Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Tak Sengaja Bersua


__ADS_3

Beberapa tahun yang lalu …


Saat Aksara masih duduk di bangku SMP, terkadang usai sekolah Ayah Bisma mengajak putranya itu untuk ke Klinik Bunda Aksara. Sebuah klinik yang dipakai Bisma untuk melakukan praktik sebagai Dokter Spesialis Anak. Rumah masa kecil sang istri yang dialihfungsikan oleh Ayah Bisma menjadi sebuah klinik.


“Aksara, kamu temani Ayah ke klinik yah? Nanti kita pulang ke rumah bersama-sama,” ajak Ayah Bisma kepada putranya.


Bukan tanpa sebab, semua dilakukan Ayah Bisma karena tidak ingin kehilangan Aksara lagi. Bagi sang Ayah dan juga Bundanya, cukup satu kali mereka kehilangan Aksara saat putranya itu berusia 2,5 tahun. Usai Aksara berhasil ditemukan, dari sekolah Ayah Bisma dan Bunda Kanaya bergantian untuk mengasuh Aksara. Ya, terkadang Aksara mengikuti Ayah Bisma ke klinik, atau terkadang mengikuti Bunda Kanaya ke Jaya Corp. Ayah Bisma dan Bunda Kanaya hanya percaya menitipkan Aksara kepada Eyangnya saja yaitu Bunda Hesti dan Ayah Tirta.


Kebetulan siang itu, Ayah Bisma yang usai menjemput Aksara dari SMP-nya, menawarkan kepada putranya itu untuk menemaninya ke Klinik. Sore barulah mereka akan menjemput Bunda Kanaya dan pulang ke rumah.


“Ayah, apa tidak boleh Aksara di rumah saja? Lagipula di rumah kan ada Mbok Tini (seorang ART di kediaman Bisma). Aksara sudah remaja Ayah … malu kalau harus mengikuti Ayah ke klinik,” sahut Aksara yang saat itu sudah berada di kelas 1 SMP.


Berada di masa remaja membuat Aksara malu jika harus mengikuti Ayah atau Bundanya bekerja. Akan tetapi, seolah-olah Ayah Bisma dan Bunda Kanaya lebih memilih membawa Aksara turut serta. Tidak ingin lengah dan berakibat dengan kehilangan putranya itu.


“Ikut Ayah saja, Nak … lagipula pasien untuk hari ini tidak banyak. Hanya beberapa yang datang untuk melakukan imunisasi dan ada satu sih yang periksa,” jawab Ayah Bisma.


“Tapi Yah … kan Aksara bisa menjaga diri Aksara, Aksara sudah besar Ayah. Masak masih harus mengikuti Ayah dan Bunda bekerja,” keluh si remaja itu.


Sebenarnya Ayah Bisma tahu apa yang dikeluhkan putranya itu. Hanya saja, Ayah Bisma dan Bunda Kanaya tidak ingin mengambil kembali risiko. Lebih baik, Aksara berada di dekat mereka, daripada peristiwa yang buruk kembali terjadi.


“Ayo, ikut Ayah saja … nanti di sana Ayah punya pasien yang manis dan pinter. Ayah sudah menjadi dokternya sebab dia masih bayi. Sapa tahu, nanti kamu bisa bermain dengannya nanti,” sahut Ayah Bisma.


Aksara mengerucutkan bibirnya dan membawa kedua tangannya bersidekap di depan dada, “Enggak mau … Aksara pengen di rumah saja. Aksara sudah besar Ayah,” ucapnya lagi. Ya, Aksara remaja sekali pun baru duduk di kelas 1 SMP merasa dirinya sudah besar.


Sang Ayah pun tersenyum dan mengacak gemas puncak kepala Aksara. Membiarkan putranya itu yang merajuk dan terus melajukan mobilnya menuju klinik miliknya. Ayah Bisma membawa Aksara masuk ke ruangannya di lantai dua. Pria yang berprofesi sebagai Dokter Anak itu mulai mencuci tangannya terlebih dahulu dan mengenakan sarung tangan medis. Kemudian bersiap dengan stetoskop terkalung di lehernya. Aksara duduk dan mengamati apa yang dilakukan sang Ayah. Setidaknya, Aksara memiliki imajinasi seorang Dokter Spesialis Anak itu seperti apa dan bagaimana bekerjanya.


“Lihat Ayah bekerja … memeriksa dan melayani dengan hati. Siapa tahu, saat kamu dewasa nanti kamu ingin menjadi Dokter seperti Ayah,” ucap Ayah Bisma.


Mulailah seorang perawat memanggil satu per satu nama pasien. Dokter Bisma dengan sopan dan ramah memeriksa setiap anak, membuat anak tidak takut dengan jarum suntik, bahkan tak jarang Ayah Bisma turut menggendong sejenak bayi-bayi yang menangis usai mendapatkan vaksinasi. Aksara melihat semua itu dengan matanya. Bagi Aksara, Ayahnya benar-benar superhero karena bisa menyembuhkan anak-anak yang sakit dan membuat anak yang menangis menjadi diam.


Hingga akhirnya, masuklah seorang pasien yang mendaftar dengan nama ‘Arshaka Putra Raditya’. Mendengar nama itu bukannya Aksara seakan teringat akan sesuatu, tetapi nama belakang pasien itu mengingatkannya akan nama seorang gadis kecil yang memiliki nama belakang Putri Raditya.

