Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Ratapan Terpedih


__ADS_3

Aksara yang tidak sadarkan diri, dan proses penyelamatan yang terus terjadi. Untunglah tenaga medis sigap dalam bekerja, sehingga Aksara segera dinaikkan ke atas tandu, dan dibawa menuju Rumah Sakit terdekat.


Di dalam mobil ambulance, perawat mulai memasangkan selang oksigen ke hidung Aksara. Berharap sirkulasi udara di tubuh pria itu lancar. Denyut nadi yang dihitung, dan tindakan penyelamatan lainnya dilakukan di dalam mobil ambulance itu.


Aksara, dengan kakinya yang terluka, darah segar mengalir dari kaki kirinya segera digeledak menuju ruang operasi. Sementara di lapangan, ada staf yang mengabarkan kecelakaan kerja yang menimpa Aksara kepada Bunda Kanaya selaku Ibu kandung dan CEO Jaya Corp.


“Halo Bu Kanaya,” sapa seorang staf melalui telepon seluler di tangannya.


“Ya, halo … saya sendiri,” balas Bunda Kanaya.


“Bu Kanaya, saya mau melaporkan kalau Pak Aksara mengalami kecelakaan kerja dan sekarang dilarikan ke Rumah Sakit,” ucap staf itu melalui telepon.


Mendengar bahwa putra sulungnya mengalami kecelakaan kerja dan harus dilarikan ke Rumah Sakit, kedua kaki Bunda Kanaya terasa begitu lemas. Tidak menyangka bahwa Aksara sampai mengalami kecelakaan kerja.


“Tolong kirimkan di mana alamat Rumah Sakitnya, dan saya akan ke sana,” jawab Bunda Kanaya.


Usai mendengar kabar bahwa Aksara sedang mengalami kecelakaan di lokasi pembangunan Tower di kawasan PIK, Bunda Kanaya pun segera mengajak Ayah Bisma ke Rumah Sakit. Akan tetapi, kali ini mereka singgah terlebih dahulu ke rumah Arsyilla. Sebab, mereka juga perlu memberitahu kepada Arsyilla kabar suaminya.


“Bagaimana ini, Yah … Bunda takut,” aku Bunda Kanaya kepada Ayah Bisma. Sungguh, sebelumnya Bunda Kanaya tidak menyangka bahwa akan mengalami duka seperti ini. Berbagai pikiran buruk pun menghinggapi Bunda Kanaya.


“Kita harus menjelaskan kepada Syilla bagaimana?” ucap Bunda Kanaya lagi.


Ayah Bisma pun menghela nafas dan segera menggenggam tangan istrinya itu, “Tenang Bunda … kita belum tahu kabar Aksara. Jadi, mari kita terus berdoa untuk Aksara. Kita beri tahu Syilla dengan pelan-pelan bahwa Aksara kecelakaan,” jawab Ayah Bisma.


Begitu mobil Ayah Bisma dan Bunda Kanaya telah tiba di depan pintu gerbang rumah Arsyilla, keduanya segera masuk dan mengetuk pintu. Tentu raut kesedihan tercetak jelas di wajah Bunda Kanaya saat ini.


“Syilla,” panggil Bunda Kanaya sembari memencet bel rumah milik anaknya itu.

__ADS_1


Tidak berselang lama pun Arsyilla turun dengan masih menggendong Ara di dengan satu tangannya.


“Oma … Opa, tumben malam-malam kemari?” tanya Arsyilla.


Tentu saja Arsyilla yang sejak pagi merasakan firasat yang buruk, hatinya kian berdebar-debar rasanya melihat kedatangan Ayah Bisma dan Bunda Kanaya di saat hari sudah begitu malam.


“Syilla, kami datang untuk mengajakmu ke Rumah Sakit,” ucap Bunda Kanaya.


Setelah itu rasanya Bunda Kanaya tidak lagi memiliki kekuatan untuk menyampaikan apa yang harus disampaikan kepada Arsyilla. Akhirnya Ayah Bisma pun segera memeluk istrinya itu.


“Begini Syilla, bisa tidak Ara dititip ke Mama Khaira dulu? Ada sedikit insiden buruk di tempat pembangunan tower di PIK, dan Aksara berada di sana waktu insiden itu. Jadi, sekarang … kita harus ke Rumah Sakit,” ucap Ayah Bisma.


