Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Field Trip Menuju Jogjakarta


__ADS_3

Satu minggu pun telah berlalu, pagi-pagi benar Arsyilla dan para mahasiswa dan beberapa dosen mata kuliah mengikuti Field Trip ke Jogjakarta. Pagi ini, mereka semuanya yang kurang lebih terdiri dari 40 mahasiswa dan 4 Dosen, dan 6 staf fakultas mengikuti Field Trip menuju kota Jogjakarta.


Ya, Kota Jogjakarta dipilih menjadi kota tujuan pertama oleh pihak kampus karena banyak bangunan yang bisa dieksplor oleh para mahasiswa. Kurang lebih jam 06.30, rombongan yang berjumlah 50 orang itu sudah berada di Stasiun Gambir. Kemudian staf dari pihak fakultas meminta para mahasiswa untuk mengisi daftar hadir terlebih dahulu. Kemudian Arsyilla menilik pada tiket miliknya yang sekarang hadir dalam fitur digital.


“Gerbong 7, tempat duduk 8A. Kira-kira aku duduk dengan siapa nanti?” gumam Arsyilla dalam hatinya.


Hingga akhirnya kurang lebih jam 07.30, para penumpang bisa memasuki Kereta Api Eksekutif tersebut. Mereka akan menempuh jarak kurang lebih 7,5 hingga 8 jam untuk sampai di Kota Jogjakarta.


Memasuki gerbong, Arsyilla mengernyitkan keningnya karena para mahasiswanya sebagian besar justru mendapat tempat duduk di gerbong 6. Beberapa dosen dan staf kampus justru mendapat tempat duduk di gerbong 8. Wanita itu serasa terdampar sendirian di gerbong nomor 7 itu. Arsyilla memilih duduk di dekat jendela, perjalanan pagi menuju Jogjakarta dengan menaiki Kereta Api pasti akan menyenangkan dan banyak pemandangan yang bisa dia lihat.


Merasa bahwa mungkin Arsyilla akan duduk sendirian, Arsyilla memilih mengambil handphonenya, melihat grup kelas dan melihat bahwa semua mahasiswa sudah mendapatkan tempat duduk. Kemudian Arsyilla teringat dengan suaminya, ya Aksara. Kira-kira mahasiswa sekaligus suaminya itu mendapatkan tempat duduk di mana. Penasaran, Arsyilla segera mengirimkan pesan untuk suaminya itu.


[To: A]


[Kamu duduk di gerbong berapa Kak?]


[Teman kursi kamu cewek atau cowok?]


Pesan itu meluncur dengan cepat ke dalam handphone milik Aksara. Akan tetapi, baru beberapa berlalu, pria yang dia kirimi pesan itu sudah terlihat di gerbong 7 dengan menyandang ransel berwarna hitam di satu bahunya. Pria itu mengangkat satu alisnya, menaruh ransel miliknya di kabin kereta, kemudian duduk dengan begitu santainya di samping Arsyilla.


Tempat duduk 8B, rupanya menjadi tempat bagi Aksara. Apakah ini adalah kebetulan? Bagaimana mungkin pria itu bisa duduk di samping Arsyilla saat ini?


“Loh Kak, kok di sini?” tanya Arsyilla dengan bingung. “Para mahasiswa semuanya dapat di gerbong 6 loh,” lanjutnya lagi.


“Aku di gerbong 7 kok,” sahut Aksara dengan enteng.

__ADS_1


“Kok bisa?” sahut Arsyilla lagi. “Mana lihat tiket kamu dulu? Jangan-jangan kamu menyusup ke sini,” ucap Arsyilla yang mengulurkan tangannya dan meminta Aksara untuk memperlihatkan tiketnya.


Aksara kemudian menunjukkan layar handphonenya, semua tiket digital dia tunjukkan kepada istrinya saat itu juga.


“Nih … mana mungkin aku menyusup ke sini. Aku penumpang resmi dan memiliki tiket,” sahutnya.


“Lalu, kenapa bisa di sini? Kalau kebetulan, itu tidak mungkin banget,” balas Arsyilla. Ya, setidaknya saat ini tidak ada kata kebetulan. Bagaimana mungkin ada peluang begitu besar untuk Aksara sehingga pria itu kini bisa duduk di sampingnya.


Aksara kemudian tertawa, “Semuanya mudah Sayang … aku beberapa hari lalu tahu waktu kamu input nama presensi di Excel kamu. Kamu input nama aku di paling akhir, dan kemudian nama kamu. So, pihak kampus membelikan tiket berdasarkan daftar yang kamu input itu,” jelas Aksara.


