
Siang ini, Arsyilla kembali bersiap untuk mengajar kelas Perancanaan dan Desain Arsitektur untuk mahasiswa semester 7. Bukan hanya sekadar mengajar, tetapi sekaligus Arsyilla akan mengumumkan terkait Field Trip yang akan dilakukan oleh seluruh mahasiswa Semester 7 di kelasnya. Semua mahasiswa yang mengikuti Field Trip ini diharapkan bisa mendapatkan gambaran nyata terkait rancang bangun sebuah bangunan dan kali ini Arsyilla memikirkan untuk membawa mahasiswanya menilik bangunan bernilai bersejarah yang terletak di dua kota sekaligus.
“Selamat siang semuanya,” sapa Arsyilla kepada para mahasiswanya.
Dosen itu mengembangkan senyuman di wajahnya dan mengamati wajah para mahasiswanya yang sudah memenuhi kelas. Kemudian seakan mata Arsyilla mencari-cari satu sosok yang terbiasa menjadi penghuni bangku di deretan belakang yang tidak terlihat. Ya, Arsyilla mencari suaminya itu. Mungkinkah Aksara tidak mengikuti kelas siang itu dan membolos.
Arsyilla menghela nafasnya dan berjalan hingga menuju ke meja Dosen, betapa wanita itu terkejut saat mendapati Aksara yang sudah duduk tepat di depan meja Dosen. Tentu saja ini adalah sebuah kejutan besar. Tidak mengira bahwa mahasiswa sekaligus suaminya itu kali ini memilih duduk di barisan terdepan.
Mata Arsyilla tampak bersitatap dengan mata Aksara dan rupanya mahasiswa itu pu sedikit tersenyum dan menganggukkan kepalanya secara samar.
“Ada yang absen hari ini?” tanya Arsyilla dengan memegang presensi mahasiswa di tangannya.
“Kak Aksara belum masuk kelihatannya deh Bu, biasanya di belakang kan,” sahut Ryan, si ketua kelas.
Rupanya orang yang merasa namanya disebut pun segera mengangkat tangannya, “Aku di sini Ryan,” selanya. Memberitahukan kepada Ryan dan mahasiswa yang lain bahwa Aksara sekarang duduk di deretan terdepan.
“Loh, tumben Kak duduk di situ, biasanya di belakang,” sahut Ryan.
Beberapa mahasiswa lainnya pun cukup terkejut saat tahu bahwa Aksara duduk di deretan terdepan.
“Mataku bermasalah, supaya bisa melihat jelas pengajarannya Bu Arsyilla, aku duduk di depan,” alibinya saat itu.
Ya Tuhan, mungkin Aksara adalah salah satu mahasiswa yang begitu mudahnya mencari alibi. Padahal matanya sama sekali tidak bermasalah, tetapi pria itu dengan cepat menggunakan alasan tersebut.
Arsyilla tertawa dalam hati mendengarkan alasan suaminya itu, mungkin usai dari kampus nanti, Arsyilla akan membelikan kacamata untuk suaminya itu.
“Baiklah … semoga duduk di depan pandangannya lebih jelas yah,” ucap Arsyilla yang tentu hanya sekadar formalitas belaka.
__ADS_1
“Terima kasih Bu Arsyilla,” sahut Aksara.
Setelahnya mulainya Arsyilla menjelaskan materi ajarnya dengan menggunakan slide presentasi yang ditampilkan melalui LCD proyektor. Sebenarnya justru Arsyilla merasa lebih deg-degan sekarang ini saat sepasang mata Aksara menatapnya dengan begitu tajam. Namun, bagaimana pun juga Arsyilla harus mengakui hati dan situasi kelas di saat bersamaan. Jangan sampai, sepasang mata milik suaminya justru membuyarkan semua persiapannya dalam mengajar.
Hingga akhirnya 120 menit telah berlalu, Arsyilla sekarang hendak menyampaikan pengumuman terkait dengan Field Trip kepada para mahasiswanya.
“Sebelum kelas ini saya sudahi. Saya ingin menyampaikan terlebih dahulu kepada kalian semua bahwa minggu depan kita akan melakukan Field Trip ke dua kota sekaligus. Untuk itu, semua mahasiswa silakan dipersiapkan ya. Kita pergi selama tiga hari dan mengunjungi Kota Jogjakarta dan Surakarta, ada benang merah yang menghubungkan dua kota bersejarah di Indonesia ini dan sekaligus kita belajar rancang bangun dari bangunan yang bernilai sejarah di dua kota tersebut. Mahasiswa yang membutuhkan izin tertulis bisa menghubungi Ryan, saya akan berikan surat pemberitahuan kepada orang tua yah. Hari Kamis nanti, kita akan berangkat bersama-sama dari kampus ini dan kita akan menuju ke Jogjakarta dengan menaiki Kereta Api,” jelas Arsyilla kepada para mahasiswanya.
