
Fakultas Teknik Arsitektur memiliki sebuah program yang disebut kuliah lapangan. Dalam kuliah lapangan ini, mahasiswa akan diajak ke salah satu proyek pembangunan yang sedang berlangsung. Tujuanya adalah supaya mahasiswa bisa mengembangkan imajinasi, kreativitas, dan daya bayang ruangan. Kali ini, Arsyilla membawa mahasiswa yang diajar di mata kuliah Perecanaan dan Desain Arsitektur ke Taman Ismail Marzuki, Jakarta yang sedang direvitalisasi.
“Kita akan bersiap untuk menuju Taman Ismail Marzuki dengan menaiki bus dari kampus. Selama di sana nanti, kalian bisa secara langsung melihat proses perencanaan sebuah proyek. Saya harap, mahasiswa akan bersikap aktif dan tidak segan untuk bertanya,” instruksi dari Arsyilla kepada seluruh mahasiswa.
Tampak mahasiswa yang menyambutnya dengan gembira, ada juga yang bersikap biasa-bisa saja. Kendati demikian yang paling penting adalah kegiatan belajar mengajar hari ini bisa berlangsung dan mahasiswa memiliki bayangan secara riil tentang Perencanaan dan Desain Arsitektur.
Para mahasiswa pun tampak memasuki bus terlebih dahulu dan mencari kursi tempat duduk, sementara Arsyilla masih mengantri di luar untuk masuk ke dalam bus.
“Duduk sama aku saja?” ucap Aksara degan lirih kepada Arsyilla. Sebab, saat ini pria itu tengah berdiri di belakang Arsyilla.
Akan tetapi, Arsyilla hanya diam. Tidak ingin terlihat terlalu mencolok di hadapan para mahasiswanya. Lagipula sebenarnya dia masalah juga, dia harus duduk dengan siapa di dalam bus. Toh, perjalanan masih berada di dalam kota dan tidak akan lama.
Rupanya, saat giliran memasuki bus itu, seluruh tempat duduk nyaris sudah terisi. Hanya tersisa dua tempat duduk di belakang sopir. Arsyilla tampak menghela nafasnya, dan kemudian dia mengambil satu kursi di belakang supir itu untuk dia duduki. Setelahnya rupanya Aksara juga dengan santainya, langsung duduk di sebelah Arsyilla.
Tampak Arsyilla yang membolakan mataya, bagaimana jika mahasiswa justru membicarakan mereka. Sungguh, Arsyilla rasanya tidak tenang harus duduk dengan Aksara dalam satu kursi. Sekali pun pria itu sebenarnya adalah suaminya, hanya saja peraturan yang berlaku di kampus tidak sama dengan di luar kampus.
“Wah, Bu Arsyilla duduk sama Bang Aksara ya?” tanya para mahasiswa yang tiba-tiba saja bersuara seperti itu.
“Hanya ini tempat duduk yang tersisa,” jawab Arsyilla sembari berdiri, rasanya tidak enak memang. Akan tetapi, tempat duduk yang tersisa memang hanya meninggalkan satu bangku saja. Untuk itulah, mau tidak mau Arsyilla harus duduk satu bangku dengan Aksara.
Pria itu lantas mengeluarkan handphonenya dari saku celananya, dan mengetikkan sebuah pesan kepada Arsyilla.
[To: Arsyilla]
[Kamu tenang saja.]
__ADS_1
[Mahasiswa tidak akan berpikiran aneh-aneh kok.]
[Yang penting aku bisa duduk sama istriku.]
Pesan itu kemudian meluncur untuk Arsyilla. Lucu memang, tetapi kendati sudah duduk satu kursi, Aksara justru memilih berkomunikasi dengan Arsyilla dengan menggunakan aplikasi pesan di handphonenya.
Merasakan getaran pada handphonenya, Arsyilla pun kemudian mengambil handphonenya dari dalam tas. Wanita itu mengernyitkan keningnya saat membaca setiap pesan dari Aksara. Tidak membalas pesan itu, tetapi hanya melirik mahasiswa sekaligus suaminya dengan sorot matanya yang tajam. Awas saja, di apartemen nanti Arsyilla akan membuat perhitungan dengan suaminya itu.
Bus Universitas itu akhirnya melaju dan menyisir jalanan Ibukota, hingga akhirnya rombongan itu telah tiba di Taman Ismail Marzuki. Memang pemerintah tengah mengusung proyek revitalisasi Taman Ismail Marzuki, kegiatan revitalisasi ini bertujuan untuk menjadikan Taman Ismail Marzuki sebagai pusat wisata edukasi dan kesenian terbaik di Ibukota.
Rombongan dari Arsyilla pun diterima dengan baik oleh salah satu penanggung jawab dari proyek revitalisasi itu.
