
Menjelang sore, barulah Mama Khaira, Papa Radit, Bunda Kanaya, dan Ayah Bisma berpamitan untuk pulang. Sekaligus memberi waktu Arsyilla untuk beristirahat. Kini, Arsyilla sudah menempati kamar yang berada di lantai satu dan menyuapi suaminya itu untuk makan.
“Yuk Kak … makan dulu, aku suapin,” ucap Arsyilla yang sudah siap dengan piring yang terisi dengan nasi dan lauk.
“Aku jadi ngerepotin ya Sayang?” tanya Aksara kepada istrinya itu.
“Enggaklah Kak … mana ada ngerepotin. Aku suka kok ngurus kamu kayak gini,” balas Arsyilla.
Dalam hal seperti ini, Arsyilla memang tidak merasa direpotkan. Ini adalah bentuk baktinya kepada suaminya, justru Arsyilla senang bisa mengurus Aksara tanpa harus bolak-balik ke Rumah Sakit.
“Piringnya taruh di atas paha aku aja Honey … aku bisa makan sendiri. Kan tanganku enggak sakit. Kakiku yang sakit, untuk makan tanganku masih bisa kok,” balas Aksara.
Arsyilla justru menggelengkan kepalanya, “Kali ini aku suapin aja ya Kak … kali ini saja. Besok janji boleh makan sendiri,” jawabnya.
Aksara pun akhirnya menganggukkan kepalanya dan mulai membuka mulutnya menerima suapan dari Arsyilla. Pria itu merasa terharu karena Arsyilla mau merawatnya dan tidak mengeluh sama sekali. Di saat Aksara merasa bahwa dirinya merepotkan banyak orang, tetapi Arsyilla berkali-kali mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak keberatan.
“Makan yang banyak ya Kak … sehabis ini minum obat,” ucap Arsyilla yang masih menyuapi suaminya itu.
Aksara tersenyum sembari mengunyah makanannya, “Iya Honey … kamu justru kayak perawat pribadi aku,” jawab Aksara.
“Iya, aku akan merawatmu, Kak … jangan khawatir. 24 jam selama kamu butuh, aku siap menolong dan membantu kamu,” jawab Arsyilla sembari terkekeh geli.
“Makasih Honey … kamu tulus banget. Maaf ya jadi banyak merepotkan,” balasnya lagi.
Setelah menyuapi sampai makanan di piring tandas, Arsyilla memberikan air putih kepada Aksara, dan selang sepuluh menit, Arsyilla memberikan obat yang masih harus dikonsumsi Aksara.
“Sekarang minum obatnya ya Kak … aku baca ini obatnya hanya Vitamin D dan Kalsium sih Kak, jadi murni untuk pemulihan tulang kamu,” jelasnya kepada suaminya.
__ADS_1
“Kamu lihat yah obatnya?” tanya Aksara.
“Lihat, tadi aku coba cari di mesin pencarian, terus ketemu sih ini obat apa saja. Nanti kalau cek up, aku temenin juga Kak,” balas Arsyilla.
“Lalu, Ara gimana?” tanyanya.
Sebab, Aksara juga tidak ingin jika Arsyilla fokus kepadanya sampai tidak mengasuh Ara. Menurut Aksara, bagaimana pun Ara harus didahulukan. Tidak masalah jika Aksara harus ke Rumah Sakit sendiri.
“Tenang aja Ayah … kita kan punya bala bantuan. Ada Mama Khaira yang siap membantu kok. Kan nitip waktu menemani kamu ke Rumah Sakit enggak apa-apa,” balas Arsyilla.
“Yang penting Ara keurus ya Honey … jangan mengorbankan Ara untuk aku. Sungguh, aku tidak apa-apa. Prioritaskan Ara dulu,” balasnya.
Sebagai seorang Ayah, memang Aksara menginginkan bahwa Arsyilla bisa mengurus babynya terlebih dahulu. Aksara tidak masalah jika Arsyilla lebih memprioritas Ara dibandingkan dirinya.
“Tenang Ayah … baik kamu dan Ara sama-sama pentingnya buat aku. Jadi, percaya saja, aku bisa menghandle semuanya. Kamu juga tidak usah berpikiran macam-macam. Yang penting kamu sembuh dulu,” balas Arsyilla.
Usai mengobrol sejenak dengan suaminya, kini Arsyilla yang menimang Arsyilla dan memberikan ASI untuk bayinya itu. Untung saja Ara juga bisa diajak bekerja sama, bahkan bayi kecil itu juga jarang menangis. Seolah-olah Ara tahu bahwa Bundanya harus berbagi dan merawat dua orang di rumah.
