
Meninggalkan euforia kelulusan Aksara dari ujian skripsinya, nyatanya Arsyilla harus kembali disibukkan untuk mengajar dan membimbing mahasiswa untuk mengerjakan skripsinya. Hingga suatu hari, Arsyilla dipanggil oleh Komisi Disiplin Fakultas Teknik Arsitektur yang tiba-tiba saja memintanya untuk menghadap. Jujur saja, Arsyilla tampak bingung. Ada hal apa yang terjadi, hingga dirinya diminta untuk menghadap ke Komisi Disiplin.
Usai mengajar siang itu, Arsyilla pun segera menuju ke bagian Komisi Disiplin. Menemui Bapak Sutoyo yang menjabat sebagai Komisi Disiplin Fakultas Teknik Arsitektur.
“Selamat siang Pak,” sapa Arsyilla begitu memasuki ruangan Senat dan sedikit membungkukkan badannya itu.
“Ya, Bu Arsyilla … silakan duduk dulu,” sahut Pak Sutoyo.
Arsyilla pun duduk dan menunggu Pak Sutoyo, sembari menerka-nerka apa yang sebenarnya ingin dibicarakan hingga memintanya untuk menghadap.
Akhirnya Pak Sutoyo duduk juga di sofa itu dengan membawa sebuah amplop berwarna cokelat di tangannya.
“Begini Bu Arsyilla … apakah Bu Arsyilla menjalin hubungan pribadi dengan mahasiswa di sini?” tanya Pak Sutoyo.
Mendengar pertanyaan dari Pak Sutoyo, Arsyilla menebak pasti ada sesuatu yang tidak beres di sini dan itu pasti terkait hubungan pribadinya dengan Aksara.
“Bisa dijelaskan lebih detail, Pak,” respons Arsyilla kali ini.
Sekalipun Arsyilla tahu kemana arah pertemuan dan pembahasan siang ini, tetapi Arsyilla ingin Pak Sutoyo memberitahunya dengan detail dan tidak sepotong-sepotong.
Pria paruh baya itu kemudian mengeluarkan beberapa foto yang dia terima dari amplop tersebut, kemudian menyerahkannya kepada Arsyilla. Memang tidak menunjukkan dengan jelas wajah sang pria. Bahkan wajah prianya di-blur … tetapi wajah Arsyilla terlihat jelas di sana. Bahkan ada foto, saat keduanya hendak memasuki apartemen berdua.
Melihat foto-foto itu kian pastilah perasaan tidak enak yang menghantui Arsyilla kali ini. Dia sudah menemukan jawabannya sudah pasti hanya ada satu masalah dan itu adalah terkait hubungannya dengan Aksara.
“Kami menerima surat kaleng artinya surat tanpa nama dan foto-foto Ibu Arsyilla dengan pria yang disinyalir adalah salah satu mahasiswa di fakultas Teknik Arsitektur. Jadi, apakah benar bahwa Bu Arsyilla menjalin hubungan pribadi dengan seorang mahasiswa?” tanya Pak Sutoyo.
__ADS_1
Akhirnya, Arsyilla menghela nafas panjang dan berbicara, “Benar Pak,” sahutnya singkat.
Mendengar jawaban Arsyilla, Pak Sutoyo pun tampak kaget. Tidak mengira jika salah satu dosennya ternyata telah menjalin hubungan pribadi dengan mahasiswanya sendiri.
“Pacaran?” tanya Pak Sutoyo.
Tampak Arsyilla ingin bercerita statusnya yang sebenarnya dengan Aksara, tetapi Pak Sutoyo kembali berbicara kali ini.
“Bu Arsyilla, sebagai dosen tentu Bu Arsyilla tahu kan adalah sebuah peraturan yang namanya Kode Etik yang mengatur hubungan Dosen dan mahasiswanya. Jika, Dosen menjalin hubungan dengan mahasiswanya suah bisa dipastikan bahwa penilaian akan bersifat subjektif. Tidak bisa memberikan nilai yang objektif karena melibatkan perasaan. Siapa nama mahasiswa tersebut?” tanya Pak Sutoyo.
Akan tetapi Arsyilla tidak ingin mengungkap identitas mahasiswa itu. Biarkanlah kali ini dirinya yang akan menanggungnya saja.
“Izinkan saya berbicara Pak … ya, saya mengakui bahwa saya menjalin hubungan dengan mahasiswa. Akan tetapi, kami bukan sekadar pacaran. Lebih tepatnya, kami sudah menikah … pernikahan kami sudah berjalan hampir satu tahun lamanya,” ungkap Arsyilla dengan jujur.
