Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Kembali ke Jakarta


__ADS_3

Setelah seminggu melakukan bulan madu di Lombok, hari ini keduanya akan kembali ke Jakarta. Memilih kembali saat hari Sabtu, sehingga masih ada jeda satu hari sebelum Arsyilla memulai mengajar di hari Senin nanti. Tidak lupa keduanya membeli oleh-oleh untuk kedua orang tuanya, sebagai tanda mata dan bentuk terima kasih.


Kini di dalam bandara, Arsyilla dan Aksara sedang berada di dalam ruang tunggu, menunggu waktu bagi para penumpang akan memasuki pesawat.


“Sudah selesai liburannya ya Kak,” ucap Arsyilla kali ini.


Aksara pun mengangguk, “Iya … seminggu kurang ya Sayang,” balasnya.


“Iya, sebulan gitu bisa enggak ya Kak?” tanya Arsyilla.


Nyatanya Aksara justru tertawa, “Bisa sih. Kamu ambil cuti besar saja. Bisa kan Dosen mengambil cuti besar, nanti kita membuat Second Honeymoon. Gimana?” tanyanya kini.


Dengan cepat Arsyilla pun menggelengkan kepalanya, “Mana bisa mau cuti besar kan tidak punya alasan dan kepentingan yang mendesak. Kalau melahirkan nanti dapat cuti besar selama tiga bulan, tetapi kan tetap mengasuh baby di rumah,” jawab Arsyilla.


Pria itu lantas menatap wajah Arsyilla, “Kamu mau cepet-cepet punya momongan Sayang?” tanyanya.


Nyatanya Arsyilla justru mengedikkan bahunya, “Aku enggak tahu sih Kak … kalau kamu gimana?” tanya Arsyilla kini kepada suaminya itu.


“Tahan satu tahun dulu gimana Sayang? Sampai aku wisuda,” ucapnya kali ini.


“Alasannya?” Arsyilla meminta kepada Aksara untuk memberinya sebuah alasan.


“Ya aku masih harus kuliah dan bekerja, katamu aku harus lulus dalam 2 semester ini. Jadi boleh enggak, aku fokus ke kuliah dan fokus sama kamu dulu?” tanyanya kali ini.


Arsyilla lantas menatap wajah suaminya, “Ya sudah, tidak apa-apa … kalau kamu kuliah, bekerja, dan mengasuh baby nanti kelihatannya juga akan capek banget,” sahut Arsyilla.

__ADS_1


Tiba-tiba saja wanita itu kemudian tersenyum, “Aku jadi teringat dengan cerita Mama dulu,” ucapnya kini.


Aksara pun menoleh dan menatap Arsyilla, “Mama Khaira kenapa memangnya Sayang?”


“Dulu kan Mama kuliah S2 di Manchester, terus Papa kan nyusulin Mama ke sana. Nah, mereka memutuskan untuk menunda sebentar memiliki momongan, sampai Mama selesai kuliah, wisuda, dan kembali ke Indonesia,” cerita Arsyilla kini.


Aksara pun mengangguk, “Aku sama kayak Mama berarti ya Sayang? Maaf ya, hanya saja aku perlu selesaikan satu-satu, memiliki buah hati kan membutuhkan persiapan juga. Aku sudah siap secara finansial, cuma di waktu aku masih sibuk banget,” jawabnya.


“Iya, enggak apa-apa. Berarti mulai sekarang, kamu beli pengaman ya Kak,” pinta Arsyilla kini. Wanita itu berbisik lirih di telinga suaminya.


Mendengar permintaan Arsyilla, Aksara pun menatap horor wajah istrinya dan menggelengkan kepalanya, “Ya ampun … kamu jahat banget sih Sayang. Kamu saja yang diamankan, mau?” tanyanya.


Arsyilla justru tertawa, seru saja menggodai suaminya sekarang ini. Wanita itu lantas mengetikkan sebuah kalimat dengan handphonenya dan memberikannya kepada Aksara, “Sekarang zaman emansipasi wanita, Kak … melakukan KB bukan hanya untuk wanita, tetapi juga untuk laki-laki. Jadi, Kakak yang KB yah. Oke? Makasih Hubby,” tulisnya.


Baru saja, Aksara ingin membalas, rupanya ada Tiara yang ternyata juga di Bandara itu dan segera menyapa Aksara.


Melihat Tiara yang kembali menyapa suaminya, tawa di wajah Arsyilla pun seketika hilang. Wanita itu memilih diam dan berkutat dengan handphonenya. Hingga terdengar suara bahwa penumpang dengan pesawat udara dari Lombok menuju ke Jakarta dipersilakan memasuki pesawat.


