
Arsyilla mendengarkan baik-baik setiap ucapan Aksara. Menurutnya, apa yang disampaikan Aksara ada benarnya. Jika dia pulang ke rumah orang tuanya dengan wajah yang separuh bengkak, memar di leher, tangan, dan juga kaki pasti akan membuat Mama Khaira menangis. Tidak tega melihat keadaan Arsyilla saat ini.
Akan tetapi, saat ini rasanya Arsyilla membutuhkan keluarganya. Kedua orang tuanya yang begitu menyayanginya dan mengisi gelas air cintanya dengan penuh. Sosok Mama Khaira yang lembut dan bijaksana, juga sosok Papa Radit yang tegas dan selalu melindungi. Semua itu seolah sangat dibutuhkan Arsyilla saat ini.
Sekali pun bahwa Aksara adalah sosok yang baik dan sudah beberapa kali menolongnya, tetapi lantaran belum lama mengenal tetap menimbulkan rasa canggung bagi Arsyilla. Akhirnya, Arsyilla menghela nafasnya. Disertai matanya yang berkaca-kaca dan tampak merah.
Melihat perubahan air muka Arsyilla yang berubah, Aksara segera duduk di kursi dengan Arsyilla. Akan tetapi, pria itu tidak menyandarkan bahu dan posisi duduknya terlihat menyerong.
"Jika kamu mau menangis … menangislah. Aku akan berikan bahuku," ucap pria itu dengan lembut.
Arsyilla yang sudah berusaha menahan akhirnya menyerah, air matanya berlinangan begitu saja. Maka dari itu, Arsyilla pun membenamkan wajahnya di punggung yang begitu kokoh dan lebar milik Aksara.
Di bahu hingga punggung itulah, Arsyilla menangis, terisak, seolah semua rasa sakit, ketakutan, hingga kekecewaan tumpah ruah semuanya di bahu sisi belakang Aksara. Sama halnya dengan Arsyilla, Aksara pun beberapa kali memejamkan mata tiap kali Arsyilla terisak. Hatiku seolah tersayat mendengar isakan Arsyilla.
Perlahan Aksara menggerakkan tangannya dan mencari tangan Arsyilla yang seolah lemas di belakang punggungnya. Menautkan setiap jari-jemarinya di sana dan menggenggamnya erat.
Menangislah, Arsyilla.
Aku akan menerima bahkan menakar setiap air matamu.
Aku akan membuat pembalasan untuk pria berengsek itu.
__ADS_1
Dia harus membayar semua untuk setiap air mata yang berderai kali ini.
Jika bahu dan punggungku nyatanya tidak bisa menampung air matamu, dadaku dan seluruh diriku juga akan kuberikan padamu.
Jika menangis bisa melegakanmu, aku akan menerimanya.
Membiarkan detik berubah menjadi menit, menit pun berlalu begitu saja, sementara agaknya Arsyilla masih saja terisak dipunggung Aksara. Tangan wanita yang dia genggam itu terasa begitu dingin.
Aksara sedikit menolehkan kepalanya ke belakang, berharap bisa melirik sekilas kepada Arsyilla. Akan tetapi, semua sia-sia. Sebab yang terlihat bagaimana bahu Arsyilla yang bergetar, Aksara pun merasakan bagaimana area bahu dan punggungnya yang basah karena air mata Arsyilla.
Hingga akhirnya Arsyilla mengangkat wajahnya dari bahu Aksara, wanita itu menyeka air mata yang masih menggenang di sudut matanya.
Arsyilla pun mengangguk, "Iya. Makasih," jawabnya dengan suaranya yang serak lantaran terlalu lama menangis.
"Mau aku buatkan Teh Madu lagi?" tawar Aksara kepada Arsyilla.
Arsyilla pun menggeleng, "Enggak, udah. Makasih ya," jawabnya yang kali ini.
Kemudian kali ini Aksara beringsut untuk duduk bersandar di sofa itu, dan tangannya perlahan melepaskan tangan Arsyilla dari genggamannya.
“Setiap kamu ingin menangis, aku akan memberikan bahuku ini untukmu bersandar. Aku akan menampung semua air matanya,” ucap pria itu dengan menatap Arsyilla.
__ADS_1
Arsyilla sementara hanya diam, dia pun bingung harus merespons apa ucapan dari pria yang berstatus sebagai mahasiswa dan sekaligus suaminya itu. Untuk itu, Arsyilla memilih diam.
“Sore kita ke rumah sakit untuk visum ya?” ajak Aksara lagi.
Sebab Aksara ingin menempuh jalur hukum. Lagipula, untuk kali Ravendra kelewat nekad. Sebaiknya, memang Aksara memberikan pelajaran bagi pria berengsek itu.
“Namun, aku takut,” jawab Arsyilla dengan menunduk.
Tangan Aksara perlahan bergerak dan kembali menggenggam erat tangan Arsyilla.
“Jangan takut, kamu punya aku.” Pria itu berbicara dengan sungguh-sungguh seolah dia memang telah mendedikasikan hidupnya milik Arsyilla.
Arsyilla perlahan mengangkat wajahnya, matanya kini bersitatap dengan wajah Aksara. “Kenapa kamu baik kepadaku?” tanya Arsyilla kini dengan menatap wajah Aksara.
“Because i am your husband,” sahut Aksara yang menegaskan bahwa dia adalah suaminya.
Akan tetapi, bagi Arsyilla mereka yang memiliki hubungan suami istri pun tidak selalu bisa bersikap baik. Di matanya, pasangan suami istri yang saling bersikap baik dan saling mencintai adalah Mama dan Papanya. Jika, Aksara menempatkan dirinya hanya sebagai seorang suami, kenapa sikapnya justru terlampau baik dan ingin melindunginya.
“Kamu mengenalku sebelumnya?” tanya Arsyilla kini kepada Aksara lagi.
Untuk pertanyaan kali ini, seolah Aksara tidak mampu menjawabnya. Jika pun, dia mengatakan yang sebenarnya apa mungkin semua itu bisa membuat Arsyilla untuk menerimanya dan memberikan hatinya padanya. Tidak ada jaminan untuk semua itu.
__ADS_1