“Sini, biar aku timang Ara sambil duduk, Honey,” ucap Aksara.
Walau sambil duduk, tangannya masih bisa berguna untuk menimang Ara. Sehingga kali ini Aksara menawarkan diri untuk menimang putrinya itu.
“Boleh … tapi enggak sakit kan Ayah?” tanya Arsyilla lagi.
“Tidak, aku bisa kok,” sahut Aksara.
Kemudian Arsyilla memberikan Ara dalam tangan suaminya, Aksara begitu terharu, setelah sekian hari berlalu kali ini dia bisa menggendong Ara lagi dengan tangannya. Sementara Arsyilla duduk di samping suaminya itu.
__ADS_1
“Ara … putrinya Ayah,” ucap Aksara. Terdengar suara pria itu bergetar.
Begitu haru setelah hari-hari berlalu, dan Aksara hanya menghabiskan waktu di Rumah Sakit mulai untuk operasi, perawatan, dan pemulihan. Kini setelah beberapa hari, Aksara bisa menimang putri kecilnya lagi.
“Ayah kangen kamu, Ara … cantiknya putrinya Ayah ini,” ucapnya lagi.
Rupanya Ara kecil pun seolah juga rindu dengan Ayahnya. Bayi kecil membuka mulutnya dan mengucapkan suara-suara khas bayi atau yang biasa disebut babbling, seolah-olah Ara tengah mengajak Ayahnya itu berbicara.
“Tuh, Ara kelihatannya juga kangen sama Ayah,” balas Arsyilla.
“Iya ya … Ara kangen Ayah? Sama, Ayah juga kangen kok sama Ara … doain Ayah cepat sembuh yah. Nanti kalau Ayah sudah sembuh, Ayah ajak jalan-jalan di taman yah,” ucapnya.
Ya, keinginan Aksara begitu dia sudah sembuh dan bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat lagi nanti, dia ingin mengajak Ara berjalan-jalan di taman yang berada di serambi rumahnya. Menikmati udara segar, melihat aneka bunga dalam media pot, sembari menggendong Ara. Impian yang sederhana, tetapi Aksara harus menunggu lama untuk mewujudkan impiannya itu.
“Iya Ayah … penting Ayah sehat dulu yah. Ara sayang Ayah,” balas Arsyilla dengan menirukan suara anak-anak.
Perlahan Aksara pun tersenyum, bisa menimang Ara, dan ada Arsyilla di sampingnya memberikan suntikan kekuatan untuknya. Aksara harus segera pulih untuk bisa melakukan hal-hal seru dan menyenangkan bersama Arsyilla dan Ara.
“Makasih sudah merawat, mendukung, dan menguatkan aku ya, Honey,” ucap Aksara kali ini.
Sementara Arsyilla pun merespons dengan memberikan anggukan kecil dan menghela nafasnya, sembari menatap suaminya itu.
“Sudah pasti, aku akan melakukan semua itu. Kita saling menguatkan ya Kak … kalau aku jatuh nanti, tolong aku juga. Kuatkan aku. Inilah keluarga Kak … kita bisa saling menguatkan satu sama lain. Kita bisa menciptakan harmonisasi dalam keluarga ini. Jadi, jangan merasa lemah dan terpuruk. Aku akan siap mendengarkan semua ceritamu. Tanganku siap membantumu, kakipun siap untuk membantumu berjalan,” ucap Arsyilla dengan sungguh-sungguh.
Ucapan yang sungguh-sungguh dari Arsyilla benar-benar membuat Aksara merasa lebih baik. Aksara yakin bahwa Arsyilla tulus dengannya. Nanti, saat dirinya sembuh, Aksara akan memberikan kejutan untuk istrinya itu.
“Padahal kamu sakit, Honey … masih masa nifas, tetapi kamu udah harus merawat aku,” ucap Aksara.
__ADS_1
“Tidak apa-apa Kak … tenang saja, aku tidak keberatan sama sekali. I can do it anything, because i love you,” ucap Arsyilla.
Ya, karena cintalah Arsyilla bisa melakukan semuanya itu. Cinta yang dia miliki yang membuatnya bisa melakukan apa pun dan menguatkan suaminya itu. Cinta bisa menguatkan orang yang rapuh dan remuk hatinya. Cinta bisa merawat luka. Dengan keyakinan itulah, Arsyilla bisa melakukan segala sesuatu karena cintanya untuk suaminya.