
Dengan berbaring ke arah kiri, Arsyilla beberapa kali menahan sakit yang datang saat gelombang cinta dari babynya datang. Rasa perih, hingga seolah rasa panas yang menjalar ke seluruh tubuh. Rasa sakit yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Tubuh yang panas dan kesakitan di inti tubuh, hingga pinggang yang sangat sakit. Kali pertama merasakan semua ini membuat benteng pertahanan Arsyilla luruh juga. Wanita itu kini terisak dalam pembaringannya.
Kendati tidak terus-menerus terisak dalam tangisan, tetapi Arsyilla yang beberapa kali mencengkeram erat tangan suaminya menjadi bukti bahwa saat sakit itu datang, dirinya membutuhkan sosok yang menggenggam tangannya.
"Sakit ya Honey?" tanya Aksara dengan menggerakkan satu tangannya berusaha untuk mengusapi punggung istrinya. Berharap usapannya bisa sedikit meredakan rasa sakit yang teramat sangat itu.
Arsyilla pun mengangguk, jangan ditanya bagaimana wajahnya. Wajah yang memerah, mata yang memerah dan juga sembab, serta napas yang seolah tidak stabil karena menahan rasa sakit. Berusaha kuat tidak menangis, justru membuat matanya terasa pedas dan memerah.
"Mau minum dulu Honey? Aku ambilkan air minum yah," tawar Aksara kepada Arsyilla.
Perlahan Arsyilla pun duduk dan menyandarkan punggungnya di brankar yang sudah disetel oleh suaminya dengan sedemikian rupa. Sehingga posisi duduk setengah berbaring itu bisa membuat Arsyilla merasa nyaman.
"Aku minum sedikit, Kak … haus," pintanya kepada suaminya untuk bisa minum. Bagaimana pun tenggorokannya juga terasa begitu kering saat ini.
Dengan cekatan dan telaten, Aksara pun mengambilkan botol air mineral yang sudah dibuka sealnya dan juga menaruh sedotan supaya istrinya tidak kesusahan saat meminumnya. Bahkan pria itu juga menyeka sisa-sisa air minum di bibir Arsyilla.
"Mau nonton apa atau dengerin musik gitu? Buat mengalihkan rasa sakitnya?" tawar Aksara kepada istrinya lagi.
Sebab beberapa Obgyn menyarankan bahwa rasa sakit bisa dialihkan dengan melakukan aktivitas tertentu. Jika hanya terfokus rasa sakit itu, maka yang terjadi adalah tubuh akan merespons terhadap rasa sakit itu. Sehingga, kali ini Aksara menawarkan alternatif untuk mengalihkan perhatian istrinya.
Arsyilla pun menggelengkan kepalanya secara samar, "Enggak … aku bisa menahan kok, tetapi enggak tau kalau nanti," jawabnya kepada suaminya itu.
__ADS_1
Sekalipun sekarang rasanya sudah begitu sakit, tetapi Arsyilla bisa menahannya. Namun, jika pembukaan nanti semakin bertambah, Arsyilla sendiri tidak tahu apakah dia bisa menahannya atau tidak.
"Harus ditahan ya Honey … aku temenin menjalani setiap proses demi prosesnya. Aku tahu bahwa kamu adalah wanita yang kuat. Kita sambut bayi kecil kita bersama-sama yah." Aksara berbicara sembari menggenggam tangan istrinya itu.
"Aku enggak sekuat itu, Kak … ada kalanya aku sangat rapuh. Seperti saat ini, sakit banget rasanya." Kali ini Aksara berbicara dengan suaranya yang sudah terdengar bergetar.
Mengikis jaraknya dengan sang istri, satu tangan Aksara bergerak untuk menyusuri garis wajah istrinya, kemudian ibu jarinya menyentuh dua kelopak mata di sana dengan begitu lembut.
"Di mataku, kamu adalah wanita yang kuat dan hebat. Sudah separuh jalan, tunggu lima pembukaan lagi dan kita akan menyambut Dedek Bayi bersama-sama ya," ucap Aksara dengan begitu lembut.
Perlahan kepala Khaira pun bergerak, wanita itu mengangguk, "Makasih Kak buat supportnya. Padahal sejak tadi aku udah pengen nangis, tetapi aku tahan-tahan."
Tanpa dia sadari, ada sesuatu yang basah keluar dari bawah sini dengan begitu derasnya disertai rasa sakit yang amat sangat.
“Kak, ini keliatannya air ketubannya sudah pecah, basah banget di bawah sini. Perut aku juga kenceng banget,” keluhnya kali ini.