Mendengar bahwa nyatanya Arsyilla telah menikah, Pak Sutoyo pun kian bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
“Saat itu pernikahan kami memang digelar secara terbatas, Pak … saya baru akan melapor usai akhir wisuda nanti dengan menggelar pesta pernikahan kami berdua,” jelas Arsyilla.
Arsyilla menjeda ucapannya, dan kini dia kembali berbicara, “Maafkan saya untuk kesalahan saya kali ini … tetapi, terkait hubungan saya dengannya kami adalah pasangan yang sah. Dan juga, saya tidak mengajar di angkatannya Semester ini. Bahkan saya juga terang-terangan menolak untuk menjadi Dosen Pembimbingnya, saya pastikan tidak terlibat dengannya,” jelas Arsyilla.
“Bagaimana dengan semester lalu?” tanya Pak Sutoyo lagi.
“Kami bertemu dalam satu kelas, itu pun tidak sengaja karena kami sama-sama tahu setelah pertemuan pertama di kelas kala itu. Akan tetapi, saya juga bisa memastikan bahwa semua nilai dari saya objektif. Saya tidak melibatkan perasaan saya untuk menilai hasil kuis dan semester mahasiswa,” jawab Arsyilla.
Pak Sutoyo lantas menimbang-nimbang terkait dengan semua yang diucapkan Arsyilla. Akhirnya Pak Sutoyo kembali berbicara.
__ADS_1
“Bu Arsyilla tentu tahu kan, jika ada mahasiswa yang curang dan didukung dosen dalam tugas akhirnya bisa diperhentikan dan tidak bisa mengikuti wisuda. Jadi ….”
Sebelum Pak Sutoyo melanjutkan ucapannya, Arsyilla nyatanya terlebih dahulu berbicara, “Saya yang akan bertanggung jawab, Pak … saya akan mengundurkan diri sebagai Dosen di kampus ini,” jawab Arsyilla.
“Bukan begitu Bu Arsyilla, tetapi mahasiswa pun bisa mendapatkan poin hukuman disiplin,” sahut Pak Sutoyo.
“Saya merasa mahasiswa tersebut sama sekali tidak bersalah Pak … saya yang bersalah karena jatuh cinta dan akhirnya menikah dengan Dosen saya sendiri. Maka dari itu, saya yang akan bertanggung jawab dan saya akan mengundurkan diri sebagai Dosen di kampus ini,” ucap Arsyilla lagi dengan yakin.
Menjadi Dosen memang adalah impian dan cita-citanya, tetapi Arsyilla mau melepaskan semua itu asalkan Aksara bisa lulus tahun ini. Apalagi suaminya baru saja lulus ujian skripsi dan bahagia karena setelah enam tahun kuliah, barulah suaminya itu bisa lulus. Arsyilla tidak akan mengorbankan kebahagiaan sang suami. Biarkanlah dirinya saja yang berkorban.
Mendengar jawaban Arsyilla yang terlihat bersikukuh, Pak Sutoyo pun akhirnya menganggukkan kepalanya, “Baiklah Bu Arsyilla … untuk pengunduran diri dari Bu Arsyilla silakan berikan surat pengunduran diri dan kampus akan memprosesnya. Akan tetapi, saya meminta Bu Arsyilla bisa menyelesaikan sampai akhir semester ini terlebih dahulu,” jelas Pak Sutoyo.
Arsyilla pun menganggukkan kepalanya dan berpamitan keluar dari ruangan itu. Tak ingin membela diri, dan dia akan menanggung konsekuensi terbesar karena telah menjalin hubungan dengan mahasiswanya. Lagipula selama ini, Arsyilla tidak menggunakan wewenang dan jabatannya selama menikah dengan Aksara. Jika harus ada yang berkorban kali ini, biarkanlah dirinya saja yang berkorban.
Aku tidak akan menghancurkan mimpi dan kebahagiaanmu, Kak …
Biarkan aku yang melepas profesiku kali ini …
Cinta dosen dan mahasiswa memang pelik, tak seindah di novel ataupun series romansa …
Saat kode etik dan komisi disiplin berbicara, maka sudah selayaknya untuk menerimanya …
Kamu harus lulus dan diwisuda, Kak Aksara …
Aku akan menanggung semua ini dan biarkan ini menjadi bukti bahwa perasaanku tidak berganti saat aku kehilangan profesi mulia ini …
__ADS_1
Arsyilla berjalan dengan gontai kembali ke ruangannya. Tidak pernah mengira kariernya sebagai Dosen hanya sejauh ini saja. Semoga saja keputusannya kali ini tepat. Bagi Arsyilla, keberhasilan Aksara di bidang pendidikan kali ini adalah prioritas baginya.