Arsyilla masih mencoba menghubungkan jawaban Aksara dengan daftar yang telah dia input sebelumnya. Merasa tidak yakin kemudian Arsyilla melihat data tersebut yang bisa dia lihat dengan handphonenya, matanya membelalak saat mendapati nama mereka berdua memang berada berurutan.


“So, aku bukan mengada-ada. Justru kamu sendiri yang mengaturnya,” sahut Aksara.


Perdebatan belum usai, tetapi rupanya Kereta Api itu mulai berjalan perlahan-lahan meninggalkan Stasiun Gambir, terlihat puncak Monas yang terlihat dari lintasan rel kereta api dan lalu lintas Ibukota yang sudah padat di pagi hari itu. Aksara lantas melepas jaket yang dia kenakan dan menaruhnya di sela tempat duduknya dengan Arsyilla. Tangan pria itu bergerak dan menggenggam tangan Arsyilla di sana dan menutupinya dengan jaket miliknya.


Nyatanya Aksara justru sedikit meremas tangan Arsyilla, “Tenang saja … tidak akan ketahuan,” sahut Aksara dengan cepat.


Merasa bahwa suaminya jika sudah berkeinginan tidak bisa dibantah, maka Arsyilla memilih membiarkan tangan suaminya yang menggenggam tangannya itu. Selama mereka berdua berhati-hati setidaknya akan aman.


Tidak terasa beberapa jam berlalu, 8 jam berada di dalam Kereta Api cukup membuat punggung terasa panas.


“Capek?” tanya Aksara kepada istrinya itu.


“Tidak … malahan suka. Lihat sawah-sawah,” jawab Arsyilla.

__ADS_1


Kelebihan menaiki kereta api dia pagi hari saat hari masih terang adalah membuat semua panorama terlihat dari kaca jendela kereta api. Bahkan Arsyilla juga merasa sangat senang karena bisa melihat persawahan yang warna hijau berpadu kekuningan.


Arsyilla lantas menatap sejenak wajah suaminya itu, “Pengalaman pertama naik kereta api sama kamu,” ucapnya.


Rasanya begitu menyenangkan memiliki pengalaman menaiki transportasi publik yaitu kereta api untuk kali pertama dengan suaminya. Sekalipun begitu deg-degan karena takut ketahuan, tetapi nyatanya Arsyilla merasakan bahwa dirinya suka bisa naik kereta api untuk kali pertama dengan suaminya.


“Aku juga,” balas Aksara.


Hingga kereta api yang mereka naiki, sampailah di Stasiun Tugu Jogjakarta tepat pukul 15.30. Para rombongan berkumpul di Stasiun Tugu Jogjakarta menuju mini bus hotel yang akan mereka tempati selama dua malam berada di Jogjakarta nanti.


Lantaran 50 orang termasuk jumlah yang cukup besar, pihak hotel pun menyediakan dua mini bus untuk rombongan tersebut. Kali ini Arsyilla dan Aksara tidak duduk bersama. Akan tetapi, pria itu tetap saja berotasi di sekeliling istrinya.


Sebuah hotel di area Monumen Tugu Jogjakarta dipilih pihak kampus sebagai tempat untuk bermalam selama dua hari ini bagi para rombongan. Untuk para mahasiswa kampus mengatur untuk memesan family room yang bisa ditempati 4 orang mahasiswa, sedangkan Aksara memilih memesan kamar sendiri karena mahasiswa hiatus itu beralasan perlu waktu untuk bekerja juga.


Sementara bagi para Dosen memang disetting mendapatkan kamar sendiri-sendiri. Sore hingga malam, acaranya adalah istirahat. Nanti malam barulah seluruh rombongan akan berkumpul untuk makan malam di restoran hotel.


Arsyilla memasuki kamarnya yang berada di lantai 6, dari jendela kamarnya sekarang ini Tugu Jogja terlihat dengan jelas. Hampir seharian duduk di kereta api membuatnya capek dan mengantuk, sehingga Arsyilla berpikir untuk istirahat sejenak sebelum nanti malam akan turun untuk makan malam.


Akan tetapi baru dia merebahkan dirinya di atas tempat tidur, suaminya sudah mengirimkan pesan kepadanya.


[To: Arsyilla]


[Hai My Sexy Lecturer …]


[Kamu di lantai berapa dan kamar nomor berapa, Sayang?]

__ADS_1


Sebenarnya Arsyilla membaca pesan itu, tetapi Arsyilla sedang tidak ingin membalas pesan dari suaminya itu. Punggungnya terasa capek, matanya terasa mengantuk usai perjalanan hampir 8 jam dengan menaiki kereta. Pikirnya Arsyilla memilih tidur sejenak.


__ADS_2