“Selamat datang Bu Arsyilla dan seluruh mahasiswa,” sapa Pak Harmoko yang mewakili dari penanggung jawab revitalisasi itu.
“Ya, kita sudah berada di Taman Ismail Marzuki ya … revitalisasi Taman Ismail Marzuki ini mengusung konsep mixed-use building sehingga ke depannya TIM ini bisa menjadi Urban Art Center dan Crative Hub di Ibukota bahkan Indonesia,” jelas Pak Harmoko kepada mereka semua.
Setelah itu, Pak Harmoko membawa seluruh rombongan untuk mengunjungi Planetarium dan Pusat Kreasi Seni yang sudah rampung hampir 86%. Di tempat itu, Pak Harmoko menjelaskan kegunaan Planetarium itu di kemudian hari. Lalu, mereka juga melihat Galeri Annex yang sudah rampung 100%. Terlihat jelas konsep mixed use building itu dalam setiap bangunan yang berada di TIM.
“Ada yang ingin ditanyakan kepada Pak Harmoko?” tanya Arsyilla kini kepada para mahasiswanya.
Rupanya para mahasiswa justru terlihat menundukkan wajahnya. Merasa tidak ada yang ingin bertanya, Arsyilla lantas menatap pada Aksara yang saat itu juga menatapnya. Dari sorotan bola mata Arsyilla, seolah dosennya itu seolah menyuruhnya untuk bertanya.
“Saya, Bu Arsyilla … saya ingin bertanya,” akhirnya Aksara membuka suaranya sembari mengangkat tangannya.
Arsyilla pun mengangguk, “Ya, silakan,” jawabnya.
__ADS_1
“Pak Harmoko, kenapa untuk menjadikan Taman Ismail Marzuki sebagai Urban Art Centre, konsep yang diusung justru mixed use building?” tanyanya kali ini.
Mendengar pertanyaan dari Aksara, Arsyilla mengangguk, dalam hatinya sebenarnya itu pula pertanyaan yang ingin dia tanyakan, tetapi rupanya Aksara sudah terlebih dahulu menanyakannya, jadi pertanyaannya sudah terwakilkan.
Pak Harmoko kemudian mengangguk, “Mixed use building atau bangunan multifungsi adalah salah satu upaya pendekatan perancangan yang berusaha menyatukan berbagai aktivitas dan fungsi yang berada di bagian area suatu kota yang memiliki luas area yang terbatas, harga beli yang relatif mahal, lokasi tanah yang strategis, serta nilai ekonomi tinggi. Jadi ke depannya, Taman Ismail Marzuki bukan hanya untuk wisata edukasi, tetapi di sini bisa menjadi pertunjukkan seni, wisata belanja, dan sebagainya. Semuanya akan berada di satu area,” jawab Pak Harmoko.
“Jadi lebih untuk efektivitas bangunan serta lahan yang sedang diwujudkan oleh penanggung jawab property untuk mengembangkan wilayah itu ya Pak?” tanya Aksara lagi.
Sebagai orang yang sudah terlibat beberapa tahun di bidang arsitektur dan properti, sebenarnya Aksara cukup tahu bahwa desain bangunan multifungsi lebih bisa mengakomodasi keinginan masyarakat sekarang ini. Jadi, memang pertanyaannya hanya untuk mewakili para mahasiswa yang enggan bertanya saja.
Kurang lebih hampir dua jam, rombongan itu mengeliling Taman Ismail Marzuki, dan kini Arsyilla berpamitan kepada Pak Harmoko.
“Terima kasih Pak, kami sudah diterima baik di sini,” ucapnya.
“Iya, sama-sama Bu Arsyilla,” sahut Pak Harmoko.
Setelahnya, mahasiswa kembali anti untuk memasuki bus dan kembali ke kampus. Arsyilla tampak lega karena kuliah lapangan kali ini bisa dibilang lancar. Dia tinggal menyusun laporan hasil laporan kuliah lapangan ini saja.
Di dalam bus ini, rupanya Arsyilla kembali harus duduk dengan Aksara. Mungkin saja karena Aksara yang lebih tua dibandingkan mahasiswa yang lainnya, banyak mahasiswa yang sungkan kepadanya. Bahkan para mahasiswa itu memanggil Aksara dengan sebutan Kakak atau Bang, tetapi bagaimana lagi usia Aksara memang bukan usia anak kuliahan lagi.
“Sengaja ya?” ucap Arsyilla setengah berbisik saat dirinya harus kembali duduk satu bangku dengan suaminya itu.
Aksara hanya tersenyum, dan kemudian membawa tas ranselnya itu dalam pangkuannya. “Destiny,” jawabnya.
Arsyilla hanya membola matanya, bagaimana bisa seenteng itu Aksara menjawab demikian. Setidaknya mereka tetap harus saling menjaga jarak, karena adanya garis melintang di antara seorang Dosen dengan mahasiswanya.
__ADS_1