
Keesokan harinya, menjelang jam 10.00, Aksara mengunjungi Kantor Kepolisian terlebih dahulu. Pria itu berniat untuk melihat Tiara dan Bagas, sekaligus membuat laporan bahwa Aksara tidak akan menempuh jalan damai. Justru sebaliknya, Aksara akan menuntut untuk semua tindakan yang dilakukan Tiara dan Bagas kepada istrinya.
Di sebuah Rumah Tahanan, Aksara dengan didampingi oleh pengacaranya datang melihat Tiara dan Bagas. Terlihat Tiara dan Bagas yang mengenakan pakaian tahanan. Aksara menatap tajam kepada keduanya.
“Gimana enak mendekam di sini?” tanya Aksara dengan suaranya yang menunjukkan sama sekali tidak bersahabat kepada mereka berdua.
Terlihat Bagas yang menyeringai dan menatap tajam ke arah Aksara, “Lihat saja. Keluar dari sini, aku akan membuat perhitungan denganmu,” sahut Bagas.
Aksara pun menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya. “Lakukan saja jika berani. Lagipula, kariermu di fakultas akan segera berakhir. Bahkan aku akan membuat kamu tidak diterima di fakultas mana pun,” ancam Aksara kali ini kepada Bagas.
Kali ini Aksara tidak hanya membual. Akan tetapi, Aksara akan membuktikan bahwa Bagas tidak akan diterima di fakultas mana pun. Tidak akan membiarkan pria berakhlak rendahan seperti Bagas menjadi pengajar dan merusak mahasiswa yang dia ajar selama ini.
Lantas Aksara melirik ke arah Tiara yang sedari tadi terlihat menundukkan kepalanya, “Dan buat kamu … aku akan membatalkan semua projek yang berkaitan denganmu. Hukuman di penjara juga tidak akan sebentar. Nikmati pembalasanku kepada kalian berdua,” ucap Aksara kali ini.
Usai menemui keduanya, Aksara memilih meninggalkan rumah tahanan. Aksara kemudian terlibat konsultasi dengan pengacaranya.
“Kira-kira berapa tahun kita bisa menuntutnya?” tanya Aksara kepada pengacara muda bernama Andre itu.
“Sesuai dengan tindak kejahatan yang mereka lakukan, keduanya bisa kenakan pasal berlapis yaitu pasal 285 dan 351 mengenai tindakan kekerasan dan percobaan pemerkosaan. Jadi mungkin bisa menuntutnya hingga sebelas tahun penjara,” jelas Andre kepada Aksara kali ini.
Aksara mendengarkan penjelasan dari Andre dengan terlihat memikirkan sesuatu, “Baiklah … tuntut keduanya dengan pasal berlapis. Jebloskan keduanya ke penjara,” sahut Aksara kali ini.
Seakan Aksara tidak akan memberikan celah kepada Tiara dan Bagas untuk mendapatkan hukuman ringan. Lagipula keduanya telah berani mengusik istrinya. Untuk itu, Aksara tidak akan tinggal diam. Pasal berlapis dan tuntutan tertinggi akan Aksara lakukan untuk memberikan hukuman kepada Tiara dan Bagas.
Kali ini Aksara tidak akan main-main. Caranya membalas perlakuan Tiara dan Bagas adalah dengan menjebloskan keduanya ke dalam jeruji besi. Meratapi tahun-tahun kelam di dalam hotel prodeo. Lagipula Aksara merasa bahwa langkahnya kali ini sudah tepat.
“Baiklah Pak Aksara … hanya saja itu hanya sebatas tuntutan. Sebab hukuman yang sesungguhnya akan dijatuhkan oleh hakim,” jelas Andre.
__ADS_1
“Tidak masalah. Yang penting tuntut keduanya terlebih dahulu, dan ingin saya tidak menerima jalur damai. Keduanya harus mendapatkan hukuman seberat-beratnya,” balas Aksara kali ini.
Usai melakukan konsultasi hukum dengan Andre, Aksara memilih untuk kembali ke unit apartemennya. Bagaimana pun Arsyilla masih membutuhkan dirinya, untuk itu Aksara dengan cepat melajukan mobilnya dan menuju ke apartemen miliknya.
“Honey, baru ngapain?” tanya Aksara begitu memasuki unitnya.
Terlihat Arsyilla yang duduk di balkon dengan membawa sebuah buku di tangannya. Wanita itu menoleh ke arah suaminya yang baru saja memasuki unit apartemen mereka.
“Baru baca buku saja Kak … gimana sudah?” tanya Arsyilla.
