Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Bertemu Adik Ipar


__ADS_3

“Welcome to Jakarta, Rangga!” ucap Bunda Kanaya dengan begitu bahagianya sembari memeluk erat putra bungsunya itu.


Setelah tiga tahun tidak bertemu, ini tentu menjadi pertemuan yang begitu dinantikan oleh Bunda Kanaya. Sebagai seorang Ibu, sudah pasti Bunda Kanaya akan sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan putranya. Jika, selama tiga tahun waktu berjalan, komunikasi hanya bisa dilakukan dengan handphone saja, dan sekarang bisa memeluk seorang putra secara langsung tentu hati Bunda Kanaya begitu membuncah dengan kebahagiaan.


“Thanks Bunda, akhirnya kembali ke Jakarta dengan hiruk-pikuknya,” sahut Airlangga dengan dengan memeluk Bundanya itu.


Di satu sisi ada Ayah Bisma yang juga turut datang dan menjemput putra bungsunya itu. Sebagai seorang Ayah, Ayah Bisma bisa lebih tenang. Walaupun hatinya juga sangat senang dan bersyukur karena bisa kembali bertemu dengan putranya, tetapi Ayah Bisma memberikan waktu terlebih dahulu untuk istrinya.


“Akhirnya, kuliahmu selesai, Nak!” Ayah Bisma berbicara sembari memeluk tubuh putranya itu.


“Makasih Ayah,” balas Airlangga yang juga masih memeluk Ayahnya.


“Thania mana Ayah?” tanya Airlangga.


Sebab di Bandara Internasional Soekarno - Hatta itu, Airlangga sama sekali tidak melihat sosok Thania. Dia pikir bahwa putri kecilnya akan turut datang ke Bandara dan menjemputnya. Padahal, Airlangga mengharapkan akan melihat putri kecilnya itu.


“Dia ada di rumah. Tadi masih tertidur,” balas Bunda Kanaya.


Ya, karena menjemput Airlangga pagi, jam 09.00 pesawat yang Airlangga tumpangi sudah landing di Jakarta, sehingga Ayah Bisma dan Bunda Kanaya berangkat dari rumah lebih pagi. Mereka ingin membawa serta Thania, tetapi Thania justru masih terlelap dalam tidurnya.


“Ah, padahal Rangga ingin bertemu dengan Thania,” balasnya.


Seolah keinginan kecil untuk bertemu putri kecilnya begitu tiba di Jakarta, pupus sudah. Yang ada justru Thania masih berada di rumah.


“Ya sudah, sebaiknya kita segera pulang ke rumah. Supaya kamu bisa bertemu dengan Thania,” ajak Ayah Bisma.


Setidaknya dari sisi Ayah Bisma, tentu Ayah Bisma tahu bahwa raut wajah putranya itu berubah. Tentu ada sedikit kesedihan karena Thania tidak turut menjemputnya. Oleh karena itu, Ayah Bisma mengajaknya untuk segera pulang ke rumah.


“Iya Ayah,” sahut Airlangga.


Pemuda itu mendorong sebuah trolly yang berisikan koper-koper miliknya dan menyandang ransel di bahunya. Sesekali Bunda Kanaya berjalan dan mengalungkan tangannya di lengan putranya itu.


“Putranya Bunda sudah besar … makin cakep.” Bunda Kanaya tiba-tiba berbicara seperti itu.


Ayah Bisma yang mendengarnya hanya tersenyum melihat istrinya itu, “Kalau putranya sudah kembali, Ayah tersisihkan,” balas Ayah Bisma.


Sepasangan suami istri pun saling tersenyum. Di usia paruh baya dengan dua putra dan dua cucu, membuat kebahagiaan mereka berdua kian lengkap rasanya.


“Mas Aksara sudah memiliki anak ya Bunda?” tanya Rangga tiba-tiba kepada Bundanya.

__ADS_1


“Iya, sudah … baru sepekan yang lalu Istrinya, Syilla melahirkan,” balas Bunda Kanaya.


“Oh … Rangga turut senang. Nanti temani Rangga untuk mengunjungi keluarganya Mas Aksara ya Bunda … sekalian sama kenalan sama Istrinya,” ucap Rangga.


“Mau hari ini ke rumah Kakakmu? Tidak besok saja, emangnya kamu tidak jetlag?” tanya Bunda Kanaya lagi.


Terlihat Rangga menggelengkan kepalanya, “Tidak … Rangga enggak jetlag kok,” balasnya.


Bunda Kanaya pun menganggukkan kepalanya, setidaknya beristirahat beberapa jam di rumah terlebih dahulu, dan kemudian mengunjungi keluarga Aksara. Yang di ucapkan Rangga barusan benar, dia belum berkenalan dengan Arsyilla.


