Aksara Untuk Arsyilla

Aksara Untuk Arsyilla
Sosok Wanita Lain


__ADS_3

Keesokan harinya …


Subuh, Aksara dan Arsyilla telah bangun bersama. Keduanya bersiap-siap dengan mengenakan sepatu dan sebuah jaket yang lebih tebal. Menutupi acara bulan madu di Kapal Pinisi, keduanya akan terlebih dahulu menyambut Sunrise di Bukit Padar.


“Demi kamu loh Kak, aku bela-belain subuh sudah bangun kayak gini,” ucap Arsyilla sembari mengikuti Aksara.


Pria itu nyatanya malahan tertawa, “Kalau cinta ya apa-apa dibela-belain dong Sayang … nanti kalau sudah kembali ke Resort, aku pijitin deh," ucapnya dengan lirih di sisi telinga Arsyilla.


Sontak saja Arsyilla hanya menggelengkan kepalanya, "Enggak lah … mana mungkin dipijitin yang ada malahan badanku tambah sakit," keluhnya kali ini.


Aksara pun kembali tertawa, "Kamu ngerti banget sih jalan pikiran aku," sahut Aksara dengan cepat.


Arsyilla pun turut tertawa, “Dua bulan lebih hidup sama kamu, ya lama-lama aku tahu jalan pikiran kamu, Kak. Rupanya kamu ya modus sih.” Ya, di mata Arsyilla kali ini, sekali pun baik, rupaya Aksara adalah seorang pria modus.


Lagi-lagi Aksara tertawa, “Kamu bisa saja sih. Gini-gini aku modusnya juga cuma sama kamu kok,” sahutnya.


Kemudian kemudian berjalan bersama mendakit sebuah bukit yang bernama Bukit Padar. Di bukit ini para pendaki bisa melihat Sunrise terbaik. Menyambut surya yang terbit dari ufuk Timur, menggoreskan tinta jingga di langit yang biru. Pengalaman melihat Sunrise terbaik akan menjadi sebuah pengalaman baru bagi Aksara dan Arsyilla. Dalam mendaki pun, Aksara tampak menggenggam tangan Arsyilla.


“Capek enggak?” tanyanya kini.


“Iya, aku capek. Kamu gendong aku kuat enggak Kak?” goda Arsyilla kini.


Sekarang nyatanya wanita yang semula terlihat jutek itu, kini bisa lebih banyak tersenyum bahkan beberapa kali dia juga menggodai Aksara.


Aksara pun menghentikan langkah kakinya, pria itu lantas menundukkan badannya, menepuk punggungnya, "Ayo, sini … naiklah ke punggungku," ucapnya.


Arsyilla lantas tertawa, "Kak, aku cuma bercanda. Aku masih kuat berjalan kok. Udah yuk, kita lihat Sunrisenya."


Wanita itu nyatanya berjalan terlebih dahulu dan meninggalkan Aksara di belakang. Akhirnya Aksara sedikit berlari untuk mengejar Arsyilla dan merangkul wanitanya itu, "Sekarang kamu berani ya, godain aku?" tanyanya sembari memincingkan matanya.

__ADS_1


"Berani dong … selama menggodanya masih wajar. Lagipula, aku kan cuma goda aja, enggak ngeprank kamu," jelasnya kini.


Aksara kembali tertawa, "Jangan bahas prank-prankan lagi dong Sayang. Aku jadi malu," ucapnya kini.


Kemudian keduanya tiba di sebuah bukit, duduk berdua menatap lurus ke depannya. Berharap Sunrise kali ini akan terbit dengan begitu indah. Arsyilla bahkan sudah bersiap dengan kamera handphonenya siap mengabadikan Sunrise dari Bukit Padar itu.


Pagi yang semula redup, perlahan menjadi terang. Di sebelah Timur, Fajar mulai menyingsing. Arsyilla memulas senyuman di wajahnya melihat Sunrise yang begitu indah. Keduanya pun sembari berfoto bersama, ada seorang dari awak kapal yang memandu pendakian dan siap memotretkan keduanya.


Beberapa pose pun diambil saat Sunrise di Bukit Padar pagi itu. Lantas keduanya kembali duduk bersama, Aksara melingkarkan tangannya di pinggang Arsyilla dan satu tangannya menggenggam tangan Arsyilla.


"Aku selalu suka matahari terbit," ucapnya kali ini.