“Iya sudah … kamu tenang saja yah. Hanya saja kalau hadir di persidangan dan memberikan kesaksian, kamu tidak keberatan kan?” tanya Aksara kali ini kepada istrinya.
Terlihat anggukan kepala dari Arsyilla, “Iya … aku akan memberikan kesaksian. Kuharap ini adalah kali terakhir aku berhubungan dengan hukum ya Kak,” balas Arsyilla.
Itu adalah pengakuan Arsyilla. Agaknya Arsyilla tidak ingin bersinggungan dengan hukum lagi. Dirinya ingin hidup nyaman dan damai sejahtera tanpa terlibat dengan persoalan hukum yang pelik. Cukup dulu dirinya menghadiri persidangan yang melibatkan dirinya dan Ravendra.
“Iya,” sahut Aksara dengan singkat.
Baru saja mereka berbicara, rupanya terdengar panggilan telepon dari handphone Aksara. Terlihat nama Bunda Kanaya di layar handphonenya. Aksara pun segera menggeser ikon telepon berwarna hijau di handphonenya.
“Ya, halo Bunda,” sapanya begitu panggilan itu tersambung.
“Halo Aksara … kamu di mana sekarang?” tanya Bunda Kanaya.
“Di apartemen Bunda … tadi Aksara baru saja dari Rutan,” balasnya.
“Oh … ya sudah. Bunda sudah membatalkan kerja sama dengan perusahaan milik Tiara. Sebagai gantinya kita akan melanjutkan kerja sama dengan mitra kita Agastya Property. Jadi, gimana kamu kapan bisa membuatkan rancangan desain untuk projek bersama Pak Belva dari Agastya Property,” ucap Bunda Kanaya kali ini.
__ADS_1
Sebelum menjawab rupanya Aksara melirik sekilas ke Arsyilla yang sedang duduk di hadapannya. Terlihat Arsyilla yang menganggukkan kepalanya sebagai sebuah isyarat bahwa Arsyilla tidak menghalang-halangi suaminya itu bekerja.
“Harus bekerja,” ucap Aksara. Hanya mulutnya yang bergerak, tetapi sama sekali tidak bersuara.
“Tidak apa-apa,” sahut Arsyilla.
“Baik Bunda … besok Aksara akan ke perusahaan,” jawabnya.
Di seberang sana Bunda Kanaya menganggukkan kepalanya, “Baiklah … besok temui Bunda di kantor yah. Kalau Arsyilla masih takut berada di apartemen sendiri, ajak saja ke kantor. Nanti biar Arsyilla main-main di ruangan Bunda,” ucap Bunda Kanaya.
“Gampang Bunda … cuma besok Aksara pulang agak cepat saja Bunda, soalnya harus ke Rumah Sakit untuk cek kehamilan Syilla,” balasnya.
“Oke deh. Pagi ke kantor dulu ya Mas Aksara. Bunda tunggu. Salam untuk menantu Bunda yah. Semoga segera sehat dan sembuh. Bunda dan Ayah selalu mendoakan untuk Syilla,” balas Bunda Kanaya.
Setelahnya panggilan telepon itu diakhiri. Aksara kemudian mengambil tempat duduk di sisi istrinya itu.
“Besok aku harus ke kantor dulu. Tidak apa-apa kan?” tanya Aksara kali ini kepada Arsyilla.
“Iya … tidak apa-apa,” balas Arsyilla.
“Yakin?” tanya Aksara lagi mencoba memastikan.
Terlihat Arsyilla yang menganggukkan kepalanya, “Iya … lagipula. Aku cuma di apartemen saja kok Kak … tenang saja. Aku pasti akan aman,” sahutnya.
“Baiklah … cuma kalau ingin kemana-mana tunggu aku pulang saja yah. Sebab, aku tidak akan membiarkanmu kemana-mana sendirian,” balas Aksara.
Ya, kali ini Aksara tidak akan membiarkan Arsyilla untuk bepergian seorang diri. Lebih baik, Aksara pulang lebih cepat dan mengantar istrinya itu daripada hal buruk kembali terjadi kepada Arsyilla. Sebab, jika sesuatu yang buruk terjadi kepada Arsyilla maka Aksara tidak akan memaafkan dirinya sendiri lagi kali ini. Sudah cukup istrinya diperlakukan dengan buruk mendapatkan tindakan kekerasan dan pelecehan seksual. Aksara tidak akan membiarkan Arsyilla bepergian seorang diri yang mengakibatkan keselamatannya terancam.
__ADS_1