Seperti biasanya, mahasiswa ada yang menunjukkan raut bahagia, ada yang menunjukkan ekspresi biasa saja, dan juga yang tertawa-tawa. Dari depan kelas, Arsyilla bisa melihat seluruh ekspresi mahasiswanya itu.
“Baik Bu,” sahut para mahasiswa dengan serentak.
Setelah itu, Arsyilla mempersilakan mahasiswa untuk pulang dan bersiap untuk Field Trip minggu depan. Arsyilla pun segera membereskan mejanya dan juga bersiap pulang. Rupanya Aksara juga memilih keluar paling belakangan dari ruangan kelas itu.
“Ada yang mau dibantu?” tanyanya dengan lirih.
“Tidak … aku bisa, Kak,” sahut Arsyilla tak kalah lirih juga.
Sementara Arsyilla sendiri juga berjalan mengekori mahasiswanya itu dengan tenang dan seolah tidak menimbulkan kasak-kusuk di antara para mahasiswa dan dosen lainnya. Hingga sampai di parkiran fakultas Teknik, Arsyilla menengok ke kanan dan ke kiri terlebih dahulu. Memastikan bahwa keadaan aman, barulah wanita itu bergegas memasuki mobil Aksara.
“Ah, lega,” ucapnya sembari menyandarkan punggungnya di kursi co-driver sore itu.
“Kenapa emangnya?” tanya Aksara dengan tiba-tiba.
“Takut kepergok aja, Kak,” sahutnya.
Oleh karena masih berada di lingkungan kampus, tentu saja Arsyilla takut jika kepergok oleh orang lain. Bagaimana jika ada orang-orang yang tidak dia ketahui memata-matainya dan menyebarkan gosip yang tidak-tidak di kampus.
__ADS_1
Aksara lantas tersenyum, “Aman-aman. Kamu tenang saja,” sahut Aksara.
Arsyilla lantas mengangguk, kemudian wanita itu menyipitkan matanya menatap wajah suaminya, “Kak … please dong, jangan duduk di paling depan kayak gitu. Aku grogi,” ucap Arsyilla dengan tiba-tiba.
Konyol memang, baru kali ini seorang Dosen mengakui bahwa dirinya merasa grogi di hadapan mahasiswanya. Lagipula, bagaimana Arsyilla tidak grogi, jika setiap pergerakannya mengajar di depan kelas ditatap begitu lekatnya oleh mahasiswa sekaligus suaminya itu.
“Enggak apa-apa … aku biar makin pinter karena duduk di depan Bu Dosen ini. Memperhatikan My Sexy Lecturer ini,” jawabnya dengan mengedipkan satu matanya.
Tangan Arsyilla pun bergerak dan memukul lengan suaminya itu, “Astaga … bicaranya itu loh. Ihh, sebel deh,” sahut Arsyilla.
Keduanya pun sama-sama tertawa, mobil itu terasa berisik dengan tawa keduanya. Akan tetapi, jujur Aksara justru suka melihat senyuman istrinya yang begitu manis itu.
“Katanya aku selalu duduk di belakang. Ya sudah, mulai hari ini aku akan duduk di depan, di depan kamu,” sahutnya.
“Jangan dong Kak, aku beneran grogi loh. Serius.” Lagi-lagi Arsyilla mengatakan bahwa Aksara yang duduk di depannya justru membuatnya grogi.
“Santai saja Sayang … anggap saja aku sebagai mahasiswamu kalau di kampus. Tenang saja, aku juga paling cuma memperhatikan kamu. Lumayan kan mandangi wajah kamu yang manis dari jarak dekat selama 120 menit,” jawab Aksara dengan begitu mudahnya.
Lagi-lagi tangan Arsyilla bergerak dan memukul lengan suaminya itu. “Kalau bicara gampang banget deh, sebel deh aku jadinya,” sahutnya kini.
“Sebel tapi cinta kan?” tanya Aksara.
“Enggak, sebel. Benci,” balas Arsyilla dengan cepat.
“Iya gak apa-apa. Benci kan benar-benar cinta. Udah jangan manyun gitu, bibir kamu bikin gemes kalau kamu manyun-manyunin kayak gitu,” balas Aksara lagi.
Arsyilla pun merotasi bola matanya dengan malas. Memilih mengalihkan pandangannya ke sisi kaca jendela mobilnya. Mungkin memang Arsyilla akan berusaha tidak grogi saat mengajar kelas dengan suaminya yang duduk di barisan terdepan.
__ADS_1
“Gini amat yah punya suami mahasiswa sendiri. Satu kelas saja, bikin grogi,” ucap Arsyilla. Wanita itu menghela nafasnya yang terasa berat rasanya.
Berbeda dengan Aksara yang justru tertawa, “Nikmati saja Sayang … ngeri-ngeri sedap kan rasanya. Aku sih malahan seneng punya istri dosenku sendiri. My Lecturer My Wife. Oh, kurang … My Sexy Lecturer,” balas pria itu sembari mengacak gemas puncak kepala istrinya.