pun menghela nafas, dan kemudian dia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. “Ya, aku akui kalau aku ini idealis, mungkin seperti Ayah Bisma. Hanya saja, yang kamu katakan benar bahwa keluarga adalah mereka yang bisa hidup bersama, berdampingi satu sama lain, menerima kekurangan mereka. Aku dalam fase menerima kekurangan Rangga. Lagipula, tidak ada orang yang sempurna kan. Sama halnya dengan aku yang ternyata membutuhkan banyak waktu untuk memaklumi adikku sendiri,” cerita Aksara kali ini.
Sama apa yang diucapkan Aksara bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Pun Aksara mengakui bahwa dirinya membutuhkan waktu yang lama untuk memahami adiknya sendiri. Bahkan lebih dari empat tahun, Aksara merasa tidak bisa memahami Rangga dengan berbagai kesalahan yang dilakukan adiknya itu.
"Kalian sudah saling bermaaf-maafan jadi kumohon terus menjalin hubungan baik. Aku tahu, masih ada dinding es yang memisahkan kalian berdua. Hanya saja dengan komunikasi yang dibangun bisa mencairkan dinding es itu," ucap Arsyilla kini kepada suaminya.
__ADS_1
Perlahan Aksara pun menganggukkan kepalanya. Di dalam hati Aksara pun mengakui masih sukar untuk kembali akrab dengan adiknya sendiri. Aksara masih membutuhkan waktu. Hanya saja, Aksara berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan mencoba dan terus berusaha.
“Aku tadi hanya berpikir bahwa jika terus-menerus bertikai justru aku akan capek sendiri sih, Honey. Jika terus-menerus ribut, ya selamanya kami tak akan pernah akur. Ada hal-hal prinsipil yang aku pegang dan itu tidak akan kulanggar. Aku akui, tindakanmu menjebakmu di satu malam itu sebenarnya salah. Aku sampai melakukan cara tergila untuk mendapatkanmu. Namun, ada satu hal prinsipil yang teguh kupegang di hatiku bahwa aku tidak akan menidurimu, dan mengambil mahkotamu secara paksa. Bahkan usai pernikahan pun, aku menunggumu. Sebanyak waktu yang kamu perlu aku akan menunggumu karena cintaku ingin mendapatkan kamu dengan caraku. Tidak ingin meninggalkan noktah yang selamanya akan kusesali,” cerita Aksara pada akhirnya pada istrinya itu.
Sungguh, cerita Aksara kali ini membuat hati Arsyilla terasa begitu hangat. Suaminya memegang teguh satu hal yang begitu prinsipil di dalam hatinya, dan Arsyilla sudah merasakan dan melihat sendiri bagaimana Aksara yang mau menunggu, mau berjuang dengan caranya sendiri. Buah dari perjuangan dan penantiannya itu, Arsyilla mau membuka hatinya dan menerima Aksara sepenuhnya.
Senyuman pun terbit di sudut bibir Arsyilla, “Itu karena aku yakin … tidak ada orang lain yang mencintaiku sebesar dirimu,” balas Arsyilla.
Mendengar ucapan Arsyilla, Aksara pun menganggukkan kepalanya, tangannya bergerak dan menggenggam tangan istrinya itu.
“Ya, aku sangat mencintaimu, Honey … sangat. Hanya saja, aku adalah Aksara yang sudah mengisi hatiku bertahun-tahun lamanya dengan namamu dan dirimu. Jika untuk belasan waktu yang berlalu, aku bisa menunggu, maka aku tidak akan menodai waktu penantianku yang panjang dengan meninggalkan jejak yang kotor di hubungan kita berdua. Aku ingin hubungan kita berdua murni adanya dan hubungan yang terjalin pun terjadi dengan alamiah,” balas Aksara.
“Iya Kak … terima kasih sudah melakukan semua yang baik untukku. Aku bisa merasakannya bahwa kamu selalu melakukan yang terbaik untukku, dan aku bersyukur untuk semuanya itu,” balas Arsyilla.
Sama halnya sebuah hubungan, pernikahan pun suami dan istri diperhadapkan untuk memilih mana yang akan sepakati dan jalani bersama. Choose your battle dalam pernikahan itu wajar. Suami dan istri akan diperhadapkan dengan berbagai realita yang selalu saja ada setiap harinya. Di awal pernikahan, pasangan akan diperhadapan dengan perbedaan-perbedaan yang mereka ributkan. Percikan api yang bisa membuat keduanya bertikai bahkan adu mulut. Setelah memiliki anak, pasangan akan diperhadapkan dengan pola pengasuhan untuk anak, berbagai kebutuhan rumah tangga yang bertambah, dan di usia senja mereka juga akan diperhadapkan dengan berbagai realita menghadapi hari tua.
__ADS_1
Untuk semuanya itu sangat diperlukan untuk bijak membuat pilihan. Menerima kelebihan dan kelemahan satu sama lain, memeluk keluarga besar dengan tidak melupakan peran kita sebagai anak, dan menjadi orang tua yang terus berusaha menjadi figur yang baik untuk anak.