Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Merindukan Mama dan Papa


__ADS_3

Setelah perut terasa kenyang dan rasa rindu dengan Nasi Goreng buatan Papa Radit sudah terobati, rasanya Arsyilla menjadi rindu dengan orang tuanya. Sembari meminum Yogurt Stroberi dingin buatan suaminya, Arsyilla pun meminta izin kepada Aksara untuk menelpon Mama dan Papanya.


“Kak, aku mau telepon Mama dulu sebentar boleh?” tanya Arsyilla kali ini kepada suaminya itu.


“Tentu boleh dong, Honey. Lagipula, suamimu ini kan juga tidak melarang-larang kamu,” sahut Aksara.


Pada kenyataannya memang Aksara tidak pernah mengekang atau melarang-larang Arsyilla. Dirinya bukan tipe suami posesif. Lagipula, jika hanya sebatas menelpon, Aksara sama sekali tidak keberatan.


Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, dan kemudian mengambil handphone. Segera dia mencari nama kontak Mama Khaira dan menekan ikon telepon dengan cepat.


Mama Khaira


Berdering


“Halo Mama,” sapa Arsyilla begitu panggilan seluler dengan Mamanya itu tersambung.


“Ya, halo Syilla. Gimana kamu sehat?” sahut Mama Khaira begitu mendengarkan suara putrinya melalui sambungan telepon itu.


“Alhamdulillah, sehat, Ma … Mama dan Papa juga sehat kan?” tanya Arsyilla kali ini.


“Alhamdulillah … Mama dan Papa juga sehat. Kenapa Syilla?” respons Mama Khaira saat ini.


Terdengar kekehan geli dari mulut Arsyilla di panggilan telepon itu. “Tidak Ma … hanya saja Syilla kangen sama Mama dan Papa,” akunya kali ini.


Perasaan rindu kepada Mama dan Papanya itu memang murni kangen, atau memang hormon kehamilan yang membuat Arsyilla merasa begitu rindu dengan Mama dan Papanya. Kali ini pun, Arsyilla mengakui bahwa dirinya begitu kangen dengan Mama dan Papanya.


“Apa perlu Papa dan Mama ke apartemenmu?” jawab Mama Khaira saat ini.

__ADS_1


Dengan cepat Arsyilla pun menganggukkan kepalanya dengan antusias, “Boleh, boleh Ma … Syilla dan Kak Aksara tidak keberatan kok kalau Mama dan Papa ingin main ke mari,” jawab Arsyilla.


“Ya sudah … nanti sore Papa dan Mama akan main ke tempatmu yah. Mau dimasakin Mama apa? Biar sekarang Mama masakkan terlebih dahulu dan nanti Mama bawa ke sana,” balas Mama Khaira.


Mendengarkan ucapan Mamanya, tentu saja membuat Arsyilla begitu bahagia. Kapan lagi bisa merasakan masakan Mamanya yang begitu lezat itu. Lagipula, mungkin dirinya tengah ngidam dan ingin menyantap masakan yang terbiasa dia makan saat di rumah Mama dan Papanya sebelum menikah dulu.


“Pepes Ikan Mas dong Ma … kok kayaknya Syilla pengen banget ya Ma,” jawab Arsyilla dengan jujur.


Mendengarkan request dari putrinya itu, Mama Khaira pun terkekeh geli. “Ya sudah, nanti Mama masakin. Sapa tahu cucu Mama yang pengen tuh,” balas Mama Khaira.


“Yes! Makasih Ma … makasih sudah mau masakin permintaan Syilla,” jawab Arsyilla kali ini.


Setelah beberapa saat Arsyilla menelpon Mamanya, kemudian Arsyilla menaruh kembali handphonenya ke atas meja. Wanita itu terlihat tersenyum cerah. Agaknya akan dikunjungi orang tuanya membuat Arsyilla begitu bahagia.


“Jadi, Mama dan Papa mau ke mari?” tanya Aksara.


Tampak Aksara mengulurkan tangannya dan mengusapi puncak kepala istrinya itu, “Tentu boleh dong, Honey. Ya sudah, sekarang kamu istirahat siang dulu. Satu atau dua jam buat istirahat dulu, setelah bangun mandi dulu. Nanti biar segera waktu Mama dan Papa datang,” nasihat Aksara kepada istrinya itu.


***


Sore harinya ….