Tanpa menunggu Aksara, Arsyilla memilih mengenakan sling bag miliknya dan segera berjalan mendahului Aksara, memasuki pesawat lebih dahulu. Rasanya, dia tidak suka Tiara yang terlihat begitu excited tiap kali bertemu dengan suaminya. Yang bisa dia lakukan tidak ingin melihat suaminya dan Tiara itu.


Bukan sikap yang kekanak-kanakan, tetapi gesture dan raut wajah Tiara memperlihatkan bahwa wanita itu menaruh rasa suka pada Aksara.


Merasa bahwa Arsyilla berjalan terlebih dahulu, pria itu segera berbicara dengan Tiara.


“Sorry Tiara, terkait pekerjaan bisa kita lanjutkan di lain waktu. Aku duluan ya,” ucap Aksara.

__ADS_1


Setelahnya pria itu berjalan dan mempercepat langkah kakinya untuk mengejar Arsyilla yang sudah berjalan lebih dahulu di hadapannya. Pria itu segera menautkan jarinya di tangan Arsyilla dan menggenggam tangan wanitanya itu.


“Cemburu lagi?” tanyanya.


“Enggak,” sahut Arsyilla dengan cepat.


“Apa pun itu, agaknya aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang ini. Yuk, kita jalan barengan. Jangan ngambek,” ucap Aksara kemudian.


Keduanya lantas memasuki pesawat, Arsyilla memilih duduk di dekat jendela. Wanita itu memilih memakai kacamata hitam miliknya. Dengan niat supaya mengalihkan matanya untuk tidak melihat Tiara jika wanita itu pada akhirnya satu penerbangan dengannya.


Ternyata benar, Tiara satu penerbangan dengan mereka. Lagi-lagi wanita itu menyapa Aksara, “Kan ketemu lagi sama Kak Aksara … mungkin kita memang jodoh,” ucap wanita itu dengan penuh percaya diri.


Sementara Aksara sendiri tidak menanggapi, dan Arsyilla sudah memalingkan wajahnya dan enggan untuk melihat wanita bernama Tiara itu. Terasa lebih menyebalkan, ternyata Tiara pun tepat di belakang Aksara. Pesawat udara dengan jumlah kursi sedemikian banyak, bagaimana bisa wanita itu mendapatkan tempat duduk di belakang Aksara.


Bahkan beberapa kali Tiara menepuk bahu Aksara dan mengajak pria itu untuk mengobrol. Rasanya benar-benar menyebalkan bagi Arsyilla. Sekali pun itu adalah obrolan tentang pekerjaan dan desain rancang bangun nanti, tetap saja Arsyilla merasa bad mood. Hingga akhirnya, dalam penerbangan itu Arsyilla benar-benar memilih tidur dan berharap dirinya akan bangun saat di Jakarta nanti. Tanpa harus mendengarkan pembicaraan Tiara dengan suaminya itu.


Perjalanan udara kurang lebih dua jam pun dilewati. Kini, terlihat bagaimana pemandangan udara di Jakarta, lautan di pesisir pulau Jakarta yang sudah terlihat. Aksara lantas dengan perlahan membangunkan Arsyilla. Pria itu menelisipkan rambut Arsyilla ke belakang telinga dan menepuk bahu istrinya itu.


“Sayang … ayo bangun dulu. Pesawat sudah mau landing,” ucapnya perlahan.


Merasa namanya dipanggil dan dibangunkan perlahan Arsyilla mengerjap. Tanpa melepas kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, Arsyilla pun membuka mata dan menegapkan duduknya. Yang pertama dia lihat sekarang adalah handphonenya, rupanya memang mendekati dua jam pesawat mengudara dari Lombok menuju Jakarta.


Hingga akhirnya, pesawat kian mengurangi ketinggiannya di udara. Berputar dan menukik, beberapa kali ini Pilot membuat pesawat seolah berputar untuk mengurangi ketinggian di udara. Hingga perlahan, roda-roda pesawat melaju dengan begitu cepat di jalan. Mereka telah tiba kembali di Bandara Udara Internasional Soekarno - Hatta.


Begitu pintu pesawat dibuka, Arsyilla memilih untuk turun paling akhir saja. Sebab, beberapa penumpang memilih untuk segera turun. Sayangnya, Tiara juga tidak bergerak. Wanita itu seolah masih menunggu Aksara. Rupanya benar, saat Aksara mulai berdiri dan hendak menuruni pesawat, Tiara pun turut berdiri. Wanita itu menyerobot Arsyilla dan berjalan di belakang Aksara.

__ADS_1


Arsyilla hanya diam, tetapi wanita itu menghela nafasnya. Awal perjalanan bulan madu yang indah dan romantis sangat disayangkan sejak kehadiran wanita itu. Terlihat jelas bagaimana wanita itu yang selalu excited saat bersama Aksara dan juga kini sikapnya yang menyerobot dan ingin berjalan dekat dengan Aksara benar-benar membuat Arsyilla begitu sebal.


__ADS_2