"Kenapa?" tanya Arsyilla dengan cepat. Bagaimanapun semua orang memiliki alasan tersendiri dengan menyukai sesuatu.


Aksara lantas menatap wajah Arsyilla, "Kamu dan keluarga kamu seperti matahari terbit bagiku. Orang-orang yang menyambutku dengan hangat saat aku terpisah jauh dari Ayah dan Bundaku," jelasnya.


Memahami bahwa perasaan hati Aksara telah berubah, Arsyilla pun memberanikan diri untuk melabuhkan sebuah kecupan di pipi pria itu.


Cup.


"Ada kalanya Tuhan mengizinkan kita melewati lembah air mata, tetapi Tuhan pun akan memberikan kita mentari yang hangat hingga kehangatannya terasa hingga ke dalam hati kita. So, apa pun masa lalumu dulu, sekali pun aku tidak mengingatnya, kamu bisa bercerita dan berbagi denganku," ucap Arsyilla.


Ya, memang sekali pun ingatannya saat kecil dulu sudah hilang, tetapi Arsyilla menegaskan bahwa dirinya bisa menjadi tempat untuk Aksara berbagi.


Aksara pun tersenyum, pria itu lantas mengangkat dagu Arsyilla dengan ibu jari dan jari telunjuknya lantas mengecup bibir Arsyilla, memagutnya lembut, dan menyesap kedua belah lipatannya untuk beberapa saat.


Pria itu lantas menarik wajahnya, dan menatap wajah Arsyilla, "Terima kasih. Thanks sudah menjadi sosok yang hangat bagiku," ucapnya.


Arsyilla lantas menyandarkan kepalanya di bahu Aksara, wanita itu tersenyum. Wajahnya yang ayu terlihat kian berkilauan dengan bias rona arunika (matahari terbit) yang indah itu.

__ADS_1


"Kak, I am always be with you," ucap Arsyilla kini dengan sungguh-sungguh.


"Iya, makasih Syilla. Aku juga akan selalu bersamamu, I Love U," ucapnya.


Kurang lebih jam 09.00 Waktu Indonesia Tengah, Aksara dan Arsyilla kembali menuruni bukit. Kali ini Pinisi Boat akan mengantarkan mereka ke Drop Point. Keduanya menuruni bukit dengan bergandengan tangan dan sesekali membahas sesuatu.


"Kak, boleh aku tanya sesuatu. Harus dijawab," ucapnya kali ini.


"Apa?" sahut Aksara dengan cepat.


"Uhm, waktu kamu ngeprank aku itu, kamu lihat tubuhku sepenuhnya dong Kak?" tanyanya lirih.


Sebenarnya bukan pertanyaan serius, tetapi begitu menggelitik dan Arsyilla pun menanyakan hal itu. Sehingga, kali ini Arsyilla benar-benar bertanya secara langsung kepada Aksara.


Aksara tampak menghela nafasnya, "Kalau mau jujur, aku sih enggak yakin karena semua lampu aku matikan saat itu, tetapi setidaknya aku melihat dada kamu, saat aku membuat cupangan di situ," jawabnya dengan jujur.


Bukan marah, nyatanya Arsyilla justru tertawa dan mencubit pinggang suaminya itu, "Tuh, nakal banget kan. Issshhs, sebel deh aku sama kamu, Kak," sahutnya dengan tertawa.


"Lah, kan aku jujur, Sayang. Daripada aku bohong," balasnya.


Perjalanan dengan Pinisi Boat pun berlanjut dan Arsyilla duduk menikmati lautan yang tenang itu, liburan bulan madu yang akan sangat berkesan baginya. Hingga tidak terasa, mereka telah tiba di Drop Point dan Aksara kembali membawa Arsyilla menuju Resort yang sudah mereka datangi sebelumnya untuk beristirahat sebelum kembali lagi ke Jakarta keesokan harinya.


Usai cek out, rupanya ada seorang wanita yang tiba-tiba saja memanggil nama Aksara.


"Kak Aksara, kamu Kak Aksa kan dari SMA Bintang Widya Jakarta?" tanya seorang gadis yang berparas cukup ayu dan terlihat tersenyum lebar kepada Aksara.


Merasa namanya dipanggil, Aksara pun berhenti sejenak.


"Maaf siapa ya? Apa kita saling mengenal sebelumnya?" tanya Aksara kemudian.

__ADS_1


__ADS_2