Aksara pun segera memecet tombol yang berada di atas brankar Arsyilla, berharap perawat akan datang dan juga bisa melakukan pengecekkan lagi.
Hanya sekian menit, seorang perawat datang dan lagi-lagi melakukan cek dalam kepada Arsyilla. Wanita itu seakan memekik saat dilakukan tes dalam dengan satu tangan yang menggenggam erat tangan suaminya.
“Sudah pembukaan 8, Bu … kalau sakitnya lebih sering dan perutnya semakin kencang itu artinya sudah dekat waktu bersalin. Sekarang Ibu akan kami pindahkan ke ruang tindakan ya. Nanti ada perawat yang stand by dan Dokter Indri juga sudah bersiap di ruangannya,” penjelasan dari perawat tersebut.
__ADS_1
Usai itu, beberapa perawat datang dan menggeledek brankar Arsyilla menuju ke ruang tindakan persalinan. Di satu sisi, Aksara pun terus berjalan dan juga menggenggam erat tangan istrinya itu. Tidak akan dibiarkannya istrinya itu sendirian. Dia akan memenuhi setiap janjinya untuk ada di samping istrinya.
Begitu sudah berada di ruang tindakan, Aksara pun beberapa kali bersuara untuk menenangkan istrinya dan masih berusaha mengalihkan rasa sakitnya.
“Jadi, nanti Dedek Bayi namanya siapa dong? Kita berdua belum prepare sama sekali untuk memberi nama Dedek Bayi. Nanti kamu yang berikan namanya untuk Dedek Bayi ya, Honey,” pinta Aksara kali ini.
Arsyilla pun mengangguk, “Ii … iya. Aku kasih nama, tetapi kenapa ini semakin sakit ya Kak. Sakit banget, Kak … semua tubuhku sakit.” Air matanya berlinangan dengan begitu derasnya tak mampu lagi untuk menahan rasa sakit yang semakin menghantam dirinya.
Berusaha melakukan relaksasi, menenangkan diri sendiri, hingga mengatur napas saat rasa sakit itu datang hanya bisa berefek sekian persen saja. Kali ini, Arsyilla benar-benar terisak. Seolah tak mampu lagi untuk bertahan.
“Kak, kalau aku enggak kuat bagaimana?” akhirnya pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Arsyilla ketika dirinya benar-benar terombang-ambing dalam rasa sakit yang begitu dahsyatnya.
Saat-saat dramatis seperti ini, Aksara pun mengusap kasar wajahnya. Hatinya hancur tiap kali istrinya merasa tidak kuat dan seolah tidak mampu bertahan. Pria itu pun menggelengkan kepalanya, “Jangan begitu Honey … kamu pasti kuat. Kamu wanita yang hebat. Kamu punya aku. Kita berjuang bersama-sama ya,” ucapnya yang menguatkan istrinya itu.
Namun, Arsyilla justru menangis terisak di sana. Isakannya begitu memilukan dan menyayat hati. Hantaman kontraksi disertai rasa sakit yang benar-benar melilit membuatnya berderai air mata dan mengeluh bahwa dirinya tak mampu lagi bertahan.
“Ini sakit banget Kak … aku gak kebayang ternyata melahirkan akan sesakit ini. Baru pembukaan delapan saja sudah sakit banget. Kalau pembukaan sepuluh, apa aku kuat Kak?” Arsyilla mengeluh dan merintih. Baru pembukaan delapan saja, dia sudah begitu kesakitan bagaimana nanti kalau pembukaan sepuluh. Apakah mungkin dirinya bisa bertahan?
Dengan cepat Aksara menggenggam tangan istrinya, pria itu juga berkali-kali melabuhkan ciumannya di kening istrinya. “Aku temenin, Honey … di sini kita cuma berdua. Jadi, kita saling menguatkan ya. Aku menguatkan kamu, dan kamu menguatkan aku. Aku pun selalu berdoa kepada Tuhan semoga dia beri kamu kekuatan untuk berjuang. Tiap kali kamu mengeluh kesakitan seperti ini, aku yang merasa sesak. Sudah yah, kita hadapi bersama-sama,” ucapnya dengan wajah yang memerah.
“Sabar ya, Honey … sudah pembukaan 8, sebentar lagi pembukaan 9, dan 10. Yuk, semangat yuk … kamu pasti bisa. Yuk, bisa yuk.” Aksara tak segan-segan untuk menyemangati istrinya itu. Berharap setiap ucapan yang dia ucapkan bisa membakar lagi semangat istrinya yang saat ini tengah berbaring di atas ranjang kesakitannya.
__ADS_1