Mendengar yang tidak baik, air mata Arsyilla berlinangan begitu saja. Firasat buruk yang memenuhi hatinya sepanjang pagi akhirnya kali ini benar-benar terjadi. Arsyilla menganggukkan kepalanya, dan kemudian menelpon Mama Khaira terlebih dahulu meminta Mama Khaira dan Papa Radit untuk mengasuh Ara terlebih dahulu.


Hampir 15 menit berlalu, barulah Arsyilla mengikuti Ayah Bisma dan Bunda Kanaya menuju ke Rumah Sakit.


“Iya Syilla … percayakan Ara kepada kami. Sering hubungi kami yah,” balas Mama Khaira.


Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, dan kemudian mengikuti Ayah Bisma dan Bunda Kanaya masuk ke dalam mobil. Tempat yang akan mereka tuju sekarang ini adalah Rumah Sakit.


Beberapa menit berkendara, barulah mereka bertiga tiba di Rumah Sakit. Ayah Bisma yang bertanya pasien atas nama Aksara Adhinata Pradhana. Rupanya Aksara masih berada di ruang operasi. Kali ini Arsyilla memilih duduk di depan pintu ruangan operasi itu. Harap-harap cemas melihat lampu di atas pintu yang berwarna merah. Arsyilla tidak tahu kecelakaan seperti apa yang menimpa suaminya, tetapi Arsyilla selalu berharap bahwa suaminya akan selamat.


Berada di dalam kecemasan, waktu pun terasa begitu lama. Menit berganti dengan menit, tetapi lampu merah di atas ruangan operasi itu masih menyala.


Sampai akhirnya, lampu merah telah padam, dan seorang Dokter mulai keluar dari ruangan operasi itu.


“Keluarga Pasien atas nama Aksara?” tanyanya.

__ADS_1


Sontak saja Bunda Kanaya, Ayah Bisma, dan Arsyilla mendekat. Harap-harap cemas menunggu apa yang akan disampaikan oleh Dokter.


“Untung pasien tiba di Rumah Sakit lebih cepat. Bagian tubuh yang parah adalah kaki kirinya. Ada tulang yang patah di sana, sehingga operasi pemasangan pen dilakukan. Saat ini pasien masih belum sadarkan diri, efek obat bius yang diberikan selama operasi,” jelas Dokter tersebut.


“Pemasangan pen sampai suami saya pulih berapa lama Dok?” tanya Arsyilla kepada Dokter itu.


“Bisa sebulan atau bahkan lebih. Material yang menimpa kaki Pasien sangat berat, sehingga ada kepatahan tulang di betisnya,” jelas Dokter lagi.


Tentu ini adalah sebuah pukulan yang begitu berat bagi Arsyilla. Namun, Arsyilla masih bersyukur karena suaminya masih selamat.


“Sebentar lagi, pasien akan kami pindahkan ke ruangan rawat inap,” ucap Dokter itu.


Tidak berselang lama Aksara yang masih tak sadarkan diri berbaring lemah di atas brankar. Arsyilla yang melihat suaminya itu pun menangis kali ini.


“Kak Aksara,” ucapnya dengan tersedu-sedan.


Tidak menyangka bahwa hari ini, dia harus melihat suaminya yang pasca dioperasi. Gips berwarna putih pun membungkus kaki kiri Aksara.


“Sabar ya Syilla … sekarang fokus untuk penyembuhan Aksara. Kamu kalau mau boleh tidak apa-apa. Ada supir yang bisa mengantarmu pulang. Biar Ayah yang menjaga Aksara,” balas Ayah Bisma.


Akan tetapi, Arsyilla dengan cepat menggelengkan kepalanya. Dia juga ingin berada di samping suaminya itu. Dirinya masih khawatir karena suaminya masih tak sadarkan diri.


“Biar Syilla yang berjaga sepanjang malam ini, Ayah … besok pagi Syilla akan pulang,” jawabnya.


“Tapi Ara membutuhkan kamu,” ucap Bunda Kanaya kali ini.


“Kak Aksara juga membutuhkan Syilla, Bunda,” jawabnya.

__ADS_1


Kali ini air matanya lagi-lagi mengalir dengan sendirian. Dari tangisannya seolah-olah terdengar bahwa ada sesuatu yang Arsyilla ratapi. Tangisa pilu, ratapan seorang istri yang begitu pedih melihat suaminya masih dalam kondisi tak sadarkan diri.


__ADS_2