***


Menjelang sore harinya …


Kini Ayah Bisma, Bunda Kanaya, Rangga, dan juga Thania dalam perjalanan menuju ke kediaman Aksara. Mereka datang untuk mengantarkan Rangga bertemu dan menjenguk keponakan kecilnya yang baru saja lahir. Selain itu, ada banyak hadiah yang dibawa oleh rombongan itu. Ada Bunda Kanaya yang membelikan kursi baby, Stroller, dan berbagai mainan untuk Baby Ara.


Sementara Rangga membelikan beberapa boneka Kangguru dan Koala, yang dia beli dari Australia untuk keponakan kecilnya itu. Hingga tidak terasa mereka telah tiba di depan gerbang perumahan milik Aksara.


Ayah Bisma memarkirkan mobilnya terlebih dahulu dan kemudian membawa keluarganya untuk masuk ke dalam rumah putra sulungnya itu.


“Permisi!” sapa Bunda Kanaya sembari mengetuk pintu rumah Aksara.


“Masuk-masuk,” ucapnya yang mempersilakan semuanya untuk masuk.


“Di mana Syilla dan Baby Ara?” tanya Bunda Kanaya kepada putranya itu.


“Sebentar … Aksara panggilkan dulu, Bunda,” balas Aksara.


Pria itu tampak berjalan menaiki anak tangga dan segera memanggil istrinya, tidak lupa menggendong Baby Ara dan membawanya untuk bertemu dengan Oma, Opa, dan keluarganya lainnya.


“Honey, Ayah dan Bunda datang tuh … kita turun ke bawah yuk,” ajak Aksara.


“Iya Kak,” balas Arsyilla.


Wanita itu beranjak dari sofa yang saat ini dia duduki, kemudian hendak menggendong Baby Ara untuk turun ke bawah. Akan tetapi, Aksara justru terlebih dahulu menggendong putri kecilnya itu.


“Biar aku saja, Honey. Biar Ayahnya yang gendong dia,” balas Aksara.


Keduanya kemudian turun dari lantai dua, menuju ke ruang keluarga di mana seluruh keluarga Pradhana sudah berkumpul. Arsyilla tersenyum melihat kedua mertuanya, tetapi pandangannya menangkap sosok asing yang belum pernah dia temui sebelumnya.

__ADS_1


Pria yang masih muda itu pun berdiri, dan kemudian mengulurkan tangannya kepada Arsyilla.


“Halo Kak Syila … kenalin aku Airlangga, Rangga … adiknya Mas Aksara,” ucap pria itu mengenalkan dirinya.


Arsyilla pun menganggukkan kepalanya, dan menyambut uluran tangan perkenalan dari pria yang tidak lain adalah adik iparnya itu.


“Hei, aku Syilla, istrinya Kak Aksara,” balasnya.


Sementara Aksara bersikap biasa saja, kemudian pria itu membawa Arsyilla untuk duduk.


“Makin pinter gendong babynya nih si Ayah Aksara,” balas Bunda Kanaya.


“Masih belajar Bunda,” balas Aksara.


Lantas ada Thania yang mendekati Aksara yang saat itu masih menggendong Baby Ara. Anak berusia empat tahun ini memandang Aksara dengan sorot mata yang berbeda.


“Daddy, Thania kangen ….”


Aksara tersenyum, satu tangannya terulur dan mengusapi puncak kepala Thania itu.


“Daddy juga kangen sama Thania,” balasnya.


“Thania, sini duduk sama Papa yuk,” ajak Rangga kali ini dengan maksud untuk mengajak putrinya itu.


Arsyilla hanya tersenyum dan mengamati situasi terlebih dahulu. Bahkan sesekali Arsyilla mengamati Airlangga, yang memang mirip dengan Thania. Hanya saja Arsyilla tidak mengira pemuda yang masih belia seusia Rangga, sudah memiliki putri berusia 4 tahun yaitu Thania.


***


Dear My Bestie,


Aku mau kasih tahu nih, kenapa kisahnya Airlangga aku taruh sepotong-potong … karena nanti akan aku buatkan cerita lengkapnya di Novel khusus Airlangga yah. Semua kisahnya akan diurai secara dalam dan bagaimana kelahiran Thania di waktu Airlangga masih sangat muda.


Ikuti nama pena aku yah, Kirana Pramudya untuk mendapatkan update cerita terbaru lainnya.


Sekalian informasi bulan depan, kisah ini akan usai. Bulan September yah … dan kita akan sambungkan ke kisahnya Ravendra yang juga sangat menarik. Bulan September akan ada kisah baru lagi yah tentang Cinta SMA dengan penokohan yang berbeda. Tertarik kan? Yuk, ikuti terus yah.


Dukung selalu ya My Bestie.


Love U All,

__ADS_1


Kirana


__ADS_2