__ADS_1


“Selamat siang Paman Dokter,” suara seorang anak kecil yang datang mengenakan seragam SD datang dan mendorong pintu itu terlebih dahulu, kemudian menyapa Dokter Bisma.


“Hei, hallo … Arsyilla ikut ke sini yah? Sama siapa Sayang?” tanya Dokter Bisma.


“Sama Mama dan Adik,” jawabnya.


“Arsyilla sehat kan? Sekarang Arsyilla sudah kelas berapa nih?” tanya Dokter Bisma lagi.


“Kelas 3 SD, Paman Dokter,” sahutnya.


Hingga beberapa menit kemudian masuklah Mama Khaira yang datang menggendong Arshaka. “Selamat siang, Dokter,” sapa Mama Khaira.


“Ya ya ya, selamat siang Bu Khaira … barusan saya mengobrol sama Arsyilla kalau dia sudah kelas 3 SD yah?” tanya Dokter Bisma.


“Iya Dokter … sudah kelas 3 SD, Arsyillanya,” jawab Mama Khaira.


“Wah, dulu Paman Dokter imunisasi kamu waktu kamu baru saja lahir loh Arsyilla. Sekarang kamu sudah kelas 3 SD,” sahut Dokter Bisma.


“Hanya demam biasa, Bu Khaira … diberikan paracetamol dan oral suspensi saja,” ucap Dokter Bisma. Dengan cepat Dokter Bisma menuliskan resep untuk Arshaka


Mama Khaira pun mengangguk, “Iya Dok, diresepkan saja,” sahut Khaira.


Lantas Arsyilla melihat seorang Kakak mengenakan seragam SMP yang duduk memunggunginya dan terlihat menunduk. Arsyilla kecil yang banyak ingin tahu pun bertanya kepada Dokter Bisma.


“Paman Dokter, Paman Dokter, Kakak itu siapa?” tanyanya sembari menunjuk Aksara.


“Oh … dia anaknya Paman Dokter, namanya Kak Aksa,” jawab Dokter Bisma.


Mama Khaira terlihat memperhatikan remaja yang masih mengenakan seragam SMP dan menundukkan kepalanya di atas meja itu.


“Sudah SMP ya Dok, putranya?” tanya Mama Khaira.

__ADS_1


“Iya Bu, SMP kelas 1. Sudah remaja,” jawab Dokter Bisma.


“Apa tidak kasihan Dok, baru sekolah langsung ikut ke klinik?” tanya Mama Khaira.


Dokter Bisma pun tersenyum, “Tidak apa-apa Bu, lagipula usai ini kami akan pulang juga. Menjemput Bundanya terlebih dahulu,” balas Dokter Bisma.


Melihat Kakak yang diketahui bersama Aksa itu lantas Arsyilla mengeluarkan sebuah permen karamel berbungkus cokelat dari saku seragamnya dan memberikannya di atas meja tepat di kepala Aksara yang menunduk.


“Kakak, Kakak namanya Aksa kan … kalau Kakak capek dan lapar, makanlah permen ini dulu yah. Rasa karamel ini manis dan enak, saat memakannya Kakak pasti akan bahagia. Bye Kakak,” ucap Arsyilla kali itu.


***


Kini …


“Aku bahkan masih ingat dulu waktu memberikan permen karamel kepadaku,” ucap Aksara kini.


Arsyilla lantas melirik pada suaminya itu, benarkah dulu keduanya bertemu secara tidak sengaja. Akan tetapi, kenapa Aksara justru tertunduk dan tidak ingin melihatnya bersama Mama dan Adiknya.


“Kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya saat itu?” tanya Arsyilla kini.


“Aku tidak punya nyali, Sayang … aku takut, jika Mama Khaira tidak mengenaliku. Aku berharap mencari keluargamu. Aku akan datang saat aku sudah berhasil menjadi orang. Sayangnya, aku tidak bisa mewujudkannya karena pada kenyataannya hidupku tidak berhasil,” jawab Aksara kini.


Arsyilla menghela nafasnya perlahan dan melirik suaminya itu, “Tidak perlu datang saat kamu sudah sukses dan menjadi orang besar. Mama dan Papa adalah orang yang berhati baik, kamu datang dan mengakui bahwa kamu adalah Aksara, anak kecil yang dulu mengenalnya di panti asuhan saja sudah pasti Mama dan Papa akan membuka lebar rumahnya dan menerima kamu, Kak,” jelas Arsyilla.


“Iya aku tahu, maafkan aku yah,” ucap pria itu lagi.


“Iya … tidak apa-apa. Hanya saja, jangan menunda waktu yang baik. Setidaknya jika kamu saat itu mengakui yang sebenarnya Mama dan Papa tidak akan berpikiran yang aneh-aneh dan aku yang menangis-nangis karena mencari kamu,” sahut Arsyilla.


Aksara mengangguk dan menggenggam tangan istrinya itu, “So … mulai one night stand itu aku sudah berjanji, apa pun yang terjadi. Aku akan berada di sisimu. I will always beside you, Honey.”


Aksara mengatakan semuanya itu dengan sungguh-sungguh. Itu adalah janji yang dia buat dan sekarang dia ucapkan secara langsung kepada istrinya. Perasaannya terasa begitu lega bisa mengakui dan mengutarakan perasaannya untuk selalu berada di samping istrinya itu. Sama halnya dengan Arsyilla yang merasakan bahwa suamiya benar-benar membuktikan bahwa pria itu akan selalu ada di sisinya.

__ADS_1


__ADS_2