Hampir jam 16.00, Arsyilla sudah bangun dan sudah mandi. Wanita yang tengah hamil muda terlihat lebih segar kali ini. Rasanya Arsyilla tidak sabar untuk segera bertemu dengan Mama dan Papanya. Untunglah, tidak berselang lama terdengar bel berbunyi di pintu unit apartemen mereka.


“Mama … Papa,” sapa Arsyilla dengan girang begitu membuka pintu dan melihat wajah orang tuanya.


Layaknya seorang anak kecil, Arsyilla pun berhambur untuk memeluk Mama dan Papanya bergantian. Rasanya benar-benar rindu dengan sosok Mama Khaira dan Papa Radit.

__ADS_1


“Sehat kan putri Mama dan Papa ini?” tanya Mama Khaira dengan lembut.


“Sehat Ma … hanya saja mendadak Syilla kangen banget sama Mama dan Papa,” balasnya.


Aksara yang baru selesai mandi pun, keluar dari kamarnya dan menyapa mertuanya itu. “Selamat datang Mama dan Papa,” sapanya sembari mencium tangan Mama dan Papa mertuanya.


“Gimana bikin nasi gorengnya sukses enggak?” tanya Papa Radit kepada menantunya itu.


Terlihat Aksara terkekeh sembari menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, “Berhasil Pa … katanya sih citarasanya mirip Nasi Goreng buatan Papa,” jawab Aksara.


Papa Radit pun tertawa dan menepuki bahu menantunya itu, “Rupanya Arsyilla hamil seperti Mamanya dulu. Dulu Mama itu waktu hamil Khaira pengennya dibuatin Nasi Goreng sama Papa. Untung saja Papa cinta, jadi Mama minta apa saja sudah pasti Papa buatkan,” balas Papa Radit kali ini.


“Benarkah Pa? Mama waktu hamil Syilla suka Nasi Goreng buatan Papa yah, selain itu Mama ngidam apalagi Pa?” tanya Aksara kali ini kepada Papanya itu.


“Ngidamnya Mama kamu tidak banyak kok, Aksara … cuma Nasi Goreng, beli Kerak Telor sampai ke Kota Tua naik sepeda motor, terus juga sukanya nempelin Papa saja,” cerita Papa Radit kali ini kepada Aksara.


Seakan, Papa Radit bernostalgia dengan kenangan masa lalu. Kenangan manis saat istrinya hamil Arsyilla puluhan tahun yang lalu. Tentu saja semua kenangan itu masih diingat Papa Radit. Sebab, semua hari yang dijalani Papa Radit bersama Mama Khaira selalu istimewa, sehingga banyak memori yang tersimpan di dalam otak dan hati Papa Radit.


“Wah, Pa … kok sama sih. Syilla juga pengen tuh Nasi Goreng dan suka nempelin Aksara. Cium-cium parfum di badan Aksara. Biasanya istri akan merasa mual mencium parfum suaminya, bahkan ada wanita hamil yang meminta suaminya berganti parfum. Namun, Arsyilla kebalikannya. Dia sukanya nempelin Aksara,” cerita Aksara kali ini kepada Papanya.


Tawa keluarga itu pun pecah. Tampak Papa Radit tertawa melirik ke arah putrinya itu. Perlahan, Papa Radit pun merangkul bahu putrinya itu.


“Oh, jadi anak Papa ini ngidamnya ngikutin Mama yah … apa pun itu, Papa selalu berdoa di dalam sujudnya Papa semoga kamu sehat dan bahagia. Janin di dalam rahim kamu juga tumbuh sehat, lengkap, dan sempurna. Mama dan Papa sudah tidak sabar ingin dipanggil Eyang,” balas Papa Radit.


Perlahan Arsyilla pun tersenyum. Wanita hamil yang memang begitu dekat dengan Papanya itu perlahan menyandarkan kepalanya ke bahu Papanya. “Makasih banyak untuk doa-doanya, Pa. Syilla yakin dalam sujudnya Mama dan Papa, ada nama Syilla yang disebutkan Mama dan Papa. Syilla sayang Papa,” balas Arsyilla kali ini.


Benarlah kata pepatah bahwa semua Ayah adalah cinta pertama bagi putrinya. Sama seperti Arsyilla yang begitu menyayangi Papanya. Mendengarkan cerita dan ungkapan sayang dari Papanya membuat Arsyilla begitu senang. Ya, Arsyilla sangat bersyukur memiliki Mama Khaira dan Papa Radit sebagai orang tuanya. Sama seperti rasa syukurnya memiliki Aksara sebagai pendamping hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2